Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Media Pembelajaran Berbasis Webtoon Untuk Menafsirkan Pandangan Pengarang Dalam Novel Suciati Suciati; Sumarti Sumarti; Iing Sunarti
J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 Apr (2018): J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.169 KB)

Abstract

This study was the development of webtoon-based literary learning media. The purpose of this study was to produce media, to test the feasibility of the media, and test the effectiveness of webtoon-based literary learning media to interpret the author's views in the novel Maafkan Aku, Kuala Mesuji written by Fajar for senior high school students. This study used the Research and Development (R D) method referring to the Borg and Gall model. The results of this study were (1) webtoon-based learning media entitled "Practical Tips for Interpreting the Viewer's Angle through the Webtoon", (2) webtoon was siotable to be used as learning media worthy of use as learning media to interpret the author's views according to the results of validation tests from experts, teachers , and peseta students, (3) the webtoon media proved to be effective in increasing students' learning abilities with the acquisition of an average value of pre test 65 and post test 88 with an average effectiveness of 0.71 with a high category.Penelitian ini ialah pengembangan media pembelajaran sastra berbasis webtoon, tujuan penelitian ini untuk menghasilkan media, menguji kelayakan media, dan menguji efektivitas media pembelajaran sastra berbasis webtoon untuk menafsirkan pandangan pengarang dalam novel Maafkan Aku, Kuala Mesuji Karya Fajar untuk siswa SMA kelas XII. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R D) mengacu pada model Borg and Gall. Hasil penelitian ini berupa (1) media pembelajaran berbasis webtoon dengan judul ”Kiat Praktis Menafsir Sudut Pandang Pengarang Melalui Webtoon”, (2) media webtoon layak digunakan sebagai media pembelajaran menafsir pandangan pengarang sesuai dengan hasil uji validasi dari para ahli, guru, maupun peseta didik, (3) media webtoon terbukti efektif meningkatkan kemampuan belajar siswa dengan perolehan nilai rata-rata pre test 65 dan post test 88 dengan efektivitas rata-rata 0,71 dengan kategori tinggi.Kata Kunci: media, webtoon, pandangan pengarang.
Kecerdasan Visual-Spasial Siswa pada Soal Tes Potensi Akademik melalui Model Pembelajaran Picture and Picture di SMA Negeri 10 Banda Aceh Suciati Suciati; Suhartati Suhartati; Mukhlis Hidayat
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Matematika Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.416 KB)

Abstract

Kecerdasan visual-spasial merupakan kecerdasan yang diujikan pada soal TPA ujian masuk perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Namun kecerdasan visual-spasial belum terakomodir secara eksplisit dalam kurikulum sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecerdasan visual-spasial siswa pada soal tes potensi akademik melalui model pembelajaran picture and picture. Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis pre-test and post-test group design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 10 Banda Aceh. Sampel penelitian dipilih secara acak yaitu siswa kelas XI-1 yang berjumlah 25 siswa. Instrumen penelitian yaitu tes kecerdasan visual-spasial. Data kecerdasan visual-spasial tersebut dianalisis dengan menggunakan uji t paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kecerdasan visual-spasial siswa pada soal tes potensi akademik melalui model pembelajaran picture and picture. Implikasi penelitian ini yaitu guru dapat menumbuhkan kecerdasan visual-spasial siswa dengan model pembelajaran picture and picture pada materi yang relevan. Kata Kunci:     Visual-spasial, Tes potensi akademik, Picture and picture.
INTEGRASI NILAI-NILAI ETIKA DALAM PEMBELAJARAN SAINS UNTUK MEMBANGUN KARAKTER GENERASI ERA DIGITAL ABAD 21 Suciati Suciati
Prosiding Seminar Pendidikan Fisika FITK UNSIQ Vol 1 No 1 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA FITK UNSIQ
Publisher : Prodi Pendidikan Fisika FITK UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era globalisasi dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dewasa ini digambarkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi tekhnologi memberi kemudahan-kemudahan dan percepatan, sehingga pekerjaan manusia menjadi lebih efektif dan efisien. Di sisi lain, iklim keterbukaan era global dan kecanggihan tekhnologi telah menggeser nilai-nilai budaya lokal dan mendorong ke arah terjadinya degradasi moral seperti yang kita saksikan dalam kehidupan nyata akhir-akhir ini. Sementara sains (Fisika, Biologi, Kimia) dengan karakteristik keilmuannya berhubungan erat dengan kehidupan, fenomena alam semesta, serta hakikat pembelajarannya yang mengedepankan 4 domain: sikap, proses, produk, serta tekhnologi sebagai bentuk aplikasi dari sains, eksistensinya menjadi sangat penting terutama untuk mengembangkan nilai-nilai sikap ilmiah seperti: kejujuran, keuletan, tanggung jawab, disiplin, rasa ingin tahu, dll. sebagaimana sikap yang dimiliki oleh seorang ilmuwan (scientist). Mengintegrasi nilai-nilai etika dalam pembelajaran sains adalah alternatif solusi yang strategis untuk mengatasi terjadinya degradasi moral di masyarakat maupun di lingkungan pendidikan. Pengintegrasian nilai-nilai karakter di tingkat pendidikan formal (formal education) dapat dimulai dalam pembelajaran intrakurikuler di tingkat kelas maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan sekolah, pendidikan keluarga (informal education), serta pendidikan di lingkungan masyarakat (non-formal education). Integrasi karakter dalam pembelajaran sains selaras dengan pendekatan saintifik yang diamanahkan dalam Kurikulum 2013 yang meliputi 5 hal: mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan. Keberhasilan pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran sains, tidak lepas dari peran guru sains sebagai faktor kunci. Untuk menghadapi tantangan “peserta didik zaman now” dengan segala pencirinya, guru harus menyesuaikan diri menjadi “guru sains zaman now” dengan segala konsekuensinya terutama dalam hal paradigma mengajarnya termasuk: menentukan metode, media, penilaian, sumber bahan ajar, dll. Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UNSIQ sebagai salah satu institusi pencetak guru sains (khususnya guru Fisika), seyogianya bersiap diri agar mampu memberi kontribusi nyata dalam menyiapkan guru Fisika masa depan yang profesional.
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERPIKIR ILMIAH SISWA KELAS XI IPA (Studi Kasus Siswa Kelas XI IPA Di SMAN 1 Kalasan, Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta) Zendi Dermawan; Suciati Suciati; Widha Sunarno
Prosiding Seminar Pendidikan Fisika FITK UNSIQ Vol 1 No 1 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA FITK UNSIQ
Publisher : Prodi Pendidikan Fisika FITK UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir ilmiah merupakan suatu kompetensi yang penting untuk dimiliki pada siswa karena kemampuan ini diperlukan untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan di era abad 21. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan berpikir ilmiah siswa SMAN 1 Kalasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel penelitian ini diambil secara purposive sampling pada kelas XI IPA 1 sejumlah 28 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan tes berpikir ilmiah yang terdiri dari 25 soal pilihan ganda yang dikembangkan berdasarkan aspek kemampuan berpikir ilmiah meliputi: inquiry, analisis, inferensi dan argumentasi. Soal yang digunakan dalam penelitian ini telah tervalidasi baik secara internal maupun eksternal. Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kemampuan berpikir ilmiah siswa masih rendah dengan skor rata-rata sebesar 50,28. Hasil pengukuran pada aspek inquiry didapatkan skor rata-rata sebesar 47,72, aspek analisis sebesar 48,80, aspek inferensi sebesar 51,42 dan aspek argumentasi sebesar 60,71. Hasil penelitian ini memberikan informasi awal kemampuan berpikir ilmiah siswa di SMAN 1 Kalasan Kabupaten Yogyakarta masih rendah sehingga diharapkan guru mampu merancang proses kegiatan pembelajaran yang dapat memberdayakan kemampuan berpikir ilmiah siswa.
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERPIKIR ILMIAH SISWA KELAS XI IPA DI SMA NEGERI 1 TURI, SLEMAN (Studi Kasus Sekolah Daerah Pegunungan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) Aisyah Ferra Anggraini; Suciati Suciati; Maridi Maridi
Prosiding Seminar Pendidikan Fisika FITK UNSIQ Vol 1 No 1 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA FITK UNSIQ
Publisher : Prodi Pendidikan Fisika FITK UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berpikir ilmiah dilihat sebagai kemampuan individu dalam mencari ilmu dengan penalaran induktif dan deduktif untuk memikirkan sebuah jawaban melalui identifikasi serta mengeksplorasi penyelidikan ilmiah terhadap fakta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir ilmiah siswa kelas XI IPA 1 di SMA Negeri 1 Turi, Sleman yang meliputi aspek inquiry, aspek analisis, aspek inferensi, dan aspek argumentasi. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan berpikir ilmiah dan wawancara. Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPA 1 yang berjumlah 30 siswa di SMA Negeri 1 Turi, Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di daerah pegunungan. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Data yang diperoleh diuji menggunakan statistika deskriptif. Berdasarkan hasil uji, diperoleh data pada masing-masing skor aspek, yaitu: (1) aspek inquiry: 101; (2) aspek analisis: 88; (3) aspek inferensi: 125; dan (4) aspek argumentasi: 56. Total yang diperoleh dari ke-empat aspek yaitu sebesar 370 dengan rata-rata skor nilai 50. Skor nilai yang didapat menunjukkan bahwa kemampuan berpikir ilmiah siswa masih tergolong rendah.
IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERPIKIR ILMIAH SISWA SMA KELAS XI (Studi Kasus Siswa Kelas XI IPA di SMA N 1 Sanden) Citra Devi Imaningtyas; Suciati Suciati; Puguh Karyanto
Prosiding Seminar Pendidikan Fisika FITK UNSIQ Vol 1 No 1 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA FITK UNSIQ
Publisher : Prodi Pendidikan Fisika FITK UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan berpikir ilmiah siswa kelas XI melalui studi kasus siswa kelas XI IPA 1 di SMA Negeri 1 Sanden. Penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 di SMA Negeri 1 Sanden yang berjumlah 28 orang. Teknik perolehan sample adalah dengan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes berpikir ilmiah, observasi dan wawancara. Instrumen tes kemampuan berpikiri lmiah berjumlah 25 soal dan memuat indikator berpikir ilmiah meliputi: inquiry, analisis, inferensi, argumentasi. Instrumen untuk observasi berupa lembar observasi pembelajaran, dan instrumen wawancara menggunakan pedoman wawancara. Tes kemampuan berpikir ilmiah yang digunakan dalam penelitian ini telah divalidasi. Data yang diperoleh diuji dengan menggunakan statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir ilmiah siswa masih rendah. Rata-rata skor yang diperoleh siswa dalam mengerjakan keseluruhan soal kemamapuan berpikir ilmiah adalah 65,1. Skor yang dicapai siswa tersebut dibawah KKM yang ditetapkan sekolah. Hal ini mengindikasikan kemampuan berpikir ilmiah siswa secara umum cukup rendah. Hasil pengukuran pada tiap aspek berpikir ilmiah menunjukan rata-rata skor yang diperoleh siswa kurang maksimal, aspek berpikir ilmiah meliputi: Aspek inkuiri menunjukkan capaian rata-rata skor siswa 25,83; Aspek Analisis menunjukkan rata-rata skor siswa 31,33; aspek inferensi menunjukkan rata-rata skor siswa 47; dan aspek argumentasi memiliki rerata skor yang tertinnggi yaitu 66. Kurang maksimalnya perolehan skor tes berpikir ilmiah secara umum disebabkan siswa belum terbiasa dilatihkan kemampuan berpikir ilmiah dalam pembelajaran. Pelatihan berpikir ilmiah dalam pembelajaran, dapat dilakukan dengan penggunann model pembelajaran yang melatih siswa untuk dapat menemukan pengetahuan seperti peneliti melakukan proses penelitian yaitu dengan model pembelajaran berbasis inkuiri. Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut, peneliti merekomendasikan adanya penelitian lanjutan berupa tindak lanjut untuk menyelesaikan masalah berpikir ilmiah siswa.
Fitur Pelafalan Suprasegmental Bahasa Inggris Mahasiswa Indonesia dan Implikasi Pedagoginya Suciati Suciati; Yuniar Diyanti
SAGA: Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics Vol 2 No 1 (2021): February 2021
Publisher : English Language Education Department, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/saga.2020.21.62

Abstract

This minor study aims at describing learners’ features of pronunciation in terms of their suprasegmental aspects found in their speech. Students were asked to read aloud a text entitled The Gorilla Joke from the © BBC British Council 2006. Students oral narrations were then analysed in terms of their intonation pattern and stress assignment in sentence level. A metrical analysis was also used to show how students produced their speech rhythm. The result of the analysis shows that given the same text to read students may produce various combination of intonation patterns. Students also misplaced stress within the syllables or assigned no stress at all. Based on the metrical phonology analysis, learners did not assign foot timely based on the timing units in connected speeches. The speech production is more like a broken speech. Students also neglected the morphophonemics rules in which they did not produce the appropriate allomorphs [t], [d], and [id] in the past participle words. These features bring about some pedagogical implication. Keywords: student’ pronunciation features, suprasegmental aspects
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS X PADA MATERI SPLDV DITINJAU DARI HASIL BELAJAR SISWA sutriyaningsih sutriyaningsih; Suciati Suciati; Zulia Maulidatul Munawaroh; Elly Elviani; Baihaqi Al-A'la; Fadhilah Rahmawati
LINEAR: Journal of Mathematics Education Volume 1 Nomor 2 Desember 2020
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguran IAIN Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.508 KB) | DOI: 10.32332/linear.v1i2.2657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X pada materi sistem persamaan linier dua variabel. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kulitatif. Subjek dalam penelitian sebanyak 20 siswa dari kategori hasil belajar tinggi, sedang, dan rendah. Data pada penelitian ini adalah kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas X MAN 1 Magelang. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sedangkan instrument bantu dalam penelitian ini adalah soal tes kemampuan berpikir kreatif pada materi SPLDV dan hasil ulangan siswa.Dengan mengacu pada indikator kemampuan berpikir kreatif yang terdiri dari kefasihan, fleksibilitas, dan kebaruan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa siswa dalam kategori berpikir kreatif matematis sedang adalah siswa dengan hasil belajar tinggi dan kategori berpikir kreatif matematis siswa rendah adalah siswa dengan hasil belajar sedang dan rendah.
STUDI KRITIK TERHADAP BUKU “AGENDA PSIKOLOGI ISLAMI” Suciati Suciati
Al-Misbah (Jurnal Islamic Studies) Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/almisbah.v2i1.92

Abstract

West is always grounded in empirical reality invites a number of intriguing questions, what about the non-empirical reality. Is not the reality that there is as it says in the Qur'an that genie natural and supernatural realm exists, it is not possible to study and produce a useful theory for the benefit of the people? Or whether people recognize the truth of non-empirical or metaphysical as a scientific truth that can be accounted for? Is actually a series of questions can be summarized into the question of: How epistemology of psychology Islam as a new scientific study? A series of actions in the framework of realization of the vision described the psychology of Islam as madhhab to five wanted to put a clear identity and firm, without mixed with Western psychology in terms of concept, the study and its methodology.
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Melalui Pendekatan TaRL Menggunakan Problem-Based Learning Fitri Fitri; Suciati Suciati; Arief Ertha Kusuma; Herdiansyah Herdiansyah; Yansar Yansar
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 1 No. 6 (2024): November
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v1i6.4099

Abstract

This research investigates enhancing students' mathematical problem-solving skills through the Teaching at the Right Level (TaRL) approach, utilizing the Problem-Based Learning (PBL) model focused on social arithmetic. The study involved 31 seventh-grade students at SMP Negeri 1 Tarakan during the 2023/2024 academic year and followed the Kemmis & Taggart PTK model, comprising planning, action, observation, and reflection across two cycles. Implementation success criteria were defined as 75% of students scoring ≥ 74. In the first cycle, there was a slight decrease (3%) in students achieving this score; however, the second cycle showed a 12% improvement. Ultimately, 97% of students scored ≥ 74, averaging 91.78. These findings indicate that integrating the TaRL approach with the PBL model effectively enhances the mathematical problem-solving skills of junior high school students in social arithmetic