Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengaruh jenis kemasan dan posisi penyimpanan terhadap kualitas surimi ikan swanggi selama penyimpanan suhu chilling: The impact of packaging and storage position on the chilling temperature for surimi quality from purple-spotted bigeye fish (Priacanthus tayenus) Cesrany, Mahaldika; Farida, Iftachul; Khairunnisa, Anis; Astiana, Ika; Perceka, Medal Lintas; Panjaitan, Fenny Crista Anastasia; Febrianti, Desy; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Dewi, Resti Nurmala; Samanta, Pinky Natalia; Bharata, Made Tisna Adhi; Pradnyani, Ni Made Anggun
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 26 No. 3 (2023): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 26 (3)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v26i3.45662

Abstract

Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan salah satu jenis ikan yang berpotensi sebagai bahan baku surimi. Surimi adalah produk antara bernilai tinggi yang banyak digunakan dalam pembuatan fish cake. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh jenis kemasan dan posisi penyimpanan terhadap kualitas surimi ikan swanggi melalui pengujian sensori, kadar air, dan mikrobiologi. Surimi ikan swanggi dikemas menggunakan tiga jenis plastik yang berbeda, yaitu polietilen (PE), polipropilen (PP), dan nilon. Surimi disimpan selama 28 hari di dalam freezer dengan suhu penyimpanan sebesar 2-8°C, dan posisi penyimpanan yang berbeda. Parameter yang dianalisis meliputi penilaian sensori, kadar air, dan angka lempeng total. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Data sensori dan kadar air diolah menggunakan SPSS 26.0 dengan analisis sidik ragam, jika terdapat perbedaan yang signifikan, dilakukan uji Duncan dan Tukey pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surimi yang dikemas dengan plastik nilon memiliki atribut kenampakan uji gigit, dan uji lipat yang lebih baik dibandingkan surimi yang dikemas plastik PE dan PP. Rata-rata kadar air surimi yang dikemas dengan ketiga jenis plastik berkisar antara 70-78% selama penyimpanan 28 hari dengan posisi penyimpanan yang berbeda. Kadar air pada surimi yang dikemas menggunakan ketiga jenis kemasan mengalami peningkatan seiring lamanya waktu penyimpanan. Angka lempeng total surimi menunjukkan nilai yang melebihi standar SNI 2694:2013. Semakin lama penyimpanan, maka semakin bertambah pula jumlah mikroba pada surimi.
Pengendalian cacat fisik ikan sarden kaleng menggunakan metode statistical quality control (SQC): Physical defect control in canned sardine fish using statistical quality control (SQC) method Astiana, Ika; Cesrany, Mahaldika; Gunawan, Rosa Hendri
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 4 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(4)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i4.51527

Abstract

Statistical Quality Control (SQC) is a quality management approach that uses statistical methods to resolve issues within an organization. This study aimed to determine the extent of physical damage to the end product in fish canning companies and to enumerate the factors contributing to the issue. The data collection methods employed at one of the fish canning companies in Banyuwangi were interviews, observations, and documentation. The evaluation period spanned three months, during which a total of 30 days was dedicated to the examination process. The item in question was a small-sized can, weighing 155 g, produced during the morning shift. The SQC analysis procedure utilized five instruments: examination sheets, histograms, control charts, Pareto diagrams, and cause and effect diagrams. The investigation outcomes indicated that over a period of 30 days, 3,288,138 sardine cans were produced, yielding 5,664 detected product defects. The proportion of sardine product defects was 77% dented items, 17% scratched products, 5% leaky containers, 0.9% bulging items prior to incubation, and 0.1% bulging products following incubation. A study of the control chart for a period of nine days revealed that the quantity of defective canned goods surpassed the upper control limit on inspection days 4, 5, 7, 14, 17, 20, 24, 25, and 27.The root causes of sardine product defects are (1) the absence of written work instructions in the production room, (2) inadequate machine control, (3) irregular machine maintenance, (4) inflating cans, and (5) negligence on the part of employees in performing their work duties.
Optimasi pembuatan garam Ulva lactuca menggunakan response surface methodology: Optimization production process of Ulva lactuca salt using response surface methodology Listyaningrum, Niken Prawesti; Khairunnisa, Anis; Cesrany, Mahaldika; Farida, Iftachul; Astiana, Ika; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Niken Prawesti; Lailatussifa, RR Radipta; Kurniawati, Made Devi; Kusuma, Ni Kadek Sita Anyaniti; Murtiningsih, Ni Made Ayu Meylia
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 2 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(2)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v28i2.62123

Abstract

Rumput laut Ulva lactuca merupakan bahan baku potensial dalam pengembangan garam fungsional. Kendala yang dihadapi ialah rendemen yang masih rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kondisi proses optimum pada produksi garam U. lactuca berdasarkan persentase rendemen tertinggi, mutu kimia, dan sensori menggunakan metode Response Surface Methodology dengan desain Box-Behnken (BBD). Metode pembuatan garam rumput laut menggunakan tiga variabel dengan tiga tingkatan, yakni rasio penambahan tepung U. lactuca dan pelarut akuades (A = 1:5, 1:10, 1:15), waktu ekstraksi (B = 10, 15, dan 30 menit), dan suhu ekstraksi (C = 40, 55, dan 70oC). Kombinasi ketiga faktor tersebut menghasilkan 15 percobaan. Model persamaan diuji dengan analisis varian (ANOVA) dengan α = 0.05. Garam U. lactuca hasil optimasi diuji mutu kimia, cemaran logam berat, dan karakteristik sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan optimum dalam menghasilkan rendemen garam rumput laut tertinggi, yakni rasio tepung dan pelarut sebesar 1:13,5, waktu ekstraksi selama 12 menit, dan suhu ekstraksi 70oC. Perlakuan tersebut menghasilkan respons rendemen sebesar 31,81±1,63%, yang memiliki perbedaan 0,82% dibandingkan respons prediksi 31,55%. Garam U. lactuca yang dihasilkan memiliki kadar abu 59,970%, protein 3,586%, lemak 0,25%, karbohidrat 15,46%, dan air 10,49%, kadar NaCl 27,31%, yodium <0,35%, kadmium 0,07 mg/kg, merkuri <0,002 mg/kg, dan timbal 3,6 mg/kg. Nilai respons sensori garam U. lactuca untuk atribut warna butiran, warna larutan, rasa, aroma, mouthfeel, flavor, aftertaste, dan overall berkisar pada rentang 4,2±1,69 (agak tidak suka) hingga 4,8±1,21 (netral).
Kajian Manajemen Risiko K3 pada Proses Produksi Pemindangan Ikan di Sentra Pengolahan Kusamba Budiadnyani, I Gusti Ayu; Sumandiarsa, I Ketut; Nugraha, I Made Aditya; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Astiana, Ika; Farida, Iftachul; Samanta, Pinky Natalia; Cesrany, Mahaldika; Khairunnisa, Anis; Perceka, Medal Lintas; Masrin, Putri Yuliana
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 3 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i3.625

Abstract

Sentra Pengolahan Ikan Kusamba merupakan pusat industri pemindangan tradisional yang berperan penting dalam perekonomian masyarakat pesisir Kabupaten Klungkung. Namun, proses produksinya masih memiliki berbagai potensi risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), terutama akibat paparan panas, penggunaan peralatan konvensional, serta kondisi kerja yang belum ergonomis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sumber bahaya, menilai tingkat risiko kerja, dan menentukan upaya pengendalian menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC). Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada 15 pekerja pada setiap tahapan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap perebusan memiliki risiko tertinggi (84,42%), diikuti penyiangan (74,03%), sementara pengemasan dan pendinginan tergolong risiko rendah. Sebanyak 73,3% pekerja telah menggunakan APD, namun kepatuhan dan ketersediaannya masih perlu ditingkatkan. Faktor risiko dominan meliputi lingkungan kerja panas dan lembap (60%), keterbatasan APD (26,67%), kerusakan peralatan (20%), serta tata letak kerja yang kurang aman (26,67%). Meskipun seluruh pekerja telah mengikuti pelatihan K3, penerapannya masih bersifat individual. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem K3 melalui penyusunan SOP, peningkatan APD, pengawasan rutin, serta perbaikan fasilitas kerja untuk mendukung keselamatan, produktivitas, dan keberlanjutan industri.
OPTIMIZATION OF COLD STORAGE MAINTENANCE FOR ENHANCING ENERGY EFFICIENCY IN FISHERY PROCESSING: A CASE STUDY OF XYZ COMPANY Nugraha, I Made Aditya; Sumandiarsa, I Ketut; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Samanta, Pinky Natalia; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Astiana, Ika; Farida, Iftachul; Poy, Maria Delastrada; Desnnajaya, I Gusti Made Ngurah
Jurnal Perikanan Unram Vol 16 No 1 (2026): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v16i1.2109

Abstract

The fisheries industry requires an effective cold chain system to maintain product quality and food safety, with cold storage functioning as a critical component in maintaining temperature stability prior to distribution. However, operational problems such as temperature fluctuations, equipment failure, and power outages frequently threaten cold storage performance and may lead to product deterioration and economic losses. This study aims to analyze cold storage maintenance management at XYZ Company and evaluate its effectiveness in supporting cold chain optimization. The research employed a qualitative descriptive approach conducted from October to March 2025 at XYZ Company, Sidoarjo. Data were collected through semi-structured interviews with 10 purposively selected respondents, direct observation, and analysis of maintenance records, SOPs, and temperature data logs. The results indicate that the implementation of scheduled preventive maintenance, IoT-based real-time monitoring, and automated control systems effectively maintained temperature stability within standard limits. These measures reduced the risk of protein denaturation, recrystallization, and microbial growth in fishery products. Energy efficiency improved through inverter technology and better insulation, while backup power systems and emergency SOPs minimize operational risks. In conclusion, optimized cold storage maintenance significantly enhances energy efficiency, operational reliability, and product quality, while supporting HACCP and ISO 22000 compliance and strengthening cold chain integrity in the fisheries processing industry.
Pengaruh penggorengan belut sawah (Monopterus albus) terhadap komposisi asam amino, asam lemak, kolesterol dan mineral Astiana, Ika; ., Nurjanah; Suwandi, Ruddy; Ashory Suryani, Anggraeni; Hidayat, Taufik
Depik Vol 4, No 1 (2015): APRIL 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.1.1.2366

Abstract

Abstract. The viralslot nutrition contains on eel flash aremainly amino acids, fatty acids, cholesterol, and mineral. The chemical content of foods are change during frying process. The aim of this research was to studythe rendemen, proximate composition (moisture, ashes, protein, and fat content), and analyzing the influence of deep fryingon amino acids, fatty acids, cholesterol, and mineralof eel. The research measures were eel morfometric which includes length, diameter, circumference, total weight, yield, proximat, amino acids, fatty acids, cholesterol, and mineral analysis on fresh eel and after frying in 180 oC temperature for 5 minutes.Rendemen of fried eel reducedabout 26%. The increasing of proximate levels were found on ashes by 2.56% and fat by 14.47% while water, protein, and carbohydrate were decreased about 55.43%, 2.84%, and 14.19% respectively. All of the eel amino acids were decrease after deep frying. The highest non essensial amino acid on fresh and fried eel were glutamic acids by 12,89 g/100g and 9,06 g/100g respectively, and essensial amino acid were lisin by 7,13 g/100g and 4,91 g/100g respectively. Limit amino acid on fresh and fried eel were histidine by 1,54 g/100g and 1,18 g/100g respectively.Deep frying could increase palmitic acid by 17.37%, oleic acid by 24.31%,and EPA by 1.42%. Cholesterol content average of fresh eel was 30.15 mg /100 grams and fried eel was 170.44 mg /100 grams. Calcium, natrium, kalium, magnesium, iron, and zinc are decrease and the copper wereincrease.Keywords : composition; eel; heating; nutrition; processingAbstrak. Kandungan gizi dalam daging belut sawah diantaranya adalah asam amino, asam lemak, kolesterol, dan mineral. Proses penggorengan dapat mempengaruhi kandungan kimia suatu bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari rendemen, komposisi proksimat (air, abu, protein, dan lemak) serta menganalisis pengaruh penggorengan terhadap kandungan asam amino, asam lemak, kolesterol, dan mineral belut sawah. Penelitian mencakup pengukuran morfometrik belut sawah segar yang meliputi panjang, diameter, lingkar badan, dan berat total, pengukuran rendemen, analisis proksimat, analisis asam amino, asam lemak, kolesterol, dan analisis mineral pada belut sawah segar dan setelah penggorengan dengan suhu 180 oC selama 5 menit.Rendemen belut goreng mengalami susut sebesar 26%. Perubahan kadar proksimat adalah peningkatan kadar abu sebesar 2,56% dan peningkatan kadar lemak sebesar 14,47%. Penurunan terjadi pada kadar air yaitu sebesar 55,43%, protein sebesar 2,84%, dan karbohidrat sebesar 14,19%. Keseluruhan kandungan asam amino belut mengalami penurunan setelah penggorengan. Asam amino non esensial tertinggi pada belut sawah segar dan goreng adalah asam glutamat yaitu 12,89 g/100g dan 9,06 g/100g, sedangkan asam amino esensial yang tertinggi adalah lisin yaitu 7,13 g/100g dan 4,91 g/100g. Asam amino pembatas pada belut sawah segar dan goreng adalah histidin yaitu 1,54 g/100g dan 1,18 g/100g. Proses penggorengan dapat meningkatkan kandungan asam palmitat sebesar 17,37%, asam oleat sebesar 24,31%, dan EPA sebesar 1,42%. Kandungan kolesterol rata-rata belut segar adalah 30,15 mg/100 gram dan belut goreng adalah 170,44 mg/100 gram.Mineral kalsium, natrium, kalium, magnesium, besi, dan seng juga mengalami penurunan sedangkan tembaga mengalami kenaikan.Kata kunci :belut sawah; komposisi; gizi; pemanasan; pengolahan