Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS ETNO-STEM PEMBUATAN COKLAT TEMULAWAK SEBAGAI BAHAN AJAR IPA PADA MATERI PERUBAHAN WUJUD ZAT Asih, Umi Retno; Putri, Viara Maharani Purnama; Noor, Faiq Makhdum; Fatihah, Iffa; Nadhiroh, Nashikhatun
PENSA E-JURNAL: PENDIDIKAN SAINS Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/pensa.v13i1.60576

Abstract

Integrasi budaya lokal dengan pembelajaran IPA dapat mempermudah siswa dalam memahami materi IPA dengan melestarikan budaya lokal. Budaya lokal dapat dikaitkan dengan konsep STEM yang dapat digunakan sebagi bahan ajar IPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Etno-STEM pada proses pembuatan COMUL (Coklat Temulawak) dan untuk menganalisis materi perubahan wujud zat yang berkaitan dalam proses pembuatan COMUL (Coklat Temulawak) yang dapat digunakan sebagai bahan ajar. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Pada penelitian ini, peneliti mengidentifikasi proses pembuatan COMUL yang di integrasikan ke dalam konsep Etno-STEM sebagai bahan ajar pada materi perubahan wujud zat. Hasil peneletian menunjukan bahwa pada proses pembuatan COMUL terdapat konsep Etnosain mengenai melimpahnya tanaman temulawak yang di manfaatkan sebagai jamu. Konsep STEM diantaranya Science (perubahan wujud zat), technology (parutan, pisau, kompor, dan panci), enginering (teknik tekanan, teknik mengaduk, dan teknik mengaduk) dan Mathematics (terdapat satuan gram sebagai takaran). Pada proses pembuatan comul terdapat materi IPA mengenai perubahan wujud zat kelas 7. Respon guru IPA terhadap bahan ajar COMUL sebesar 96% sehingga layak digunakan sebagai bahan ajar berbasis Etno-STEM pada materi perubahan wujud zat.
DEVELOPMENT OF SCIENCE MODULE BASED ON ETHNOSCIENCE OF BRICK PROCESSING ON THE MATERIAL OF SUBSTANCE FORM CHANGE Rahmawati, Amalia Indah; Noor, Faiq Makhdum
Paedagoria : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Vol 16, No 4 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/paedagoria.v16i4.32150

Abstract

The background of this research is based on the importance of integrating local wisdom in science learning to make it more contextual and meaningful. The formulation of the research problem includes how to develop a module, how the module's feasibility is based on validation by media experts and material experts, and how students and teachers respond to the module. This research aims to develop an ethnoscience-based science learning module by highlighting the local potential of the brick center in Prambatan, Kaliwungu, Kudus as a learning context on the material of substance form change, to determine the feasibility of the module based on validation by media experts and material experts, and to determine students and teachers responses to the module. The method used is research and development (Research and Development) with a 4D model (define, design, develop, disseminate), but this research is only carried out until the development stage due to time constraints. The module development process includes the needs analysis stage, module design, validation by media experts and material experts, revision of validator input, and limited trials for grade VII D students at MTs NU Nurul Huda Kedungdowo Kaliwungu Kudus. The research population is all grade VII students at MTs NU Nurul Huda which totals 270 students. The sampling technique used random sampling by selecting 22 students as limited trial subjects. Data analysis uses qualitative descriptive and uses the Content Validity Index (CVI) technique which is then calculated using the Gregory validity technique which shows a high level of validity with scores of 0.70 (media) and 0.60 (material) respectively. The limited trial involved 22 students and one science teacher with student response results showing a very high level of feasibility (average 88.00%) and the response of science teachers showing a very high level of feasibility (average 97.5%). This module succeeds in integrating the values of local wisdom into science learning so that it can strengthen the relationship between science and daily life.
Analisis Kemampuan Literasi Sains Siswa dalam Pemanfaatan YouTube sebagai Media Pembelajaran IPA di Era Digital Saputra, Andriawan; Noor, Faiq Makhdum
JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 3 (2025): JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jagomipa.v5i3.1985

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang besar dalam integrasi media pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik, salah satunya adalah pemanfaatan YouTube. Platform ini memiliki potensi sebagai media pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) karena kemampuannya dalam menyajikan materi visual yang mendukung pemahaman konsep-konsep abstrak. Meskipun demikian, kajian yang secara khusus membahas efektivitas YouTube dalam meningkatkan literasi sains, preferensi siswa terhadap konten video, serta tantangan dan solusi implementasinya masih terbatas, juga keterbatasan guru dalam menggunakan teknologi saat pembelajaran menjadi masalah tersendiri. Kondisi ini menjadi dasar pentingnya dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemanfaatan YouTube dalam pembelajaran IPA sebagai sarana pengembangan literasi sains siswa, mengidentifikasi bentuk konten yang diminati siswa, serta menelaah kendala yang dihadapi dan alternatif solusi yang dapat diterapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek siswa kelas VII SMP Negeri 2 Mayong. Sampel terdiri dari 14 siswa yang telah mengikuti pembelajaran IPA menggunakan video YouTube. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara kepada guru dan siswa serta penyebaran angket skala likert yang berpedoman pada indikator literasi sains yang secara umum memuat kemampuan mengidentifikasi masalah ilmiah, menjelaskan fenomena ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah. Analisis data dilakukan dengan 3 tahapan yang saling berkaitan yaitu reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan YouTube secara efektif dapat meningkatkan literasi sains siswa. Video dengan animasi visual serta eksperimen sederhana IPA merupakan konten yang paling disukai. Kendala utama meliputi keterbatasan jaringan internet dan waktu penyiapan media, yang dapat diatasi melalui perbaikan infrastruktur jaringan dan pengelolaan waktu yang tepat.
Studi Eksperimen: Media Pembelajaran IPA Berbasis Sabun Dr. Stone dengan Pemanfaatan Bahan Treasure of the Sea Khoiriyani, Very; Malichatin, Hanik; Noor, Faiq Makhdum
JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 3 (2025): JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jagomipa.v5i3.2036

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merealisasikan konsep sains populer dari anime Dr. Stone ke dalam eksperimen nyata dan mengintegrasikannya ke dalam media pembelajaran kontekstual. Produk utama yang dikembangkan adalah sabun padat berbahan dasar kalsium oksida (CaO), natrium karbonat (Na₂CO₃), dan natrium hidroksida (NaOH), yang dibuat melalui reaksi saponifikasi di laboratorium. Metode penelitian yang digunakan mengadaptasi model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate), namun hanya dilaksanakan sampai tahap Develop. Proses pembuatan sabun dikombinasikan dengan penyusunan LKPD berbasis proyek pada materi asam basa. Kelayakan media dinilai melalui validasi ahli materi, ahli media, serta uji organoleptik oleh responden pengguna. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sabun memiliki pH 9,0 yang sesuai dengan standar keamanan kulit. Sebagian besar responden menilai sabun layak digunakan, dengan catatan perbaikan pada aspek visual. Validasi terhadap sabun, LKPD, dan materi menunjukkan bahwa seluruh komponen masuk kategori "layak" hingga "layak tanpa revisi". Penelitian ini membuktikan bahwa prinsip-prinsip ilmiah dalam media populer seperti anime dapat diterapkan dalam pembelajaran nyata, serta memberikan alternatif media kontekstual yang mendekatkan sains dengan dunia peserta didik.
PENGEMBANGAN SSP FISIKA BERBASIS PENDEKATAN CTL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN MOTIVASI BELAJAR Noor, Faiq Makhdum; Wilujeng, Insih
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA Vol. 1 No. 1: April 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.124 KB) | DOI: 10.21831/jipi.v1i1.4534

Abstract

This research aims to develop a learning device as Subject-Specific Pedagogy (SSP) of physics, and to improve science process skills and learning motivation of the students. This research used the 4D model. The subjects of this research were the XI grade students of Muhammadiyah High School 2 Yogyakarta. The data collecting instruments were expert validation sheets, science process skill observation sheets, questionnaire of students' response to the student books and worksheets, question-naire of students' response to teaching process, students' motivation learning sheets, and science process skill paper test. The research data were collected through observation, questionnaire, and paper test, and analyzed quantitatively. The results show as follows. (1) The development of physics SSP is carried out in accordance with the procedures of 4D model product development. (2) The results of expert's validation show the physics SSP is in the very good criteria. (3) The readability of the student books and worksheets is in the good criteria. (4) The increasing of the score of science process skills and students' learning motivation in the experimental class is higher than that in the control class. This shows that the physics SSP is fit for use in physics teaching.
Pengaruh Penerapan Pendekatan Computational Thinking dalam Pembelajaran IPA terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa pada Materi Sistem Pernapasan Fauziah, Izzatul; Noor, Faiq Makhdum
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4 (2025): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4.3577

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah penting dalam pembelajaran IPA agar siswa mampu memahami persoalan terkait konsep IPA, sehingga perlu melatih cara berpikir sistematis salah satunya melalui pendekatan computational thinking. Computational thinking merupakan pendekatan berpikir sistematis yang meliputi dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Sistem pernapasan merupakan materi IPA yang bersifat abstrak dan tergolong rumit karena melibatkan pemahaman konsep organ, mekanisme, serta gangguan sistem pernapasan, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah yang bersifat aplikatif dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan pendekatan computational thinking (CT) dalam pembelajaran IPA terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi sistem pernapasan. Metode penelitian ini adalah quasi-eksperimen dengan nonequivalent control group design. Subjek penelitian siswa kelas VIII SMPN 2 Gebog. Instrumen yang digunakan berupa soal tes dengan indikator kemampuan pemecahan masalah. Analisis data melalui uji normalitas, homogenesitas, paired sample t-test, independent sample t-test dan N-Gain score. Pada uji paired sample t-test hasilnya menunjukkan signifikansi (<0,001) kurang dari 0,05 artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan setelah diterapkan pendekatan computational thinking. Rata-rata nilai pretest dan posttest kelas eksperimen sebesar 71 dan 81. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan computational thinking dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran IPA, khususnya pada materi sistem pernapasan.
ANALISIS IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBASIS FENOMENA LINGKUNGAN SEKITAR PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP Zahiy, Putri Izza Hilya; Noor, Faiq Makhdum
Inteligensi : Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/ilg.v8i2.7833

Abstract

This study aims to analyze the implementation of contextual teaching and learning (CTL) based on environmental phenomena across all science subjects at SMP Tahfidz Duta Aswaja Kudus. This research employs a qualitative descriptive method with data collected through observation, interviews, and documentation. The sample was selected using purposive sampling. The results indicate differences in CTL steps between theory and classroom practice. In theory, CTL steps include: invitation, linking, constructivism, inquiry, questioning, learning community, modeling, reflection, and authentic assessment. In practice, the steps include: presentation of phenomena, constructivism, inquiry, questioning, learning community, modeling, reflection, and authentic assessment. Furthermore, there are differences between the theoretical and practical learning materials. In theory, the materials include: classification of living things, interactions of living things with the environment, environmental pollution, substances and their changes, energy and its transformations, force and motion, pressure, vibrations, waves and sound, human organ systems, electricity and magnetism, electromagnetism, the solar system, and biodiversity and environmental conservation. In practice, CTL is also applied to materials such as biotic and abiotic components, ecosystems, and Newton's laws. During CTL implementation, teachers face several challenges, including limited time, students’ lack of self-confidence, and teacher dominance in some lesson sessions. Nevertheless, students show positive responses, find it easier to understand the material, and actively participate in discussions and observations of phenomena. Overall, the contextual approach proves effective in creating meaningful learning and supporting the development of 21st-century skills.