Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI OBAT TERHADAP TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN 2019 Hanifa, Millata; Mutmainah, Nurul
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 1 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v1i1.131

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis termasuk penyakit kronis yang mana kepatuhan dalam pengobatan menjadi hal yang sangat penting. Pengetahuan tentang penyakit tuberkulosis dan risiko ketidakpatuhan dalam pengobatan dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan maka dilakukan edukasi sebagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Media tambahan seperti leaflet dibutuhkan untuk memudahkan pasien untuk memahami edukasi yang diberikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tingkat kepatuhan pasien TB paru di BBKPM Surakarta dan menganalisis tingkat kepatuhan pasien TB paru sebelum dan sesudah pemberian edukasi dengan leaflet pada kelompok intervensi dan kontrol. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen semu (quasi experiment) dengan control group pretest and posttest design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini 44 responden yang dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan kriteria inklusi yaitu pasien TB paru usia 18-65 tahun yang sudah menjalani pengobatan kategori I minimal 1 bulan di BBKPM Surakarta tahun 2019 dan bersedia menjadi responden serta dapat berkomunikasi. Data dianalisis dengan uji Wilcoxom dan uji Mann-Whitney. Berdasarkan hasil penelitian sebelum pemberian intervensi pasien yang patuh dalam pengobatan sejumlah 9 responden (40,9%) dan setelah pemberian intervensi jumlah pasien yang patuh menjadi 14 respondem (63,6%). Terdapat peningkatan kepatuhan yang bermakna antara sebelum dan sesudah pemberian intervensi dengan nila p (sign) 0,010 (<0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat peningkatan kepatuhan yang bermakna antara sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p (sign) 0,175 (>0,05). Terdapat perbedaan tingkat kepatuhan yang signifikan antara kelompok intervensi berupa edukasi
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI TERHADAP PENGOBATAN DI PUSKESMAS AIR BINTUNAN KOTA BENGKULU TAHUN 2021 Fitriani, Riska Hanifah; Mutmainah, Nurul
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 1 No. 4 (2022): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v1i4.135

Abstract

Hipertensi merupakan merupakan terapi yang memerlukan terapi jangka panjang, sehingga diperlukan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan untuk mengontrol tekanan darah dan menurunkan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatan di puskesmas Air Bintunan Kota Bengkulu tahun 2021. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasional dengan pendekatan deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang datang berobat di poli rawat jalan di Puskesmas Air Bintunan Kota Bengkulu. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu berjumlah 105 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga kategori kepatuhan masyarakat minum obat hipertensi yaitu kepatuhan tinggi sebanyak 17,46%, kepatuhan sedang sebanyak 55,56%, dan kepatuhan rendah sebanyak 26,98%, dan tiga variabel demografi responden yang terdiri dari usia, pendidikan, dan lama menderita hipertensi memiliki hubungan dengan kepatuhan minum obat sedangkan tiga variabel lainnya yaitu jenis kelamin, pekerjaan, dan kepemilikan asuransi tidak memiliki hubungan dengan kepatuhan minum obat hipertensi.
EVALUASI PERESEPAN OBAT BERDASARKAN INDIKATOR WORLD HEALTH ORGANIZATION (WHO) DI PUSKESMAS KECAMATAN KARANGANYAR Rahmawati, Anisa Nur; Mutmainah, Nurul
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 2 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v2i1.142

Abstract

Penggunaan obat yang benar merupakan hal yang perlu diamati pada sistem pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Salah satu indikator utama untuk mengevaluasi penggunaan obat menurut pedoman WHO yaitu indikator peresepan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola peresepan obat berdasarkan pedoman WHO di Puskesmas Kecamatan Karanganyar. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Pengambilan sampel dengan tehnik purposive sampling menggunakan kriteria inklusi resep pasien rawat jalan di Puskesmas Kecamatan Karanganyar periode Maret, Agustus, dan November 2021 yang tidak rusak/sobek, terdapat nama pasien, tanggal resep, usia pasien, dan nama obat pada lembar resep. Data resep dibandingkan dengan standar peresepan dari WHO dan dihitung dengan rumus sesuai pedoman WHO. Hasil penelitian menunjukkan peresepan obat di Puskesmas Kecamatan Karanganyar belum sesuai standar WHO jika dilihat dari parameter rata-rata jumlah obat tiap resep (2,5) dan presentase obat yang diresepkan dengan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) atau Formularium (88,20%) dan sudah memenuhi standar peresepan obat pada parameter presentase obat generik (87,05%), presentase peresepan antibiotik (9,79%) dan presentase obat injeksi (0%).
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP KERASIONALAN SWAMEDIKASI PENYAKIT MAAG PADA MASYARAKAT DI DESA SELOJARI KECAMATAN KLAMBU KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH Khoirunnisa, Sania Nayasari; Mutmainah, Nurul
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2023): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v2i2.147

Abstract

Kesehatan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia karena tanpa kesehatan yang baik, manusia sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu penyakit yang sering diobati dengan pengobatan mandiri yaitu sakit maag. Tingkat pengetahuan memiliki fungsi sebagai informasi pendukung saat melakukan swamedikasi agar pelaksanaanya tepat. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui hubungan antara tingkat pengetahun terhadap kerasionalan swamedikasi penyakit maag pada masyarakat di Desa Selojari Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Jenis penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 389 responden yang merupakan masyarakat Desa Selojari berumur 17-60 tahun, pernah melakukan swamedikasi maag dalam 1 tahun terakhir, bersedia menjadi responden dan mengikuti prosedur penelitian. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik (67,9%), cukup (30,1%), dan kurang (2,1%). Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap kerasionalan swamedikasi, data dianalisis dengan uji rank spearman. Dari hasil penelitian hubungan tingkat pengetahuan terhadap kerasionalan swamedikasi saling berhubungan dengan p value 0,000. Selain itu nilai signifikan menunjukkan hasil yang positif artinya bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan masyarakat Desa Selojari maka kerasionalan swamedikasi juga semakin meningkat.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Dr.MOEWARDI DENGAN METODE ATC/DDD TAHUN 2020-2022 Jayanti, Dinar Pury; Mutmainah, Nurul
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i1.300

Abstract

Demam tifoid merupakan permasalahan kesehatan global terutama di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Jawa Tengah adalah provinsi dengan jumlah kasus penyakit yang dicurigai sebagai demam tifoid tertinggi, mencapai 244.071 kasus yang terdistribusi di berbagai Kabupaten/Kota. Demam tifoid adalah kondisi akut pada bagian usus kecil yang diinduksi oleh bakteri bernama Salmonella typhi. Obat untuk mengatasi masalah tersebut adalah antibiotik, penggunaan antibiotik yang kurang bijak dapat berkontribusi pada resistensi. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid di ruang rawat inap RSUD Dr. Moewardi yang dikaji dari segi kuantitas penggunaannya dengan metode ATC (Anatomical Therapeutic Chemical)/DDD (Defined Daily Dose) pada tahun 2020-2022. Penelitian ini masuk dalam kategori penelitian non-eksperimental dengan pendekatan analisis deskriptif non-analitik. Data dikumpulkan secara retrospektif menggunakan data sekunder yang dilakukan dengan metode purposive sampling, sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan mencakup karakteristik pasien, jenis antibiotik yang digunakan, rute pemberian obat, dosis, dan jumlah penggunaan obat. Hasil penelitian terhadap 53 pasien terdapat 8 antibiotik yaitu amoxicillin, ampicillin, azithromycin, cefoperazone/sulbactam, ceftriaxone, ciprofloxacin, levofloxacin, dan chloramphenicol. Penggunaan antibiotik terbanyak pada penelitian ini adalah levofloxacin 0,5 g secara parenteral satu kali sehari dengan nilai 55,25 DDD/100 patient-days (64,46%). Sedangkan antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% adalah levofloxacin dan ceftriaxon secara parenteral.
EVALUASI KESESUAIAN PENYIMPANAN OBAT DI 4 APOTEK KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2024 Saifuddin, Ratu Azmy Mahardika; Mutmainah, Nurul
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 3 No. 3 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v3i3.403

Abstract

Faktor yang menjadi penyebab menurunnya kualitas obat meliputi stabilitas serta suhu yang tidak sesuai. Hal ini dikarenakan penyimpanan obat yang tidak sesuai dapat menyebabkan sebagian efek potensi produk menjadi rusak, sehingga akan menurunkan nilai jual produk obatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian penyimpanan obat di Apotek Kabupaten Sukoharjo dengan menggunakan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek Tahun 2019 dan Standar Pelayanan Kefarmasian tahun 2016 di Apotek. Pengumpulan data dilakukan secara observasional (pengamatan langsung) dengan metode cheklist dan wawancara. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan nilai persentase secara deskriptif  apabila nilai 81-100% tergolong kategori ‘sangat baik’ kemudian jika nilai 61-80% tergolong dalam kategori ‘baik’ kemudian jika nilai 41-60% tergolong dalam kategori ‘cukup baik’ dan jika nilai 21-40% masuk dalam kategori ‘kurang baik’ dan kategori ‘sangat kurang’ apabila 0-20% nilainya. Berdasarkan hasil observasi sistem penyimpanan obat di 4 apotek Kabupaten Sukoharjo memiliki persentase 87,10%-96,77% dengan kriteria sangat baik yang memenuhi Petunjuk Teknis Pelayanan Kefarmasian di Apotek Tahun 2019.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN INQUIRY LEARNING UNTUK BELAJAR IPAS KELAS V Nurul Mutmainah; Markhamah; Ambarwati
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 In Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.37480

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran inquiry learning dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas V untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui pendekatan ini, siswa didorong untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar dengan mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, dan melakukan eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam hasil belajar, di mana persentase siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) meningkat dari 45% pada siklus pertama menjadi lebih tinggi di siklus kedua. Selain itu, penerapan inquiry learning juga berdampak positif pada keterampilan sosial siswa, seperti kolaborasi dan komunikasi. Meskipun terdapat tantangan dalam implementasi, seperti kurangnya pemahaman guru mengenai tahapan inquiry, pelatihan yang tepat dan dukungan dalam menciptakan lingkungan belajar yang inovatif diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
TRANSFORMASI PEMBIASAAN PAGI SEBAGAI UPAYA PENGUATAN NILAI TANGGUNG JAWAB SISWA SD MUHAMMADIYAH PATI DI ERA KURIKULUM MERDEKA Ana Nur Aini; Nurul Mutmainah; Bambang Sumardjoko; Sabar Narimo
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.9905

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menggambarkan perubahan kebiasaan positif sebagai langkah untuk memperkuat nilai tanggung jawab siswa di sekolah dasar pada era penerapan Kurikulum Merdeka. Latar belakang penelitian ini adalah masih rendahnya penghayatan nilai tanggung jawab dalam perilaku sehari-hari siswa, meskipun pendidikan karakter telah menjadi fokus utama kebijakan pendidikan nasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan catatan lapangan (field note) terhadap kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua di SD Muhammadiyah Pati. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan pagi dilaksanakan melalui empat pendekatan utama: kegiatan rutin, aktivitas spontan, keteladanan guru, dan kegiatan terencana. Program seperti 6S (Senyum, Salam, Sapa, Salim, Sopan, Santun), literasi-numerasi pagi, Muroja’ah-Hadist-Karakter (MHK), serta sholat dhuha berjamaah terbukti membentuk sikap tanggung jawab personal, sosial, dan spiritual siswa. Kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan. Temuan ini sejalan dengan prinsip Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka yang menekankan kemandirian dan tanggung jawab moral. Dengan demikian, pembiasaan positif bukan hanya rutinitas, tetapi strategi transformasional dalam membangun budaya sekolah yang berkarakter.
Perbandingan Efektivitas Metode Penyuluhan Langsung dan Pemberian Leaflet terhadap Peningkatan Pengetahuan tentang Narkoba pada Remaja Achmad Dwityanto Oktaviansyah; Muhammad Luthfi Prasetyo; Nurul Mutmainah
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i1.1263

Abstract

Background: Drug abuse among adolescents is a serious public health problem. Health communication strategies such as direct counseling and leaflet distribution are commonly used, yet their comparative effectiveness remains underexplored. Objective: To compare the effectiveness of direct counseling versus leaflet distribution in improving adolescents’ knowledge about drug abuse. Methods: This experimental study used a two-group pre-test post-test design involving 62 adolescents at Mandhanisiwi Orphanage, Purbalingga. Group I (n=31) received direct interactive counseling (100 minutes), while Group II (n=31) received leaflets (100 minutes self-study). Knowledge was measured using a validated 20-item true-false questionnaire. Data were analyzed using Wilcoxon and Mann-Whitney tests. Results: Both groups showed significant knowledge improvement after intervention (p=0.000 for Group I; p=0.001 for Group II). The mean post-test score of Group I (80.81±7.86) was significantly higher than that of Group II (74.35±10.78) with p=0.022 (Mann-Whitney). Conclusion: Direct counseling is more effective than leaflet distribution in improving adolescents’ knowledge about drug abuse prevention. This method is recommended as the primary educational strategy in school- or community-based drug prevention programs.
EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS PADA PASIEN RAWAT INAP DISLIPIDEMIA DENGAN TERAPI STATIN DI RUMAH SAKIT SURAKARTA Abil Lia Wati; Nurul Mutmainah
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v5i2.975

Abstract

Dislipidemia merupakan gangguan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kolesterol total, kolesterol LDL (Low-Density Lipoprotein), trigliserida (TG), dan penurunan kolesterol HDL (High-Density Lipoprotein). Drugs Related Problems (DRPs) pada pasien dislipidemia dapat menyebabkan target penurunan lipid tidak tercapai sehingga kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida tetap tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi DRPs kategori indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, dosis obat terlalu tinggi, dosis obat terlalu rendah, dan interaksi obat pada pasien rawat inap dislipidemia dengan terapi statin di RS Surakarta tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Subjek penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling. Analisis dilakukan dengan mengevaluasi DRPs berdasarkan PCNE Vol.9.1 kategori indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, dosis obat terlalu tinggi, dosis obat terlalu rendah, dan interaksi obat pada seluruh obat yang diterima pasien. Kriteria inklusi mencakup pasien rawat inap terdiagnosis dislipidemia yang mendapatkan terapi statin dengan usia >18 tahun dengan atau tanpa penyakit penyerta. Hasil penelitian dari 77 pasien, peresepan obat terbanyak yaitu 94,8% menggunakan atorvastatin. Sebanyak 731 peresepan obat yang dianalisis, ditemukan 43 (5,88%) kasus DRPs yang terdiri dari 6 (0,82%) kasus indikasi tanpa obat, 4 (0,55%) kasus dosis obat terlalu tinggi, 16 (2,19%) kasus dosis obat terlalu rendah, 17 (2,33%) kasus interaksi obat, dan tidak ada kasus obat tanpa indikasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, masih terdapat kejadian DRPs pada pasien dislipidemia dengan terapi statin di instalasi rawat inap RS Surakarta tahun 2024. Dengan demikian, diperlukan peningkatan peran apoteker untuk melakukan monitoring serta evaluasi terapi seperti memastikan ketepatan indikasi, pemilihan obat, evaluasi dosis, serta pemantauan parameter klinis.