Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR RISIKO KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2022-2024 putri, suci pratama; Gusti, Aria; Masrizal, Masrizal
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51492

Abstract

Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh alveoli terisi nanah dan cairan yang dapat membatasi asupan oksigen. Pneumonia disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasite yang menyebabkan cedera pada paru-paru. Penemuan kasus pneumonia pada balita di Sumatera Barat Tahun 2022-2024 mengalami fluktuasi yang signifikan dilihat dari insiden rate yaitu tahun 2022 sebesar 8,9, Tahun 2023 sebesar 8,3 dan mengalami peningkatan yang cukup drastis di tahun 2024 menjadi 11,4 per 1000 balita. Penelitin ini bertujuan untuk mengetui factor risiko kejadian pneumonia pada balita di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2022-2024. Penelitian menggunakan desain studi ekologi berupa data tahunan yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Sumatera Barat dan Badan pusat Statistik Sumatera Barat. Data di analisis secara univariat, bivariate (Korelasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kepadatan penduduk dengan kejadian pneumonia pada balita (pvalue = 0,007, (<0,05). Tidak terdapat hubungan antara ketinggian wilayah, imunisasi dasar lengkap, vaksin PCV, vitamin A dan gizi buruk dengan pneumonia pada balita (p-value>0,05). Hasil analisis menunjukan bahwa factor lingkungan lebih menggambarkan adanya hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita, dilihat dari kepadatan penduduk sebagai variabel yang berhubungan dengan pneumonia. Disarankan pencegahan dan pengendalian pneumonia secara intensif, lebih memprioritaskan pendekatan berbasis wilayah serta edukasi lingkungan sehat yang mudah dipahami oleh masyarakat.
Peran Faktor Pendukung dalam Hubungan Efektivitas Implementasi dan Kepatuhan Kawasan Tanpa Rokok Iqbal, Wira; Gusti, Aria; Kinanti, Puan Gadih; Tulzahra, Afifah
ARKESMAS [Arsip Kesehatan Masyarakat] Vol 10 No 2 (2025)
Publisher : UHAMKA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/arkesmas.v10i2.21221

Abstract

ABSTRAK Kawasan Tanpa Rokok (KTR) merupakan kebijakan strategis dalam upaya pengendalian konsumsi tembakau dan perlindungan masyarakat dari paparan asap rokok. Namun, efektivitas implementasi kebijakan ini di tingkat pemerintahan lokal masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara efektivitas implementasi kebijakan KTR, faktor pendukung dan penghambat, serta kepatuhan terhadap kebijakan di lingkungan kantor camat. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan jumlah responden sebanyak 101 orang, terdiri dari pegawai dan pengunjung kantor camat di Kota Padang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara deskriptif, bivariat, serta multivariat dengan uji regresi jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas implementasi KTR berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan individu (p < 0,001) dan sebagian pengaruh tersebut dimediasi oleh faktor pendukung seperti pengawasan, sanksi tegas, serta dukungan pimpinan. Faktor pendukung juga memperkuat hubungan antara efektivitas implementasi dan kepatuhan terhadap KTR. Temuan dari pertanyaan terbuka menunjukkan adanya tiga isu utama yang menghambat implementasi KTR, yaitu lemahnya pengawasan, tidak konsistennya penegakan sanksi, dan masih kuatnya budaya merokok di sekitar area kantor. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kontekstual dan dukungan kelembagaan dalam keberhasilan penerapan kebijakan KTR di instansi publik. Kata kunci: Kawasan Tanpa Rokok, Efektivitas Kebijakan, Kepatuhan, Pengawasan, Dukungan Pimpinan
Edukasi Partisipatif Bahaya Merokok Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Mencegah Perokok Pemula Di SMP Sima Kota Padang Wira Iqbal; Kamal Kasra; Frima Elda; Aria Gusti; Fadilla Azmi
BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN Vol. 8 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM (Institute for Research and Community Services) Universitas Andalas Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bina.v8i3.767

Abstract

Adolescent smoking behavior remains a significant public health issue, contributing to the increased risk of non-communicable diseases and reduced quality of life. Schools play a strategic role as a locus for educational interventions in smoking prevention. This community service activity aimed to enhance the knowledge and awareness of students at SIMA Junior High School, Padang, regarding the dangers of smoking through a school-based education program. The method employed was a participatory community-based approach involving 30 students. The program consisted of socialization, interactive counseling, and the distribution of educational media in the form of an educational video. Evaluation was conducted using pre-test and post-test to measure changes in students’ knowledge before and after the intervention. The results showed an increase in the mean knowledge score from 71.99 in the pre-test to 76.0 in the post-test. A paired t-test yielded p=0.002 (<0.05), indicating a statistically significant improvement in students’ knowledge about the dangers of smoking after the intervention. Although the distribution of the “high knowledge” category slightly decreased, the overall increase in mean scores suggests that the educational program effectively strengthened students’ understanding. In conclusion, the school-based educational program proved effective in improving students’ knowledge about the dangers of smoking. Program sustainability requires periodic updating of educational materials and active collaboration among schools, teachers, parents, and the community. Such efforts are expected to prevent the emergence of novice smokers and support the establishment of a healthy, smoke-free school environment.
The Role Of Climate And Population Density In The Spread Of Dengue Fever: A Spatial Analysis Of Padang City 2022–2024 Hikmi, Nailul; Gusti, Aria
Preventia: The Indonesian Journal of Public Health Vol. 10, No. 2
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In 2023, Padang city had a dengue fever incidence rate of 46.5 per 100,000 population, an increase compared to the previous year. Climate change, with the transition from the dry to the rainy season, contributed to a surge in dengue fever cases. This study aims to determine the relationship between environmental factors and the incidence of dengue fever in Padang City from 2022 to 2024. This study uses an ecological study design with a sample of all dengue fever cases recorded by the Padang City Health Office. Climate data was obtained from the Indonesian Agency for Meteorological, Climatological, and Geophysical (BMKG), and population density from Statistics Indonesia (BPS), recorded from January 2022 to December 2024. Data analysis included univariate and bivariate analyses, Spearman's correlation test, and spatial analysis. The results showed that DHF cases in Padang City increased from July to October. Bivariate results showed that air temperature (r =- 0.148), rainfall (r = 0.162), and sunshine duration (r = 0.270) were correlated with DF cases. Spatial analysis revealed an inconsistent relationship between DHF cases and population density. It is hoped that the health department will increase DHF prevention efforts, such as the 3M Plus program, before rainfall increases from September to December.
Komponen Fisik Rumah yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Nelayan Aria Gusti; Wira Iqbal; Fitrahul Afifah
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 6 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.6.1.10-18.2025

Abstract

Tingkat kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di wilayah pesisir cenderung lebih tinggi dibanding daerah lain karena kondisi lingkungan fisik rumah yang kurang memadai. Penelitian ini betujuan untuk menganalisis pengaruh kondisi fisik rumah terhadap kejadian ISPA pada keluarga nelayan di Kelurahan Psie Nan Tigo Kota Padang. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah keluarga nelayan di Kelurahan Pasie nan Tigo. Sebanyak 100 orang nelayan dipilih menjadi responden dengan teknik purposive sampling. Pengolahan data menggunakan uji univariat dan bivariat dengan alpha 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22% responden mengalami kejadian ISPA. Hasil analisis bivariat menjunjukkan bahwa yang berhubungan dengan kejadian ISPA adalah jendela kamar (p=0,03), langit-langir (p=0,016), pencahayaan (p=0,09) dan ventilasi dapur (p=0,034). Ada hubungan antara jendela kamar, langit-langit, pencahayaan dan ventilasi dapur dengan kejadian ISPA pada nelayan di Kelurahan Pasie Nan Tigo Kota Padang. Diharapkan kepada pemerintah daerah untuk memberikan perhatian khusus pada perbaikan kondisi fisik rumah terutama pada komunitas nelayan yang rentan.   
Analisis Multilevel Terhadap Determinan Kejadian Diare Pada Balita di Kabupaten Pesisir Selatan Sri Mici Indah Permata Sari; Aria Gusti; Defriman Djafri
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.6.2.138-147.2025

Abstract

Kabupaten Pesisir Selatan dipilih karena tingginya angka diare pada balita serta kerentanannya terhadap faktor lingkungan dan sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan kejadian diare pada balita melalui analisis multilevel di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2024. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari survei individu balita, karakteristik rumah tangga, dan data wilayah Dinas Kesehatan. Analisis dilakukan pada tiga level: individu (umur, status gizi, imunisasi dasar, dan riwayat ASI eksklusif), rumah tangga (pendidikan ibu, pekerjaan orang tua, status ekonomi, dan penerapan PHBS), serta wilayah (cakupan air bersih dan ketinggian wilayah). Data dianalisis secara univariat, bivariat (uji chi-square), dan multilevel modeling menggunakan SPSS dan STATA. Hasil menunjukkan status gizi dan riwayat ASI eksklusif berhubungan signifikan dengan kejadian diare (p<0,05). Pada level rumah tangga, pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga juga berhubungan bermakna (p<0,05), sedangkan cakupan air bersih dan ketinggian wilayah tidak signifikan (p>0,05). Faktor dominan yang memengaruhi kejadian diare adalah status gizi balita. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor individu dan rumah tangga lebih berperan dibanding faktor wilayah. Upaya pencegahan perlu difokuskan pada peningkatan gizi anak, promosi ASI eksklusif, pendidikan ibu, dan ekonomi keluarga.
Penyakit Berbasis Lingkungan dan Kerja serta Faktor Sosiodemografi pada Petani Sayuran di Nagari Koto Laweh Kabupaten Tanah Datar Aria Gusti; Wira Iqbal; Fitrahul Afifah
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.6.2.178-186.2025

Abstract

Petani sayuran merupakan kelompok pekerja yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit berbasis lingkungan dan kerja akibat paparan pestisida, posisi kerja tidak ergonomis, serta higienitas yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian penyakit berbasis lingkungan dan kerja serta hubungannya dengan umur, jenis kelamin, dan pendidikan pada petani sayuran di Nagari Koto Laweh, Kabupaten Tanah Datar. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 254 petani sayuran yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan pemeriksaan fisik, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) merupakan penyakit terbanyak (72%), diikuti penyakit kulit (24%), gangguan pernapasan (15,4%), kecacingan (3,5%), dan keracunan pestisida (4,3%). Terdapat hubungan signifikan antara umur (p=0,014) dan jenis kelamin (p=0,026; POR=1,94; CI 95%: 1,12–3,39) dengan kejadian MSDs, serta antara pendidikan dengan kejadian kecacingan (p=0,000) dan penyakit kulit (p=0,006). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor sosiodemografi berpengaruh terhadap penyakit berbasis lingkungan dan kerja pada petani sayuran. Diperlukan program promotif dan preventif berupa edukasi ergonomi, pelatihan penggunaan alat pelindung diri, peningkatan perilaku higienitas, serta pemeriksaan kesehatan berkala bagi petani untuk menurunkan risiko penyakit akibat kerja di sektor pertanian dataran tinggi.
Low Birth Weight with Stunting: A Literature Review Octaferina, Rahmi; Gusti, Aria; Masrizal, Masrizal
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v14i1.1027

Abstract

.
Evaluation and Implementation of Nutrition Surveillance System in Bukittinggi Sulastri, Sulastri; Gusti, Aria; Eka P, Ade Suzana
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v14i2.1066

Abstract

Background: Nutritional surveillance monitors nutritional status to inform policy and programme decisions to improve community nutrition, including stunting. Chronic malnutrition and recurring illnesses cause stunting, which is when a child's length or height falls below the health minister's guidelines. Challenges include: not all Posyandu are active/covered low, not all targets have been input into the EPPGBM application (Toddlers and Pregnant Women), the use of the EPPGBM application in Community Health Centres has not been optimal, not all health workers and cadres have received height measurement training, coordination at each level, the monitoring system, and supervision to ensure height measurement quality. Due to its impact on the newborn, the first 1,000 days are critical. Permanent and lasting damage. Providing nutrition assistance at community health centre with surveillance can avoid stunting.Methods: The employed approach is participatory in nature, wherein partners are engaged to actively participate in various activities, while being supported by a dedicated staff that serves as a valuable resource and facilitator. The data analysis conducted for training purposes is to facilitate the implementation of the stunting surveillance programme, which is anticipated to encompass many sectors. This programme will primarily focus on monitoring and reporting nutrition-related activities, with a particular emphasis on stunting routines.
Agam Regency Toddlers Stunting Incidents From 2018 to 2022 Octaferina, Rahmi; Gusti, Aria; Masrizal, Masrizal
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 14 No 3 (2023): Jurnal Kesehatan
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v14i3.1118

Abstract

Background: Stunting is a dietary problem that can have negative effects on IQ, raise the likelihood of non-communicable diseases, and impede future output. According to the findings of the 2022 SSGI, the occurrence of stunting in Agam Regency is 24.6%, surpassing the national occurrence of just 21.6%.Objective: The purpose of this study is to ascertain the prevalence of stunting in toddlers and provide a geographical representation of Agam Regency from 2018 to 2022.Method: This study employed an ecological approach, utilizing secondary data obtained from the health profiles and nutritional reports of the Agam Regency Health Department spanning the years 2018 to 2022. The study sample comprised of young children who have undergone stunting in Agam Regency during the years 2018 and 2022.  The sample selection employed the total sampling technique.The analysis encompassed both univariate and spatial analysis techniques.Result: The univariate analysis shows that the occurrence of stunting increased in 2020 and then decreased from 2021 to 2022. The highest frequency in 2018 was documented at a rate of 28 per 100 youngsters. The Agam District Health Service should improve cooperation with many initiatives and interconnected sectors relating to environmental health.