Aparatur desa berperan sebagai penghubung komunikasi utama antara pemerintah dan warga, namun efektivitasnya sering kali terhambat oleh kecemasan psikologis serta keterbatasan teknis dalam berpidato. Program pengabdian ini dirancang untuk menguatkan kecakapan komunikasi publik perangkat desa melalui penerapan metode ekstemporan yang diselaraskan dengan kearifan lokal biantara Sunda. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif guna mengeksplorasi perubahan perilaku komunikasi para peserta. Prosedur pelaksanaan mengacu pada metode Participatory Learning and Action (PLA) yang mencakup fase diagnostik, lokakarya teknis, praktik klinis berbasis umpan balik video, serta pendampingan. Hasil evaluasi mengindikasikan lonjakan kompetensi yang signifikan, terlihat dari kenaikan rata-rata skor performa dari 64,5 menjadi 87,8. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa teknik ekstemporan efektif mereduksi beban kognitif pembicara dengan mengganti pembacaan naskah utuh menjadi kerangka tematis ringkas, sehingga tercipta interaksi yang lebih natural. Di samping itu, pelatihan ini berhasil menghidupkan kembali filosofi budaya Galuh seperti someah, hade basa, dan wijaksana dalam praktik komunikasi birokrasi. Secara kolektif, 93,3% peserta mencapai tingkat kompetensi tinggi. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan retorika berbasis nilai lokal mampu meningkatkan marwah dan profesionalisme aparatur desa, serta menyarankan agar metode ini diintegrasikan secara formal dalam protokol rapat desa.