Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Kejadian Insomnia Menjelang Ujian Sooca Pada Mahasiswa Tingkat I Fk Unisba Tahun 2022 Audia Rizky Pratama; Siska Nia Irasanti; Rika Nilapsari
Jurnal Riset Kedokteran Volume 4, No.1, Juli 2024, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v4i1.3769

Abstract

Abstract. Anxiety, an emotional response to uncertainty, often involves feelings of fear and physical symptoms. Insomnia, difficulty sleeping linked to mental health issues. SOOCA exam, an oral case analysis for medical students, tends to increase anxiety and sleep problems. This research aims to determine the anxiety levels and incidence of insomnia among FK UNISBA 2022 students and analyze the relationship between them. The study used an analytical observational method with a cross-sectional design. The research subjects were students of the Medical Education study program at FK UNISBA, class of 2022, selected through simple random sampling. Data were collected using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaire for anxiety levels and the Insomnia Severity Index (ISI) for measuring insomnia incidence. Data analysis involved univariate and bivariate tests. Out of 35 respondents, 28.7% of students experienced anxiety before the SOOCA exam. Out of 95 respondents, 77.9% experienced insomnia. Statistical analysis showed a significant relationship between anxiety levels and insomnia incidence in FK UNISBA students in the first year of 2022 (p = 0.044 <0.05). This finding illustrates that the SOOCA exam can cause anxiety and insomnia among medical students. The SOOCA exam at FK Unisba triggers anxiety among medical students. This oral exam situation increases anxiety and sleep problems. The experience of a new role and the Problem-Based Learning (PBL) system also contribute to the anxiety of first-year students. Recommendations for future research include expanding the sample, a longitudinal research approach, and exploring additional factors influencing the relationship between anxiety and insomnia in students. It is also suggested to consider implementing student welfare programs focusing on stress management, counseling, and holistic support in the academic environment. Abstrak. Kecemasan, respons emosional terhadap ketidakpastian, seringkali melibatkan perasaan ketakutan dan gejala fisik. Insomnia, kesulitan tidur yang terkait dengan masalah kejiwaan. Ujian SOOCA, ujian lisan menganalisis kasus pada mahasiswa kedokteran, cenderung meningkatkan kecemasan dan masalah tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan dan kejadian insomnia Mahasiswa FK UNISBA 2022 serta menganalisis hubungan antara keduanya. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah mahasiswa program studi Pendidikan Kedokteran FK UNISBA angkatan 2022, dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner Hamilton Anxiety rating Scale (HARS) untuk mengukur tingkat kecemasan dan Insomnia Severity Index (ISI) untuk mengukur kejadian insomnia. Analisis data melibatkan uji univariat dan bivariat. Dari 35 orang responden, didapatkan 28,7% mahasiswa mengalami kecemasan menjelang ujian SOOCA. Dari 95 orang responden, didapatkan 77,9% mengalami insomnia. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat kecemasan dan kejadian insomnia pada mahasiswa FK UNISBA tingkat I tahun 2022 (p = 0,0440<05). Temuan ini memberikan gambaran bahwa ujian SOOCA dapat menyebabkan kecemasan dan kejadian insomnia pada mahasiswa kedokteran. Ujian SOOCA di FK Unisba, menjadi pemicu kecemasan pada mahasiswa kedokteran. Situasi ujian lisan ini meningkatkan kecemasan dan masalah tidur. Pengalaman peran baru dan sistem PBL juga berkontribusi pada kecemasan mahasiswa tingkat satu. Saran untuk penelitian berikutnya melibatkan perluasan sampel, pendekatan penelitian longitudinal, dan eksplorasi faktor tambahan yang memengaruhi hubungan antara kecemasan dan insomnia pada mahasiswa. Disarankan juga mempertimbangkan implementasi program kesejahteraan mahasiswa dengan fokus pada manajemen stres, konseling, dan dukungan holistik di lingkungan akademik.
Gambaran Tingkat Kecemasan pada Korban Pasca Bencana Tanah Longsor Berulang di Desa Sawangan Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah Febriana Faridatu Amalia; Siska Nia Irasanti; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10520

Abstract

Abstract. Anxiety is a type of mental disorder that often occurs. Landslide disasters can be a stressor and have an influence on the level of anxiety in the victims. Banjarnegara Regency is one of the districts in Central Java that often experiences landslides. This research was conducted with the aim of determining the level of anxiety experienced by victims of repeated disasters in Sawangan Village. This research is a descriptive study with a cross sectional approach. The sampling technique was consecutive sampling and involved 115 research subjects who were victims of repeated landslides in RW 02 Sawangan Village. Data collection was carried out by asking questions and answers to research subjects and using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). The research results showed anxiety with the majority having a severe level of anxiety, 37 people (37%). Subjects experienced the most anxiety in late adulthood (36-45 years), were female, had low education, did not work, and had a low income, namely less than the same as RP. 2,500,000.00 and lived in Sawangan Village for more than 2 years. Victims of repeated landslides are vulnerable to experiencing anxiety due to repeated stressors. Abstrak. Kecemasan merupakan salah satu jenis gangguan mental yang sering terjadi. Bencana tanah longsor dapat menjadi stresor dan mempunyai pengaruh terhadap tingkat kecemasan pada korban bencana. Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang sering mengalami bencana longsor. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan yang dialami oleh korban bencana berulang di Desa Sawangan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling dan melibatkan 115 subjek penelitian korban bencana longsor berulang di RW 02 Desa Sawangan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara tanya jawab kepada subjek penelitian dan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukkan kecemasan dengan mayoritas memiliki tingkat kecemasan berat yaitu 37 orang (37%). Subjek paling banyak mengalami kecemasan pada usia dewasa akhir (36-45 tahun), berjenis kelamin perempuan, berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan berpenghasilan rendah yaitu kurang dari sama dengan Rp. 2.500.000,00 dan tinggal di Desa Sawangan selama lebih dari 2 tahun. Korban bencana tanah longsor yang berulang rentan mengalami kecemasan akibat stresor yang berulang.
Hubungan Stres Kerja dan Kepuasan Kerja dengan Tingkat Ketidakhadiran (absenteissm) pada Karyawan di Instalasi Farmasi RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi Fani Fitriani; Siska Nia Irasanti; Budiman
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10699

Abstract

Abstract. Workplace stress occurs when the demands and pressures of a job exceed an individual's abilities and knowledge. It becomes a problem and can be caused by factors such as the type of job, individual vulnerabilities, and poor organizational work systems. Lack of job satisfaction can also be a major trigger for workplace stress. . At RSUD Syamsudin SH, a referral hospital in the city of Sukabumi, there is a high risk of workplace stress. The number of patient visits that continues to increase every year can have serious impacts, both physically and mentally, and on organizational performance.. Therefore, there is a need for attention and actions to address workplace stress in the environment of RSUD Syamsudin SH in order to minimize its negative impacts. This study aims to determine the relationship between job stress and job satisfaction with the level of absenteeism in Pharmacy Installation Employees at Syamsudin SH Hospital. The research method used was analytic observational with cross sectional research design. Total sampling technique amounted to 97 employees. In this study, the independent variable is job stress and job satisfaction and the dependent variable is absenteeism. Data analysis using one way anova. Research on 97 employees showed that most experienced moderate levels of work stress (53.60%), moderate job satisfaction (42.30%) and the highest number of absences reached 42 days. The statistical test results showed that there was a significant relationship between work stress and absenteeism (p-value=0.000<0.05) and there was no significant relationship between job satisfaction and absenteeism (p-value=0.491>0.05). Abstrak. Stress kerja terjadi ketika tuntutan dan tekanan pekerjaan melebihi kemampuan dan pengetahuan seseorang. Ini menjadi masalah dan dapat disebabkan oleh faktor seperti jenis pekerjaan, kerentanan individu, dan sistem kerja organisasi yang buruk. Kurangnya kepuasan kerja juga dapat menjadi pemicu utama stress kerja. RSUD Syamsudin SH, rumah sakit rujukan di Kota Sukabumi risiko tinggi terhadap stress kerja dapat terjadi. Jumlah kunjungan pasien yang terus meningkat tiap tahunnya dapat menyebabkan dampak serius, baik secara fisik, mental, maupun terhadap kinerja organisasi. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dan tindakan untuk mengatasi stress kerja di lingkungan RSUD Syamsudin SH agar dapat meminimalkan dampak negatifnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan stress kerja dan kepuasan kerja dengan tingkat ketidakhadiran. Metode penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel total sampling berjumlah 97 karyawan. Variabel bebasnya stress kerja dan kepuasan kerja dan variabel terikatnya ketidakhadiran. Analisa data menggunakan oneway anova. Penelitian terhadap 97 karyawan menunjukkan sebagian besar mengalami tingkat stress kerja sedang (53.60%), kepuasan kerja sedang (42.30%) dan jumlah ketidakhadiran terbanyak mencapai 42 hari. Hasil uji statistik diperoleh adanya hubungan yang signifikan antara stres kerja dan ketidakhadiran (p-value=0.000<0.05) dan tidak ada hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dan ketidakhadiran (p-value=0.491>0.05). Stres kerja berhubungan dengan ketidakhadiran dan kepuasan kerja tidak berhubungan dengan ketidakhadiran.
Gambaran Indeks Massa Tubuh dengan Karies Gigi pada Anak Kelas 5 dan 6 di SDN 42 Gambir Bandung Tahun 2023 Andini Mulyani; Siska Nia Irasanti; Nurul Romadhona
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10932

Abstract

Abstract. Poor oral and dental health will impact aspects of a child's quality of life such as speaking and chewing, thus affecting BMI. Body Mass Index (BMI) is also used as a risk factor for early detection of a person's health or the prevalence of several health problems, one of which is dental caries. Dental caries is a disease caused by multifactorial etiology and attacks the hard tissue of the teeth, resulting in demineralization of tooth enamel. The aim of this research is to determine the description of Body Mass Index and dental caries in grade 5 and 6 children at SDN 042 Gambir Bandung in 2023. This research uses a quantitative analysis method with a cross sectional approach using nonprobability sampling technique. Data collection used direct examinations for BMI by researchers and dental examinations by dentists directly at elementary schools. The results of the research using univariate test analysis were obtained from 74 students of SDN 042 Gambir Bandung. The research results showed that 47 students (63.5%) were underweight. Food choices influence BMI and many other factors that cause dental caries, such as frequent consumption of sweet foods and drinks, children who do not maintain oral and dental hygiene, how to brush their teeth, frequency of brushing their teeth and socio-economic factors. Abstrak. Kesehatan gigi dan mulut yang buruk akan berdampak pada aspek kualitas hidup anak seperti bicara dan mengunyah sehingga berpengaruh terhadap IMT. Indeks Massa Tubuh (IMT) juga digunakan sebagai faktor risiko untuk mendeteksi secara dini tentang kesehatan seseorang atau prevalensi beberapa kesehatan masalah seseorang, salah satunya adalah karies gigi. Karies gigi merupakan penyakit yang disebabkan oleh etiologi multifaktorial dan menyerang jaringan keras pada gigi sehingga akan terjadi demineralisasi enamel gigi. Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran Indeks Massa Tubuh dengan karies gigi pada anak kelas 5 dan 6 di SDN 042 Gambir Bandung Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan teknik pemilihan sampel nonprobability sampling. Pengumpulan data menggunaikain pemeriksaiain laingsung untuk IMT oleh peneliti dain pemeriksaiain gigi oleh dokter gigi secairai laingsung di SD. Hasil penelitian menggunakan analisis uji univariat diperoleh dari 74 siswa SDN 042 Gambir Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki berat badan kurang (underweight) sebanyak 47 orang (63,5%). Pemilihan makanan berpengaruh terhadap IMT dan banyak faktor-faktor lain penyebab dari karies gigi seperti seringnya mengkonsumsi makanan dan minuman manis, anak-anak yang kurang menjaga kebersihan gigi dan mulut, cara menyikat gigi, frekuensi menyikat gigi dan dari faktor sosio-ekonomi.
Gambaran Riwayat Bayi Berat Lahir Rendah dan Pemberian ASI Eksklusif pada Balita Stunting Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Kecamatan Pamanukan Nabiel Makarim Shafary; Siska Nia Irasanti; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12106

Abstract

Abstract. Stunting is a linear growth disorder in children aged 0–59 months. Pamukanukan District is ranked 1st in Subang Regency which has the highest prevalence of stunting, namely 19.7%. Children aged 24–59 months are vulnerable to experiencing nutritional problems. Main determinant factors for stunting are a history of low birth weight (LBW) and a history of exclusive breastfeeding practices. This study aims to determine the description of LBW and the history of exclusive breastfeeding in stunted toddlers aged 24–59 months at the Pamukanukan District Health Center, Subang Regency. Method in this research is observational analytics with a cross-sectional approach. Subjects in this study were 100 stunted children. The independent variables in this study were history of LBW and history of exclusive breastfeeding. Dependent variable in this research is stunting classification (short and very short). To see a picture of the history of low birth weight babies and the history of exclusive breastfeeding in stunted toddlers, data analysis used descriptive frequency analysis. The results of this study were that the majority of respondents had normal birth weight (90%) and had a history of exclusive breastfeeding (90%). The majority of respondents are stunted toddlers in the stunted category (64%). Exclusive breastfeeding and a history of LBW are not the only factors that cause stunting. The determinants of stunting are multifactorial, such as the child's health history, socioeconomic status, family food security, knowledge and attitudes of caregivers, environmental sanitation, personal hygiene, and balanced nutritional intake. Abstrak. Stunting adalah gangguan pertumbunam liner pada anak usia 0–59 bulan. Kecamatan Pamanukan menempati peringkat ke-1 di Kabupaten Subang yang memiliki prevalensi stunting paling tinggi, yaitu sebanyak 19,7%. Anak usia 24–59 bulan merupakan usia yang rentan mengalami masalah gizi. Faktor determinan utama stunting, yaitu riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) dan riwayat praktik ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran BBLR dan riwayat ASI eksklusif pada balita stunting usia 24–59 bulan di Puskesmas Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang. Metode pada penelitian ini, yaitu analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Subjek pada penelitian ini sebanyak 100 orang anak stunting. Variabel bebas pada penelitian ini, yaitu riwayat BBLR dan riwayat ASI eksklusif. Variabel terikat pada penlitian ini, yaitu klasifikasi stunting (pendek dan sangat pendek). Untuk melihat gambaran riwayat bayi berat lahir rendah dan riwayat ASI Eklusif pada balita stunting analisis data menggunakan analisa deskriptif frekuensi. Hasil pada penelitian ini, yaitu mayoritas responden memiliki berat badan lahir kategori normal (90%) serta memiliki riwayat ASI Eksklusif (90%). Mayoritas responden merupakan balita stunting dalam kategori stunted (64%). Pemberian ASI eksklusif dan riwayat BBLR bukan faktor tunggal yang menyebabkan stunting. Faktor determinan stunting bersifat multifaktorial, seperti riwayat kesehatan anak, status sosioekonomi, ketahanan pangan keluarga, pengetahuan dan sikap pengasuh, sanitasi lingkungan, higienitas personal, dan asupan gizi yang seimbang.
Association of Malnutrition Based on Body Mass Index with A Presence of Oral Disease Meta Maulida Damayanti; Yuniarti; Caecielia Makaginsar; Siska Nia Irasanti
Denta Journal Kedokteran Gigi Vol 15 No 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/denta.v15i2.1

Abstract

Background: To maintain oral health, the body needs good nutrition. The relationship between nutritional status and oral health conditions is very complex, influenced by many factors, both internal and external. Inadequate nutrition can increase the risk of oral disease. Purpose: To analyze the association between malnutrition and oral diseases. Methods: This study used the cross-sectional analytic observational design. Data were collected from the Manarul Huda Islamic Boarding School in Bandung, which 38 participants were selected based on criteria. Body mass index perform to asses nutritional status, while oral disease was collected through form data. Analysis’s data using chi-square and SPSS 23 version. Results: Classification of body mass index the highest in undernutrition group (47.4%) and oral disease the highest for tooth staining (52.6%), there was no significant association between malnutrition and oral disease with p value >0.05. Conclusion: Early analysis of nutritional assessment reduced oral disease. Further assessment will be needed to determine the long-term oral health effect of malnutrition.
Gambaran Penggunaan Media Sosial dan Pemanfaatan Informasi Kesehatan Efendi, Mochammad Nauval Asraf; Irasanti, Siska Nia; Dananjaya, Rio
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8362

Abstract

Abstract. The advancement of information technology has facilitated public access, including that of medical students, to health information through social media. This study aims to describe the types of social media used, the duration of usage, and the characteristics of health information utilization, which include the types of information, forms of information, and the most trusted sources of information among students. This research employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach and utilized a questionnaire as the data collection instrument. The results showed that the most commonly used social media platform was WhatsApp (75.67%), with a usage duration of more than 4 hours per day (55.08%). The most frequently accessed health information included education, health learning materials, and disease prevention (34.46%). The most easily understood form of information was video (93.24%), and the most trusted source of information was from healthcare professional accounts (42.57%). The conclusion of this study indicates that social media plays a significant role in the utilization of health information among students; however, digital literacy is necessary to enable them to filter accurate and reliable information. Abstrak. Kemajuan teknologi informasi telah memudahkan masyarakat, termasuk mahasiswa kedokteran, dalam mengakses informasi kesehatan melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis media sosial, durasi penggunaan media sosial, serta karakteristik pemanfaatan informasi kesehatan yang mencakup jenis informasi, bentuk informasi, dan sumber informasi yang paling dipercaya oleh mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan instrumen kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial yang paling banyak digunakan adalah WhatsApp (75,67%) dengan durasi penggunaan lebih dari 4 jam per hari (55,08%). Jenis informasi kesehatan yang paling banyak diakses adalah edukasi, pembelajaran kesehatan, dan pencegahan penyakit (34,46%). Bentuk informasi kesehatan yang paling mudah dipahami adalah video (93,24%), dan sumber informasi yang paling dipercaya berasal dari akun tenaga kesehatan (42,57%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam pemanfaatan informasi kesehatan di kalangan mahasiswa, namun dibutuhkan literasi digital agar mereka mampu menyaring informasi yang akurat dan terpercaya.
Co-Authors Adhika Putra Rahmatullah Adjat Sedjati Rasjad Adlina Afifah Ahmad Kamil Alda Alysia Jaswirna Aliya Salsabila Andini Mulyani Annisa Aulia Listiani Arief Budi Yulianti Ariko Rahmat Putra Audia Rizky Pratama Budiman Budiman , Budiman Caecielia Wagiono Dedeh Helpironi Deis Hikmawati Dewi Sartika Dhian Indriasari Efendi, Mochammad Nauval Asraf Eka Nurhayati Ennok Nisa Islamiati Faisal, Sandy Fajar Awalia Yulianto Fani Fitriani Febriana Faridatu Amalia Febriana Kurniasari Ferry A. F.M. Ganang Ibnusantosa Herri S. Sastramihardja Hilal Muhammad Dimas Nugraha Ieva B. Akbar Ieva Baniasih Akbar Ismawati Ismet Muchtar Nur M. Ahmad Djojosugito M. Ihsan Wahyudi Meta Maulida Damayanti Mia Kusmiati Muhamad Gio Juliansyah Muhammad Mufti Nabiel Makarim Shafary Nadia Salsabila Novita Arya Cahyani Novita Arya Cahyani Novy Latifah Nurul F Nurdjaman Nurimaba Nurul Romadhona R.B. Soeherman Herdiningrat Raden Ganang Ibnusantosa Rahmawaty Alie, Ike Rakanda Muhammad Naufal Pratomo Refika Ilma Nurul Uswah Revika Ilma Nurul Uswah Reyhan Abhari Richi Delistianti Y Rika Nilapsari Rio Dananjaya Risya Farisatul Aini Risya Farisatul Aini Rizki Perdana Rizky Ramdhani Rizky Ramdhani, Rizky Rosady, Dony Septriana Roy Rillera Marzo Sara Puspita Tannia Kusumawardhani Tita Barriah Siddiq Titik Respati Triana Nur Aripin Wawang S Sukarya, Wawang S Wawang S. Sukarya Wawang S. Sukarya Wawang S. Sukarya Wellisna Merduani Yani Dewi Suryani Yoyoh Yusroh Yudi Azis Yuli Susanti Yuniarti Yuniarti Yuniarti Yuniarti Yusuf Heriady Zulmansyah , Zulmansyah