Claim Missing Document
Check
Articles

KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT: KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.199

Abstract

Tradisi kritik Barat ialah sebuah tradisi kritik yang turut memengaruhi cara dan metode kritik manusia akan sebuah fenomena, teks, atau seseorang, baik itu dalam cara pikir masyarakat awam atau di kalangan akademisi. Tradisi kritik Barat tidak seragam, serta mencakup beragam teknik dan sudut pandang. Selain itu, terdapat kritik terhadap karakteristik ini dan kemungkinan bias budaya dalam tradisi kritik Barat. Sejarah tradisi kritik Barat luas dan beragam, namun banyak karakteristik unik yang dapat ditemukan . Akar dari lahirnya tradisi kritik Barat ini tidak bisa dilepaskan dari munculnya Era Pencerahan atau Enlightenment yang merupakan sebuahgerakan intelektual dan filosofis yang berkembang di Eropa pada abad ke 17 dan ke 18. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mencoba mengungkap bagaimana tradisi kritik Barat terlahir dari pemikiran pemikiran para filsuf yang hidup di E ra Pencerahan, serta untuk mengetahui bagaimana tradisi kritik Barat dan Pencerahan berkaitan satu sama lain. Penulis menggunakan kajian literatur sebagai metode penelitian pada paper ini. Penulis mengumpulkan berbagai referensi, mulai dari buku, artikel jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, hingga sumber-sumber referensi yang berasal dari internet. Seluruh sumber tersebut mencakup konsep-konsep mengenai kritik secara umum, Era Pencerahan di Eropa, dan tradisi kritik Barat secara khusus. Hasil menunjukkan bahwa Pencerahan meletakkan landasan intelektual bagi tradisi kritik Barat dengan mengedepankan nalar, individualisme, hak asasi manusia, dan komitmen terhadap penyelidikan empiris. Prinsip prinsip ini terus membentuk cara individu dalam masyarakat Barat melakukan pendekatan terhadap pemeriksaan dan evaluasi gagasan, institusi, dan norma norma masyarakat.
GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL: GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Rangga Saptya Mohamad Permana
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.227

Abstract

Eksistensi budaya yang berkembang di era milenial saat ini tidak terlepas dari budaya masa lampau, sebagai hasil perjalanan sejarah serta proses perubahan budaya dari masa ke masa. Namun, keberadaan Gunung Padang tersebut, baru-baru ini sedikit terusik oleh ketidaksepahaman para ahli, yang masing-masing bersikukuh sesuai dengan kepakarannya. Padahal, sepatutnyalah kita bergandengan tangan dalam upaya merawat dan melestarikan tinggalan nenek moyang dimaksud, apalagi kalau tempat tersebut sudah disepakati dan ditetapkan sebagai situs, yang eksistensinya tidak dapat dinilai dengan materi. Karena setiap bidang ilmu memiliki pendekatan dan metode kajiannya masing-masing. Aspek budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah, setidaknya berguna untuk mengungkap tonggak bagi suatu kehidupan masyarakat. Kita menyadari bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa pun dapat dilihat dari tinggalan budayanya. Demikian halnya dengan karuhun ‘nenek moyang’ orang Sunda, yang memiliki manuskrip kuno yang tidak sedikit, yang di dalamnya menyimpan beragam ide, gagasan, dan pemikiran cemerlang, yang salah satunya berkaitan dengan Gunung Padang. Lewat manuskrip, dapat ditelusuri bahwa Gunung Padang termasuk ke dalam sistem tataruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat yang ada di sekitarnya, baik secara geologis, geomorfologis, arkeologis, antropologis, filologis, historiografis, folklor, dan religi, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu. Penelitian ini mencoba menelusuri keselarasan antara Gunung Padang dengan kearifan lokal budaya Sunda, dari kajian filologis, arkeologis, religi, dengan budaya Kenabian, melalui metode kajian filologis dan kajian budaya, sehingga didapatkan hubungan yang harmonis antar keduanya, melalui pendeskripaian data, sesuai dengan fakta yang ada.
MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI: MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.249

Abstract

Keanekaragaman kearifan lokal budaya yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan sarana dan prasarana penunjang dalam upaya memperkaya kebudayaan daerah. Kearifan dimaksud dapat berfungsi juga sebagai filter dan alat yang tangguh untuk membendung arus masuknya budaya mancanegara yang tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian serta kepentingan bangsa kita. Kita dituntut untuk memilah dan memilihnya dengan teliti, lewat pengetahuan yang mewadahi latar belakang penciptaan dan sosiokultural. Kearifan lokal budaya masyarakat adat Baduy sebagai ‘icon’ yang masih kuat dan taat memegang adat istiadat dalam tradisi dan religi, merupakan bahasan utama tulisan ini. Metode penelitian secara khusus menggunakan deskriptif analisis, yang disesuaikan dengan metode kajian agar mampu menganalisis dan menafsirkan data-data kongkrit yang terjadi di Masyarakat Adat Kanekes Baduy, melalui suatu proses pemahaman yang akan sangat bergantung pada keadaan data dan objek kajian, sehingga didapatkan hasil adanya keterjalinan yang harmonis antara adat, tradisi serta religi yang dianut oleh masyarakat adat Kanekes Baduy.
PROBLEMATIKA TINGKATAN BAHASA DAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM PENGGUNAAN UNDAK-USUK BAHASA SUNDA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
KABUYUTAN Vol 3 No 3 (2024): Kabuyutan, Nopember 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i3.287

Abstract

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di antara makhluk lainnya di dunia ini, memiliki kemampuan berkomunikasi dan mengimplementasikan perasaan serta pikirannya melalui beragam bahasa yang dikuasainya. Mengapa? Karena manusia mempunyai cipta, rasa, dan karsa, yang menjadi pembedanya. Eksistensi dan perkembangan bahasa hampir sama dengan perkembangan manusia di dunia ini. Namun, tidak setiap suku bangsa menerima bahasa dalam waktu yang bersamaan. Hal itu bergantung kepada kesadaran tentang pentingnya tanda-tanda untuk membuktikan adanya cipta, rasa, dan karsa dimaksud. Dengan adanya kesadaran itulah, maka timbullah tulisan berupa aksara bahkan bahasa untuk merekam suara atau bunyi bahasa yang dikeluarkan, baik lisan maupun tulisan, agar semua informasi dapat disampaikan secara menyeluruh tanpa terhambat tempat dan waktu. Namun, penggunaan dan perkembangan bahasa Sunda khususnya, berubah setelah adanya pengaruh Unggah Ungguh Basa Jawa, yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap eksistensi dan stratifikasi Bahasa Sunda. Pemakaian Undak Usuk Basa Sunda berdasarkan stratifikasinya meliputi bahasa kasar, sedeng, dan lemes beserta variannya, yang cukup menarik untuk dibahas dalam tulisan ini. Metode penelitian untuk mengungkap masalah Undak-Usuk Basa Sunda menggunakan deskriptif analisis komparatif, dan metode kajian struktur, yang melibatkan tataran fonologi, morfologi, sintaksis, juga semantik, di samping sosiolinguistik dan wacana, serta kajian budaya secara umum. Hasil yang diharapkan mampu mengungkap problematika Stratifikasi bahasa yang ada kaitannya dengan stratifikasi sosial dalam Undak-usuk Basa Sunda di masyarakat, serta penggunaannya yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah yang berlaku.
EKSISTENSI SENI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT SUNDA DI ERA GENERASI Z Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.401

Abstract

Zaman berkembang dan berubah dari masa ke masa seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Hal itu berlaku juga terhadap ketujuh unsur budaya Sunda. Kenyataan ini tentu saja memengaruhi situasi dan kondisi serta eksistensi tatanan kehidupan masyarakat, termasuk unsur seni. Di era Gen Z saat ini, kecanggihan yang terjadi berimbas pula terhadap perkembangan kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada beberapa suku Sunda yang masih bersikukuh dan taat asas mempertahankan ketradisionalan dan adat istiadatnya. Salah satunya masyarakat adat Sunda yang ada di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti Kampung Naga, Kanekes Baduy, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Sinar Resmi atau Ciptagelar. Terkait dengan hal itu, tentu saja masyarakat adat tersebut harus lebih kuat membentengi diri dari pengaruh luar, yang semakin menggerus unsur-unsur budaya, salah satunya unsur seni, termasuk waditra yang digunakan dan mengiringinya, agar seni yang mereka miliki tidak musnah ditelan masa. Beragam serpihan terpendam berkenaan dengan seni, dapat kita gali dan kita ungkap, dalam upaya menelusuri dan mengkaji warisan tinggalan leluhur orang Sunda. Untuk mengkaji masalah tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif, melalui metode deskriptif analisis. Melibatkan metode kajian estetika, hermeneutik, historiografi seni, filosofi seni, sosiologis, antropologis, maupun kajian budaya secara umum.
Jejak Transformasi Budaya: Evolusi Komunikasi Manusia dari Era Lisan hingga Algoritma Digital Rangga Saptya Mohamad Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i1.32459

Abstract

Since the beginning of civilization, communication has progressed from simple gestures and body language to intricate digital systems. Communication is not merely a means of transmitting information; it is also an essential social process in the production of meaning, cultural identity, and societal evolution. This research seeks to examine the evolution of communication as a driving force in the formation, preservation, and transformation of culture over time. Using a descriptive qualitative method and an in-depth literature review approach, this study integrates perspectives from history, anthropology, sociology, and digital media studies, enriched with archaeological data and analysis of two contemporary regulatory case studies: GDPR in the European Union and misinformation handling in the United States. The findings show that every breakthrough in communication—writing, printing, and digitalization—causes structural changes in society, such as the emergence of imagined communities, the differentiation of intellectual classes, and the formation of a surveillance capitalism culture. In the digital era, this shift accelerates cultural norm changes and fosters the emergence of new symbols in cross-cultural communication, while also posing severe issues such as social fragmentation, access inequality, and a digital ethics crisis. This study underlines the importance of a balanced regulatory strategy, collective ethical awareness, and cross-disciplinary cooperation in managing the effects of communication evolution.
Speech Acts Study in Text Discourse of Sundanese Mantra Elis Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i3.36463

Abstract

Language evolves alongside the rapid development of technology, science, and globalization, leading modern perceptions to frequently marginalize the Sundanese language as difficult, obsolete, or plebeian. Consequently, the younger generation often loses pride in their identity and prefers foreign languages over their mother tongue. However, as cultural heirs, preserving past history and traditions—ngaraksa, ngariksa, tur ngamumulé—remains vital because contemporary life is deeply rooted in historical developments that reveal the milestones of Sundanese literacy. Contrary to widespread concerns that Sundanese is "dying," the language remains safely documented and preserved across written texts and vibrant oral traditions. This enduring vitality is exemplified by agricultural mantras used by farmers, treatment mantras applied by traditional healers, and ajian kawedukan (power mantras) that persist in modern practice. Adopting a descriptive-analytical research method combined with discourse study, this paper examines these Sundanese mantra texts to analyze their underlying language speech acts. It presents a comprehensive exposure of locutionary, illocutionary, and perlocutionary speech acts, while further evaluating the forms of utterance, impossibility, expressiveness, and assertiveness embedded within the mantras. Ultimately, this study demonstrates how sacred written and oral traditions safeguard the Sundanese language, proving that its rich linguistic heritage and cultural identity remain active, relevant, and well-preserved.
TATA KELOLA KOMUNIKASI BERBASIS ADAT DALAM PENGELOLAAN TELEVISI KOMUNITAS: STUDI KASUS CIGA TV DI KASEPUHAN GELARALAM Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 2 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i2.421

Abstract

The rapid development of digital technologies has encouraged many Indigenous communities to adopt communication media for documenting and transmitting cultural knowledge. However, existing studies on community media have largely focused on cultural preservation and community empowerment, while paying limited attention to the communication governance mechanisms that enable Indigenous communities to retain authority over technology. This study examines indigenous communication governance in the management of CIGA TV, a community television station operated by the Kasepuhan Gelaralam Indigenous community in Indonesia. Employing a qualitative case study approach, the research draws on semi-structured interviews with Yoyo Yogaswara as the community jambatan (liaison) and a review of relevant documents and scholarly literature. The findings reveal that CIGA TV is governed by the Indigenous philosophy of kudu bisa ngigelan jaman, tapi ulah kabawa ku jaman ("adapting to the times without being carried away by them"), which guides the community in adopting while regulating communication technologies. This philosophy is institutionalized through the establishment of community television, Indigenous-based communication governance, media production practices, and the management of communication infrastructure under customary authority. The study argues that the sustainability of CIGA TV is determined not primarily by technological sophistication, but by an Indigenous communication governance system that integrates cultural values, customary institutions, and communication technologies into a coherent framework sustaining Indigenous communication systems. These findings contribute to community media scholarship by proposing indigenous communication governance as a conceptual perspective for understanding the relationship between Indigenous communities, community television, and digital technologies.