Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS AGUNG PRATAMA, RIZKY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.
ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS MAHARDI, PURWO; AGUNG PRATAMA, RIZKY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.
ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS AGUNG PRATAMA, RIZKY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.
ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS AGUNG PRATAMA, RIZKY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.
ANALISA CAMPURAN AC – WC DENGAN AGREGAT RECLAIMED ASPHALT PAVEMENT (RAP) DAN FILLER FLY ASH SEBAGAI CAMPURAN INDUK UNTUK PENAMBAHAN HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE) , KARISMANAN; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) hasil Cold Milling Machine sebagai agregat baru dalam perkerasan jalan dan bahu jalan masih belum optimal penggunaannya. Dengan adanya potensi pemanfaatan RAP dalam campuran aspal panas maka dilaksanakan penelitian ini. Penggunaan RAP dalam campuran beraspal diharapkan dapat menghemat anggaran pemeliharaan atau pembangunan jalan serta mengetahui kemungkinan penggunaan RAP dalam perkerasan. Campuran aspal panas Laston AC-WC bergradasi kasar dengan bahan pengikat aspal pen 60/70, sehingga material RAP dapat dimanfaatkan lebih optimal. Penelitian ini diawali dengan analisa saringan terhadap RAP dan material baru ditinjau dari Spesifikasi Umum Bina Marga 2010. Persentase penambahan agregat baru dalam campuran yang akan diuji bergantung pada gradasi RAP. Komposisi campuran harus memenuhi amplop gradasi agregat dan penambahan aspal pen 60/70 ke dalam campuran sesuai dengan perhitungan perkiraan kadar aspal (Pb). Didapatkan komposisi gradasi yang memenuhi amplop gradasi yaitu komposisi 21% RAP pada MA (Medium Agregat) dengan ukuran 5 - 10 mm dan CA (Course Agregat) dengan ukuran 10 - 15 mm. Campuran kemudian diuji dengan pengujian Marshall sehingga dapat menentukan komposisi campuran optimal yang memenuhi ketentuan Spesifikasi Umum Bina Marga 2010. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi campuran dengan 21% RAP pada CA (Course Agregat). Merupakan komposisi yang paling optimal dengan kadar aspal optimum (KAO) yang dihasilkan sebesar 5,25% pada campuran Variasi 2. Dengan analisa parameter Marshall, nilai stabilitas yaitu 1256,64 kg , kelelehan atau flow 3,25 mm, V.I.M 4,51%, V.M.A 15,12%, V.F.A 70,20%, dan marshall quotient 387,67 kg/mm.Kata Kunci: Parameter Marshall, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Laston AC-WCThe potency of Reclaimed Asphalt Pavement from Cold Milling Machine as a subtitution of new asphalt and aggregate in the pavement and road?s shoulder is still not optimal use yet. By the potential of the use of RAP in Hot Mix Asphalt then this study The use of RAP in paved mixtures is expected to save maintenance or road construction budgets as well as knowing the possibility of using RAP in pavement. Coarse graded Hot Mix Asphalt Laston AC-WC with 60/70 pen asphalt binder, so that the materials can be optimally used. This study was initiated by examining analysis of RAP and new materials to be reviewed of The Highways General Specification 2010. The percentage of addition new aggregate in the mixture that will be tested depends on the RAP?s gradation. The composition of the mixtures must full fill aggregate grading envelope and the addition of 60/70 pen asphalt into the mixture according to calculation of estimated bitumen content (Pb). Obtained the compositions that meets the envelopegradation are the composition of 21% RAP on MA (Medium Aggregate) with a size of 5-10 mm and CA (Aggregate Course) with a size of 10-15 mm. A mixture of later in the test with testing marshall so it can determine the composition mix optimally filled the terms of The Highways General Specification 2010. The result of this study shows that the mixture composition with 21% RAP on CA (Aggregate Course). The most optimal composition with optimum asphalt content (KAO) is 5.25% in the mixture of Variation 2. By the Marshall parameter analysis, the stability value is 1256.64 kg, melt or flow 3.25 mm, V.I.M 4.51%, V.M.A 15.12%, V.F.A 70.20%, and Marshall quotient 387.67 kg / mm. Keywords: Marshall Parameter, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Laston AC-WC
ANALISA CAMPURAN AC-WC PEN 60/70 DENGAN AGREGAT RECLAIMED ASPHALT PAVEMENT (RAP) DAN FILLER ABU BATU SEBAGAI CAMPURAN UNTUK PENAMBAHAN LOW DENSITY POLYETHYLENE (LDPE) BRIAN PERMANA, ARSANDY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada akhir ini, banyak pekerjaan pengaspalan jalan baru maupun penambalan. Dari pekerjaan tersebut, menimbulkan limbah aspal yang tidak dimanfaatkan kembali. Sehingga dapat menimbulkan masalah baru yaitu timbulnya limbah aspal atau yang disebut RAP (Reclaimed Asphalt Pavement). Pada penelitian ini yang ditinjau adalah pengaruh RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) sebagai pengganti agregat dengan menggunakan filler abu batu pada campuran aspal pertamina pen 60/70 sebagai dasar campuran penambahan limbah plastik LDPE (Low Density Polyethylene). Oleh sebab itu penggunaan RAP menjadi salah satu alternatif yang digunakan untuk mendapatkan kualitas lapis perkerasan yang baik dan memanfaatkan kembali limbah perkerasan lentur. Benda uji yang disiapkan untuk campuran AC-WC+RAP dengan persentase aspal 4,5%; 5%; 5,5%; 6%; 6,5%; dari total berat material. Pencampuran agregat AC-WC+RAP dilakukan dengan metode kering, dicampur diatas penggorengan. Dari hasil uji Marshall menunjukkan seluruh kadar aspal telah memenuhi spesifikasi umum Bina Marga 2018 divisi 6. Nilai stabilitas dan flow optimum ada pada variasi 3 dengan kadar aspal 6% yaitu 1287,18 Kg untuk stabilitas dan 3,5 mm untuk flow. Dimana variasi 3 mensubstitusi material asli agregat halus ke penggunaan material RAP yang sangat maksimal yaitu sebesar 46%. Kata Kunci : Karakteristik Marshall, Laston AC-WC, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Low Density Polyethylene (LDPE)
ANALISA PENERAPAN REKAYASA NILAI (VALUE ENGINEERING) PADA PROYEK JALAN MIDDLE EAST RING ROAD (MERR) SURABAYA FIKRIYAH RAHMI, TSALITS; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada perencanaan sebuah proyek jalan raya, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu AASHTO 1997, Manual Desain Perkerasan tahun 2013, Manual Desain Perkerasan tahun 2015, Manual Desain Perkerasan tahun 2017. Beberapa metode yang digunakan tentu menghasilkan tebal struktur perkerasan yang berbeda-beda. Hal tersebut yang membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek memiliki hasil yang berbeda pada masing-masing metode perencanaan yang digunakan. Proyek pembangunan Jalan MERR untuk tahap satu dan dua telah selesai dikerjakan, untuk tahap ketiga akan dilaksanakan secepatnya pada tahun 2018. Perencanaan pada Jalan MERR tersebut menggunakan metode AASHTO tahun 1997, dengan menghasilkan RAB sebesar Rp 96,643,007.000.00. Metode perencanaan serta hasil RAB yang diperoleh menjadi dasar pertimbangan untuk dilakukannya penelitian mengenai penerapan proses VE pada proyek ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari penerapan VE dan berapa besar penghematan biaya yang dihasilkan pada proyek Pembangunan dan Rehabilitasi Jalan MERR Surabaya. Penerapan proses VE memiliki beberapa tahapan, yaitu tahap informasi, analisa fungsi, tahap kreativitas, tahap evaluasi, tahap pengembangan dan tahap presentasi. Hasil dari penerapan proses VE tersebut didapatkan alternatif penggunaan CCSP 400.1000 H=11m kelas A, U-Ditch 180.180.120 K-350 Precast untuk Pekerjaan Saluran dan Pasangan, dan alternatif penggunaan Lapis AC-WC tb. 4cm, Lapis AC-BC tb.6cm, Lapis AC-Base tb. 21cm dan Lapis Pondasi Agregat (LPA) Kelas A tb. 30cm . Penghematan biaya yang didapatkan sebesar Rp 10,056,771,000.00 atau 10.41% dari biaya proyek sebesar Rp 96,643,007.000.00, setelah dilakukan rekayasa nilai biaya proyek menjadi Rp 86,586,236,000.00. Kata Kunci: Rekayasa Nilai, Jalan MERR Surabaya, Perkerasan Lentur, Perkerasan Kaku.On the planning of a road project, there are several methods that can be used, namely AASHTO 1997, Manual design of the Perkerasan year 2013, design Manual of the Perkerasan year 2015, design Manual of the Perkerasan year 2017. Some of the methods used certainly produce a thick different alignment structures. This makes the project budget plan (RAB) projects have different results on each of the planning methods used. The MERR Road development project for phase one and two was completed, for the third stage to be implemented as soon as possible in 2018. The planning on the MERR road used the AASHTO method in 1997, by generating a RAB of Rp 96,643, 007.000.00. The planning methods as well as the results of RAB were obtained as a basis of consideration for the research on implementing the VE process on this project. The aim of the study was to know the outcome of the VE implementation and how much the cost savings resulted in the project development and rehabilitation of MERR Road Surabaya. The application of the VE process has several stages, namely information level, function analysis, creativity level, evaluation stage, development stage and presentation stage. Result of the implementation of the VE process gained alternative use of CCSP 400.1000 H = 11m class A, U-Ditch 180,180,120 K-350 Precast for channel and pair work, and alternative use of Lapis AC-WC TB. 4cm, Lapis AC-BC TB. 6cm, layer AC-Base TB. 21cm and Aggregate Foundation Layer (LPA) grade A TB. 30cm. The cost savings earned amounted to Rp 10,056,771,000.00 or 10.41% of the project cost of Rp 96,643, 007.000.00, after the engineering of project cost value to Rp 86,586,236,000.00.KeyWords: Value Engineering, Jalan MERR Surabaya, Flexible Pavement, Rigid Pavement.
PENENTUAN GRADASI GABUNGAN SEBAGAI DASAR CAMPURAN LASTON AC-WC DAN LIMBAH BAN AKROM SUBHAN, MUHAMMAD; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada akhir ini, banyak pekerjaan pengaspalan jalan baru maupun penambalan. Dari pekerjaan tersebut, menimbulkan limbah aspal yang tidak dimanfaatkan kembali. Sehingga dapat menimbulkan masalah baru yaitu timbulnya limbah aspal atau yang disebut RAP (Reclaimed Asphalt Pavement). Pada penelitian ini yang ditinjau adalah pengaruh RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) sebagai pengganti agregat dengan menggunakan filler fly ash pada campuran aspal pertamina pen 60/70 sebagai dasar campuran penambahan limbah ban. Oleh sebab itu penggunaan RAP menjadi salah satu alternatif yang digunakan untuk mendapatkan kualitas lapis perkerasan yang baik dan memanfaatkan kembali limbah perkerasan lentur. Benda uji yang disiapkan untuk campuran AC-WC+RAP dengan persentase aspal 3%, 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, untuk variasi 1 dan 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, untuk variasi 2. Pencampuran agregat AC-WC+RAP dilakukan dengan metode kering, dicampur diatas penggorengan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi campuran dengan 21% RAP pada CA (Course Agregat), merupakan komposisi yang paling optimal dengan kadar aspal optimum (KAO) sebesar 5,25% pada campuran variasi 2. Dengan Analisa parameter Marshall, nilai stabilitas 1256,64 kg, kelelehan atau flow 3,25 mm, V.I.M 4,51%, V.M.A 15,12%, V.F.A 70,20%, dan Marshall Quotient 387,67 kg/mm. Kata Kunci : Filler Fly Ash, Laston AC-WC, Limbah Ban, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) Abstract At the end of this time, a lot of work is asphalting as well as patching. From this work, it creates asphalt waste which is not reused. So that it can cause new problems, namely the emergence of asphalt waste or so-called RAP (Reclaimed Asphalt Pavement). In this study, the effect of RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) as a substitute for aggregate by using fly ash filler in the 60/70 pertamina pen asphalt mixture as a basis for adding tire waste mixture. Therefore the use of RAP is one of the alternatives used to get good quality pavement layers and to reuse flexible pavement waste. Test specimens were prepared for AC-WC + RAP mixture with asphalt percentage of 3%, 4%, 4.5%, 5%, 5.5%, 6%, for variations of 1 and 4%, 4.5%, 5% , 5.5%, 6%, for variation 2. The mixing of AC-WC + RAP aggregates was carried out by the dry method, mixed over the frying pan. The results of this study indicate that the composition of the mixture with 21% RAP on the CA (Aggregate Course), is the most optimal composition with an optimum asphalt content (KAO) of 5.25% in a mixture of variation 2. With Marshall parameter analysis, the stability value is 1256, 64 kg, melt or flow 3.25 mm, VIM 4.51%, VMA 15.12%, VFA 70.20%, and Marshall Quotient 387.67 kg / mm. Keywords : AC-WC Laston, Filler Fly Ash, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Waste Tires
PENENTUAN KADAR ASPAL OPTIMUM (KAO) DALAM CAMPURAN ASPHALT CONCRETE-WEARING COURSE (AC-WC) DENGAN LIMBAH BETON SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT WIDYA WARDANA, HERWIN; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai karakteristik marshall dari aspal beton lapis aus atau asphalt concrete wearing course (AC-WC) yang meliputi: Void In The Mix (VIM), Void In Mineral Agreggate (VMA), Void Filled With Asphalt (VFA), Stabilitas, Kelelehan (Flow) dan Marshall Quotient (MQ) menggunakan limbah beton sebagai pengganti agregat dengan harapan limbah beton dapat menjadi alternatif material dalam campuran perkerasan jalan, sehingga dapat menghemat dari segi biaya dan mengurangi eksploitasi material dari alam. Penelitian ini dalam skala uji laboratorium dan menggunakan pedoman Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2010. Limbah beton yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 35% dari total berat campuran aspal dengan ukuran butir agregat 5-10mm hingga didapatkan proporsi campuran yang optimal dengan ketentuan Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 dengan pengujian Marshall Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada penggunaan limbah beton sebesar 35% dari total berat campuran dengan kadar aspal 5%; 5,5%; 6%; 6,5%; dan 7%. Hasil dari kadar aspal tersebut didapatkan nilai KAO yaitu 6,17% dan nilai VIM dan VMA yaitu 4,8% dan 17,71%, sedangkan untuk nilai VFA sebesar 72,9%. nilai stabilitas sebesar 1627 kg, untuk Flow sebesar 4,5 mm dan nilai MQ sebesar 361,6 Kg/mm. Kata Kunci : AC-WC, Pen 60/70, KAO, Limbah Beton, Marshall
Analisis Kualitas Pelayanan Bus Kota Surabaya Berdasarkan Persepsi Pengguna Dengan Metode Importance Performance Analysis (IPA) Mahardi, Purwo; Sudibyo, Tri; Widayanti, Fitri Rohmah
PUBLIKASI RISET ORIENTASI TEKNIK SIPIL (PROTEKSI) Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/proteksi.v1n1.p22-29

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat harapan serta tingkat kinerja pelayanan bus kota di Surabaya menurut penumpang bus kota. Berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan, penelitian ini juga menganalisis faktor yang harus diprioritaskan, faktor yang harus dipertahankan, faktor dengan prioritas rendah dan faktor yang berlebihan. Indikator pelayanan sebanyak 13 variabel yang dikembangkan dari dimensi SERVQUAL. Metode analisis yang digunakan adalah Importance Performance Analysis (IPA) dengan jumlah responden sebanyak 120 penumpang yang diambil dari 6 trayek yang saat ini beroperasi. Hasil analisis gap menunjukkan bahwa tidak ada satupun indikator yang memenuhi harapan penumpang. Penumpang berasumsi bahwa kualitas pelayanan bus kota di Surabaya berada pada level cukup memuaskan. Faktor ketersediaan AC (Air Conditioner) merupakan faktor yang dianggap penting oleh pelanggan tetapi pada kenyataannya faktor ini masih jauh dari harapan. Faktor inilah yang harus mendapatkan prioritas utama dari operator untuk dibenahi agar kualitas pelayanan dapat meningkat sesuai harapan penumpang.Kata kunci: importance performance analysis (IPA), pelayanan, tingkat kepuasan.