Claim Missing Document
Check
Articles

Optimization of Coagulation–Flocculation Treatment for Peat Water Based on Physicochemical Characteristics Rio Agustian Siregar; R Mohammad Alghaf Dienullah; Aulia Ulfah Farahdiba
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v10i3.1200

Abstract

Peat water is characterized by low pH and high concentrations of dissolved organic matter, limiting its direct use as a clean water source. This study aimed to determine the optimum dosages of Poly Aluminium Chloride (PAC) and hydrated lime (Ca(OH)?) for peat water treatment based on physicochemical characteristics. The study employed a laboratory-scale jar test with rapid mixing at 120 rpm, followed by slow mixing at 45 rpm, using various dosages of PAC and hydrated lime. The treatment performance was evaluated based on pH, total dissolved solids (TDS), electrical conductivity, and salinity. The results demonstrated that the combination of PAC and hydrated lime significantly improved the physicochemical characteristics of peat water. The optimum dosage yielded pH values near the recommended range while maintaining acceptable TDS, electrical conductivity, and salinity. These findings indicate that the combined application of PAC and hydrated lime is an effective alternative for improving peat water quality and can serve as a reference for peat water treatment systems Contribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG 3: Good Health and Well-BeingSDG 6: Clean Water and SanitationSDG 9: Industry, Innovation and InfrastructureSDG 11: Sustainable cities and communities
Adaptasi dan Kinerja Biologis Larva Tenebrio molitor pada Media Limbah Plastik Berdasarkan Pertumbuhan dan Aktivitas Konsumsi Substrat Indah Sholihah Wulandari; Aulia Ulfah Farahdiba; Purnomo Edi Sasongko; Nurvita Cundaningsih
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang sulit ditangani karena memiliki sifat yang resisten terhadap proses degradasi alami. Biodegradasi menggunakan larva Tenebrio molitor menjadi salah satu alternatif yang berpotensi untuk mengurangi akumulasi limbah plastik di lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon biologis larva Tenebrio molitor selama proses biodegradasi limbah masker medis, plastik low-density polyethylene (LDPE), dan styrofoam, serta mengkaji hubungan antara pertumbuhan larva dan efektivitas degradasi plastik. Penelitian dilakukan selama 20 hari dengan dua kali pengulangan pada setiap perlakuan. Parameter yang diamati meliputi biomassa larva, konsumsi substrat organik, penurunan massa plastik, persentase degradasi, suhu, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa larva meningkat pada seluruh perlakuan, yang menandakan bahwa larva mampu beradaptasi dan mempertahankan pertumbuhannya pada media yang mengandung plastik. Substrat organik habis dikonsumsi pada hari ke-8, menunjukkan bahwa larva lebih dahulu memanfaatkan sumber makanan organik sebelum mengonsumsi plastik. Penurunan massa plastik terjadi pada seluruh perlakuan, dengan styrofoam menunjukkan persentase degradasi tertinggi sebesar 50–60%, diikuti masker medis sebesar 32% dan LDPE sebesar 22–26%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis plastik memengaruhi efektivitas biodegradasi yang dihasilkan serta terdapat hubungan antara pertumbuhan larva dan kemampuan degradasi plastik. Dengan demikian, Tenebrio molitor berpotensi dimanfaatkan sebagai agen biologis dalam pengolahan limbah plastik, terutama pada material berbasis polistirena seperti styrofoam.
Nutrisi sebagai Faktor Pendukung Aktivitas Biologis Larva Tenebrio molitor dalam Potensi Pemanfaatannya untuk Biodegradasi Styrofoam Alifia Putri Arini; Nurvita Cundaningsih; Raden Kokoh Haryo Putro; Maroeto; Aulia Ulfah Farahdiba
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Styrofoam merupakan sampah plastik berbasis polistirena yang sulit terurai secara alami. Salah satu alternatif pengelolaannya adalah pemanfaatan larva Tenebrio molitor sebagai agen biodegradasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penambahan nutrisi dalam mendukung aktivitas biologis larva pada media yang mengandung styrofoam. Penelitian dilakukan selama 20 hari menggunakan perlakuan kontrol, asam amino, probiotik, soybean lecithin, dan tanpa nutrisi. Parameter yang diamati meliputi suhu, pH, pertumbuhan larva, dan konsumsi sampah sisa makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan mengalami peningkatan massa larva, dengan pertumbuhan tertinggi pada perlakuan soybean lecithin sebesar 129,5 g dan terendah pada perlakuan tanpa nutrisi sebesar 111,5 g. Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan nutrisi mendukung aktivitas biologis larva pada media yang mengandung styrofoam. Kemampuan larva untuk tetap tumbuh menunjukkan potensi pemanfaatan Tenebrio molitor sebagai agen biodegradasi sampah styrofoam.  
PENGELOLAAN LINGKUNGAN UPT. PENGEMBANGAN AGRIBISNIS TANAMAN DAN PANGAN HOLTIKULTURA KEBUN LEBO, SIDOARJO Aulia Ulfah Farahdiba; Mochammad Shaifullah Indrawanto; Praditya Sigit Ardisty Sitogasa; Anisa Amelia Atmadani
Environmental Engineering Journal of Community Dedication Vol. 1 No. 1 (2022): Jurnal Environation
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor pertanian merupakan salah satu penyebab adanya pencemaran lingkungan. Sampah-sampah yang ditimbulkan akibat kegiatan pertanian menjadi dapat menyumbang gas metana sehingga dapat meningkatkan suhu bumi bila tidak dikelola dengan baik. Mengkonsumsi lebih sedikit air dan energi, meningkatkan komposisi unsur hara tanah, menekan biaya produksi, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta ramah terhadap lingkungan merupakan beberapa hal yang perlu dikaji untuk menerapkan revolusi hijau di pertanian yang sedang direncanakan oleh pemerintah. UPT PATPH merupakan salah satu perusahaan di bawah naungan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur yang semestinya juga dijadikan percontohan dalam revolusi hijau. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara langsung, pengelolaan lingkungan pertanian terkait dengan perawatan lahan, pengendalian hama, serta sistem irigasi (pengairan) telah baik, namun masih terdapat permasalahan lain seperti sampah-sampah yang dihasilkan masih diproses dengan cara membakar tumpukan sampah kering maupun basah sehingga bila dibiarkan akan meningkatkan pencamaran lingkungan yang dapat menimbulkan adanya penyakit. Adapun jenis sampah yang mendominasi yakni sampah organik yang berasal dari kegiatan pembudidayaan tanaman melon jenis Golden Langkawi yakni sekitar 108,58 kg/minggu. Oleh sebab itu, diperlukan adanya TPS Organik sehingga dapat digunakan kembali menjadi kompos dan menimalisir adanya timbulan sampah.
Pengaruh Variasi Dosis Poly Aluminium Chloride dan Kapur Tohor terhadap Karakteristik Fisikokimia Air Gambut melalui Metode Koagulasi-Flokulasi Nasywa Khalisah Pieter; Aussie Amalia; R. Mohammad Alghaf Dienullah; Aulia Ulfah Farahdiba
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air gambut memiliki karakteristik berupa pH rendah dan kandungan bahan organik yang tinggi sehingga memerlukan pengolahan sebelum dimanfaatkan sebagai sumber air. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi dosis Poly Aluminium Chloride (PAC) dan kapur tohor terhadap karakteristik fisikokimia air gambut melalui metode koagulasi-flokulasi. Penelitian dilakukan menggunakan metode jar test dengan variasi dosis PAC sebesar 20 mg/L, 40 mg/L, 60 mg/L, 80 mg/L, dan 120 mg/L, serta dosis kapur tohor sebesar 3 mL, 5 mL, 6 mL, 7 mL, 8 mL, 9 mL, 10 mL, dan 15 mL. Parameter yang dianalisis meliputi pH, total dissolved solids (TDS), konduktivitas, dan salinitas. Data dianalisis secara deskriptif, sedangkan pH dianalisis menggunakan One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis kapur cenderung meningkatkan pH, sedangkan peningkatan dosis PAC memengaruhi pH melalui proses hidrolisis. Nilai TDS dan konduktivitas meningkat setelah proses koagulasi-flokulasi, sementara salinitas relatif tidak berubah. Variasi dosis PAC dan kapur tohor berpengaruh signifikan terhadap pH (p < 0,05). Berdasarkan evaluasi seluruh parameter, kombinasi PAC 120 mg/L dan kapur tohor 15 mL ditetapkan sebagai dosis optimum karena menghasilkan pH sebesar 6,94, TDS sebesar 170 ppm, konduktivitas sebesar 426 µS/cm, dan salinitas sebesar 0 ppt.
Nutritional Potential of Tenebrio molitor Larvae Produced from Organic Waste Bioconversion as an Alternative Feed Ingredient: Evaluation Against Indonesian National Feed Standards For Broiler, Layer, and Fish Feedstock Muhammad Gibran Al-Ghafari; Praditya Sigit Ardisty Sitogasa; Muhammad Faisal Fadhil; Rossyda Priyadarsini; Aulia Ulfah Farahdiba
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v10i3.1245

Abstract

The increasing demand for sustainable protein sources and the accumulation of organic waste have encouraged the development of insect-mediated bioconversion for resource recovery. This study evaluated the nutritional quality of Tenebrio molitor larvae reared on various organic waste substrates and assessed their suitability as an alternative feed ingredient in accordance with the Indonesian National Standards (SNI). A laboratory-scale factorial experiment was conducted using three substrate treatments: household food waste (S1), a 1:1 mixture of household food waste and seafood waste (S2), and seafood waste (S3), combined with two larval densities (0.5 and 1 larva cm?²). Harvested larvae were analyzed for crude protein, crude fat, moisture, ash, and carbohydrate contents, and data were evaluated using two-way ANOVA. Substrate composition, larval density, and their interaction significantly affected all proximate parameters (p < 0.001). The highest crude protein content (37.16%) was obtained from larvae reared on seafood waste at 1 larva cm?² (S3-D1), while carbohydrate content decreased with increasing seafood waste proportions. Crude fat ranged from 24.80–27.14%, moisture from 10.10–12.25%, and ash from 9.60–10.73%. The larvae met SNI requirements for protein and moisture in broiler, layer, and tilapia feeds. These findings demonstrate that T. molitor effectively converts organic waste into protein-rich biomass, supporting its application as a sustainable feed ingredient and promoting circular resource management. Contribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG 2: Zero HungerSDG 12: Responsible ConsumptionSDG 13: Climate ActionSDG 15: Life on Land
Environmental Growth Response of Gracilaria sp. under Two Water-Medium Ratios for Aquatic Biofiltration Henokh Wau; Aulia Ulfah Farahdiba
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v10i3.1307

Abstract

Environmental conditions regulate macroalgal growth and determine whether living biomass can function as an aquatic biofilter. This preliminary study described changes between day 0 (D0) and day 7 (D7) in one best final-weight culture unit selected from each of two water-medium ratios: P1 (1:0) and P2 (1:1). Wet weight, pH, temperature, salinity, dissolved oxygen (DO), and nitrate concentration were evaluated. Wet weight increased from 100.0 to 105.0 g in the 1:0 unit (+5.0%; specific growth rate 0.70% day?¹) and to 105.1 g in the 1:1 unit (+5.1%; 0.71% day?¹). In the 1:0 unit, pH rose from 7.14 to 7.44, temperature from 26.4 to 28.9 °C, salinity from 40.9 to 42.0 ppt, and DO remained at 5 mg L?¹. In the 1:1 unit, pH rose from 7.22 to 7.43 and temperature from 26.4 to 29.1 °C, while salinity declined from 42.0 to 38.3 ppt and DO from 6 to 5 mg L?¹. Nitrate concentration decreased from 9.62 to 0.00 mg L?¹ in the 1:0 unit and from 8.58 mg L?¹ to not detected (ND) in the 1:1 unit. Both selected units maintained positive short-term growth under different environmental trajectories, supporting the preliminary feasibility of Gracilaria sp. as a biofilter component. Because deliberately selected single units were analyzed and nitrate was the only nutrient parameter quantified, the findings do not establish ratio superiority or comprehensive biofiltration efficiency. Replicated trials with direct nutrient mass balances are required. Contribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG 6: Clean Water and SanitationSDG 12: Responsible Consumption and ProductionSDG 14: Life Below Water
Comparative Evaluation of Coagulation - Flocculation Performance of Peat Water from Sumatra and Kalimantan Ernest Nicholas Pongsamma; R Mohammad Alghaf Dienullah; Aulia Ulfah Farahdiba
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v10i3.1272

Abstract

Peat water is a potential alternative water resource in Indonesia, particularly in the peatlands of Sumatra and Kalimantan. However, its high acidity and elevated concentrations of natural organic matter (NOM) prevent its direct use as drinking water. Since the physicochemical characteristics of peat water vary among regions, chemical dosage requirements and ionic behavior may differ under identical operating conditions. Therefore, as a preliminary optimization phase, this study comparatively evaluated the coagulation–flocculation performance of peat water collected from Sumatra and Kalimantan using the Jar Test method. Polyaluminium chloride (PAC) was employed as the primary coagulant, while burnt lime (CaO) and hydrated lime (Ca(OH)?) were evaluated as alkaline agents. Treatment performance was assessed based on initial baseline ionic responses, including pH, total dissolved solids (TDS), and electrical conductivity (EC). Statistical analyses were performed using two-way analysis of variance (ANOVA) followed by Tukey's honestly significant difference (HSD) test at a 95% confidence level. The results showed that sampling location, chemical treatment, and their interaction significantly affected all measured parameters (p < 0.001). Hydrated lime combined with PAC effectively increased pH, whereas TDS and EC responses varied according to treatment dosage and peat water origin. Among the evaluated treatments, HL200-PAC80 produced pH values closest to the Indonesian drinking water standard, whereas HL200-PAC20 applied to Kalimantan peat water resulted in the lowest residual TDS and EC. These findings demonstrate that regional variations in peat water characteristics strongly influence coagulation–flocculation performance, providing a foundational basis for site-specific dosage optimization prior to main-stage NOM and color removal processes. Contribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG 6: Clean Water and SanitationSDG 11: Sustainable Cities and CommunitiesSDG 13: Climate ActionSDG 15: Life on Land
Co-Authors Agung Rachmanto, Tuhu Ali, Munawar Ali, Munawar Alifia Putri Arini Anis Yusrin Qonita Anis Yuzrin Qonita Anisa Amelia Atmadani Annisa Ramdhaniati Annisa Ramdhaniati, Annisa Any Juliani, Any Aprliani, Nita Galuh Arif, Ady Syah Putra Aussie Amalia Awang Pambagya Manggar Ingtyas Ayu Putri Sahitamara Azzahra Hanggararas Sasdika Azzahra Hanggararas Sasdika Claudya, Agnes Lidya Delima, Nonna Shifa Cahaya Dhia Khairullah Risky Eddy Kurniawan Eddy S. Soedjono Eddy S. Soedjono, Eddy S. Erdio Maulana Wijayanto Erdio Maulana Wijayanto Ernest Nicholas Pongsamma Euis Nurul Hidayah Ferry Firmansyah Fibriliana Kartika Firra Rosariawari Geafiata Amalia Nurbaiti Geafiata Amalia Nurbaiti Geafiata Amalia Nurbaiti Henokh Wau Indah Sholihah Wulandari Iqbal Ramadhan Iqbal Ramadhan, Iqbal Khusnul Khotimah Ayuningtiyas Kinanty, Retno Krisna Adji Pamungkas, Dikky Kurnia, Selvy Dwi Kurniasari, Lolita Kyky Fadhila Cindya Putri Lolita Kurniasari Maroeto Maya, Ni Made Mochammad Shaifullah Indrawanto Mohamad Mirwan Mohamad Mirwan Mohammad Pranoto S Muhammad Faisal Fadhil Muhammad Firdaus Kamal Muhammad Gibran Al-Ghafari Muhammad Khilmi Alkhatib Nakita Andara Maharani Naniek Ratni Juliardi A.R. Nanik Ratni JAR Nasywa Khalisah Pieter Ni Made Maya Nicken Elok Arohmah Nita Galuh Apriliani Nonna Shifa Cahaya Delima Handricahyono Nosa Syifa Yurinda Nurbaiti, Geafiata Amalia Nurvita Cundaningsih Praditya Sigit Ardisty Sitogasa Purnomo Edi Sasongko Purnomo, Yayok Suryo Putri Redita Rositasari R Mohammad Alghaf Dienullah R. Mohammad Alghaf Dienullah Rachmanto, Tuhu Agung Raden Kokoh Haryo Putro Rengkugegana, Monica Enggar Retno Kinanty Mistari Ridwan Hafidh Rio Agustian Siregar Rizqa, Fauzul Rossyda Priyadarsini Rubi, Renung Ryzki Marcella Amalia Triadi Ryzki Marcella Amalia Triadi Sabrinatus Amalia Gustannanda Sabrinatus Amalia Gustannanda Safrilia, Savira Salsabila Prawardani Satria Nugraha Sakti Savira Safrilia Tuhu Agung Rachmanto Tuhu Agung Rachmanto Tuhu Agung Rachmanto Umi Hafilda Al-Hanniya Umi Hafilda Al-Hanniya Yayok Suryo Purnomo Yayok Suryo Purnomo Yayok Suryo Purnomo Yayok Suryo Purnomo Yurinda, Nosa Syifa