Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Medika Tadulako

PENGARUH UMUR TERHADAP PREVALENSI INFEKSI NOSOKOMIAL PADA PASIEN PASCA BEDAH DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PERIODE JANUARI SAMPAI DESEMBER 2012 Manasye, Richardo Marchel; Towidjojo, Vera Diana
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO (World Heath Organization) menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0%. Pasien dengan umur 50 tahun keatas mempunyai faktor resiko yang tinggi untuk terkena infeksi nosokomial.Metode : Penelitian ini adalah bersifat deskriptif retrospektif dengan jumlah subjek yang diteliti sebanyak 164 orang dan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling.Hasil: Pasien dengan kelompok umur dibawah 16 tahun (anak)  berjumlah 34 orang (20,73%). Pasien dengan kelompok umur 17-49 tahun (dewasa) berjumlah 99 orang (60,36%). Pasien dengan kelompok umur 50-74 tahun (tua) berjumlah 31 orang (18,9%). Pasien yang positif terinfeksi nosokomial yaitu berjumlah 32 pasien dengan persentase yaitu 19,51 %. Prevalensi pasien pasca bedah yang terkena infeksi nosokomial tahun 2012 dengan kelompok umur dibawah 16 tahun (anak) 1,21 %, kelompok umur 17-49 tahun (dewasa) 13,41 %, dan kelompok umur 50-74 tahun (tua) 4,87 %. Hasil uji “chi square” dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 % menunjukkan  hitung lebih kecil dari  tabel (5,26 < 5,991) yang berarti secara statistik tidak ada pengaruh umur terhadap prevalensi infeksi nosokomial pada pasien luka operasi  pasca bedah di Rumah Sakit Undata.Kesimpulan :Secara Statistik tidak ada pengaruh umur terhadap prevalensi infeksi nosokomial pada pasien pasca bedah karena nilai  hitung lebih kecil dari  tabel (5,26 < 5,991). Angka kejadian infeksi nosokomial pasien pasca bedah jenis operasi kelas 1 tahun 2012 yaitu 32 orang (19,51%). Pasien dengan kelompok umur 17-49 tahun (dewasa) adalah yang paling banyak terkena infeksi nosokomial yaitu berjumlah 22 orang (13,41%).Kata kunci : Umur, Infeksi Nosokomial, Pasien Pasca Bedah
UJI EFEKTIVITAS LARVASIDA EKSTRAK DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti INSTAR III Wulan, Sri; Setyawati, Tri; Towidjojo, Vera Diana; Wahyuni, Rosa Dwi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Kasus demam berdarah meningkat dan menyebabkan kematian setiap tahun. Upaya mengontrol vektor demam berdarah dengan menggunakan larvasida kimia tidak aman untuk populasi dan lingkungan. Dampak negatif diminimalkan dengan menerapkan larvasida alami menggunakan ekstrak Phaleria macrocarpa. Flavonoid, saponin, dan tanin yang terkandung dalam daun Phaleria macrocarpa diduga memiliki potensi larvasida terhadap larva nyamuk, salah satunya larva Aedes aegypti yang pada stadium nyamuk menjadi vektor utama penyebab demam berdarah dengue, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas larvasida ekstrak daun Phaleria macrocarpa terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar III Metode: Jenis penelitian true experimental post control design only, menggunakan ekstrak daun Phaleria macrocarpa dengan beberapa konsentrasi yang terdiri dari enam kelompok perlakuan yaitu ekstrak daun phaleria macrocarpa konsentrasi 1500 ppm , 2000 ppm , 2500 ppm , 3000 ppm , kontol positif dan kontrol negatif. Kontrol positif menggunakan temephos 1% dan kontrol negatif menggunakan aquadest. Penelitian menggunakan metode ekstraksi yaitu metode maserasi. Pengamatan kematian larva nyamuk Aedes aegypti instar III dilakukan pada jam ke-1 dan jam ke-24 untuk mengetahui konsentrasi LC50. Analisis data menggunakan SPSS dengan uji One Way Anova. Hasil: Rata rata mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti instar III pada konsentrasi 1500 ppm sebesar 81%, konsentrasi 2000 ppm sebesar 89%, konsentrasi 2500 ppm sebesar 94% konsentrasi 3000 ppm sebesar 97%. Kontrol positif adalah 100% kontrol negatif 0%. Kesimpulan: Ekstrak daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) mempunyai efek larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar III. Mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti instar III pada konsentrasi 1500 ppm sebesar 81%, konsentrasi 2000 ppm sebesar 89%, konsentrasi 2500 ppm sebesar 94% konsentrasi 3000 ppm sebesar 97%. Kontrol positif adalah 100% kontrol negatif 0%. Kata kunci: Larvasida, Ekstrak daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), Larva nyamuk Aedes aegypti intar III
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN TENTANG PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) PADA WANITA USIA SUBUR (WUS) DI KELURAHAN NUNU KECAMATAN TATANGA Patandianan, Ribka Elda; Suarayasa, Ketut; Towidjojo, Vera Diana
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kanker payudara adalah segolongan penyakit akibat pertumbuhan sel-sel jaringan payudara yang tidak normal. Kanker diproyeksikan menjadi penyebab kematian pertama di dunia pada tahun 2010. Kanker merupakan penyebab kematian utama di negara maju, dan kedua di negara berkembang. SADARI adalah pemeriksaan/ perabaan sendiri untuk menemukan timbulnya benjolan abnormal pada payudara. SADARI hanya untuk mendeteksi dini adanya ketidak normalan pada payudara, tidak untuk mencegah kanker payudara. SADARI sebaiknya dilakukan selama sebulan sekali dan dianjurkan mulai melakukan SADARI pada usia 20 tahun karena pada umumnya pada usia tersebut jaringan payudara sudah terbentuk sempurna. Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hsail tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap dengan tindakan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada wanita usia subur (WUS) di Kelurahan Nunu Kecamatan Tatanga.Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian survei bersifat deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan cara proporsional cluster random sampling.Hasil Penelitian: Hasil penelitian pengetahuan responden di Kelurahan Nunu adalah baik sebanyak 93 orang (98,9%) dan cukup 1 orang (1,1%). Sikap yang positif mengenai SADARI yaitu sebanyak 90 orang (95,7%) sedangkan terdapat 4 orang (4,3%) yang memiliki sikap negatif. Tindakan SADARI yang melakukan (sebulan sekali selama 3 bulan terakhir) sebanyak 59 orang (62,8%) dan tidak melakukan (sebulan sekali selama 3 bulan terakhir) sebanyak 35 orang (37,2%).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna baik antara pengetahuan dengan tindakan maupun sikap dengan tindakan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada wanita subur (WUS).Kata kunci : SADARI, pengetahuan, sikap, hubungan.
HUBUNGAN ANTARA PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD UNDATA PALU SUATU PENELITIAN CASE-CONTROL Mallisa, Bertin; Towidjojo, Vera Diana
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preeklampsia adalah keadaan terjadinya hipertensi atau tekanan darah sistolik/diastolik ≥ 140/90 mmHg yang timbul setelah 20 minggu kehamilan yang disertai dengan proteinuria ≥ + 1 dan edema generalisata. Keadaaan ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Penyebab kematian tertinggi  pada kelompok neonatal umur 0-7 hari adalah bayi prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu sebesar 35%, dan bayi lahir dengan asfiksia sebesar 33,6%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya hubungan antara preeklampsia dengan kejadian bayi BBLR. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan Case-Control, dengan menggunakan data sekunder rekam medik di RSUD Undata Palu tahun 2011-2012. Subjek penelitian yaitu bayi yang dilahirkan di RSUD Undata Palu tahun 2011-2012 yang mengalami BBLR sebagai kasus dan non BBLR sebagai kontrol, dengan besar sampel 184 bayi. Metode pengambilan sampel adalah simple random sampling. Dari hasil penelitian, didapatkan hubungan yang bermakna secara statsitik antara preeklampsia dengan kejadian bayi BBLR menggunakan uji Fisher’s Exact Test Chi-square dengan  p = 0,003 (p<0,05) dan kekuatan hubungan yang lemah (0,215). Pada penelitian ini juga didapatkan preeklampsia merupakan faktor risiko lebih besar yang menyebabkan BBLR dengan OR=2.48. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara preeklampsia dengan kejadian BBLR di RSUD Undata Palu tahun 2011-2012.Kata kunci : Preeklampsia, BBLR(Berat Badan Lahir Rendah).
HUBUNGAN KADAR TROMBOSIT DAN HEMATOKRIT DENGAN DERAJAT KEPARAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE PADA PASIEN DEWASA Towidjojo, Vera Diana; Tandungan, Nensy
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang. Dengan mengandalkan kriteria laboratorium  WHO maka jumlah trombosit  yang rendah (trombositopenia) dan kebocoran plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi merupakan indikator keparahan penyakit DBD. Namun beberapa  kasus  tidak memenuhi kriteria klinis WHO,  gejalanya  tidak  khas  pada sebagian besar kasus, disamping hasilnya yang variatif terutama pada awal penyakit. Untuk  mengetahui  kemungkinan  perubahan  pola  manifestasi  laboratorium DBD tersebut  maka  penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kadar  trombosit dan hematokrit terhadap derajat DBD.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode cross sectional  analisys. Jumlah sampel penelitian 94 orang yang diperoleh dari data rekam medis di RSU Anutapura Palu, menggunakan teknik randomisasi sederhana (simple randomized) sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.Hubungan  kadar trombosit dengan derajat DBD secara statistik bermakna (p<0,05). Derajat hubungan yang diuji dengan Spearman didapatkan  hubungan terbalik berderajat sedang (r = -0,529). Hubungan kadar hematokrit dengan  derajat DBD secara statistik bermakna (p<0,05). Derajat hubungan yang diuji dengan Spearman didapatkan  hubungan searah berderajat lemah (r =  0,345).Ada hubungan yang bermakna antara kadar trombosit dan hematokrit dengan derajat keparahan DBD walaupun kekuatan hubungan lemah-sedang.Kata kunci : Demam Berdarah Dengue, Trombosit, Hematokrit, Derajat DBD, Pasien Dewasa