Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : PIONIR: Jurnal Pendidikan

PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA MASA REMAJA (AL-MURAHIQAH) Rijal, Fakhrul
PIONIR: Jurnal Pendidikan Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Darussalam-Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa. Anak-anak jelas kedudukannya, yaitu yang belum dapat hidup sendiri, belum matang dari segala segi, tubuh masi kecil, organ-organ belum dapat menjalankan fungsinya secara sempurna, kecerdasan, emosi dan hubungan sosial belum selesai pertumbuhannya. Masa remaja merupakan periode dimana individualisme semakin menampakkan wujudnya, pada masa tersebut memungkinkan mereka untuk menerima tanggung jawab atas perilaku mereka sendiri dan menjadi sadar terlibat pada perkara hal, keinginan, cita-cita yang mereka pillih. Masa muda merupakan tahap yang penting dalam pertumbuhan religious. Para remaja membutuhkan sosok pelindung yang mampu diajak berdialog dan berbagi rasa. Selain itu, mereka pun mengharapkan adanya pegangan hidup sebagai tempat bergantung, dimana bisa dijadikan sebagai wadah berbagi dalam menyelesaikan konflik batin yang dialaminnya dan dalam hal ini dukungan keluarga (orangtua), sekolah dan lingkungan sangat menentukan arah perkembangannya.
KURIKULUM SEKOLAH UNGGUL: SUATU EVALUASI IMPLEMENTATIF Rijal, Fakhrul
PIONIR: Jurnal Pendidikan Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Pendidikan
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Darussalam-Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kini peserta didik yang telah diajari oleh situasi lingkungan dan keluarga yang demikian hancur, harus berhadapan dengan peraturan sekolah. Tentu saja mendapat resistensi dari sebahagian mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ditunjukkan dengan sikap melawan atau kebiasaan melanggar aturan. Sementara secara tidak langsung ditandai dengan penurunan minat dan prestasi belajar siswa. Keadaan yang demikian membuat lulusan tidak seperti yang diharapkan, juga tidak seperti harapan undang-undang dan tujuan pendidikan sebagaimana yang disebutkan tadi. Terminologi sekolah unggul yang dimaksud sesungguhnya adalah sekolah efektif. Sekolah unggul adalah terjemahan bebas dari sekolah efektif. Termonilogi unggul dalam makna mengungguli tidak tepat digunakan dalam konteks pendidikan. Sekolah efektif adalah sekolah yang bermutu, memenuhi standar dan persyaratan yang ditetapkan. Sekolah unggul di Indonesia belum memenuhi kriteria dan masih di bawah standar, dibuktikan dengan hasil lulusan secara keseluruhan. Sampai saat ini belum ada kurikulum khusus untuk sekolah unggul, sebab dalam standar pendidikan kurikulum yang dipakai adalah kurikulum KTSP. Sesuai dengan prinsipnya, KTSP dapat dikembangkan (dan memang harus dikembangkan) oleh sekolah dengan berpedoman pada aturan yang berlaku. Kriteria sekolah unggul tidak ada ditetapkan secara khusus dalam Undang-undang SISDIKNAS, sebagaimana standar pendidikan ditetapkan disitu. Bahkan penjelasan khusus masalah ini yang merujuk pada PP No 19 tahun 2005 tidak terdapat dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional (sekarang Mendikbud). Kriteria dan penjelasan tentang sekolah unggul dan sekolah efektif di Indonesia sesungguhnya masih sebatas konsep, meskipun sudah ada beberapa pihak yang menerapkannya ketahap praktis. Konsep tersebut diduga dikembangkan oleh para akademisi, secara perlahan mulai diamini oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan dan tuntutan zaman.
PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI RUKUN IMAN PADA SISWA KELAS I SD NEGERI 49 KOTA BANDA ACEH Fakhrul Rijal
PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh bekerjasama dengan PW PERGUNU Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pjp.v7i1.3321

Abstract

Penggunaan media yang tepat dalam proses belajar mengajar akan menjadikan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam proses belajar mengajar, seorang guru diharapkan dapat memberikan pengajaran yang mudah dipahami oleh siswa. Akan tetapi kenyataannya dilapangan, masih terdapat guru yang belum tepat dalam menggunakan media pembelajaran dan kurang memanfaatkan media yang ada di sekolah. Mengingat hal yang demikian, guru harus mampu menggunakan media yang tepat dan efisien dalam pembelajaran, khususnya pada pembelajaran. sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tidak membuat siswa bosan saat belajar. Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru adalah dengan menggunakan media audio visual dalam pembelajaran. Pertanyaan peneliti dalam skripsi ini adalah Bagaimanakah aktivitas guru dan siswa dengan penggunaan media audio visual materi rukun iman pada siswa kelas I SDN 49 Kota Banda Aceh? Bagaimanakah hasil belajar siswa dengan menggunakan media audio visual materi rukun iman pada siswa kelas I SDN 49 Kota Banda Aceh? penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Data tentang kegiatan pembelajaran diperoleh dari pengamatan guru dalam mengelola pembelajaran, pengamatan siswa dalam proses belajar, hasil tes belajar siswa, angket respon siswa, dan wawancara. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan rumus yang sesuai dengan kriteria aktivitas yang telah ditentukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan media audio visual pada siklus I pertemuan 1 dengan nilai rata-rata 53,43. Pada pertemuan 2 dengan nilai 57,28. Pada siklus II pertemuan 1 memperoleh nilai rata-rata 62,18 dan pertemuan 2 dengan nilai 76,25. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual sangat cocok di gunakan pada pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN 49 Kota Banda Aceh.
KURIKULUM SEKOLAH UNGGUL: SUATU EVALUASI IMPLEMENTATIF Fakhrul Rijal
PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh bekerjasama dengan PW PERGUNU Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pjp.v6i1.3347

Abstract

Kini peserta didik yang telah diajari oleh situasi lingkungan dan keluarga yang demikian hancur, harus berhadapan dengan peraturan sekolah. Tentu saja mendapat resistensi dari sebahagian mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ditunjukkan dengan sikap melawan atau kebiasaan melanggar aturan. Sementara secara tidak langsung ditandai dengan penurunan minat dan prestasi belajar siswa. Keadaan yang demikian membuat lulusan tidak seperti yang diharapkan, juga tidak seperti harapan undang-undang dan tujuan pendidikan sebagaimana yang disebutkan tadi. Terminologi sekolah unggul yang dimaksud sesungguhnya adalah sekolah efektif. Sekolah unggul adalah terjemahan bebas dari sekolah efektif. Termonilogi unggul dalam makna mengungguli tidak tepat digunakan dalam konteks pendidikan. Sekolah efektif adalah sekolah yang bermutu, memenuhi standar dan persyaratan yang ditetapkan. Sekolah unggul di Indonesia belum memenuhi kriteria dan masih di bawah standar, dibuktikan dengan hasil lulusan secara keseluruhan. Sampai saat ini belum ada kurikulum khusus untuk sekolah unggul, sebab dalam standar pendidikan kurikulum yang dipakai adalah kurikulum KTSP. Sesuai dengan prinsipnya, KTSP dapat dikembangkan (dan memang harus dikembangkan) oleh sekolah dengan berpedoman pada aturan yang berlaku. Kriteria sekolah unggul tidak ada ditetapkan secara khusus dalam Undang-undang SISDIKNAS, sebagaimana standar pendidikan ditetapkan disitu. Bahkan penjelasan khusus masalah ini yang merujuk pada PP No 19 tahun 2005 tidak terdapat dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional (sekarang Mendikbud). Kriteria dan penjelasan tentang sekolah unggul dan sekolah efektif di Indonesia sesungguhnya masih sebatas konsep, meskipun sudah ada beberapa pihak yang menerapkannya ketahap praktis. Konsep tersebut diduga dikembangkan oleh para akademisi, secara perlahan mulai diamini oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan dan tuntutan zaman.
PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA MASA REMAJA (AL-MURAHIQAH) Fakhrul Rijal
PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh bekerjasama dengan PW PERGUNU Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pjp.v5i2.3354

Abstract

Remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa. Anak-anak jelas kedudukannya, yaitu yang belum dapat hidup sendiri, belum matang dari segala segi, tubuh masi kecil, organ-organ belum dapat menjalankan fungsinya secara sempurna, kecerdasan, emosi dan hubungan sosial belum selesai pertumbuhannya. Masa remaja merupakan periode dimana individualisme semakin menampakkan wujudnya, pada masa tersebut memungkinkan mereka untuk menerima tanggung jawab atas perilaku mereka sendiri dan menjadi sadar terlibat pada perkara hal, keinginan, cita-cita yang mereka pillih. Masa muda merupakan tahap yang penting dalam pertumbuhan religious. Para remaja membutuhkan sosok pelindung yang mampu diajak berdialog dan berbagi rasa. Selain itu, mereka pun mengharapkan adanya pegangan hidup sebagai tempat bergantung, dimana bisa dijadikan sebagai wadah berbagi dalam menyelesaikan konflik batin yang dialaminnya dan dalam hal ini dukungan keluarga (orangtua), sekolah dan lingkungan sangat menentukan arah perkembangannya.
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Pendekatan Contextual Teaching And Learning Pada Konsep Tumbuhan Hijau Di Kelas V MIN Tungkob Aceh Besar Fakhrul Rijal
PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh bekerjasama dengan PW PERGUNU Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pjp.v4i2.181

Abstract

Dalam proses pembelajaran, kemampuan dalam memahami suatu konsep pembelajaran diantaranya dipengeruhi oleh metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk materi yang akan diajarkan sehingga memudahkan siswa dalam memahami konsep yang disampaikan oleh guru. Pendekatan contextual teaching and learning adalah konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui aktivitas guru dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan contextual teaching and learning pada konsep tumbuhan hijau, (2) Untuk mengetahui aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan contextual teaching and learning pada konsep tumbuhan hijau, dan (3) Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran menggunakan pendekatan contextual teaching and learning pada konsep tumbuhan hijau. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Data hasil penelitian diperoleh dengan menggunakan: (1) lembar observasi aktivitas guru dan siswa dan (2) tes. Kemudian data ini dianalisis dengan menggunakan rumus presentase. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) aktivitas guru meningkat dari 64,24% pada siklus I menjadi 73,07% pada siklus II dan siklus III meningkat menjadi 90,7%, aktivitas siswa meningkat dari 7,31% pada siklus I menjadi 79,83% pada siklus II dan siklus III meningkat menjadi 86,49%, (2) hasil tes pada ulangan per siklus juga menunjukkan adanya peningkatan dengan 17.5% siswa yang tuntas pada siklus I pertama menjadi 65% pada siklus III. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan pendekatan contextual teaching and learning siswa lebih aktif dan kreatif dalam memahami konsep belajar, karena siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilannya, serta membangun pengetahuan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya.
RESPON AKTIVIS MUDA ACEH TERHADAP ISU ISLAM NUSANTARA DAN DINAMIKA SOSIAL MASYARAKAT Rijal, Fakhrul; Muaamar, Muammar
PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN Vol 11, No 2 (2022): PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pjp.v11i2.22594

Abstract

The people of Aceh are most displeased with new things emerging from religion, especially in the name of Islam itself, such as Islam Nusantara. They will first vocally respond to Isnus without looking for details from the source. Especially young Acehnese activists. They are vocal about responding to their own version of Isnus, and mostly update their status on social media about developing issues. This research aims to map the response of young Acehnese activists to the issue of Indonesian Islam; finding the pattern of Indonesian Islam from the perspective of young Acehnese activists; explain the social dynamics of Acehnese society that emerged from the issue of Indonesian Islam; thus giving birth to characteristics or polarization of society with different criteria for the same issue. This research uses a qualitative approach. Data collection techniques in this research were carried out through participant observation, in-depth interviews and documentation studies. Interviews and observations were conducted with young Acehnese activists. The young Acehnese activists who were informants in this research were cadres of the Muhammadiyah organization, Nahdlatul Ulama, MIUMI, BKPRMI, HMI, PII, Rabithah Taliban Aceh (RTA). and explained to the public comprehensively so that they do not misunderstand Islam. If this is not done, then it would be better if there was no cultivation of Indonesian Islam. This view emerged from BKPRMI, KAMMI, HMI cadres.
RESPON AKTIVIS MUDA ACEH TERHADAP ISU ISLAM NUSANTARA DAN DINAMIKA SOSIAL MASYARAKAT Rijal, Fakhrul; Muaamar, Muammar
PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN Vol. 11 No. 2 (2022): PIONIR: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Prodi PGMI FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/pjp.v11i2.22594

Abstract

The people of Aceh are most displeased with new things emerging from religion, especially in the name of Islam itself, such as Islam Nusantara. They will first vocally respond to Isnus without looking for details from the source. Especially young Acehnese activists. They are vocal about responding to their own version of Isnus, and mostly update their status on social media about developing issues. This research aims to map the response of young Acehnese activists to the issue of Indonesian Islam; finding the pattern of Indonesian Islam from the perspective of young Acehnese activists; explain the social dynamics of Acehnese society that emerged from the issue of Indonesian Islam; thus giving birth to characteristics or polarization of society with different criteria for the same issue. This research uses a qualitative approach. Data collection techniques in this research were carried out through participant observation, in-depth interviews and documentation studies. Interviews and observations were conducted with young Acehnese activists. The young Acehnese activists who were informants in this research were cadres of the Muhammadiyah organization, Nahdlatul Ulama, MIUMI, BKPRMI, HMI, PII, Rabithah Taliban Aceh (RTA). and explained to the public comprehensively so that they do not misunderstand Islam. If this is not done, then it would be better if there was no cultivation of Indonesian Islam. This view emerged from BKPRMI, KAMMI, HMI cadres.