Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

ANALISIS PERGESERAN AKIBAT GEMPA BUMI SUMATERA 11 APRIL 2012 MENGGUNAKAN METODE GPS CONTINUE (Studi Kasus : Samudera Hindia) Yusfania , Meiriska; Cahyadi, Mokhamad Nur; Ihsan , Fahruddin Ulinnuha
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1472

Abstract

Prinsip pemantauan deformasi secara kontinu yaitu pemantauan terhadap perubahan koordinat beberapa titik yang mewakili sebuah fenomena gempa bumi dari waktu ke waktu. Metode ini, menggunakan beberapa alat penerima sinyal GPS yang ditempatkan pada beberapa titik pantau pada area gempa bumi. Data dan informasi deformasi permukaan selanjutnya digunakan untuk mengungkapkan karakteristik dari aktivitas gempa bumi. Gejala deformasi gempa bumi akan menyebabkan pergeseran posisi suatu titik sekitar gempa. Pergeseran tersebut bisa terjadi baik secara horizontal maupun vertikal.Pada penelitian kali ini mengambil salah satu gempa yang terjadi pada bulan april tahun 2012 dengan magnitude 8.6. Untuk melakukan analisis deformasi diperlukan menghitung vektor pergeseran dan nilai pergeseran yang mengacu pada titik-titik stasiun GPS Kontinyu Sumatran GPS Array (SUGAR) yang tersebar di lima stasiun yaitu BITI, BSIM, BTHL, LEWK, PBLI, dan NTUS. Analisis deformasi dilakukan dengan melihat pergeseran yang terjadi pada saat sebelum gempa, dan sesudah gempa. Setelah dilakukan pemrosesan dari kedua waktu tersebut didapatkan nilai perubahan 0,3 – 2,4 meter dari setiap stasiun terdekat dengan pusat gempa. Analisis karakteristik deformasi Gempa Sumatera 2012 ini tergolong fenomena Strike-slip faults yang merupakan potongan vertikal di mana blok sebagian besar telah pindah secara horizontal. Jika blok berlawanan pengamat bergerak ke kanan, gaya slip disebut right lateral jika blok bergerak ke kiri, gerakan ini disebut left lateral.
ANALISA KARAKTERISTIK KECEPATAN ANGIN DAN TINGGI GELOMBANG MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI (Studi Kasus : Laut Jawa) Aji, Dean Rudityo; Cahyadi, Mokhamad Nur
GEOID Vol. 11 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v11i1.1475

Abstract

Potensi laut Indonesia amatlah besar terutama di bidang transportasi. Kondisi transportasi laut saat ini belum memberikan informasi yang komprehensif mengenai arah angin dan tinggi gelombang sebagai variabel utama keselamatan pelayaran. Perkembangan teknologi pengideraan jauh terutama satelit altimetri sangat membantu dalam analisa kondisi fisik lautan. Perhitungan kecepatan angin dan tinggi gelombang merupakan salah satu dari produk satelit Altimetri yang penting dalam memnberikan kontribusi informasi pelayaran. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data satelit Jason 2 tahun 2010 pass 51,64,127,140,203,216,227,242. Hasil tersebut akan diklasifikasikan menurut skala Beaufort untuk analisa keamanan dan keselamatan pelayaran. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai skala Beaufort pada Laut Jawa berkisar antara 1 sampai 6. Hasil analisa pembobotan memperlihatkan nilai yang relatif aman, terutama pada kondisi fisik muka air laut untuk transportasi.
ANALISA PERUBAHAN IONOSFER AKIBAT GEMPA MENTAWAI TAHUN 2010 BERDASARKAN KEDALAMAN DAN MAGNITUDE (Studi Kasus : Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat) Cahyadi, Mokhamad Nur; Septiningrum, Leni
GEOID Vol. 12 No. 1 (2016)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v12i1.1523

Abstract

Gempa merupakan fenomena alam akibat aktifitas tektonik yang sering terjadi di Indonesia. Sepanjang pulau Sumatra merupakan pertumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menjadikan Sumatra sebagai daerah paling aktif dengan aktifitas tektoniknya. Pada tahun 2010 tercatat tiga gempa besar yang terjadi, yaitu gempa berkekuatan 6,8 SR pada 5 Maret, disusul 6,5 SR pada 5 Mei dan terakhir 7,8 SR pada 25 Oktober 2010. Sebelumnya pada tahun 2009 juga terjadi gempa di padang dengan kekuatan 7,6 SR. Setiap gempa mempunyai kedalaman dan magnitude yang berbeda-beda.Post-earthquake anomali merupakan fluktuasi TEC yang terjadi sesaat setelah terjadinya gempa, fenomena ini terjadi 3 menit hingga 1 jam setelah gempa terjadi. Post-earthquake anomali dapat digunakan sebagai early warning sebelum tsunami datang. Pengamatan TEC (Total Electron Content) dilakukan dengan menggunakan GPS. Satelit GPS akan secara kontinyu memancarkan sinyal gelombang double frequency pada L band. Pada saat terjadi gempa, sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS akan mengalami delay ketika melewati lapisan ionosfer kira-kira 300 km dari permukaan bumi. Variasi ionosfer diamati pada saat terjadi time-delay ini, sehingga didapat nilai TEC dimana I TECU sama dengan 1016 elektron/m2. Nilai tersebut yang akan menggambarkan besaran gangguan akibat adanya gempa. Pada penelitian ini mengamati perubahan ionosfer pada saat gempa dengan kedalaman dan magnitude yang berbeda. Studi kasus pertama magnitude berbeda dengan kedalaman yang sama dan studi kasus kedua kedalaman yang sama dengan magnitude yang berbeda. Berdasarkan penelitina yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa perubahan ionosfer dipengaruhi oleh kedalaman dan magnitude gempa.
STUDI PERUBAHAN IONOSFER AKIBAT LETUSAN GUNUNG BERAPI DENGAN PENGAMATAN TOTAL ELECTRON CONTENT GNSS Cahyadi, Mokhamad Nur; Dermawan , Anak Agung Adhi; Muslim, Buldan
GEOID Vol. 13 No. 2 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v13i2.1575

Abstract

Letusan Gunung Agung merupakan fenomena alam yang jarang terjadi di Provinsi Bali,Indonesia. Menurut riwayat letusannya, letusan Gunung Agung terjadi terakhir pada Tahun 1963 hingga tahun 1964 dengan letusan yang bersifat eksplosif. Letusan ini memakan korban jiwa sebanyak 1.344 jiwa. Pada tahun 2017,Gunung Agung kembali menunjukkan aktifitasnya hingga awal tahun 2018. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,letusan yang besar terjadi pada 22 November 2017 pukul 01.00 WITA. Letusan gunung tersebut menghasilkan tekanan keatas yang disertai oleh lava yang tersembur melalui mulut gunung. Dari letusan ini, menghasilkan beberapa perambatan gelombang yakni Acoustic, Gravity, dan Rayleigh. Pada saat gelombang letusan mencapai ionosfer, gangguan tersebut dapat diketahui dari sinyal GPS yang melaluinya. Pada gangguan di ionosfer tersebut dapat diukur dengan menggunakan kombinasi L4 yang biasa disebut linear ionospheric combination sehingga didapat nilai TEC (Total Electron Content) dimana 1 TECU adalah 1016 el/m2. Nilai inilah yang berfungsi untuk menentukan kadar besaran gangguan akibat letusan yang terjadi pada Gunung Agung 2017.Dalam penelitian ini, menggunakan data GNSS CORS untuk mengetahui perubahan nilai TEC sesaat setelah letusan Gunung Agung, data GNSS CORS diambil dari stasiun yang terletak di sekitar Gunung Agung. Hasil Penelitian ini diketahui satelit GPS nomor 3 dan 23 dapat mendeteksi perubahan TEC (Total Electron Content) setelah terjadi letusan. Fluktuasi TEC (Total Electron Content) terbesar bernilai 1,5 TECU untuk satelit GPS
PENGARUH KOREKSI BIAS IONOSFER TERHADAP HASIL KOORDINAT PENGAMATAN GPS SINGLE FREQUENCY MENGGUNAKAN MODEL KLOBUCHAR Rahayu, Ririn Wuri; Cahyadi, Mokhamad Nur; Muslim, Buldan
GEOID Vol. 14 No. 1 (2018)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i1.1587

Abstract

Sinyal satelit GPS dipengaruhi oleh beberapa jenis faktor kesalahan, di antaranya penundaan sinyal GPS oleh ionosfer. Pada GPS single frequency bias ini dapat dikoreksi menggunakan Model Klobuchar, yang memperkirakan penundaan waktu ionosfer hingga 50% atau lebih. Untuk menggunakan model Klobuchar membutuhkan delapan koefisien Klobuchar (  n,   n, untuk n = 1,2,3,4) dan disediakan melalui pesan navigasi. Koefisien Klobuchar didapatkan dari perhitungan data pengamatan GPS yang terdistribusi di seluruh dunia dengan metode yang tidak terpublikasi. Dalam penelitian  ini, satu set koefisien Klobuchar dihitung menggunakan data pengamatan GPS lokal sehari sebelumnya dan digunakan  sebagai parameter navigasi pada hari selanjutnya untuk menentukan koordinat titik pengamat. Penelitian  ini menggunakan perangkat lunak RTKLIB untuk mengolah hasil koordinat. Hasil tugas akhir ini didapatkan nilai koordinat meningkat sebesar 26,015% dengan menggunakan koefisien lokal.
ANALISIS NILAI TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) NEAR REAL TIME MENGGUNAKAN DATA GPS DUA FREKUENSI (STUDI KASUS: SURABAYA) Cahyadi, Mokhamad Nur; Rahadyan, Almas Nandityo; Muslim, Buldan
GEOID Vol. 14 No. 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v14i2.1604

Abstract

Ionosfer adalah bagian dari lapisan atmosfer yang terletak antara 50 sampai 1000 km diatas permukaan bumi yang terdiri dari elektron-elektron yang dapat mempengaruhi propagasi gelombang elektromagnetik berupa tambahan waktu tempuh dalam penjalaran sinyal, hal ini bergantung pada Total Electron Content (TEC) di ionosfer dan frekuensi sinyal GPS. Dalam penentuan posisi presisi tinggi dengan GPS, pengaruh ionosfer harus diestimasi sehingga koreksi ionosfer dapat ditentukan untuk mengeliminasi pengaruh ionosfer pada pengamatan GPS. Penentuan koreksi ionosfer maka dapat dilakukan dengan perhitungan nilai TEC menggunakan data GPS dual frekuensi dari stasiun referensi atau model. Dalam pembuatan model TEC secara spasial digunakan fungsi polinomial untuk jam tertentu. Hasil pengolahan menunjukkan nilai TEC maksimum terjadi pada siang hari jam 14.00 WIB untuk tanggal 13 Februari 2018 dengan nilai 35,510 TECU dan nilai TEC minimum terjadi pada pagi hari jam 05.00 WIB untuk tanggal 7 Februari 2018 dengan nilai 2,138 TECU. Model TEC secara spasial menunjukkan warna merah pada daerah Surabaya dan sekitarnya untuk nilai TEC tertinggi pada saat siang hari berkisar jam 13.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Analisis Tinggi Muka Air Laut Menggunakan Receiver Multi-Frekuensi dan Multi-GNSS di Perairan Sulawesi Sinaga, Markus Juliano; Cahyadi, Mokhamad Nur; Pratomo, Danar Guruh; Kishimoto, Nobuhiro; Hariyanto, Dwi
GEOID Vol. 16 No. 1 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v16i1.1669

Abstract

Pasang surut air laut merupakan variasi vertikal muka air laut. Pasang surut air laut merupakan salah satu komponen penting dalam survei batimetri. Pada survei batimetri secara umum, pengamatan pasang surut air laut dilakukan dengan menggunakan rambu pasut di lokasi survei batimteri. Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan Global Navigation Satellite System (GNSS) semakin memungkinkan dalam survei batimetri. Selain dalam penentuan posisi horisontal, GNSS juga dapat digunakan untuk menentukan posisi vertikal. Salah satu sistem GNSS yang akurat saat ini adalah Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) milik Jepang. Sistem ini memiliki satelit yang selalu mengorbit di sebagian wilayah Indonesia sehingga akan memberikan layanan pemosisian satelit yang sangat akurat. Pada penelitian ini, data pengamatan diperoleh dari receiver multi-frekuensi dan multi-GNSS. Receiver tersebut dapat menerima sinyal dari sistem QZSS. Data pengamatan tersebut kemudian dibandingkan dengan model prediksi pasang surut milik Badan Informasi Geospasial (BIG). Selanjutnya, dilakukan analisis untuk melihat tingkat kesalahan pola yang dihasilkan dari kedua data tersebut. Uji tingkat kesalahan dilakukan dengan perhitungan Root Mean Square Error (RMSE). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai RMSE maksimum dan minimum pada perbandingan pengamatan pasut QZSS dan prediksi pasut BIG masing-masing sebesar 2,317 m dan 0,176 m dari total 11 hari pengamatan. RMSE maksimum terjadi pada 10 Agustus 2019 dan minimum pada 9 Agustus 2019. Selain pada tanggal 9 Agustus 2019, hasil yang baik juga diperoleh pada tanggal 8, 12, 14, 15, dan 16 Agustus 2019 dengan nilai RMSE kurang dari setengah meter.Tide is a vertical variation of sea level. The tide of seawater is an essential component of a bathymetric survey. In general, tide observations are carried out by using tide poles at the survey site for bathymetry. As technology has developed, the use of the Global Navigation Satellite System (GNSS) has become increasingly possible in bathymetric surveys. Apart from determining the horizontal position, GNSS can also be used to determine the vertical position. One of the most accurate GNSS systems today is Japan's Quasi-Zenith Satellite System (QZSS). This system has satellites that are always orbiting in parts of Indonesia so that it will provide highly accurate satellite positioning services. In this study, observational data were obtained from multi-frequency and multi-GNSS receivers. The receiver can receive signals from the QZSS system. The observational data are then compared with the Geospatial Information Agency (BIG)'s tidal prediction model. Furthermore, an analysis was carried out to see the pattern error rate resulting from the two data. Error level test is done by calculating Root Mean Square Error (RMSE). This study's results indicate that the maximum and minimum RMSE values in the comparison of QZSS tidal observations and BIG tidal predictions are 2.317 m and 0.176 m, respectively, from a total of 11 observation days. The maximum RMSE occurred on 10 August 2019 and the minimum on 9 August 2019. Apart from 9 August 2019, good results were also obtained on 8, 12, 14, 15, and 16 August 2019 with an RMSE value of less than half a meter.
Analisis Fluktuasi Total Electron Content (TEC) Akibat Gempa Palu dengan Formosat-3 / COSMIC Sari, Atika; Cahyadi, Mokhamad Nur
Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik Vol 22 No 2 (2023): Jurnal Teknik - Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Publisher : Fakultas Teknik - Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55893/jt.vol22no2.526

Abstract

Earthquakes are vibrations that occur as a result of plate shifts. When an earthquake occurs, it will cause three kinds of waves, and one of them is an acoustic wave that moves vertically and affects electrons that move freely in the ionosphere. This study aims to analyze Total Electron Content (TEC) fluctuations due to earthquakes using FORMOSAT-3 / COSMIC data. The method used is the analysis of the time and location of the occurrence of TEC fluctuations from the results of plotting the FORMOSAT-3 / COSMIC data against the time and location of the earthquake. The data used is netCDF data, which contains information on the TEC value and occultation time which on FORMOSAT-3 / COSMIC, the data was taken using the Global Positioning System Radio Occultation (GPSRO) technique. The results of the Palu earthquake on September 28, 2018 obtained 28 occultations with an anomaly time of 10 minutes after the earthquake and the distance to the epicenter was ± 3700 km.
UTILIZATION OF UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) FOR MEASUREMENT OF SURFACE COAL MINING SITUATION Kurniawan, Sigit; Cahyadi, Mokhamad Nur
Journal of Marine-Earth Science and Technology Vol. 3 No. 2 (2022): September
Publisher : Marine & Earth Science and Technology Research Center, DRPM, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j27745449.v3i2.576

Abstract

The rapid development of technology has given rise to innovations and new ways of solving problems. One of them is measuring the situation of surface coal mines. So far, measurements have been made using a Laser Scanner. However, now the Unmanned Aerial Vehicle (UAV) can replace it by considering the aspects of work safety, effectiveness, and efficiency in the field. This study analyzes the influence of the distribution of Ground Control Points (GCP). It compares the measurement method using a Laser Scanner with a UAV in a surface coal mine situation. In addition, this study aims to determine the exact parameters regarding the distribution and number of control points in using UAVs to measure surface coal mining situations. The results showed that the UAV could be used to measure the situation of surface coal with the results of the acquisition parameter research following the 1:1000 PERBIG scale tolerance map, with a tolerance value of <10 cm and the volume difference between the Laser Scanner and UAV is 0.131%. Regarding time analysis and work safety, measurements using UAVs can measure surface mining situations for ± 40 minutes. In addition, personnel do not need to approach the measurement object, so it is better than measurements using a Laser Scanner.
GNSS METEOROLOGY AND LAND SUBSIDENCE OF HEAVY RAINFALL IN JAKARTA ON JANUARY 1, 2020 Arief, Syachrul; Cahyadi, Mokhamad Nur
Journal of Marine-Earth Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2020): December
Publisher : Marine & Earth Science and Technology Research Center, DRPM, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j27745449.v1i1.606

Abstract

This study aims to demonstrate that GNSS meteorology can be applied in Indonesia, by estimating the zenith troposphere delay (ZTD) of sustainable GNSS stations in Indonesia, using one of the “goGPS” software packages. As a calculation with rain conditions, the ZTD value was converted into precipitation water vapor (PWV). This research is using GNSS meteorology to be applied into heavy rains at the end of 2019 in Jakarta which was hit by floods on December 31, 2019. According to a report by Geophysical Meteorology and Climatology Agency (BMKG), the main cause of this flood is a high rainfall. The rainfall gauge at Halim Perdanakusuma Station showed 377 mm of rainfall that day. Rain gauges at Taman Mini and Jatiasih stations record rainfall of 335 mm/day and 260 mm / day, respectively. From the GNSS data processing, the PWV values at the five GNSS stations show a similar pattern even though the average between stations is ~ 30 km. The PWV value appeared to be increased at noon on December 30, 2019, and the peak occurs at the end of the day on December 31, 2019. The PWV value showed a sudden drop at midday on January 1, 2020. In the end, the PWV increased again, but not as high as the first peak. From 2 January 2020, the PWV has decreased and has been maintained almost constantly until 4 January. Within this time frame, there were two peak PWV events. The PWV of the first peak was ~ 70 mm and the second peak was ~ 65 mm, and the largest peak PWV was recorded at the CJKT station.