Claim Missing Document
Check
Articles

Kepemimpinan Perempuan Dalam Lingkungan Maskulin: Representasi Ketangguhan Bu Broto Dalam Film Losmen Bu Broto Putri Ramadhani, Dinar; Assita, Rodhatul; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5430

Abstract

ABSTRAK Latar belakang penelitian ini adalah adanya stereotip gender yang membatasi ruang kepemimpinan perempuan, khususnya dalam lingkungan yang maskulin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi ketangguhan kepemimpinan transformasional Bu Broto dan kaitannya dengan prinsip SDG 5. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis wacana kritis dan semiotika terhadap film Losmen Bu Broto. Hasil penelitian menunjukkan Bu Broto direpresentasikan sebagai pemimpin transformasional yang tangguh melalui empat dimensinya, mampu menghadapi tantangan patriarki dengan memadukan ketegasan dan empati. Temuan ini memperkaya wacana kepemimpinan perempuan dan media studies dengan menawarkan modelrepresentasi alternatif yang memberdayakan. Implikasinya, film berpotensi menjadi alat edukasi untuk mendorong kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan dalam masyarakat. ABSTRACT The background of this research is the persistent gender stereotypes that constrain women's leadership spaces, particularly in masculine environments. This study aims to analyze the representation of Bu Broto's transformational leadership resilience and its reflection of SDG 5 principles. Using a qualitative approach, critical discourse analysis and semiotics were applied to the film Losmen Bu Broto. The results reveal Bu Broto is represented as a resilient transformational leader through its four dimensions, capable of confronting patriarchal challenges by blending assertiveness and empathy. These findings enrich the discourse on women's leadership and media studies by offering an empowering alternative representation. The film's potential implication is asan educational tool to promote gender equality and women's leadership in society.
Kepemimpinan Transformatif ala Monkey D. Luffy: Penelitian Kualitatif Nilai-Nilai SDGs dalam One Piece Ayudia Arianti, Adhis; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Wardani, Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5434

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi representasi kepemimpinan dalam serial anime Jepang One Piece, dengan fokus pada tokoh Monkey D. Luffy serta interaksinya dengan karakter lain dan berbagai konflik. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis adegan naratif terpilih untuk mengkaji nilai-nilai kepemimpinan, dinamika tim, dan resolusi konflik, berdasarkan pengamatan mendalam terhadap dialog, perkembangan alur cerita, dan momen simbolis yang menyoroti praktik kepemimpinan. Temuan menunjukkan bahwa Luffy merefleksikan secara kuat kepemimpinan transformasional, yang ditunjukkan melalui kemampuannya menginspirasi dan memotivasi orang lain, memberdayakan krunya, serta mendorong persatuan di tengah perbedaan. Gaya kepemimpinan ini menekankan visi, kepercayaan, dan tujuan bersama, sejalan dengan teori modern yang memandang kepemimpinan sebagai relasional daripada hierarkis, dan melalui pembentukan loyalitas serta ketangguhan, Luffy mewujudkan sosok pemimpin transformasional yang mendorong pertumbuhan pribadi, kolaborasi, dan pencapaian kolektif. Namun, nilai-nilai tersebut terus diuji oleh konflik yang berulang dengan pihak Angkatan Laut, yang melambangkan perjuangan lebih luas terkait TujuanPembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, sehingga memperlihatkan bahwa kepemimpinan transformasional harus adaptif terhadap resistensi, ketidakpastian, dan ketidakadilan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa One Piece bukan sekadar hiburan, melainkan juga sumber pembelajaran kepemimpinan yang relevan bagi konteks organisasi maupun personal, serta menunjukkan bagaimana narasi fiksi seperti anime dapat menjadi media efektif untuk pendidikan kepemimpinanbdan pengembangan karakter dalam dinamika sosial yang kompleks. ABSTRACT This study explores the representation of leadership in the Japanese anime series One Piece, focusing on the character Monkey D. Luffy and his interactions with other key figures and conflicts throughout the storyline. Using a qualitative descriptive approach, this research examines selected narrative scenes to analyze leadership values, team dynamics, and conflict resolution within the plot. Data are drawn from in-depth observation of character dialogues, plot developments, and symbolic moments that highlight leadership practices. Findings reveal that Luffy demonstrates core elements of transformational leadership, including inspiring and motivating others, empowering team members, and promoting unity despite differences. However, these leadership values are often tested by recurring conflicts between pirates and the Marine, which reflect broader challenges to achieving Sustainable Development Goals such as peace, justice, and strong institutions. This study concludes that One Piece offers more than entertainment; it provides valuable insights into leadership that are relevant for both organizational and personal contexts. Fictional narratives like anime can serve as effective media for leadership education and character development. This study explores the representation of leadership in the Japanese anime series One Piece, focusing on Monkey D. Luffy and his interactions with other characters and conflicts. Using a qualitative descriptive approach, the research analyzes selected narrative scenes to examineleadership values, team dynamics, and conflict resolution, with data drawn from close observation of dialogues, plot developments, and symbolic moments that highlight leadership practices. Findings indicate that Luffy strongly reflects transformational leadership, demonstrated through his ability to inspire and motivate others, empower his crew, and promote unity despite differences. His leadership style emphasizes vision, trust, and shared purpose, aligning with modern theories that view leadership as relational rather than hierarchical, and by cultivating loyalty and resilience, Luffy embodies the transformational leader who encourages personal growth, collaboration, and collective achievement. However, these values are continually challenged by recurring conflictswith the Marine, which symbolize broader struggles tied to Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 16 on peace, justice, and strong institutions, thereby showing that transformational leadership must adapt to resistance, uncertainty, and social injustice. This study concludes that One Piece provides more than entertainment; it serves as a meaningful source of lleadership lessons relevant for both organizational and personal contexts, and demonstrates how fictional narratives like anime can function as effective media for leadership education and character development, while illustrating how transformational leadership operates within complex social dynamics.
Representasi Kepemimpinan dan Kekuasaan Dalam Film “Menolak Diam (2019)” Hardiansyah, Putri; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Amalia Sinulingga, Rizky; Mustika Dewi, Indri
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5445

Abstract

ABSTRAK Representasi kepemimpinan merupakan konstruksi simbolis dan naratif tentang kepemimpinan dalam berbagai medium budaya, termasuk sinema, yang tidak hanya merefleksikan realitas historis atau sosial, tetapi juga membentuk persepsi publik mengenai otoritas, pengaruh, dan tanggung jawab pemimpin. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis representasi kepemimpinan dan kekuasaan yang tergambar dalam film Menolak Diam (2019), dengan menem patkannya dalam konteks perjuangan sosial-politik serta narasi sejarah Indonesia yang lebih luas. Fokus penelitian menyoroti bagaimana film ini menggambarkan kepemimpinanbukan sebagai posisi formal otoritas semata, melainkan sebagai proses dinamis yang penuh dengan keberanian moral, perlawanan, dan tanggung jawab etis dalam menghadapi struktur kekuasaan represif. Tema sentral analisis mencakup otoritarianisme, aktivisme akar rumput, serta interaksi kompleks antara dominasi dan emansipasi. Metodologi yang diterapkan adalah kualitatif, menggabungkan analisis mendalam terhadap adegan-adegan film, tinjauan pustaka komprehensif, dan triangulasi data, untuk mengkaji strategi naratif serta visual yang digunakan dalam mengilustrasikan ketegangan antara rezim represif dan kehendak kolektif untuk keadilanserta partisipasi demokratis. Temuan utama penelitian mengungkap bahwa Menolak Diam secara kuat menggambarkan kepemimpinan sebagai bentuk perlawanan aktif yang menantang legitimasi kekuasaan otoriter, sekaligus mengekspos kontradiksi inheren dalam kekuasaan tersebut—di mana upaya membungkam dissent dan mempertahankan kontrol justru memicu kesadaran sosial serta mobilisasi massa. Representasi dalam film ini menekankan dampak negatif dari kekuasaan yang menindas, seperti pengekangan kebebasan berekspresi, marginalisasi suara-suara minoritas, dan erosi ruang demokrasi yang sehat. Di sisi lain, filmmenyoroti potensi transformatif kepemimpinan yang berlandaskan integritas pribadi, solidaritas komunal, dan pemberdayaan kelompok marjinal. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan pada diskursus kepemimpinan dan kekuasaan dengan menunjukkan bagaimana narasi sinematik dapat berfungsi sebagai alat kritis untuk refleksi sosial dan edukasi politik. Ia mengajak penonton serta pembaca untuk mempertimbangkan ulang nilai-nilai kepemimpinan partisipatif dan tata kelola yang akuntabel dalam masyarakat kontemporer Indonesia, di tengah tantangan demokrasi yang sedang berlangsung. ABSTRACT Representation of leadership Refers to the symbolic and narrative construction of leadership in various cultural media, such as cinema, which not only reflects historical or social realities, but also shapes society's perception of the authority, influence, and responsibility of leaders.This study aims to critically analyze the representation of leadership and power as depicted in the film Menolak Diam (2019), situating it within the broader context of Indonesia’s socio-political struggles and historical narratives. The research focuses on how the film portrays leadership not merely as a formal position of authority but as a dynamic and morally charged process involvingcourage, resistance, and ethical responsibility in confronting oppressive power structures. Central to this analysis are the themes of authoritarianism, grassroots activism, and the complex interplay between domination and emancipation. Employing a qualitative methodology that combines detailed film scene analysis, comprehensive literature review, and data triangulation, the study investigates the narrative and visual strategies used to depict the tensions between repressive regimes and the collective will for justice and democratic participation. The findings reveal that Menolak Diam powerfully illustrates leadership as an active form of resistance that challenges the legitimacy of authoritarian power, exposing its inherent contradictions—where power seeks to silence dissent and maintain control, yet simultaneously provokes social awakening and mobilization. The film’s representation underscores the detrimental effects of oppressive power, such as the suppression of freedom, marginalization of voices, and erosion of democratic spaces, while also highlighting the transformative potential of leadership grounded in integrity, solidarity, and empowerment of the marginalized. This study contributes to the discourse on leadership and power by demonstrating how cinematic narratives can function as critical tools for social reflection and political education, encouraging audiences to reconsider the values of participatory leadership and accountable governance in contemporary society.
Implementasi Manajemen Keuangan Generasi Sandwich pada Film Home Sweet Loan Claresta, Eilen; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Amalia Sinulingga, Rizky; Wardani , Nazhifah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5447

Abstract

ABSTRAK Fenomena generasi sandwich semakin meluas di Indonesia yang menjadikan salah satu contoh nyata dalam melakukan perencanaan keuangan (financial planning) yang dihadapi oleh beberapa orang untuk menopang keluarganya. Pada alur cerita film Home Sweet Loan, akan memberikan gambaran realistis tentang bagaimana individu berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan tantangan sistemik. Film ini juga menyoroti pentingnya literasi keuangan, seperti membuat anggaran, menabung, dan berinvestasi untuk keuangan jangka panjang. Dalam metode ini data yang diambil berdasarkan analisis film secara menyeluruh terkait detail tentang kegiatan atau situasi sedang berlangsung dengan fokus khusus pada adegan yang dilakukan oleh tokoh utama Kaluna dalam mengambil keputusan pada setiap tindakan yang dikaitkan dengan teori manajemen keuangan. Hasil analisis deskriptif film Home Sweet Loan menunjukkan bahwa karakter utama Kaluna merupakan seseorang yang terencana dalam mengelola keuangan, pengalokasian dan pengendalian dana. Jika dilihat berdasarkan dasar manajemen keuangan, Kaluna adalah sosok yang menggambar kan generasi sandwich dengan segala penuh tanggung jawab yang mampu diatasinya dengan berbagai upaya untuk mengontrol keuangan nya. Film ini juga menunjukkan bahwa perencanaan keuangan tidak selalu berjalan mulus dan sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti keluarga dan kondisi ekonomi. Peneliti selanjutnya dapat memperluas analisis ini dengan melakukan perbandingan implementasi manajemen keuangan pada film lain dengan metode analisis naratif komparatif. ABSTRACTThe sandwich generation phenomenon is becoming increasingly widespread in Indonesia, which is one of the real examples of financial planning faced by some people in order to support their families. The plot of the film Home Sweet Loan provides a realistic picture of how individuals struggle amid economic constraints and systemic challenges. The film also highlights the importance of financial literacy, such as budgeting, saving, and investing for long-term financial goals. In this method, data is collected based on a comprehensive analysis of the film, focusing on details about ongoing activities or situations, with a particular emphasis on scenes where the main character, Kaluna, makes decisions related to financial management theory. The results of the descriptive analysis of the film Home Sweet Loan show that the main character Kaluna is someone who is planned in managing finances, allocating and controlling funds. When viewed based on the principles of financial management, Kaluna is a figure who represents the sandwich generation with all the responsibilities that she is able to overcome with various efforts to control her finances. The film also shows that financial planning does not always go smoothly and is often influenced by external factors such as family and economic conditions. Researchers can further expand this analysis by comparing the implementation of financial management in other films using comparative narrative analysis methods.
Representasi Standar Kecantikan dalam Film Imperfect: Implikasi Sosial, Kesehatan Mental, dan Kesetaraan Gender Wishelda Izdihar, Damara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5451

Abstract

ABSTRAK Standar kecantikan merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya dan media massa, yang menekan perempuan untuk memenuhi kriteria fisik ideal. Tekanan ini menciptakan pandangan seragam tentangpenampilan, sekaligus merusak kesehatan mental, penerimaan diri, serta memperdalam ketidakadilan gender dan diskriminasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi standar kecantikan dalam film Imperfect, mengungkap simbolisme serta ideologi di baliknya, dan dampaknya terhadap kesehatan mental serta relasi sosial perempuan. Analisis dilakukan melalui pemeriksaan elemen visual, dialog, dan narasi terkait pembentukan kecantikan. Hasilnya menunjukkan bahwa film Imperfect menggambarkan tekanan sosial lewat body shaming, perubahan fisik, dan perbedaan perlakuan terhadap tokoh utama. Film ini juga menyoroti penerimaan dan cinta diri sebagai bentuk penolakan terhadap standar kecantikan yang diskriminatif. Temuantersebut menegaskan peran film sebagai alat refleksi dan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, kesetaraan gender, dan penghargaan atas keragaman fisik. ABSTRACT Beauty standards are a social construct shaped by culture and mass media, which pressures women to meet ideal physical criteria. This pressure creates a uniform view of appearance, while undermining mental health, self-acceptance, and deepening gender injustice and social discrimination. This study aims to analyze the representation of beauty standards in the film Imperfect, uncover the symbolism and ideology behind it, and itsimpact on women's mental health and social relations. The analysis was carried out through the examination of visual elements, dialogues, and narratives related to the formation of beauty. The results show that the film Imperfect depicts social pressure through body shaming, physical changes, and different treatment of the main character. The film also highlights acceptance and self-love as a form of rejection of discriminatory beauty standards. The findings affirm the role of film as a tool for reflection and education to raise awareness about mental health, gender equality, and appreciation for physical diversity.
Representasi Transformasi Emosional dan Tanggung Jawab Sosial dalam Perjalanan Karakter Molly Gunn dalam Film Uptown Girls Marischa Resmana, Sheila; Bilqis Kinanti, Amara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5454

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji representasi transformasi emosional dan tanggung jawab sosial dalam perjalanan karakter Molly Gunn dalam film Uptown Girls (2003). Fokus analisis tertuju pada bagaimana narasi dan elemen visual film menggambarkan perkembangan emosional Molly dari ketidakdewasaan menuju kedewasaan yang ditandai dengan empati dan kepedulian sosial. Pendekatan kualitatif dengan metode analisis naratif dan semiotik digunakan untuk mengidentifikasi dinamika karakter melalui adegan-adegan kunci. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan Molly dengan Ray, seorang anak dengan trauma emosional, menjadi katalis bagi pertumbuhan emosinya, mencerminkan nilai-nilai emotional intelligence dan tanggung jawab sosial. Transformasi ini diperkuat oleh penggambaran realistis emosi melalui akting dan narasi visual, yang resonansinyadapat memengaruhi pemahaman penonton tentang moralitas dan empati. Studi ini menegaskan peran film sebagai medium untuk merefleksikan perkembangan psikologis dan sosial individu, khususnya dalam konteks perempuan. ABSTRACT This study examines the representation of emotional transformation and social responsibility in the journey of Molly Gunn's character in the film Uptown Girls (2003). The focus of the analysis is on how the film's narrative and visual elements depict Molly's emotional development from immaturity to maturity, marked by empathy and social awareness. A qualitative approach using narrative and semiotic analysis methods is used to identify character dynamics through key scenes. This study finds that Molly's relationship with Ray, a child with emotional trauma, becomes a catalyst for her emotional growth, reflecting the values of emotional intelligence and social responsibility. This transformation is reinforced by the realistic portrayal of emotions through acting and visual narrative, whose resonance can influence the audience's understanding of morality and empathy. This study affirms the role of film as a medium for reflecting on individual psychological and social development, particularly in the context of women.
Kecerdasan Emosional Pemimpin dalam Mengelola Konflik: Kajian Naratif pada Karakter Nelson Mandela dalam Film Invictus. Fahria Herlambang, Ivan; Fikri, Muhammad; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji , Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5494

Abstract

ABSTRAK Melalui analisis naratif kualitatif terhadap film Invictus, penelitian ini menyelidiki signifikansi kecerdasan emosional dalam praktik kepemimpinan. Fokus kajian ini adalah pada karakter Nelson Mandela dan strateginya dalam memimpin rekonsiliasi pasca-apartheid di Afrika Selatan. Dengan memeriksa secara mendalam alur cerita, dialog, dan adegan-adegan kunci, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana kompetensi emosional termasuk empati, kesadaran diri, regulasi emosi, dan keterampilan sosial berperan penting bagi keberhasilan Mandela dalam menavigasi konflik sosial yang kompleks. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan kepemimpinan transformasional Mandela, yang berlandaskan pada prinsip pengampunan, rekonsiliasi, dan tujuan bersama, secara efektif mempersatukan bangsa yang terfragmentasi serta membangun perdamaian dan solidaritas nasional. Studi ini menyimpulkan bahwa kapasitas emosional adalah krusial bagi para pemimpin yang menghadapi dinamika konflik dan perubahan sosial, serta merekomendasikan agar pengembangan kecerdasan emosional diprioritaskan sebagai kompetensi inti untuk kepemimpinan yang efektif di semua tingkatan, baik organisasi maupun nasional. ABSTRACT Through a qualitative narrative analysis of the film Invictus, this study investigates the significance of emotionalintelligence in leadership practice. The focus of the study is on the character of Nelson Mandela and his strategy in leading post-apartheid reconciliation in South Africa. By closely examining the plot, dialogue, and key scenes, this research identifies how emotional competencies including empathy, self-awareness, emotion regulation, and social skills were instrumental to Mandela's success in navigating complex social conflict.The findings indicatethat Mandela's transformational leadership approach, which was grounded in the principles of forgiveness, reconciliation, and common goals, effectively united a fragmented nation and built national peace and solidarity. The study concludes that emotional capacity is crucial for leaders facing the dynamics of conflict and social change, and recommends that the development of emotional intelligence be prioritized as a core competencyfor effective leadership at all levels, both organizational and national.
Interpretasi Kepemimpinan Transformasional Sultan Agung dalam Memotivasi Rakyat pada Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta Anatasya Permatha Bayu, Jezicka; Bilqis Kinanti, Amara; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5500

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan berperan penting dalam mendorong anggota untuk bekerja keras demi mencapai tujuan organisasi, yang tidak hanya melibatkan kekuasaan, tetapi juga proses pengarahan, motivasi, dan pembentukan kerja sama tim untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tentang kepemimpinan lebih terfokus pada konteks modern atau organisasi kontemporer, sementara kajian mengenai nilai-nilai kepemimpinan historis melalui media budaya film masih jarang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinan Sultan Agung yang tercermin dalam film. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, yang lebih menekankan pada pemahaman makna dan interpretasi terhadap gaya kepemimpinan Sultan Agung yang ditampilkan dalam film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sultan Agung menerapkan gaya kepemimpinan transformasional yangberfokus pada visi jangka panjang, kemampuan memotivasi, keberanian dan ketegasan, serta perhatian terhadap kesejahteraan rakyatnya. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman bahwa film dapat menjadi sarana edukasi kepemimpinan yang inspiratif. Kajian lanjutan dapat menggali lebih dalam mengenai media budaya lainnya, selain film, yang dapat digunakan sebagai sarana edukasi kepemimpinan. ABSTRACT Leadership plays a crucial role in encouraging members to work hard to achieve organizational goals, which not only involves power, but also the processes of directing, motivating, and fostering teamwork to reach the established objectives. Nevertheless, most research on leadership has focused more on modern contexts or contemporary organizations, while studies on the values of hiistorical leadership through the cultural medium of film are still rarely explored. This research aims to describe the leadership values of Sultan Agung as reflected in film. The method used in this study is a qualitative approach with a descriptive design, which emphasizes understanding meaning and interpreting the leadership style of Sultan Agung as presented in the film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. The research findings show that Sultan Agung implemented atransformational leadership style that focuses on long-term vision, motivational ability, courage and decisiveness, as well as attention to the welfare of his people. This study contributes to the understanding that films can be an inspiring medium for leadership education. Further studies can delve deeper into other cultural media, besides films, that can be used as a means of leadership education.
Representasi Dampak Psikologis Trauma dan Perlawanan melalui Karakter Tokoh Sahir Pada Film Dhoom 3 Arlinda Dwi Ariyani, Diva; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5502

Abstract

ABSTRAK Trauma masa kecil dan konflik batin memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian dan perilaku seseorang, yang dapat menyebabkan perilaku destruktif. Namun, tidak semua orang yang mengalami traumatis atau konflik batin akan menunjukkan perilaku destruktif, terutama jika penanganannya dilakukan secara efektif dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak trauma masa kecil, konflik batin, dan pembentukan identitas melalui film Dhoom 3 (2013). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menganalisis data primer berupa elemen cerita, dialog, dan ekspresi visual dari film, serta data sekunder dari literatur terkait trauma dan representasi media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Sahir dipengaruhi oleh trauma masa kecil yang berakar pada ketidakadilan yang dialami ayahnya, sehingga memotivasinya untuk melakukan serangkaian perampokan bank sebagai bentuk perlawanan. Di samping itu, konflik batin Sahir memunculkan identitas ganda sebagai bentuk perlindungan diri. Film ini juga menggambarkan bagaimana trauma dapat mengubah pandangan terhadap keadilan dan moralitas, dimana tindakan destruktif dipandang sebagai wujud keadilan subjektif. Dampak psikologis tersebut menegaskan pentingnya mengelola konflik intrapersonal dan trauma secara konstruktif untuk mencegah perilaku maladaptif. Sebagai media pendidikan, film Dhoom 3 berkontribusi sebagai media edukatif dalam meningkatkan pemahaman publik terhadap isu kesehatan mental, yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) mengenai kesehatan dan kesejahteraan serta perdamaian dan keadilan. ABSTRACT Childhood trauma and inner conflict have a significant influence on the formation of a person's personality and behaviour, which can lead to destructive behaviour. However, not everyone who experiences trauma or inner conflict will exhibit destructive behaviour, especially if it is handled effectively and appropriately. This study aims to analyse the impact of childhood trauma, inner conflict, and identity formation through the film Dhoom 3 (2013). The research method used is a descriptive qualitative approach, analysing primary data in the form of story elements, dialogue, and visual expressions from the film, as well as secondary data from literature related to trauma and media representation. The results of the study show that Sahir's character was influenced by childhood trauma rooted in the injustice experienced by his father, motivating him to carry out a series of bank robberies as a form of resistance. In addition, Sahir's inner conflict gave rise to a dual identity as a form of self-protection. The film also illustrates how trauma can alter one's perspective on justice and morality, where destructive actions are perceived as a form of subjective justice. These psychological impacts emphasise the importance of constructively managing intrapersonal conflicts and trauma to prevent maladaptive behaviour. As an educational medium, the film Dhoom 3 contributes to increasing public understanding of mental health issues, which is in line with the Sustainable Development Goals (SDGs) on health and well-being, peace and justice.
Implementasi Gaya Kepemimpinan : Studi Kasus Billy Beane Pada Film Moneyball Assita, Rodhatul; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5508

Abstract

ABSTRAKKepemimpinan merupakan faktor kunci dalam menentukan arah, motivasi, dan kinerja organisasi, terutama ketika menghadapi keterbatasan sumber daya dan dinamika perubahan yang cepat. Film Moneyball menggambarkan tokoh Billy Beane sebagai General Manager Oakland Athletics yang berani mengambil risiko melalui penerapan strategi sabermetrics di tengah keterbatasan finansial. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui implementasi gaya kepemimpinan Billy Beane dalam film Moneyball serta dampaknya terhadap kinerja dan pencapaian tim. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan observasi film. Data diperoleh melalui pengamatan berulang pada adegan-adegan yang menunjukkan gaya kepemimpinan Billy Beane, dilengkapi dengan literatur akademis terkait teori kepemimpinan visioner,transformasional, dan otoriter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Billy Beane mengadopsi gaya kepemimpinan multidimensi, yaitu kepemimpinan otoriter, kedua gaya kepemimpinan visioner, ketiga gaya kepemimpinan transformasional. Selain itu, motivasi personal maupun kolektif yang diberikan Billy Beane terbukti meningkatkan kinerja individu dan kolektif tim. Dampaknya, Oakland Athletics berhasil mencetak20 kemenangan beruntun dan warisan strateginya kemudian diadopsi tim lain. Namun, pada penerapan gaya otoriter Billy Beane terbilang efektif dalam situasi krisis, gaya ini juga menimbulkan resistensi dan konflik internal dengan staf bawahan yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini memberi kontribusi pada pemahaman bahwa efektivitas kepemimpinan terletak pada kemampuan adaptif dalam menggabungkan berbagai gaya sesuai situasi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian pada perbandingan gaya kepemimpinan tokoh lain dalam film bertema olahraga atau organisasi nyata untuk memperkuat pemetaan teori kepemimpinan dalam praktik. ABSTRACTLeadership is a key factor in determining the direction, motivation, and performance of an organization, especially when facing resource constraints and rapid change. The film Moneyball depicts Billy Beane as the General Manager of the Oakland Athletics who dared to take risks byapplying sabermetrics strategies amid financial constraints. This study aims to examine the implementation of Billy Beane's leadership style in the film Moneyball and its impact on team performance and achievements. The research method used is descriptive qualitative with filmobservation. Data was obtained through repeated observation of scenes that show Billy Beane's leadership style, supplemented with academic literature related to visionary, transformational, and authoritarian leadership theories. The results of the study show that Billy Beane adopted amultidimensional leadership style, namely authoritarian leadership, visionary leadership, and transformational leadership. In addition, the personal and collective motivation provided by Billy Beane was proven to improve individual and collective team performance. As a result, theOakland Athletics managed to score 20 consecutive wins, and his strategic legacy was later adopted by other teams. However, while Billy Beane's authoritarian style was effective in crisis situations, it also caused resistance and internal conflict with subordinate staff who felt they werenot involved in decision-making. This research contributes to the understanding that leadership effectiveness lies in the adaptive ability to combine various styles according to the situation. Further research could expand the study by comparing the leadership styles of other figures in
Co-Authors Abdullah, Siti Intan Nurdiana Wong Ajeng Rachma Pertiwi, Ajeng Rachma Aji , Gagas Akbar Al Majid, Muhammad Kelvin Amalia, Nayla Lisda Amaliya Sinulingga, Rizky Amaliyah, Amaliyah Ameziziana, Ameziziana Ananda Lutfitami, Ratu Hemas Titalya Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Anggraeni, Navelsa Anggraeni, Novi Dwi Angraeni, Navelsa Anwar, Hidan Razan Aqilah , Nawal Arlinda Dwi Ariyani, Diva Assita, Rodhatul Auliya, Sinta Rahmah Ayudia Arianti, Adhis Ayudya, Hasna Sima Bilqis Kinanti, Amara Calista, Ellysia Dea Chandika Maharani, Vannesya Chandra, Bintang Adi Claresta, Eilen Dewi, Indri Mustika Dwi Ariani, Novita Indah Eka Lestari Hafqi Putri Fahria Herlambang, Ivan Fardana, Valdavi Rachma Otta Ferdian, Fina Ayu Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh Gayuh Aji , Gagas Gayuh Aji, Gagas Hardiansyah, Putri Herlambang, Iqbal Septiyan Putra Humaira, Faizza Husna, Nawra Aqila Ilham Rohmatulloh, Sendi Indah Dwi Ariani, Novita Inovasi, Gema Cahaya Kertahadi Kertahadi Kinanti, Amara Bilqis Marischa Resmana, Sheila Maysura, Suci Qaulan Muhammad Fikri Muhammad, Bagus Nurchidayah Mustika Dewi, Indri Nugroho, Dewa Rizky Nurcholis, Sony Wijaya Pamungkas Umagafi, Dimitri Putri Ramadhani, Dinar Rahma, Dinda Aulia Rahmadani, Putri Nia Rasyid As Syafi’i, Muhammad Fadhila Rintaati Putri, Allea Rizky Amalia Rizky Hidayatullah Al Huda, Muhammad Ainur Rizky Rizky, Rizky Rizqi Faradisa, Adinda Romadhoni Sasongko, Nandamar Sahlimar, Nadiya Sahwa Salman Alfarisi Seisha Hariono, Emely Sinulingga, Rizki Amalia Sinulingga, Rizky Amalia Sinungga, Rizki Amalia Suhadak Suhadak Triwastuti, Amaliyah Ria Ulfa, Dita Fachriza Wardani , Nazhifah Wardani, Nazhifah Wicaksono, Herlyanto Doni Wishelda Izdihar, Damara Yuniati, Anggita Dwi Zahra Hasoloan, Hanifah Az