Ninik Mudjihartini
Department Of Biochemistry And Molecular Biology, Faculty Of Medicine, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Muhammadiyah Journal of Geriatric

Kadar Neuroglobin dan Sitoglobin dalam Plasma, Cairan Serebro Spinalis, dan Jaringan Otak Pasien Strok Hemoragik Mudjihartini, Ninik; Saekhu, Mohamad; Jusman, Sri Widia A.; Sadikin, Mohamad
Muhammadiyah Journal of Geriatric Vol 3, No 1 (2022): Muhammadiyah Journal of Geriatric
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mujg.3.1.1-8

Abstract

Latar belakang: Otak memerlukan oksigen yang banyak selain glukosa. Hipoksia iskemik karena strok hemoragik atau Spontaneous intracerebral hemorrhage (sICH) dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi ke otak berakibat produksi energi di otak akan menurun. Deplesi energi ini menyebabkan kerusakan dan kematian sel otak terjadi lebih cepat. Neuroglobin (Ngb) dan sitoglobin (Cygb) merupakan protein golongan globin yang terdapat di otak dan berperan sebagai protein pengikat oksigen di mitokondria. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran/profil kadar Ngb dan Cygb, di plasma, cairan serebro spinal (CSS), dan jaringan otak pasien strok hemoragik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan menggunakan sampel plasma, CSS, dan jaringan otak yang diperoleh saat kraniotomi evakuasi hematoma pasien strok hemoragik sICH di rumah sakit Cipto Mangunkusumo dan rumah sakit lainnya di Jakarta. Kadar protein Ngb dan Cygb dari plasma, CSS, dan jaringan otak diukur dengan metode ELISA. Hasil: Rerata kadar Ngb otak adalah 0,058 ng/mg protein otak, sedangkan di plasma dan CSS masing-masing adalah 0,017 ng/mg protein otak dan 0,013 ng/mg protein otak atau 29,31% dan 22,41% dari rerata kadar Ngb otak. Rerata kadar Cygb otak adalah 4,943 ng/mg protein otak, di CSS adalah 1,685 ng/mg protein otak, atau 25,26% dari rerata Cygb otak, sedangkan di dalam plasma hampir tidak terdeteksi. Simpulan: Pada keadaan hipoksia oleh karena strok hemoragik sICH, protein Ngb dan Cygb dapat diukur di plasma, CSS, dan jaringan otaknya.
Efek Hipoksia Sistemik Kronik Terhadap Aktivitas Spesifik Enzim Kreatin Kinase Otot Rangka Tikus Mudjihartini, Ninik; Harmelia, Dwi; Widia AJ, Sri
Muhammadiyah Journal of Geriatric Vol 4, No 1 (2023): Muhammadiyah Journal of Geriatric
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mujg.4.1.1-9

Abstract

Latar Belakang: Hipoksia adalah hasil dari ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen. Pada kondisi hipoksia, otot rangka dituntut untuk menghasilkan ATP dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan fungsi kontraksi dengan O2 yang terbatas. Beberapa penyakit terkait penuaan sering disertai dengan kondisi hipoksia, demikian juga penyakit yang disebabkan oleh kelainan jantung dan paru. Hipoksia kronik sering terjadi pada populasi lanjut usia oleh karena cedera iskemik yang menginduksi sejumlah respons adaptif terhadap lingkungan mikro selnya. Tujuan: Penelitian ini untuk melihat bagaimana fenomena perubahan metabolisme salah satu sumber energi pada otot rangka pada kedaan hipoksia sistemik kronik, dengan mengukur aktivitas spesifik CK dan kadar kreatinin otot rangka pada tikus. Metode: Tikus hipoksia dibuat dengan cara memasukkan tikus ke dalam hypoxia chamber yang dialiri campuran gas oksigen 10% dan nitrogen 90%. Aktivitas spesifik CK diukur secara spektrofotometri menggunakan kit Creatine kinase N-acetyl-L-cysteine (Randox®), kadar kreatinin dengan metode Folin, sedangkan protein total otot tikus diukur dengan metode Christian-Warburg. Hasil: Aktivitas spesifik CK otot tikus kelompok 1H, 3H, 5H, 7H, dan 14H menurun secara bermakna dibandingkan dengan kelompok K (Kruskal-Wallis) (P0,05). Kadar kreatinin otot tikus kelompok 1H dan 14H menurun secara bermakna dibanding dengan kelompok K, sedangkan kelompok 3H, 5H, 7H  meningkat secara bermakna dibanding dengan kelompok K (Kruskal-Wallis) (P0,05). Simpulan: Hipoksia sistemik kronik menyebabkan penurunan aktivitas spesifik CK otot tikus semua kelompok dibanding kontrol. ATP untuk membentuk kreatin fosfat menurun menyebabkan kreatin bebas meningkat. Hasil oksidasi kreatin bebas menjadi kreatinin meningkat terlihat pada kelompok 3H, 5H, dan 7H.