Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

High Blood Lead Levels as A Risk Factor of Stunting: A Study of Children in Agricultural Areas Afandi, Alfan; Suhartono, Suhartono; Budiyono, Budiyono; Margawati, Ani; Kartini, Apoina
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN Vol. 17 No. 1 (2025): JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkl.v17i1.2025.45-53

Abstract

Introduction: The prevalence of stunting among student aged children in Indonesia is relatively high (24.5%). Stunting can threaten the quality of human resources one day. Lead exposure, particularly from pesticides, is thought to disrupt children's development and growth. This study aims to demonstrate that high blood lead levels (BLL) is a risk factor of stunting for children who lives in agricultural areas through the intermediate variable, namely interference with growth hormone (IGF-1). Methods: This study used a case-control design, involving 35 cases (children with HAZ scores of less than -2 SD) and 40 controls (children with HAZ scores of more than -1.5 SD). BLL were measured using the atomic absorption spectrophotometer (AAS) method. Meanwhile, insulin-like growth factor-1 (IGF-1) levels using an ELISA kit (R&D Systems). BLL variables and IGF-1 levels were determined using the receiver operating characteristic (ROC) curve. Results and Discussion: High BLL (>20.44 μg/dL) and low IGF-1 levels (<100 ng/ml) were identified risk factors for stunting in children in agricultural areas with odd ratios (OR) od 2.8 (1.1-7.1) and 3.3 (1.3-8.5) respectively. Meanwhile, a negative correlation was discovered between BLL and IGF-1 levels (p = 0.002, r = -0.356). Conclusion: High lead exposure has been proven to be a risk factor for stunting in children in agricultural areas through the process of interference with the growth hormone, namely IGF-1. Efforts to prevent stunting, especially in agricultural areas, need to take into account exposure to environmental toxicants, including lead from pesticides.
Gambaran Status Gizi dan Kejadian Stunting pada Anak Sekolah Dasar di Daerah Pertanian Sulistiawati; Suhartono; Bagoes Widjanarko; Alfan Afandi
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2025): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2025
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/proheallth.v7i1.3656

Abstract

Child stunting is a chronic nutritional problem that can inhibit the physical and mental growth and development of children. This study was conducted in shallot farming areas due to the high use of pesticides in the area. The use of pesticides can cause several health impacts, one of which is disrupting the work of growth hormones so that one of them is stunting.  This study aims to determine the description of nutritional status and the incidence of stunting in elementary school children in agricultural areas. The method used was a descriptive observational design with a cross-sectional approach. The research was conducted at SD Dukulo 1 and SD Dukuhlo 2, with samples of grade IV and V students. Data were collected through measurement of body weight and height to assess nutritional status, as well as observation of environmental factors. The results showed that most children had normal nutritional status (82.1%), but 16% were classified as short and 1.9% as very short. Analysis of the relationship between nutritional status and the incidence of stunting revealed that undernutrition and poor nutritional status were closely related to the high incidence of stunting. A total of 18 children with poor nutritional status and 8 children with poor nutritional status were recorded as very stunted. Most of the parents' occupations are in the agricultural sector which allows children to be exposed to pesticides. Pesticides through the growth hormone pathway can cause a child's growth rate to be disrupted, so that any nutritional intake obtained if there is a disturbance in the gastrointestinal tract due to pesticide exposure will cause growth disorders. In conclusion, poor nutritional status can increase the risk of stunting in children, especially in agricultural areas exposed to pesticides. Appropriate nutritional interventions and prevention of harmful environmental exposures are needed.   ABSTRAK                 Stunting pada anak adalah masalah gizi kronis yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik serta mental anak. Penelitian ini dilakukan pada daerah pertanian bawang merah dikarenakan pemakaian pestisida yang tinggi pada daerah tersebut. Pemakaian pestisida bisa mengakibatkan beberapa dampak kesehatan salah satunya adalah mengganggu kerja hormon pertumbuhan sehingga berpengarug terhadap pertumbuhan salah satunya adalah stunting.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi dan kejadian stunting pada anak sekolah dasar di daerah pertanian. Metode yang digunakan adalah desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Lokasi penelitian dilakukan di Sd Dukulo 1 dan SD Dukuhlo 2, dengan sampel siswa kelas IV dan V. Data dikumpulkan melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menilai status gizi, serta observasi terhadap faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki status gizi normal (82,1%), namun 16% tergolong pendek dan 1,9% sangat pendek. Analisis hubungan antara status gizi dan kejadian stunting mengungkapkan bahwa status gizi kurang dan buruk berhubungan erat dengan tingginya kejadian stunting. Sebanyak 18 anak dengan status gizi kurang dan 8 anak dengan status gizi buruk tercatat mengalami stunting sangat pendek. Sebagian besar pekerjaan orang ua adalah pada sektor pertanian yang memungkinkan anak untuk terpaparar pestisida. Pestisida melalui jalur hormnin pertumbuhan dapat menyebabkan Tingkat pertumbuhan anak terganggu, sehingga berapapuan asupan gizi yang didapatkan jika terjadi gangguan pada saluran cerna karena paparan pestisida akan menyebabkan gangguan pertumbuhan. Kesimpulanya status gizi yang buruk dapat meningkatkan risiko stunting pada anak-anak, khususnya di daerah pertanian yang terpapar pestisida. Intervensi gizi yang tepat dan pencegahan paparan lingkungan yang berbahaya sangat dibutuhkan.
Analisis Yuridis terhadap Kewajiban Pengemudi dalam Memperlambat Kendaraan pada Kondisi Lalu Lintas dan Cuaca Tertentu Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun Afandi, Alfan; Fatikhatul Choiriyah, Ana Laela; Karyudi , Bintang Mandala
Lex Et Lustitia Vol. 2 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : Universitas Moch. Sroedji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur kewajiban pengemudi dalam memperlambat kendaraan dalam kondisi tertentu, sebagaimana tercantum dalam Pasal 116 ayat (1) dan ayat (2) butir c. Ketentuan ini bertujuan untuk menjaga keselamatan pengemudi serta pengguna jalan lainnya, terutama dalam situasi lalu lintas padat, hujan, atau terdapat genangan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum terkait kewajiban memperlambat kendaraan, dampak hukum bagi pengemudi yang melanggar ketentuan ini, serta implikasinya terhadap keselamatan berlalu lintas. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap aturan ini dapat berakibat pada sanksi hukum serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran hukum dan kepatuhan dari pengemudi guna menciptakan kondisi berkendara yang aman dan tertib.
Pengaruh Pencahayaan Terhadap Kejadian Computer Vision Syndrome pada Kalangan Gamers Afandi, Alfan; Pertiwi, Kartika Dian
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2264

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat pencahayaan ruangan dengan keluhan Computer Vision Syndrome (CVS) pada gamers. Peningkatan penggunaan layar digital dalam durasi yang lama, seperti bermain game, telah dikaitkan dengan CVS, yaitu kondisi yang ditandai dengan ketidaknyamanan visual dan ketegangan mata. Salah satu faktor ergonomis yang dapat memperburuk gejala ini adalah pencahayaan ruangan yang tidak memadai. Materials and methods. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional cross-sectional. Sampel berjumlah 100 gamers di Kota Salatiga yang dipilih melalui purposive sampling. Tingkat pencahayaan ruangan diukur menggunakan lux meter, sedangkan keluhan CVS diidentifikasi melalui kuesioner Computer Vision Syndrome Questionnaire (CVS-Q). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square pada tingkat signifikansi α = 0,05. Results. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 73 responden (64%) bermain game di ruangan dengan pencahayaan kurang dari 300 lux. Sebanyak 68 responden (59,6%) mengalami keluhan CVS. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pencahayaan ruangan dengan kejadian CVS (p = 0,014), yang mengindikasikan bahwa semakin rendah pencahayaan, semakin tinggi keluhan CVS. Conclusions. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pencahayaan ruangan dengan keluhan Computer Vision Syndrome pada gamers. Penerapan pencahayaan sesuai standar ergonomi sangat disarankan untuk meminimalkan risiko gangguan penglihatan akibat penggunaan perangkat digital dalam waktu lama.
Manajemen Limbah Ternak dan Sanitasi Kandang Dalam Rangka Peningkatan Daya Dukung Lingkungan Desa Pertiwi, Kartika Dian; Lestari, Ita Puji; Afandi, Alfan; Wibowo, Agung
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xmsgqv67

Abstract

Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang merupakan wilayah dengan dominasi aktivitas peternakan yang belum diimbangi dengan pengelolaan limbah dan sanitasi kandang yang baik. Kondisi ini memicu pencemaran lingkungan, ditunjukkan dengan kadar nitrat sungai mencapai 100 mg/L, jauh melebihi ambang batas baku mutu air irigasi menurut Permenkes No. 95 Tahun 2012. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan melalui edukasi pengelolaan limbah ternak dan penerapan sanitasi kandang sesuai standar kesehatan lingkungan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan partisipatif, pelatihan pembuatan pupuk organik dari limbah ternak, pendampingan sanitasi kandang, serta penyusunan jadwal kebersihan kandang kolektif oleh kelompok peternak. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peternak sebesar 52% dilihat dari skor pre-test dan post-test. Secara praktik, 70% peternak mulai memanfaatkan limbah menjadi pupuk organik skala rumah tangga. Kelompok peternak juga berhasil menyusun jadwal sanitasi kandang mingguan dan melaksanakan rapat bulanan untuk evaluasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi dan pendampingan teknis efektif dalam mengubah perilaku peternak menuju pengelolaan limbah dan sanitasi kandang yang lebih baik, sehingga mendukung upaya peningkatan daya dukung lingkungan dan dapat menjadi model intervensi untuk wilayah lain dengan permasalahan serupa.
Analisis Kecukupan Energi dan Protein serta Faktor Sosial Ekonomi pada Siswa Sekolah Dasar di Daerah Pertanian Kabupaten Brebes Afandi, Alfan; Widyawati, Sigit Ambar; Ita Puji Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2025): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2025
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Asupan makanan merupakan salah satu faktor utama yang secara langsung memengaruhi status gizi seseorang, terutama pada anak-anak yang berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Anak yang tidak memperoleh makanan yang cukup, baik dari segi jumlah (kuantitas) maupun kualitas (jenis dan kandungan gizi), berisiko mengalami kekurangan zat gizi penting seperti energi, protein, vitamin, dan mineral. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat kecukupan energi dan protein pada anak usia sekolah di daerah pertanian kabupaten Brebes. Penelitian ini bersifat survei analitik dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 90 responden dengan menggunakan simple random sampling. Analisis data yang digunakan menggunakan  distribusi frekuensi. Berdasarkan metode food recall 2 x 24 jam didapati gambaran kecukupan energi dan protein paling banyak kategori cukup yaitu 83,3%, Sebanyak 83,3% siswa memiliki kecukupan energi yang cukup berdasarkan recall 2x24 jam sedangkan tingkat kecukupan protein paling banyakkategori cukup sebesar 76,6%.. Konsumsi makanan yang beragam pada anak diperlukan untuk pemenuhan status gizi pada anak. Diperlukan edukasi gizi untuk meningkatkan asupan protein anak di daerah pertanian.   Kata kunci: Tingkat kecukupan energi dan protein, daerah pertanian             ABSTRACT Diet is one of the main factors that directly affects a person's nutritional status, especially in children who are in their growth and development stages. Children who do not get enough food, both in terms of quantity and quality (type and nutritional content), are at risk of experiencing deficiencies in essential nutrients such as energy, protein, vitamins, and minerals. The objective of this study is to analyze the adequacy of energy and protein intake among school-aged children in the agricultural area of Brebes District. This study is an analytical survey using a cross-sectional study approach. The sample size was 90 respondents, selected using simple random sampling. Data analysis was conducted using frequency distribution. Based on the 2x24-hour food recall method, the most common category for energy and protein sufficiency was “adequate” at 83.3%. Approximately 83.3% of students had adequate energy intake based on the 2x24-hour recall, while the most common category for protein sufficiency was “adequate” at 76.6%. A diverse diet is necessary for children to meet their nutritional needs. Nutrition education is needed to increase protein intake among children in agricultural areas.   Keywords: Level of energy and protein sufficiency, agricultural areas
GAME GO-SIBA (SIAGA BENCANA) SEBAGAI MEDIA EDUKASI KESIAPSIAGAAN BENCANA PADA REMAJA Lestari, Sri; Afandi, Alfan; Wibowo, Agung; Widyawati, Sigit Ambar
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v6i2.124

Abstract

Indonesia dapat dikatakan memiliki potensi bencana yang lengkap, mulai dari bencana alam hingga bencana sosial. Kabupaten Semarang khususnya kota Ungaran memiliki beberapa gedung bertingkat yang rentan apabila terjadi bencana. Salah satu gedung dengan intensitas kegiatan tinggi dan perlu menjadi salah satu fokus dalam peningkatan kesiapsiagaan adalah SMA Negeri 2 Ungaran. Dari hasil observasi ditemukan bahwa 7 dari 10 anak tidak tahu cara atau prosedur penanggulangan jika terjadi bencana. Pada pengabdian masyarakat ini akan dilakukan peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana melalui media edukasi Game Go-SIBA berbasis digitalisasi sebagai upaya pengurangan risiko bencana pada remaja. Diharapkan hasil dari kegiatan ini para siswa dapat meningkatkan pengetahuan terkait kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana sehingga mengurangi potensi risiko bencana serta mampu melakukan simulasi kesiapsiagaan bencana. Metode pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan evaluasi. Sasaran dalam kegiatan PKM ini meliputi asaran primer yaitu siswa-siswi SMA Negeri 2 Ungaran dan sasaran sekunder yaitu tokoh yang berpengaruh terhadap siswa di sekolah. Hasil dari kegiatan ini memberikan pengaruh positif pada pengetahuan remaja yang ada di SMA Negeri 2 Ungaran serta memberikan peningkatan pengetahuan dan sikap remaja dalam kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana sehingga mengurangi potensi risiko bencana. 
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif pada Masa Pandemi Covid 19 di Kabupaten Semarang: Analysis of Factors Influencing Exclusive Breastfeeding During the Covid 19 Pandemic in Semarang Regency Widyawati, Sigit Ambar; Yuliaji Siswanto; Eko Mardiyaningsih; Alfan Afandi
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 6 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v6i1.2556

Abstract

Supporting mothers to continue breastfeeding during the COVID-19 pandemic is still a public health issue. Globally, breastfeeding is recommended to be continued during the pandemic to improve infant health and immunity. Breastfeeding practices are influenced    by several factors including culture, economic level, sociodemographic conditions, as well as decisions regarding   breastfeeding   are influenced by psychosocial factors and other policies. This study aims to analyze the factors that influence exclusive breastfeeding during the Covid 19 pandemic in Semarang Regency.The type of research chosen was observational analytics with a cross-sectional study approach. The population in this study were all mothers who had babies aged 6-36 months in Pabelan District with a sample of 119 respondents. Data collection was carried out by interviewing and filling out questionnaires. Data analysis was carried out in stages, starting with univariate analysis, bivariate using chi-square test followed by multivariate. The results of the bivariate test showed that there were 3 variables related to exclusive breastfeeding, namely family support (p=0.029), information sources (p=0.038), and work (p=0.048). The results of multivariate logistic regression obtained maternal employment variable (p=0.018) with relationship strength of 2,745. This shows that respondents who work have a 2.74 times greater chance of not providing exclusive breast milk compared to those who do not work Abstrak Dukungan ibu untuk terus menyusui selama pandemi COVID-19 masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Secara global, pemberian ASI direkomendasikan untuk dilanjutkan selama pandemi untuk meningkatkan kesehatan dan kekebalan bayi. Praktik menyusui dipengaruhi    oleh beberapa    faktor termasuk budaya, tingkat ekonomi, kondisi sosiodemografis, juga keputusan mengenai   menyusui   dipengaruhi oleh faktor psikososial dan kebijakan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif pada masa pandemi Covid 19 di Kabupaten Semarang. Jenis penelitian yang dipilih adalah analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6-36 bulan di Kecamatan Pabelan dengan jumlah sampel sebanyak 119 responden. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan pengisian kuesioner. Analisis data dilakukan secara bertahap, yaitu diawali dengan analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi-square dilanjutkan multivariat. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat 3 variabel yang berhubungan dengan pemberian ASI secara ekslusif, yaitu  dukungan keluarga (p=0,029), sumber informasi (p=0,038), dan pekerjaan (p=0,048). Hasil regresi logistik multivariat didapatkan variabel pekerjaan ibu (p=0,018) dengan kekuatan hubungan sebesar 2.745. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang bekerja mempunyai peluang sebesar 2,74 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibanding dengan yang tidak bekerja.
Faktor Risiko Penyebab Stunting pada Balita Usia 6-36 Bulan: Risk Factors Causing Stunting in Toddlers Aged 6-36 Months Widyawati, Sigit Ambar; Yuliaji Siswanto; Alfan Afandi
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 6 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v6i2.3042

Abstract

Stunting is a condition of chronic malnutrition that occurs during the critical period of the growth and development process starting from the fetus. Indonesia has quite a serious nutritional problem which is characterized by many cases of malnutrition. Malnutrition is an impact of nutritional status. Stunting or short stature, a condition where a person's height  does not match their age, is determined by calculating the Z-index score for Height according to Age . The type of research chosen was observational analytics with a cross sectional study approach. The population in this study were all mothers who had babies aged 6-36 months in Pabelan District with a sample size of 119 respondents. Data collection was carried out by means of interviews and filling out questionnaires. Data analysis was carried out in stages, starting with univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, followed by multivariate analysis. The bivariate test results showed that variables related to the incidence of stunting were parenting style (p=0.012), mother's knowledge about nutrition (p=0.066), and mother's knowledge about exclusive breastfeeding (p=0.232). The results of the multivariate logistic regression showed that the parenting pattern variable was (p=0.018) with a strength of relationship of OR 4.029. This shows that respondents who have poor parenting styles have a 4.029 times greater risk of stunting.   Abstrak Stunting adalah suatu kondisi kekurangan gizi kronis yang terjadi pada saat periode kritis dari proses tumbuh dan kembang mulai janin. Indonesia mempunyai masalah gizi yang cukup berat yang ditandai dengan banyaknya kasus gizi kurang. Malnutrisi merupakan suatu dampak keadaan status gizi. Stunting atau perawakan pendek (shortness), suatu keadaan tinggi badan (TB) seseorang yang tidak sesuai dengan umur, yang penentuannya dilakukan dengan menghitung skor Z-indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Jenis penelitian yang dipilih adalah analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6-36 bulan di Kecamatan Pabelan dengan jumlah sampel sebanyak 119 responden. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan pengisian kuesioner. Analisis data dilakukan secara bertahap, yaitu diawali dengan analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi-square dilanjutkan multivariat. Hasil uji bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu pola asuh (p=0,012), pengetahuan ibu tentang gizi (p=0,066), dan pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif (p=0,232). Hasil regresi logistik multivariat didapatkan variabel pola asuh (p=0,018) dengan kekuatan hubungan sebesar OR 4,029. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki pola asuh kurang memiliki risiko  4,029 kali lebih besar untuk terjadinya stunting.
Gambaran Tingkat Pemahaman Petani Bawang Merah terhadap Bahaya Paparan Merkuri di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Afandi, Alfan; Pertiwi, Kartika Dian; Widyawati, Sigit Ambar
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Terbit
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36534

Abstract

Merkuri (Hg) merupakan logam berat yang bersifat toksik, persisten, dan dapat terakumulasi dalam rantai makanan. Paparan merkuri dapat terjadi melalui tanah, tanaman, dan pestisida. Petani bawang merah berisiko tinggi terhadap paparan ini, namun tingkat pengetahuan mereka masih sedikit dipahami. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat pemahaman petani bawang merah di Brebes mengenai sumber paparan, jalur paparan, dan dampak kesehatan merkuri serta hubungannya dengan karakteristik demografis. Penelitian observasional cross-sectional dilakukan pada 80 petani bawang merah di tiga kecamatan utama Brebes. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur pengetahuan tentang merkuri. Analisis deskriptif digunakan untuk distribusi pengetahuan, dan uji chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan faktor demografis (α = 0,05). Mayoritas petani (68,8 %) memiliki pengetahuan rendah, 21,3 % sedang, dan 10 % tinggi. Pengetahuan tentang jalur paparan melalui tanah, inhalasi, dan konsumsi tanaman masih terbatas. Analisis chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara pendidikan (p = 0,01) dan pengalaman bertani (>15 tahun, p = 0,03) dengan tingkat pengetahuan. Tingkat pemahaman petani bawang merah di Brebes terhadap bahaya merkuri masih rendah. Intervensi edukasi, penyuluhan, dan praktik pertanian aman perlu ditingkatkan untuk mengurangi risiko paparan.