Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

EKSTRAKURIKULER BATIK DI MAN 2 KOTA BUKITTINGGI Sundari, Sri; Widdiyanti, Widdiyanti; Yanuarmi, Dini; Ditto, Anin
Batoboh Vol 3, No 2 (2018): BATOBOH : JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v3i2.522

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan siswa MAN 2 Kota Bukittinggi dalam bidang kriya khususnya membatik. Pengembangan desain batik di laksanakan dalam bentuk pelatihan sebagai kelanjutan dari pelatihan teknik batik yang pernah dilakukan sebelumnya. Pengembangan desain ini dilakukan sebagai bentuk upaya bagi peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam membuat dan menerapkan motif-motif batik, sesuai dengan tahapan desain. Eksplorasi corak dan penataan ragam hias, serta jeniswarna dan paduannya menjadi materi pokok dalam pelatihan ini. Materi pelatihan membatik disajikan dengan menggunakan pendekatan desain. Kegiatan ini dilaksanakan 1 x dalam seminggu setiap hari sabtu, setelah selesai jam pelajaran sekolah yang berlangsung selama 12 x tatap muka. Dengan jumlah peserta 15 orang yang keseluruhannya terdiri dari siswa perempuan. Setiap siswa telah dapat membuat batik dengan menerapkan ragam hias sesuai dengan kreativitas masing – masing, yang terwujud dalam bentuk karya individual maupun kelompok, seperti batik syal dan batik taplak meja
Loempo Batik Motifs: Visuals Semiotics, Cultural Identity, an Heritage Innovation Dini Yanuarmi; Rias Wita Suryani; Nofi Rahmanita; Selvi Kasman
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4914.463-475

Abstract

This study aims to analyze Loempo Batik motifs as cultural texts that reflect the intersection of Minangkabau tradition, local identity, and global visual culture. The research employs a qualitative case study approach with a triangulation technique combining interviews, visual documentation, and archival analysis. Data were collected through in-depth interviews with artisans, designers, community leaders, and consumers to obtain comprehensive perspectives. The data were then analyzed using semiotic and multimodal discourse analysis supported by Peirce’s sign theory and visual grammar. The results show that the Rumah Gadang motif serves as a cultural anchor symbolizing Minangkabau heritage; guardian figures such as dragons and Garuda illustrate curated hybridity; while exclusive motifs like Malereng represent forms of cultural resistance. The use of color also carries polysemous meanings that link adat, ecological awareness, and Islamic values. The study concludes that Loempo Batik embodies a model of heritage-based design innovation that balances identity preservation with creative economic development. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis motif Loempo Batik sebagai teks budaya yang merepresentasikan persinggungan antara tradisi Minangkabau, identitas lokal, dan budaya visual global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan teknik triangulasi yang memadukan wawancara, dokumentasi visual, serta analisis arsip. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan perajin batik, desainer, tokoh masyarakat, dan konsumen untuk menggali persepsi dan makna budaya yang terkandung dalam motif Loempo Batik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan semiotika dan analisis wacana multimodal yang didukung oleh teori tanda Peirce dan tata bahasa visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Rumah Gadang berfungsi sebagai jangkar budaya yang menegaskan identitas Minangkabau; figur penjaga seperti naga dan Garuda menggambarkan hibriditas terkurasi; sedangkan motif eksklusif seperti Malereng mencerminkan bentuk resistensi budaya. Simbolisme warna juga mengandung makna polisemi yang menghubungkan nilai-nilai adat, ekologi, dan Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Loempo Batik merupakan model inovasi desain berbasis warisan budaya yang mampu menyeimbangkan pelestarian identitas dengan pengembangan ekonomi kreatif.
Busana Pengantin Koto Gadang Bermotif Pucuak Rabuang sebagai Penguat Identitas Budaya Latifah Anjali; Dini Yanuarmi; Mega Kencana; Fadri Rahmat
Filosofi : Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya Vol. 3 No. 2 (2026): Mei: Filosofi : Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/filosofi.v3i2.1135

Abstract

Bridal attire is an important element in a wedding ceremony that not only functions as a body covering, but also represents cultural identity. The final project work entitled Koto Gadang Bridal Attire with Pucuak Rabuang Motif Application aims to design, realize, and display Koto Gadang bridal attire by applying the Pucuak Rabuang motif as an aesthetic and symbolic element. The motif was chosen because it symbolizes growth, hope, and the beginning of a new life that is in line with the values ​​of marriage. The process of creating the work was carried out through three stages, namely exploration, design, and realization. The exploration stage includes observation, interviews, and literature studies. The design stage includes the preparation of mood boards, sketching, design selection, and design refinement. The realization stage includes pattern making, clothing construction, and the application of embroidery and sequin embroidery techniques. The dresses were made using bridal satin, Pandai Sikek songket, and brocade tulle with dominant colors of maroon, cream, and gold. The final work consists of one ready-to-wear dress, one deluxe ready-to-wear dress, and two haute couture bridal dresses. This work is expected to contribute to innovation in Minangkabau bridal wear while preserving the cultural values ​​inherent in the Koto Gadang traditional attire.
Exploration of Fabric Applique Techniques in Designing Art of Beat Style Fashion Nur Tasya; Dini Yanuarmi; Mirda Aryadi; Fadri Rahmat
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/4zpwd594

Abstract

Art of beat style fashion is an art from that demonstrates freedom of expression, creativity, and a unique artistic flair. This style emerged as a rejection of mainstream aesthetics by showcasing a distinctive, artistic, and individual visual character. One of the techniques used in this fashion is fabric applique, which can create decorative, complex, and artistic surface designs. The method of creation is carried out through exploration, design, embodiment, and presentation. The exploration stage involves gathering references and developing the art of beat style concept. The design stage includes sketching, color selection, and material selection, as well as experimenting with fabric applique techniques combined with thread applique, thread embroidery, sashiko, and ruffle. The implementation stage involves pattern making, cutting the material, applying decorative techniques, and finishing the garment. The creations are presented in three levels of fashion: ready to wear entitled neon reverie, ready to wear deluxe entitled chaos in color, and haute couture entitled spectrum renjana. The three works utilize bright, contrasting colors such as red, yellow, purple, and pink. The works are presented throught a fashion show with an artistic concept that supports the eccentric and expressive character of the garments. Through this presentation, the art of beat style character and application of fabric draping techniques are maximally displayed, resulting in unique, innovation works with a strong visual identity Keywords: Art of beat style, fabric embroidery, rope embroidery, embroidery, aesthetics   Abstrak Busana art of beat style adalah bentuk seni yang menunjukkan kebebasan dalam berpenampilan, kreativitas, serta nuansa artistik dan unik. Gaya ini tumbuh sebagai bentuk penolakan terhadap estetika yang umum dengan menunjukkan karakter visual yang khas, artistik, dan individual. Salah satu teknik yang dipakai  dalam busana ini adalah teknik lekapan kain yang mampu menciptakan desain permukaan yang dekoratif, kompleks, dan bernilai seni. Metode penciptaan dilakukan melalui eksplorasi, perancangan, perwujudan, dan penyajian. Tahap eksplorasi dilakukan melalui pengumpulan referensi dan pengembangan konsep art of beat style. Tahap perancangan meliputi pembuatan sketsa, pemilihan warna, material, serta eksperimen teknik lekapan kain yang dipadukan dengan teknik lekapan benang, sulam benang, sashiko, dan ruffle. Tahap perwujudan dilakukan melalui proses pembuatan pola, pemotongan bahan, penerapan tenik hias, hingga penyelesaian busana. Hasil penciptaan diwujudkan dalam tiga tingkatan busana yaitu ready to wear dengan judul karya “neon reverie”, ready to wear deluxe dengan judul “chaos in color”, dan haute couture dengan judul “spectrum renjana”. Ketiga karya mengaplikasikan warna-warna cerah dan kontras seperti merah, kuning, ungu, dan pink.. Karya disajikan melalui pergelaran busana (fashion show) dengan konsep artistik yang mendukung karakter eksentrik dan ekspresif dari busana. Melalui penyajian tersebut, karakter Art of Beat Style dan penerapan teknik lekapan kain dapat ditampilkan secara maksimal sehingga menghasilkan karya unik, inovatif, dan memiliki identitas visual yang kuat. Kata Kunci: Art of beat style, lekapan kain, lekapan benang, sulam, estetika
Modifikasi Kebaya Kartini Rahmadeli; Nofi Rahmanita; Dini Yanuarmi; Desi Trisnawati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1309

Abstract

Penciptaan kaya akhir yang berjudul “Modifikasi Kebaya Kartini”, berfokus pada modifikasi kebaya Kartini melalui pengembangan bentuk, siluet, lengan, serta penerapan elemen dekoratif modern tanpa menghilangkan ciri khas dasarnya. Inspirasi dekoratif berasal dari bunga krisan yang diwujudkan melalui penerapan teknik korsase dan teknik payet sebagai unsur penghias utama. Metode penciptaan karya dilakukan melalui tahapan eksplorasi, studi pustaka, observasi, perancangan, dan perwujudan karya. Tahap eksplorasi dilakukan untuk menemukan sumber ide dan memahami karakteristik kebaya Kartini, sedangkan studi pustaka dan observasi digunakan sebagai dasar pengembangan konsep. Proses perancangan dilakukan melalui pengembangan desain, pemilihan bahan, pembuatan pola, proses menjahit, serta penerapan teknik hias. Hasil penciptaan berupa tiga jenis busana, yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture. Ketiga karya menampilkan inovasi kebaya Kartini melalui perpaduan unsur tradisional dan modern dengan modifikasi desain serta penggunaan teknik dekoratif. Penerapan teknik korsase bunga krisan menghasilkan bentuk tiga dimensi yang memperkuat karakter busana, sedangkan teknik payet gold memberikan kesan elegan dan bernilai estetis. Karya ini diharapkan dapat menjadi bentuk pengembangan dan pelestarian kebaya Kartini sebagai warisan budaya Indonesia dalam bidang fashion.
Busana Kontemporer Dengan Motif Rasi Bintang Taurus Syifa Salsabil; Fadri Rahmat; Dini Yanuarmi; Fendi Nofrian
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1341

Abstract

Perancangan busana kontemporer dengan penerapan motif rasi bintang taurus dilatarbelakangi oleh ketertarikan terhadap fenomena astronomi yang memiliki potensi sebagai sumber ide penciptaan busana. Rasi bintang taurus dipilih karena memiliki karakter visual yang terstruktur serta melambangkan keteguhan dan kestabilan. Tujuan penciptaan karya ini adalah mewujudkan konsep rasi bintang taurus ke dalam busana kontemporer melalui pengolahan bentuk, warna, tekstur, dan teknik dekoratif. Metode penciptaan meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi dilakukan melalui observasi dan studi pustaka, tahap perancangan melalui penyusunan moodboard, pembuatan sketsa, dan pemilihan desain, sedangkan tahap perwujudan dilakukan dengan menerapkan teknik sashiko, lekapan benang, splatter painting, makrame, dan payet. Hasil penciptaan berupa tiga karya busana kontemporer, yaitu Midnight Luminescence pada kategori ready to wear, The Taurean Umbra pada kategori ready to wear deluxe, dan The Sovereign Eclipse pada kategori haute couture. Ketiga karya menginterpretasikan visual rasi bintang taurus melalui penggunaan warna navy, hitam, dan gold serta detail dekoratif yang merepresentasikan konstelasi bintang. Karya yang dihasilkan menunjukkan bahwa fenomena astronomi dapat diolah menjadi sumber inspirasi yang memiliki nilai estetis dan konseptual dalam desain busana kontemporer.
Cheongsam Pada Busana Kontemporer Dengan Motif Siriah Gadang Alya Putri; Desra Imelda; Dini Yanuarmi; Fadri Rahmat
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1342

Abstract

Karya berjudul “Cheongsam pada Busana Kontemporer dengan Motif Siriah Gadang” bertujuan untuk mewujudkan perpaduan busana tradisional cheongsam ke dalam bentuk busana kontemporer. Cheongsam dijadikan sumber inspirasi utama karena memiliki karakter siluet yang khas. Visualisasi cheongsam diwujudkan melalui pengolahan bentuk busana kontemporer dengan tetap mempertahankan ciri khas cheongsam, seperti kerah shanghai, serta penerapan motif siriah gadang sebagai unsur dekoratif utama. Motif Sirih Gadang dipilih karena memiliki nilai filosofis yang melambangkan kebersamaan, penghormatan, dan nilai adat istiadat masyarakat Minangkabau. Pemilihan warna dalam karya ini menggunakan warna merah sebagai warna utama yang melambangkan identitas dan kemakmuran dalam budaya Tionghoa, warna emas sebagai warna pengaplikasian motif sirih gadang yang merepresentasikan kemegahan dan nilai adat Minangkabau, serta warna hitam sebagai warna tambahan untuk menciptakan keseimbangan dan mempertegas kesan elegan pada busana. Material yang digunakan dalam penciptaan karya ini meliputi kain bridal, kain drill, dan kain songket sebagai kain kombinasi untuk memperkuat unsur wastra Nusantara. Metode penciptaan dimulai dari tahap persiapan melalui studi literatur, observasi visual, perumusan konsep, hingga perwujudan karya. Karya ini mengacu pada trend forecasting Cultural Fusion yang menekankan penggabungan unsur budaya Tionghoa dan Minangkabau ke dalam desain busana kontemporer secara harmonis tanpa menghilangkan identitas masing-masing budaya. Teknik yang digunakan dalam karya ini adalah stilisasi motif, dan embellishment dengan pendekatan adi busana. Hasil penciptaan diwujudkan ke dalam tiga tingkatan busana, yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture dengan karakter desain yang berbeda pada setiap tingkatannya.
Penerapan Teknik Fabric Manipulation Pada Busana Art Of Beat Style Nurfadila; Dini Yanuarmi; Nofi Rahmanita; Fendi Nofrian
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1362

Abstract

Abstrak karya berjudul “Penerapan teknik fabric manipulation pada busana art of beat style” lahir dari inspirasi berbagai teknik manipulasi kain yang dikembangkan sebagai unsur utama dalam membentuk siluet, tekstur, serta karakter visual busana. Konsep art of beat style mengangkat nilai ritme, kebebasan berekspresi, serta dinamika visual yang diwujudkan melalui desain yang unik, inovatif, serta memiliki identitas berbeda dari tren fesyen pada umumnya. Untuk mendukung konsep tersebut, pengkarya memanfaatkan berbagai jenis material, yaitu kain katun toyobo, katun drill, kulit sintetis, kain hologram, serta kain batik Duri Riau yang memiliki motif pompa minyak sebagi ikon khas kota Duri. Pada proses perancangannya, diterapkan beberapa teknik jahit dekoratif, yaitu slashing, cording, quilting, applique, flounce, serta lekapan guna menciptakan dimensi dan efek visual yang menarik. Hasil rancangan yang dihasilkan terdiri atas blouse, kemeja, celana, dan outer dengan penggunaan warna hijau, merah, kuning, biru, cokelat, perak, serta jingga untuk memperkuat kesan dinamis dan ekspresif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi dan studi pustaka, sedangkan proses penciptaan meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan karya. Hasil akhirnya berupa satu busana ready to wear, satu busana ready to wear deluxe, dan satu busana haute couture. Perancangan ini menunjukkan bahwa perpaduan konsep art of beat style dengan teknik fabric manipulation mampu mengahasilkan karya fesyen yang inovatif, modern, dan memiliki nilai estetis tinggi.
Aplikasi Teknik Cording Pada Busana Vintage Carolina Avelin Rizki Astuti; Dini Yanuarmi; Desra Imelda; Fadri Rahmat
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1363

Abstract

Busana vintage dengan teknik cording, merupakan gaya berbusana yang terinspirasi dari tren fashion masa lampau dan kembali diminati karena memiliki nilai estetika yang khas, elegan, dan klasik. Dalam penciptaan karya busana vintage ini, menerapan teknik cording sebagai hiasan utama pada busana yang memiliki kesan artistik serta memperkuat karakteristik klasik pada busana vintage. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk menciptakan busana vintage yang memiliki nilai estetik melalui pengembangan teknik cording sebagai detail dekoratif pada busana. Proses penciptaan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi, pencarian ide, pembuatan desain, pemilihan bahan, hingga proses perwujudan karya. Inspirasi busana yang diambil dari beberapa era vintage yang dipadukan dengan sentuhan modern agar tetap sesuai dengan perkembangan fashion masa kini. Hasil dari penciptaan karya ini berupa busana vintage dengan teknik cording yang diterapkan pada bagian tertentu busana sebagai pusat perhatian. Penggunaan warna-warna netral seperti broken white, brown, and army green semakin memperkuat kesan vintage yang ingin ditampilkan. Bahan yang digunakan untuk membuat karya ini yaitu kain katun toyobo, katun drill, satin bridal, kawasaki silk, dan kain batik motif kawung sebagai kain kombinasi. Melalui karya ini diharapkan teknik cording dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan hiasan pada busana serta mampu memberikan inovasi baru dalam dunia fashion, khususnya pada penciptaan busana vintage. Hasil karya yang diwujudkan terdiri dari 3 jenis tingkatan busana, yaitu ready to wear dengan judul vintage in thread, ready to wear deluxe whisper of vintage, dan haute couture heritage royale.
Feminine Romantic Style Dengan Teknik Ruffle Fitri Hayati; Desi Trisnawati; Nofi Rahmanita; Dini Yanuarmi
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1374

Abstract

Karya berjudul “Feminine Romantic Style dengan Teknik” merupakan penciptaan busana yang mengangkat berbagai macam teknik ruffle yang merupakan sumber inspirasi utama. Pengkarya memadukan berbagai teknik ruffle dalam karakteristik gaya busana feminine romantic yang identik dengan kepribadian lembut dan romantis. Proses penciptaan karya ini dimulai dengan ekplorasi ide, penyusunan moodboard, sketsa alternatif, hingga pemilihan desain terpilih yang diwujudkan dalam bentuk nyata. Tujuan penciptaan karya adalah untuk menghadirkan desain busana yang mampu menyampaikan keindahan dari berbagai teknik ruffle, lekapan kain, korsase, dan sulam payet, yang dipadukan dengan kain tenun songket yang berasal dari daerah Kubang Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan bahan katun dan motif bunga dalam balutan feminine romantic style. Tenun songket adalah kain tenun tradisional Indonesia khususnya berkembang di Sumatera dan wilayah Melayu yang ditenun menggunakan tangan dengan teknik menyisipkan benang katun, emas atau perak. Teknik yang digunakan adalah ruffle, sulam payet, lekapan kain, dan korsase yang diaplikasikan pada bahan-bahan seperti satin bridal, organza, ceruti, brokat dan tenun songket. Warna yang digunakan antara lain baby pink dan maroon guna menonjolkan kesan elegan, anggun, dan romantis. Karya diwujudkan ke dalam tiga tingkatan busana, yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture, dengan pendekatan visual dan teknik yang berbeda sesuai karakter masing-masing kategori. Karya ini ditampilkan dalam bentuk pagelaran busana fashion show sebagai bentuk publikasi visual.