Claim Missing Document
Check
Articles

FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN: FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Darsa, Undang Ahmad
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.195

Abstract

Manuskrip sebagai dolumen budaya masa lampau, sampai saat ini masih belum dikenal luas di masyarakat. Keberadaan manuskrip hanya populer di kalangan filolog saja. Manuskrip sebagai objek kajian filologi berfungsi sebagai sumber informasi bagi ilmu lain, karena berisi berbagai data dan informasi ide, gagasan, pikiran, pandangan hidup, dan pengetahuan sejarah, serta kearifan lokal budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu, yang isinya meliputi tujuh unsur budaya. Sehubungan dengan hal itu, hasil kajian bidang filologi melalui penggalian, penelitian, dan pengkajian manuskrip, teksnya bisa menjadi referensi literasi bagi ilmu lain secara multidisiplin. Kearifan lokal yang terungkap dalam sebuah manuskrip berakar dari sejarah dan budaya masa silam. Berkat sejarah pula kita sampai di masa kini. Kita sepakat bahwa keberadaan budaya suatu ‘masyarakat’ saat ini merupakan hasil perjalanan sejarah dan pengolahan serta proses perubahan budaya masa lampau. Salah satunya kearifan lokal yang terpendam dalam teks manuskrip Sanghyang Siksakandang Karesian, yang dianggap sebagai ensiklopedia panorama budaya masa silam. Mengapa? Karena beranekaragam kearifan lokal yang ada di masa silam, masih eksis dan berguna sebagai tuntunan moral dalam kehidupan kita saat ini. Tulisan ini diharapkan dapat mengungkap kearifan lokal yang meliputi tujuh unsur budaya Sunda yang terpendam dalam teks manuskrip Sunda Kuno berjudul Sanghyang Siksakandang Karesian. Dikaji menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian filologis, yang meliputi kajian kodikologis & tekstologis, kajian budaya, dan komunikasi sosial. Meliputi metode kajian tersebut, membuktikan bahwa kearifan lokal yang terdiri atas tujuh unsur budaya tersebut tercantum dalam teks naskah Sanghyang Siksakandang Karesian sebagai ensiklopedia panorama masa lampau, yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin.
KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT: KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT Mohamad Permana, Rangga Saptya; Darsa, Undang Ahmad; Nani Sumarlina, Elis Suryani
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.199

Abstract

Tradisi kritik Barat ialah sebuah tradisi kritik yang turut memengaruhi cara dan metode kritik manusia akan sebuah fenomena, teks, atau seseorang, baik itu dalam cara pikir masyarakat awam atau di kalangan akademisi. Tradisi kritik Barat tidak seragam, serta mencakup beragam teknik dan sudut pandang. Selain itu, terdapat kritik terhadap karakteristik ini dan kemungkinan bias budaya dalam tradisi kritik Barat. Sejarah tradisi kritik Barat luas dan beragam, namun banyak karakteristik unik yang dapat ditemukan . Akar dari lahirnya tradisi kritik Barat ini tidak bisa dilepaskan dari munculnya Era Pencerahan atau Enlightenment yang merupakan sebuahgerakan intelektual dan filosofis yang berkembang di Eropa pada abad ke 17 dan ke 18. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mencoba mengungkap bagaimana tradisi kritik Barat terlahir dari pemikiran pemikiran para filsuf yang hidup di E ra Pencerahan, serta untuk mengetahui bagaimana tradisi kritik Barat dan Pencerahan berkaitan satu sama lain. Penulis menggunakan kajian literatur sebagai metode penelitian pada paper ini. Penulis mengumpulkan berbagai referensi, mulai dari buku, artikel jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, hingga sumber-sumber referensi yang berasal dari internet. Seluruh sumber tersebut mencakup konsep-konsep mengenai kritik secara umum, Era Pencerahan di Eropa, dan tradisi kritik Barat secara khusus. Hasil menunjukkan bahwa Pencerahan meletakkan landasan intelektual bagi tradisi kritik Barat dengan mengedepankan nalar, individualisme, hak asasi manusia, dan komitmen terhadap penyelidikan empiris. Prinsip prinsip ini terus membentuk cara individu dalam masyarakat Barat melakukan pendekatan terhadap pemeriksaan dan evaluasi gagasan, institusi, dan norma norma masyarakat.
GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL: GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL Sumarlina, Elis Suryani Nani; Darsa, Undang Ahmad; Mohamad Permana, Rangga Saptya
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.227

Abstract

Eksistensi budaya yang berkembang di era milenial saat ini tidak terlepas dari budaya masa lampau, sebagai hasil perjalanan sejarah serta proses perubahan budaya dari masa ke masa. Namun, keberadaan Gunung Padang tersebut, baru-baru ini sedikit terusik oleh ketidaksepahaman para ahli, yang masing-masing bersikukuh sesuai dengan kepakarannya. Padahal, sepatutnyalah kita bergandengan tangan dalam upaya merawat dan melestarikan tinggalan nenek moyang dimaksud, apalagi kalau tempat tersebut sudah disepakati dan ditetapkan sebagai situs, yang eksistensinya tidak dapat dinilai dengan materi. Karena setiap bidang ilmu memiliki pendekatan dan metode kajiannya masing-masing. Aspek budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah, setidaknya berguna untuk mengungkap tonggak bagi suatu kehidupan masyarakat. Kita menyadari bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa pun dapat dilihat dari tinggalan budayanya. Demikian halnya dengan karuhun ‘nenek moyang’ orang Sunda, yang memiliki manuskrip kuno yang tidak sedikit, yang di dalamnya menyimpan beragam ide, gagasan, dan pemikiran cemerlang, yang salah satunya berkaitan dengan Gunung Padang. Lewat manuskrip, dapat ditelusuri bahwa Gunung Padang termasuk ke dalam sistem tataruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat yang ada di sekitarnya, baik secara geologis, geomorfologis, arkeologis, antropologis, filologis, historiografis, folklor, dan religi, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu. Penelitian ini mencoba menelusuri keselarasan antara Gunung Padang dengan kearifan lokal budaya Sunda, dari kajian filologis, arkeologis, religi, dengan budaya Kenabian, melalui metode kajian filologis dan kajian budaya, sehingga didapatkan hubungan yang harmonis antar keduanya, melalui pendeskripaian data, sesuai dengan fakta yang ada.
MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI: MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Darsa, Undang Ahmad
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.249

Abstract

Keanekaragaman kearifan lokal budaya yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan sarana dan prasarana penunjang dalam upaya memperkaya kebudayaan daerah. Kearifan dimaksud dapat berfungsi juga sebagai filter dan alat yang tangguh untuk membendung arus masuknya budaya mancanegara yang tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian serta kepentingan bangsa kita. Kita dituntut untuk memilah dan memilihnya dengan teliti, lewat pengetahuan yang mewadahi latar belakang penciptaan dan sosiokultural. Kearifan lokal budaya masyarakat adat Baduy sebagai ‘icon’ yang masih kuat dan taat memegang adat istiadat dalam tradisi dan religi, merupakan bahasan utama tulisan ini. Metode penelitian secara khusus menggunakan deskriptif analisis, yang disesuaikan dengan metode kajian agar mampu menganalisis dan menafsirkan data-data kongkrit yang terjadi di Masyarakat Adat Kanekes Baduy, melalui suatu proses pemahaman yang akan sangat bergantung pada keadaan data dan objek kajian, sehingga didapatkan hasil adanya keterjalinan yang harmonis antara adat, tradisi serta religi yang dianut oleh masyarakat adat Kanekes Baduy.
PERSPEKTIF FILOLOGIS TERHADAP BENDA-BENDA BUDAYA BERNUANSA SPIRITUAL PUSAKA NUSANTARA DALAM BABAD CIREBON Darsa, Undang Ahmad; Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.389

Abstract

Artikel ini membahas tentang naskah Babad Cirebon. Kisah yang tertuang dalam teks naskah Babad Cirebon ini merupakan sebuah karya sastra bersifat sejarah daerah Cirebon yang berpusat pada kisah tokoh Raden Walangsungsang dan Sunan Gunungjati. Karya tersebut dapat dipandang sebagai refleksi masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, pengamatan, pendeskripsian, dan analisis terhadap benda-benda budaya sebagaimana tercatat dalam naskah Babad Cirebon ini tak lain dari pembicaraan tentang kebudayaan dan masyarakat yang menghasilkannya, baik dilihat dari dalam teks Babad Cirebon itu sendiri maupun dari luarnya. Pendekatan yang dilakukan terhadap hubungan naskah Babad Cirebon dengan alam sekitar pada dasarnya mempelajari naskah ini sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial, mengingat ada semacam potret sosial yang bisa ditarik dari naskah Babad Cirebon.
Local Expertise the Baduy Indigenous Community as a Literacy Reference in The Millennium Era Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Ganjar Kurnia; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 1 (2023): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i1.25131

Abstract

Every ethnic group has inherited local cultural wisdom from their predecessors. Similarly, the Sundanese people's riches include a wide range of great ideas, religious systems, and perspectives on life. This local wisdom can be utilized as a reference for the next generation, as it is still relevant to modern millennial life. One is related to the habits, traditions, and religious systems practiced by the Baduy traditional community. This indigenous wisdom is reflected in rituals and traditions that the community still follows and fiercely adheres to. This is inextricably linked to their belief system. Baduy society's beliefs are based on Sundanese Wiwitan teachings. The existence of these teachings is intimately related to the customs. This page also seeks to reveal the calculation and calendar system, which will serve as a reference and guideline for 'kolénjér' and 'literature' calculations. This study employs both descriptive analytical research methodologies and multidisciplinary cultural study methods, such as ethnography, social anthropology, communication, and oral traditions. The findings can disclose practices, traditions, religious systems, calculations, and calendars that have previously been hidden and unknown to individuals outside Baduy and are generally significantly different from other belief systems. The findings of this study can be used as a literacy resource for other scientific domains in a multidisciplinary context. 
The Relevance of the Tatamba Mantra Manuscript and Family Medicinal Plants (TOGA) in the Baduy Indigenous Community Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Wina Erwina; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i2.25774

Abstract

Sundanese manuscripts are still relatively unknown in today's society. Perhaps it is regarded a new science with no benefit to scientific development. In truth, manuscripts and writings as subjects of philological study have been known in Alexandria from the third century BC, according to a character named Erasthothenes. Manuscripts as cultural documents and literary references for other sciences must be made aware of their existence in the current millennium, as many manuscripts' contents remain unknown. One of them is Family Medicinal Plants (TOGA), which is revealed in the manuscript text of the Tatamba mantra and is used by the Baduy indigenous community to boost endurance and immunity. The Tatamba manuscript's significance to Baduy TOGA must be maximized in order to determine the kind, function, dose, processing technique, and therapy actions, as well as the usage of TOGA for health maintenance based on the Tatamba manuscript. Descriptive research, comparative analysis, and text criticism study methodologies, as well as codicology and textology, pharmacology, health communication, and transdisciplinary cultural studies, were investigated. TOGA in the Tatamba mantra manuscript is relevant to the lives of the Baduy indigenous community because it is supported by the ngukus tradition, which is a ngajampé ceremony'reciting mantras' to pray for the safety, health, and welfare of the Baduy indigenous community, which is performed once a year when the ngalaksa tradition is carried out. This topic is relevant not only to philology, but also to other multidisciplinary fields such as agriculture, pharmacy, medicine, cultural communication, anthropology, and public health.
The Integration of the Requirements and Characters of the Pupuh in the Wawacan Panji Wulung Manuscript Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Abdul Rasyad; Wina Erwina
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i1.28065

Abstract

Manuscripts, as a legacy and cultural inheritance of predecessors, are vital cultural documents for the advancement of a society's culture. Consequently, manuscripts must not be undervalued. This is comprehensible, as their existence can still be realized in the Generation Z age. The important and interesting manuscripts studied in this article are manuscripts in the Sundanese literature category in the form of Wawacan, which is closely related to pupuh. Wawacan has an influence on the Sundanese literary treasury. The purpose of this study is to explain the definition, position and classification, as well as the requirements and character of pupuh in an effort to support understanding of the ins and outs of WPW. This article's examination of the literary elements aims to offer an overview, context, and elucidation of the Wawacan Panji Wulung text, which was widely esteemed and utilized as an educational reference, culminating in six print editions during its era. This article is part of qualitative research, employing descriptive analysis methodologies through sociological literary approaches, hermeneutics, which are intrinsically linked to philological studies, both codicologically and textologically, as well as cultural studies in general. The study's results demonstrate the interconnection between the requirements and characteristics of the pupuh, together with the complexities of Wawacan Panji Wulung. This page serves as a reference for literacy across several scientific disciplines in a multidisciplinary context.
EKSISTENSI SENI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT SUNDA DI ERA GENERASI Z Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Darsa, Undang Ahmad
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.401

Abstract

Zaman berkembang dan berubah dari masa ke masa seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Hal itu berlaku juga terhadap ketujuh unsur budaya Sunda. Kenyataan ini tentu saja memengaruhi situasi dan kondisi serta eksistensi tatanan kehidupan masyarakat, termasuk unsur seni. Di era Gen Z saat ini, kecanggihan yang terjadi berimbas pula terhadap perkembangan kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada beberapa suku Sunda yang masih bersikukuh dan taat asas mempertahankan ketradisionalan dan adat istiadatnya. Salah satunya masyarakat adat Sunda yang ada di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti Kampung Naga, Kanekes Baduy, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Sinar Resmi atau Ciptagelar. Terkait dengan hal itu, tentu saja masyarakat adat tersebut harus lebih kuat membentengi diri dari pengaruh luar, yang semakin menggerus unsur-unsur budaya, salah satunya unsur seni, termasuk waditra yang digunakan dan mengiringinya, agar seni yang mereka miliki tidak musnah ditelan masa. Beragam serpihan terpendam berkenaan dengan seni, dapat kita gali dan kita ungkap, dalam upaya menelusuri dan mengkaji warisan tinggalan leluhur orang Sunda. Untuk mengkaji masalah tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif, melalui metode deskriptif analisis. Melibatkan metode kajian estetika, hermeneutik, historiografi seni, filosofi seni, sosiologis, antropologis, maupun kajian budaya secara umum.
Education and Character Development in the Sundanese Manuscript Texts Pupujian and Nadoman in the Millennial Era Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
Jurnal IKADBUDI Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v14i2.90487

Abstract

Collecting, describing, transliterating, editing, and studying the Pupujian texts derived from Sundanese manuscripts, codified at Islamic boarding schools, is a challenging endeavor. The contents are religious/Islamic, representing cultural assets derived from the ingenuity of Sundanese forebears, whose presence in the contemporary millennial era is hardly acknowledged in madrasas, mosques, prayer rooms, or Islamic boarding schools. If neglected and unpreserved, it will be lost to history. The examination of Character Education in Sundanese manuscript texts is conducted from a literary and cultural standpoint, focusing on the elements that shape the character of the nation's youth, encompassing discipline, responsibility, heroism, faith, Islamic teachings, prophetic history, Islamology, and the relationships between humans and God, among humans, and with the environment. Utilized descriptive comparative analysis, philological methodologies, codicology, textology, and hermeneutic studies of literary and cultural works to serve as a literacy reference for other disciplines in the contemporary millennial age. The Pupujian manuscript is intricately connected to the 'yellow book,' which is significantly linked to the development of the nation's character and identity.