Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Bertahan Warung Madura di Kelurahan Pemecutan Kecamatan Denpasar Barat Tamim, Imron Hadi; Shansa, Dewi Aprilia; Kamajaya, Gede; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berfokus untuk memaparkan dan menganalisis keberadaan warung Madura di Kelurahan Pemecutan Kecamatan Denpasar Barat dalam membangun jaringan usahanya dan menciptakan strategi bertahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-eksplanatif. Penelitian ini dianalisis dengan teori jaringan sosial dari Mark Granovetter. Hasil studi mengungkapkan bahwa warung Madura di Kelurahan Pemecutan Denpasar Barat ada yang dikelola langsung oleh pemiliknya atau karyawan yang dipekerjakan pemiliknya. Meskipun memiliki usaha warung yang sama, sesama pengelola warung Madura tetap saling menghargai usaha yang dimiliki dengan saling membantu, bersaing secara sehat, dan bekerja sama untuk mendukung agar warung Madura bisa sukses serta bertahan dalam jangka panjang. Tantangan yang dihadapi oleh warung Madura dengan semakin maraknya kemunculan toko modern yang mudah untuk ditemukan telah menimbulkan persaingan. Namun para pengelola warung Madura telah memiliki strategi-strategi yang digunakan untuk mengembangkan dan mempertahankan usaha agar bisa lebih unggul dibandingkan toko modern atau warung lainnya. Selain itu, dalam mendukung keberlanjutan warung Madura, pengelola warung Madura telah menjalin hubungan yang baik dengan jaringan pengelola warung Madura lainnya, supplier, pemilik warung lokal, dan masyarakat setempat sebagai konsumen.
PERILAKU KONSUMSI MASYARAKAT KELAS MENENGAH DI KECAMATAN CURUG TANGERANG PADA MASA PANDEMI COVID-19 Panggabean, Gabriela Dona Insani; Nugroho, Wahyu Budi; Kamajaya, Gede
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 3 No 2 (2023): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi masyarakat kelas menengah di Indonesia yang sulit diidentifikasi keberadaannya dan menjadi pendorong untuk roda perekonomian suatu negara dikarenakan sifat konsumsi yang cenderung tinggi. Pada masa Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada masayarakat yang salah satunya adalah pada dampak ekonomi. Kecamatan Curug merupakan wilayah yang startegis dan penduduk yang heterogenitasnya tinggi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan dianalisis dengan teori leisure class atau kelas pemboros yang digagas oleh Thorstein Veblen. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana dampak Pandemi Covid-19 terhadap Masyarakat kelas menengah di Kecamatan Curug dan bagaimana perilaku konsumsi Masyarakat kelas menengah pada masa Pandemi Covid-19 di Kecamatan Curug. Hasil dari penelitian ini adalah Masyarakat kelas menengah pada masa Pandemi Covid-19 di Kecamatan Curug Tangerang cenderung berlebihan. Adanya dampak pada pola perilaku konsumsi sebagai leisure class yaitu atensi dalam menggunakan produk industri budaya yang memiliki simbol agar mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Pendapatan yang menurun bukanlah menjadi halangan dari konsumsi berlebihan. Penggunaan jasa pinjaman dan metode pembayaran secara kredit merupakan strategi dalam pemenuhan naluri konsumsi pada saat kondisi perekonomian menurun pada masa Pandemi Covid-19. Hal tersebut sejalan dengan Teori Veblen yang mengemukakan sifat leisure class yang menggunakan predatory instinct untuk menyalurkan naluri konsumsi yang berlebihan. Saran yang diperoleh dari penelitian ini adalah bagi masyarakat kelas menengah agar tidak mengembangkan perilaku konsumsi yang berlebihan dan menyesuaikan gaya hidup dengan pendapatannya, bagi pemerintah agar menjadikan penelitian ini sebagai refrensi dalam pengambilan keputusan terkait perencanaan pembangunan dalam pengembangan Kecamatan Curug pada sektor sosial dan ekonomi. Kata Kunci: Perilaku konsumsi, Masyarakat kelas menengah, Pandemi Covid-19
RASIONALISASI KRAMA DESA ADAT DLOD TUKAD BATUBULAN MENETAP DI TANAH PEKARANGAN DESA Pratiwi, Ni Komang Rahma Tri; Nugroho, Wahyu Budi; Kamajaya, Gede; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memaparkan dan menganalisis rasionalisasi krama desa Adat Dlod Tukad Batubulan yang menetap di tanah pekarangan desa dengan beban tanggung jawab ayahan di tengah kehidupan modern saat ini yang serba praktis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-eksplanatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini sebagai pisau bedah dalam menganalisis fenomena yang terjadi adalah teori tindakan sosial dari Max Weber. Hasil penelitian di lapangan mengungkapkan bahwa terdapat empat rasionalitas yang mendasari alasan krama desa Adat Dlod Tukad Batubulan memilih menetap di tanah pekarangan desa dengan beban tanggung jawab ayahan pada desa adat, yang terdiri atas rasionalitas nilai, rasionalitas instrumental, tindakan tradisional dan tindakan afektif. Lebih jauh, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Desa Adat Dlod Tukad Batubulan yang merupakan desa adat anyar di Bali tidak sepenuhnya menggunakan pengaturan otoritas tradisional dalam menjalankan pemerintahannya, terkhusus pada pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan modern saat ini. Kata kunci: Desa adat, rasionalisasi, tanah desa.
AKTIVITAS MEMANCING IKAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI WAKTU LUANG Pratama, Agus Elfa; Kamajaya, Gede; Nugroho, Wahyu Budi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada fenomena aktivitas waktu luang yang dimanfaatkan masyarakat untuk memancing ikan di Taman Pancing, Denpasar dan juga Dermaga Kedonganan, Kuta. Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan dan menganalisis pemanfaatan waktu luang yang digunakan masyarakat untuk memancing beserta relasinya terhadap berbagai aspek kehidupan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-eksplanatif. Teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian adalah sosiologi waktu luang dari John Wilson. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa aktivitas memancing merupakan aktivitas waktu luang yang berkaitan dengan kesenangan dan ketenangan pribadi yang bersifat subjektif. Aktivitas memancing ikan yang dilakukan sebagai media rekreasi oleh masyarakat di waktu luang pada akhirnya memiliki relasi yang kuat terhadap beberapa aspek seperti pekerjaan, keluarga, siklus hidup dan stratifikasi sosial. Pekerjaan di sektor informal cenderung lebih leluasa beraktivitas memancing karena jam kerja yang tidak terlalu mengekang. Kemudian sesekali para pemancing mengajak anggota keluarga menghabiskan waktu luang bersama untuk melanggengkan aktivitas memancing. Perihal siklus hidup seseoarang berwaktu luang, dipengaruhi oleh faktor ekonomi, karir masa depan dan juga semangat muda. Selanjutnya stratifikasi sosial dalam aktitivas memancing lebih kepada bagaimana cara memancing dan juga peralatan yang cenderung mahal, memancing dengan media perahu ke tengah laut akan berbeda dengan memancing sekadar di pinggiran. Biaya akan jauh lebih mahal memancing dengan sarana perahu, diikuti dengan peralatan yang mahal pula dibandingkan dengan peralatan untuk memancing di pinggiran.
Konservasi Hutan Mangrove Serta Dampaknya Pada Masyarakat, Pantai Timur Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali Purba, An Hofen; Ranteallo, Ikma Citra; Kamajaya, Gede
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 1, No 12 (2024): July
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.13294334

Abstract

The mangrove forest conservation movement is a social movement that aims to save nature from the threat of destruction that is rampantly carried out by humans at this time. This research uses qualitative-descriptive research methods, and is expected to provide a complete picture of the conservation process and its importance for aspects of human life.Based on the results, the existence of mangrove forests on the East Coast of Kedonganan has a great impact on the socio-economic life of the surrounding community. With this forest, the income of the fishing community has increased, and this movement is certainly a forum for the community to increase kinship around the East Coast of Kedonganan. It can be concluded that the conservation carried out by the Segara Ayu Fishermen group has had a positive impact on the people of the East Coast of Kedonganan both in environmental and socio-economic terms.
Komodifikasi Tradisi Omed-Omedan Banjar Kaja Desa Adat Sesetan Kota Denpasar Saskita, I Nyoman Urip Satyaraga Arya; Arjawa, I Gst. Pt. Bagus Suka; Kamajaya, Gede
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.124

Abstract

This study aims to provide a comprehensive overview of the commodification process based on community initiatives, accompanied by complete information regarding the timeline and involvement of the actors. The form of commodification in this tradition is packaged in the form of a festival and the addition of cultural attractions and "peken paiketan" as attractions and added value in the festival's implementation. The process of commodification of the Omed-omedan tradition takes place in three stages: planning, preparation, and execution. The planning stage is related to the role of youth as initiators of the commodification of Omed-omedan into a festival form; they are also actively communicating the idea to traditional figures to obtain approval and support. The preparation stage involves facilitators, actors responsible for supporting festival activities from organizing work assignments, resource management to stakeholder negotiation. The facilitators involved include the traditional elders of Banjar Kaja Sesetan, the village chief of Sesetan Traditional Village, the Denpasar City Government, and sponsors. The execution stage involves all actors, especially the Banjar Kaja Sesetan community, STT, village security personnel, city government, media partners, and sponsors. Abstrak Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh terkait proses komodifikasi tradisi yang berlangsung atas dasar inisasi masyarakat disertai dengan informasi lengkap terkait linimasa dan keterlibatan para aktor. Bentuk komodifikasi dalam tradisi ini yakni dikemas dalam bentuk festival serta penambahan atraksi budaya dan peken paiketan sebagai daya tarik dan nilai tambah dalam pelaksanaan festival. Proses komodifikasi tradisi Omed-omedan berlangsung dalam tiga tahapan yakni tahap perencanaan, persiapan dan eksekusi. Tahap perencanaan berkaitan dengan peran pemuda sebagai inisiator komodifikasi Omed-omedan menjadi festival, mereka juga aktif mengkomunikasikan ide tersebut kepada tokoh adat untuk mendapat persetujuan dan dukungan. Tahap persiapan berkaitan dengan fasilitator yakni aktor-aktor yang bertugas untuk mendukung kegiatan festival mulai dari penyusunan pembagian kerja, pengelolaan sumber daya hingga negosiasi stakeholder. Adapun fasilitator yang terlibat yakni prajuru adat Banjar Kaja Sesetan, Bendesa Desa Adat Sesetan, Pemerintah Kota Denpasar dan pihak sponsor. Tahap eksekusi melibatkan seluruh aktor khususnya masyarakat Banjar Kaja Sesetan, STT, pihak keamanan dari desa maupun pemerintah kota, media partner dan sponsor. Kata Kunci: Komodifikasi tradisi, Tradisi Omed-omedan, globalisasi.
Tinjauan Sosiologi Agama Upacara Ngusaba Desa di Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Caitanya, Putu Krishna; Kamajaya, Gede; Nugroho, Wahyu Budi
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.151

Abstract

The objective of this research is to present and analyze the sociological review of religion in the Ngusaba Desa ceremony in Selumbung Village, which aims to analyze the religious sociology dimensions of the Ngusaba Desa ceremony. The method used in this research is a qualitative approach with a descriptive type. The theoretical analysis employed as a tool in this research is the Sociology of Religion theory by Emile Durkheim. The results of this research reveal that there are two major contexts of the religious sociology dimensions in the Ngusaba Desa ceremony: the social dimension and the sacred and profane dimension. Furthermore, the Ngusaba Desa ceremony demonstrates the creation of mechanical solidarity through collective beliefs that bind the individuals of Selumbung Village during both the preparation and implementation processes, where all individuals unite and cooperate for the successful execution of the Ngusaba Desa ceremony. The relationship and boundary between the sacred and profane realms occur during its preparation and implementation, such as in offerings, rituals, processions, and all sacred means and infrastructures, which have specific rules and behaviors in each procession when dealing with the profane. The Ngusaba Desa ceremony has a significant influence that can bind individuals into a collective unity and affect individual consciousness in its implementation. Abstrak Tujuan penelitian adalah memaparkan dan menganalisis tinjauan Sosiologi Agama dalam upacara Ngusaba Desa di Desa Selumbung yang berusaha menganalisa dimensi Sosiologi Agama dari upacara Ngusaba Desa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Analisis teori yang digunakan sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah teori Sosiologi Agama dari Emile Durkheim. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat dua konteks besar dimensi sosiologi agama dalam upacara Ngusaba Desa yaitu, dimensi sosial dan dimensi sakral dan profan. Lebih lanjut lagi upacara Ngusaba Desa menunjukkan terciptanya solidaritas mekanik melalui kepercayaan kolektif yang mengikat individu Desa Selumbung selama proses persiapan maupun pelaksanaannya, dimana semua individu bersatu, bekerja sama untuk terlaksananya upacara Ngusaba Desa. Relasi serta batasan antara ranah sakral dan profan terjadi ketika persiapan maupun pelaksanaannya, seperti banten, upakara, jempana, proses pelasanaan upacaranya serta semua sarana dan prasarana yang bersifat sakral memiliki aturan dan laku-laku tertentu dalam setiap prosesinya dalam berhubungan dengan hal yang profan. Upacara Ngusaba Desa mempunyai pengaruh yang sangat besar sehingga dapat mengikat individu dalam suatu kesatuan kolektif serta mempengaruhi kesadaran individu dalam melaksanakannya. Kata Kunci: upacara Ngusaba Desa, solidaritas mekanik, hubungan sakral dan profan
Musik Dangdut Sebagai Pengartikulasi Perasaan Pribadi Mahasiswa Kedokteran Universitas Udayana Samuel, Joan Christoper; Kamajaya, Gede; Mahadewi, Ni Made Anggita Sastri
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.153

Abstract

The study aims to present and analyze the phenomenon of Dangdut music as a representation of low taste among Udayana University medical students. The method used in this study is a qualitative approach with descriptive type. Theory used as a surgical knife to analyze this phenomenon is a distinguishing theory of Pierre Bourdieu. The results of this study revealed that Dangdut music is considered a representation of low taste among Udayana University medical students. Dangdut music is considered to no longer display music as a work of art, but only sells sexy looks from its singers. Dangdut music listeners are mostly middle class society down, and also the themes and lyrics contained in Dangdut music are not relate to the life of medical students as middle class and upper class. In addition, the custom of medical students of Udayana University who generally listen to western music, so making them gap Dangdut music is not a music that is worth listening to. It is indirectly also a form of exclusivity from Udayana University medical students who consider Dangdut as a low-taste music and not a type of music suitable for them. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan dan menganalisis mengenai fenomena musik Dangdut sebagai representasi selera rendah di kalangan mahasiswa kedokteran Universitas Udayana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Teori yang digunakan sebagai pisau bedah untuk menganalisis fenomena ini merupakan teori distingsi dari Pierre Bourdieu. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa musik Dangdut dianggap sebagai representasi selera rendah di kalangan mahasiswa kedokteran Universitas Udayana. Musik Dangdut dianggap sudah tidak lagi menampilkan musik sebagai karya seni, melainkan hanya menjual tampilan seksi dari para penyanyi nya. Pendengar musik Dangdut kebanyakan merupakan masyarakat kelas menengah kebawah, dan juga tema-tema maupun lirik yang terdapat dalam musik Dangdut tidaklah relate dengan kehidupan mahasiswa kedokteran sebagai masyarakat golongan menengah keatas. Selain itu, kebiasaan dari mahasiswa kedokteran Universitas Udayana yang umumnya selalu mendengarkan musik-musik barat, sehingga menjadikan mereka menggap musik Dangdut bukanlah musik yang pantas untuk mereka dengarkan. Hal ini secara tidak langsung juga merupakan bentuk eksklusivitas dari mahasiswa kedokteran Universitas Udayana yang menganggap Dangdut sebagai musik dengan selera rendah dan bukan merupakan jenis musik yang cocok untuk mereka. Kata Kunci: musik Dangdut, selera rendah, eksklusivitas
Praktik Feminisme dalam Kehidupan Anggota Anggota Komunitas Feminis Space di Bali Herman, Josephine Anastacia; Nugroho, Wahyu Budi; Kamajaya, Gede
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.154

Abstract

This research aims to explain and analyze the feminist practices of members of the Feminist Space Bali community. Feminism is a thought about women's emancipation against injustice due to patriarchy, where men are in a dominant position while women are subordinate. Bali is an example that patriarchy is still the social order of society. It can be seen that Balinese women hold three noble roles but their position is still not appreciated. This raises the awareness of young Balinese women to create a feminist community, as a form of feminist practice. Feminist Space is a feminist community in Bali which aims to be a forum for aspirations for its members, because the meaning of feminism between individuals will be different. The research method used is a qualitative approach with descriptive-explanatory research type. The theoretical analysis chosen as the scalpel in this research is the existentialist feminist theory of Simone de Beauvoir. The research results revealed that community members have various meanings of feminism, so that members' meanings of feminism are divided into two, namely feminism as a foundation and feminism as a way of life. Apart from that, the informant also uses feminism as a basis for living his socio-cultural and economic life. The existence of feminism gives informants an incentive to break negative stereotypes that harm them. The meaning and practice of feminism carried out by the informants is a manifestation of the values of Beauvoir's existentialist feminism, because indirectly it has been done to show the members' self-existence by working, refusing subordination and becoming intellectual agents. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan serta menganalisis praktik feminisme anggota komunitas Feminis Space Bali. Feminisme merupakan pemikiran tentang emansipasi perempuan terhadap ketidakadilan akibat patriarki, di mana laki-laki berada di posisi dominan sedangkan perempuan subordinat. Bali merupakan salah satu contoh bahwa patriarki masih menjadi tatanan sosial masyarakat, terlihat perempuan Bali memegang tiga peran yang mulia namun posisinya masih tidak diapresiasi. Hal ini menimbulkan kesadaran perempuan muda Bali untuk membuat komunitas feminisme, sebagai wujud praktik feminisme. Feminis Space merupakan komunitas feminisme di Bali yang bertujuan sebagai wadah aspirasi bagi para anggotanya, karena pemaknaan feminisme antar individu akan berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-eksplanatif. Analisis teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah teori feminisme eksistensialis dari Simone de Beauvoir. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa anggota komunitas memiliki pemaknaan feminisme yang beragam, sehingga pemaknaan feminis anggota terbagi menjadi dua yaitu feminisme sebagai pondasi dan feminisme sebagai pandangan hidup. Selain itu, Informan juga menjadikan feminisme sebagai landasan dalam menjalani kehidupan sosial-budaya dan ekonominya. Adanya feminisme memberikan para informan sebuah dorongan untuk mematahkan stereotipe negatif yang merugikan mereka. Pemaknaan dan praktik feminisme yang dilakukan informan merupakan wujud dari nilai-nilai feminisme eksistensialis Beauvoir, karena secara tidak langsung sudah dilakukan untuk menunjukkan eksistensi diri para anggota dengan cara bekerja, menolak subordinasi dan menjadi agen intelektual. Kata kunci: patriarki, feminisme, eksistensi diri, feminisme eksistensialis.
Pemberdayaan Pekerja Disabilitas “Teman Tuli” di Inklusiv Warung, Canggu Yenadin, Ramadhini Putri; Nugroho, Wahyu Budi; Kamajaya, Gede
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 5 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.166

Abstract

This research analyzes the empowerment of deaf friends with disabilities who work at Inklusiv Warung, Canggu. Empowerment is implemented as a strategy and effort to increase people's abilities and independence so that they can pull people out of inequality and backwardness. The aim of this research is to explain and analyze the process, implementation and obstacles to implementing disability worker empowerment at Inklusiv Warung, Canggu. The method used in this research is a qualitative approach with a descriptive type. The theory used as a scalpel in this research is the community empowerment theory of Jim Ife and Frank Tesseriero. The results of this research show that Inklusiv Warung, Canggu provides empowerment in the form of providing employment opportunities for deaf friends. Skills improvement programs are also often implemented, such as the implementation of workshop activities and other programs that embrace the deaf community, so as to hone the communication and socialization patterns of deaf employees. Inklusiv Warung is a forum for deaf friends to gain empowerment and obtain the equal rights they deserve. Challenges in the form of communication barriers and lack of self-confidence among deaf friends are the core problems in the empowerment process at Inklusiv Warung. However, the research results also show that there are many positive impacts felt by deaf friends after joining Inklusiv Warung, Canggu. Abstrak Penelitian ini menganalisis mengenai pemberdayaan dari para penyandang disabilitas teman tuli yang bekerja di Inklusiv Warung, Canggu. Pemberdayaan dilaksanakan sebagai strategi dan upaya untuk meingkatkan kekemampuan dan kemandirian masyarakat sehingga dapat menarik masyarakat dari kesenjangan dan keterbelakangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan dan menganalisis terkait proses, pelaksanaan, sekaligus hambatan dari implementasi pemberdayaan pekerja disabilitas di Inklusiv Warung, Canggu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pemberdayaan masyarakat dari Jim Ife dan Frank Tesseriero. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Inklusiv Warung, Canggu memberikan pemberdayaan berupa penyedia lapangan pekerjaan bagi para teman tuli. Program peningkatan keterampiran juga kerap dilaksanakan, seperti pelaksanaan kegiatan workshop dan program lainnya yang merangkul komunitas tuli, sehingga mampu mengasah pola komunikasi dan sosialisasi para karyawan tuli. Inklusiv Warung menjadi wadah bagi teman-teman tuli untuk mendapat pemberdayaan serta mendapatkan hak kesetaraan sesuai dengan yang selayaknya mereka dapatkan. Tantangan berupa kendala komunikasi dan ketidak percayaan diri para teman tuli menjadi permasalahan inti dalam proses pemberdayaan di Inklusiv Warung. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tercipta banyak dampak positif yang dirasakan bagi para teman tuli setelah bergabung dalam Inklusiv Warung, Canggu. Kata kunci: pemberdayaan, disabilitas, teman tuli, inklusiv warung
Co-Authors Adirusman Faran, Gabriel Aditya, Wasu Afifah, Zumrotul Agusman, Riko Alfiani, Unila Ulfa Aprildo, Albert Ardyastia, I Putu Angga Ari Wirati, Ni Made Arjawa, I Gst Putu Bagus Suka Arjawa, I Gst. Pt. Bagus Suka Balbed, Faris Chalid M Bernita, Ribka Brenda Yanti, I Gusti Agung Ayu Budi Nugroho, Wahyu Budiarta, I Kadek Pandu Cahyaning Putri, Anggraeni Nur Caitanya, Putu Krishna Candra Kusuma, Kadek Mayuki Dwi Cupu Tyasningrum, I Gst. Ayu Agung Darmawan, Komang Mulia Dewi, Ni Komang Triska Vania Cahya Dharmayasaswini, Ni Ketut Dwi Pratiwi, Ni Kadek Indah Fadhil, M Hasan Fauzi Ahmad Muda Findiarni, Natasha Althea Fitri, Cica Aulia Gabriel, Gabriel Gusti Bagus Agung Swandhita, Gusti Bagus Agung Heri Susanto Herman, Josephine Anastacia I Gst. Pt. Bagus Suka Arjawa I Gusti Agung Istri Deviantari, I Gusti Agung Istri I Gusti Ngurah Agung Krisna Aditya I Nengah Punia Ida Bagus Gede Eka Diksyiantara, Ida Bagus Gede Eka Ikma Citra Ranteallo Imron Hadi Tamim, Imron Hadi Indrayatna, I Gede Juliarsana, I Gede Ari Karuniasih, Ni Nyoman Mika Putri Kirma Sihite, Ricky Aries Kristina, Ruth Kusuma Putra, Dewa Ngurah Tresna Lawalata, Giralda Martje Maharani Putri, Anak Agung Chintya Manullang, Santa Monika Marbun, Angelina Sellyn Manora Mbere, Theresia Sindianti Muchamad Zaenal Arifin, Muchamad Zaenal Muhammadia, A.Adelia Hardianti Mujiatno, Fidiana Rakmawati Naidi, Martha Fransiska Nazrina Zuryani Ni Luh Nyoman Kebayantini Ni Made Anggita Sastri Mahadewi Ni Putu Udiyani, Ni Putu Ningrum, Ayu Satria Nurbaity, Fava Nyoman Ayu Sukma Pramestisari Olav Rizky, Antonius Panggabean, Gabriela Dona Insani Paramita, Putu Nadia Paramitha, Kadek Raveda Adinda Pasha Maraneka, I Putu Reza Pena, Eko Nuari Perwiranegara, Achmad Kadi Pratama, Agus Elfa Pratiwi, Diana Yuni Pratiwi, Ni Komang Rahma Tri Purba, An Hofen Putra, Hafizh Naufal Putra, Nararya Prasetya Putri Djafarnantyo, Raghia Khasana Rahayu Dewi, Ni Ketut Budi Rasidi, Rafny Alnovira Ratna Dewi, Ni Luh Putu Riana Sari, Meidiawati Rinaldi, Dias Rehan Robert, Yohanes Julian Samuel, Joan Christoper Sanjay Wikrama, I Wayan Etong Santana, I Gede Agung Krishna Sari, Meryyana Puspita Saskita, I Nyoman Urip Satyaraga Arya Seravin, Yulianus Sevi Shansa, Dewi Aprilia Sitepu, Bastanta Sobhita Tryandari, Nyoman Ayu Sri Wiguna, Ni Made Melin Sumboko, Agung Supri, Supiandi Surya Dharma, I Gede Bagus Raditya Tarihoran, Gabriel Tresna Putra, Dewa Gede Yoga Upa Raji, Rambu Utami, Ni Luh Srisaka Wahyu Budi Nugroho Widiyanti, Puri Rachma Wirasmara, I Gede Bayu Wiyasa, I Made Tirta Yenadin, Ramadhini Putri Yuandhini, B. Warfanni Azzura Yuliani, Desak Made