Claim Missing Document
Check
Articles

Keterjalinan Jampé, Jangjawokan, dan TOGA dalam Naskah Mantra Pengobatan: Peran dan Fungsinya di Masyarakat Adat Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v8i1.3916

Abstract

A Sundanese manuscript, created by the ancestors' inventiveness, is a cultural document containing local wisdom. The Medical Mantra Manuscript is one of them. It reveals the truths of numerous TOGA as well as the presence of mantras in an effort to overcome and cure various diseases in society. Sundanese Mantra is classified into the following categories: ajian, asihan, jampé, jangjawokan, pélét, rajah, and singlar. This research, however, solely looks at the interweaving of the texts of the Mantra Jampé and Jangjawokan with TOGA, whose duties and functions are still practiced by indigenous peoples in West Java and indigenous Baduy people in Banten. The descriptive analysis research method was used. Involve philological study methods, both codicological and textological, literary studies, and cultural studies, so that the results are helpful and serve as a literacy reference for other disciplines. The utilization of plant species, functions, dosages, methods of processing, and treatments done accompanied by the recital of'mantras' in the text of the Medicinal Manuscripts demonstrates the relationship between Jampé and Jangjawokan and TOGA. The findings of this study are expected to be valuable not only for literature and philology, but also for public health, pharmacy, nursing, medicine, communication science, literature, anthropology, and culture in general.
Etika berpolitik pemimpin masa lampau berbasis naskah Sunda Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
Jurnal IKADBUDI Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v12i2.58838

Abstract

Benar  adanya apabila dikatakan bahwa banyak kesulitan yang dihadapi dalam menggarap naskah-naskah  Sunda Kuno. Akan tetapi, harus disadari pula bahwa di dalam sebuah naskah Sunda kuno terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat masa kini.  Isi naskah Sunda Kuno mengungkap beragam ilmu yang bisa dijadikan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain saat ini, yang berkaitan dengan  historiografi tradisional, toponimi, pandangan hidup, sistem pemerintahan atau pembagian kekuasaan, konsep kepemimpinan, etika berpolitik,  dan  unsur-unsur kebudayaan  lainnya, sebagai bahan dalam upaya menggali, identitas masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Dengan demikian, upaya penggalian dan penggarapan naskah-naskah kuno perlu dilakukan secara sungguh-sungguh, intensif,  dan berkesinambungan. Teks naskah Sunda kuno yang sangat menarik untuk dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan etika berpolitik para pemimpin atau raja-raja Sunda masa lampau, yang eksistensinya terungkap dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, Fragmen Carita Parahiyangan, Amanat Galunggung, dan Sanghyang Hayu, yang ditulis pada abad ke-16 Masehi. Etika berpolitik raja-raja zaman dulu berkaitan erat dengan konsep kepeminpinan, sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan, serta karakter dari peminpin itu sendiri. Dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian filologi, komunikasi politik, historiografi tradisional, dan kajian budaya secara multidisiplin. Diharapkan mampu menungkap bagaimana etika berpolitik raja atau pemimpin Sunda masa silam, melalui naskah-naskah Sunda Kuno abad-16, yang akhirnya dapat membuka cakrawala dan wawasan ilmu pengetahuan bagi ilmu-ilmu lain secara multidisiplin.
EKONOMI POLITIK MEDIA DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI DAN SOSIAL-BUDAYA: EKONOMI POLITIK MEDIA DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI DAN SOSIAL-BUDAYA Mohamad Permana, Rangga Saptya; Alam, Pandu Watu
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i2.19

Abstract

Harold Innis dan Marshall McLuhan mengakui kenyataan bahwa teknologi memiliki dimensi komunikatif dalam dan dari diri mereka sendiri dan memainkan peran penting dalam formasi ekonomi politik. Bidang ekonomi jelas tidak dapat dipisahkan dari kapitalisme; serta kapitalisme dan industri merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Lebih lanjut, budaya adalah salah satu konten yang paling menarik untuk “dijual” dan kerap dimasifikasi oleh media untuk menghasilkan keuntungan besar oleh para kapitalis media. Kajian ini bertujuan untuk membahas bagaimana ekonomi politik media ditinjau dari perspektif komunikasi dan sosial-budaya. Kajian dalam artikel ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, dengan memakai kajian literatur sebagai teknik pengumpulan data. Hasil menunjukkan bahwa ekonomi politik media (massa) amat berkaitan dengan kekuasaan dan kontrol atas konten media massa. Kontrol tersebut dilakukan dengan proses komunikasi, di mana pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa bertujuan untuk memengaruhi persepsi khalayak, kadang juga untuk menggiring sikap khalayak, terhadap sebuah isu, terutama isu-isu sosial dan politik. Salah satu konten media yang dipandang efektif untuk meraup sumber-sumber finansial adalah budaya. Budaya yang dimasifikasi menjadi senjata ampuh bagi para pemilik media untuk memeroleh laba dan kekayaan; di mana budaya tidak lagi dipandang dari perspektif estetis-nya saja, atau bagaimana budaya menyampaikan kebenaran, namun dipandang sebagai “alat” untuk mendulang keuntungan semata.
KLASIK NAMUN MASIH RELEVAN: SEQUENTIAL MODEL OF COMMUNICATION PROCESS: KLASIK NAMUN MASIH RELEVAN: SEQUENTIAL MODEL OF COMMUNICATION PROCESS Mohamad Permana, Rangga Saptya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 3 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i3.65

Abstract

Model adalah sebuah deskripsi atau gambaran visual yang meperlihatkan hubungan-hubungan antarsistem atau konsep untuk menjelaskan atau mendeskripsikan sebuah fenomena menjadi lebih sederhana. Model-model juga banyak diciptakan dan digunakan dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk di dalamnya model-model dalam ilmu komunikasi. Setidaknya, ada enam komponen inti komunikasi yang terdapat dalam sebuah aktivitas komunikasi, yaitu sender, message, chennel, receiver, feedback, dan effect. Namun dalam sejarahnya, ada beberapa model yang tidak menyertakan salah satu atau beberapa komponen tersebut, atau bahkan ada model yang memiliki komponen yang lebih banyak dari itu. Sequential Model of Communication Process adalah salah satu model komunikasi yang memiliki komponen-komponen inti di dalamnya, yang bisa menggambarkan fenomena terciptanya persepsi baru dari sender berkat ide yang diberikan melalui feedback dari receiver. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menjelaskan dan mengimplementasikan Sequential Model of Communication Process pada sebuah contoh fenomena komunikasi. Metode kajian pustaka digunakan dalam artikel ini, di mana tiga buah referensi utama dijadikan landasan teoretis dalam menjelaskan model tersebut. Hasil menunjukkan bahwa noise menjadi komponen penting dalam model ini. Noise selalu terjadi dalam proses komunikasi dalam tahap apapun; baik itu noise secara internal maupun eksternal. Di samping itu, Sequential Model of Communication Process ini bisa dikategorikan sebagai salah satu model komunikasi interaksional, karena makna, persepsi, referensi atau pengalaman (baru) bisa terbentuk melalui umpan balik dari receiver ke sender.
KETERKAITAN DALANG DAN LAKON WAYANG PURWA DALAM JEJAK-JEJAK ARKAISME : KETERKAITAN DALANG DAN LAKON WAYANG PURWA DALAM JEJAK-JEJAK ARKAISME Darsa, Undang Ahmad; Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 3 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i3.73

Abstract

Salah satu seni pertunjukan klasik di kalangan masyarakat Sunda yang masih tetap eksis sampai hari ini adalah seni pertunjukan Wayang Golek. Selain Wayang Golek, pernah tercatat jenis-jenis pertunjukan wayang, seperti wayang bendo, wayang golek papak (cepak), wayang golek modern, wayang kulit, dan wayang topeng. Bahkan, ada jenis wayang yang sudah hampir tidak dikenal lagi di kalangan masyarakat Sunda ialah yang disebut Wayang Lilingong. Seseorang yang berprofesi memainkan pertunjukan para tokoh dalam lakon wayang disebut dalang. Adapun istilah dalang dimaksudkannya sebagai pencerita yang merangkum sebuah kisah yang bersumber dari sebuah otoritas. Dalam kaitan ini, karya yang ditampilkannya tidak saja indah tetapi memiliki otoritas sebagaimana dulunya dikisahkan oleh seorang dalang yang bijaksana dan suci.
Peran Komunikasi dalam Konteks Hubungan Keluarga Mohamad Permana, Rangga Saptya; Suzan, Nessa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i1.93

Abstract

Family has a significant impact on the features that determine our interactions with the environment. Mary Anne Fitzpatrick and her colleagues have produced a number of studies and hypotheses concerning family ties. The research findings and theory of Fitzpatrick inform us on the various types of families, their peculiarities, and the effect of these differences on how they communicate. Hence, the author is interested in examining the role of communication within the context of family relationships and attempts to incorporate references within the context of family communication. The goal of this study is to determine the extent to which communication plays a role in family relationships, which is derived from numerous earlier conceptions regarding relationships and families. In this paper, the author studies the roles of communication within the setting of family relations using the literature review approach, with three primary references serving as the major basis for the study. In addition to these three references, the author complements the study materials with other reading pertaining to discussions of family relationships and communication. According to studies employing the concepts of family relationships and communication, communication plays a crucial role in family interactions. Communication has an essential part in the formation of a family's social reality. Relationships and communication patterns within the family are heavily influenced by two communication activities, namely conversation and conformity, which also determine family communication patterns.
SERPIHAN TERPENDAM SISTEM TEKNOLOGI DAN PEMBAGIAN TATARUANG MASYARAKAT ADAT KAMPUNG NAGA: SERPIHAN TERPENDAM SISTEM TEKNOLOGI DAN PEMBAGIAN TATARUANG MASYARAKAT ADAT KAMPUNG NAGA Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Darsa, Undang Ahmad
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i1.104

Abstract

Kearifan lokal budaya yang dimiliki suatu bangsa atau suku bangsa, berkembang seiring perkembangan teknologi dan perkembangan zaman. Meskipun demikian, adat dan tradisi, beserta tinggalan budaya warisan nenek moyang kita harus tetap dijaga, dilindungi, dan dilestarikan agar tidak musnah ditelan masa. Tulisan ini mengulas dan berupaya mengenalkan keanekaragaman budaya Sunda yang terdapat di Kampung Naga, yang merupakan salah satu kekayaan dan khazanah kebudayaan Sunda, hasil kreativitas dan peninggalan nenek moyang orang Sunda pada masa lampau, yang keberadaannya saat ini sudah tidak dikenali, tidak diketahui, tidak dimengerti, bahkan sudah tidak dipahami oleh masyarakat Sunda pada umumnya. Selain itu, perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, diiringi adanya kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial, menjadikan suku bangsa yang ada di Indonesia, cenderung menuju kepada kebudayaan industri. Tetapi, masih terdapat beberapa suku bangsa yang tetap bersikukuh mempertahankan adat istiadat dan tradisi lamanya. Salah satu di antaranya adalah Masyarakat Kampung Naga, yang tinggal di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Sistem teknologi dan pembagian tataruang yang berlaku di masyarakat tersebut mnarik untuk disajikan dalam tulisan ini, karena berbeda dari masyarakat lainnya. Kajian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analisis komparatid, melalui metode kajian budaya dan etnografi, di samping antropologi. Hasil yang diperoleh, beragam alat dan tataruang yang digunakan masih bersifat tradisional, namun memiliki fungsi yang tidak kalah dari masyarakat modern. Hal ini juga berkaitan dengan sistem sosial masyarakat adat Kampung Naga yang tidak bisa dipisahkan dari tri tangtu di bumi, melipti tatalampah, tatawayah, dan tatawilayah.
RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA: RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Darsa, Undang Ahmad
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.177

Abstract

Unsur majas dalam sebuah teks puisi tidak dapat dilepaskan dari kajian linguistik dan stuktur karya sastra. Demikian pula dalam teks mantra yang memiliki fungsi sangat penting, dalam upaya menunjang kepuitisan teks mantra itu sendiri, di samping unsur rima, irama, diksi, dan citraan. Melalui majas itulah teks mantra mampu menarik perhatian pembaca, membuat lebih hidup, serta dapat menimbulkan kesegaran, terutama dalam upaya menimbulkan kejelasan gambaran angan. Unsur Majas dalam teks naskah mantra Sunda mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain agar gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan lebih hidup. Yang dimaksud majas dalam teks mantra Sunda adalah kiasan kata untuk menghidupkan lukisan maupun perasaan yang akan diungkapkan lebih nyata, tergambarkan lebih jelas, lebih terasa, dan lebih ekspresif. Bahasa yang digunakan dalam majas lebih menonjol, melalui kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya yang biasa, menjadi luar biasa, untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan makna serta ekspresi dengan cara memanfaatkan perbandingan, pertentangan, dan pertautan hal yang satu dengan hal lainnya yang ada dalam sebuah teks mantra. Menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, melalui metode kajian struktur puisi mantra dan maknanya, sehingga majas yang terdapat dalam teks mantra Sunda, yang meliputi majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas pertautan dapat ditelusuri melalui rinekasastra-nya ‘upaya memperhalus perkataan (cerita) agar lebih indah’, karena bahasa itu dianggap hanya sekadar ‘bahan’, keindahan dan kehalusan bahasa menjelma setelah mengalami pengolahan (digubah oleh pengarang).
KONTRIBUSI PULAU JAWA UNTUK KULTUR SINEMA INDONESIA: KAJIAN SINGKAT FESTIVAL-FESTIVAL FILM DI PULAU JAWA: KONTRIBUSI PULAU JAWA UNTUK KULTUR SINEMA INDONESIA: KAJIAN SINGKAT FESTIVAL-FESTIVAL FILM DI PULAU JAWA Mohamad Permana, Rangga Saptya; Alam, Pandu Watu; Indriani, Sri Seti
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.179

Abstract

Festival film merupakan salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji karena sifatnya yang multidisipliner, karena kita bisa mengkaji festival film dari berbagai sudut pandang, mulai dari perspektif ekonomi, manajemen, budaya, sejarah, hingga geografi. Terkait dengan festival film, Indonesia sendiri memiliki banyak festival film yang rutin diadakan setiap tahunnya baik yang berskala nasional maupun regional, khususnya di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa sendiri, beberapa festival film telah lama diselenggarakan dan rutin diadakan setiap tahunnya, baik itu festival film internasional seperti Festival Film Bandung (FFB) di Bandung, ARKIPEL di Jakarta, atau Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta, serta festival film berskala nasional, seperti Festival Film Purbalingga (FFP) di Purbalingga dan Malang Film Festival (MAFI Fest) di Malang. Tujuan dari kajian ini adalah untuk untuk memberikan gambaran mengenai kondisi festival film di Indonesia secara umum, dan khususnya lima festival film di Pulau Jawa yang disebutkan sebelumnya. Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kajian literatur dalam kajian ini. Hasil menunjukkan bahwa meski mayoritas festival film di Indonesia masih berupa audience festivals, namun setidaknya festival-festival film di Indonesia sudah dalam trek yang benar dan turut mendukung kemajuan industri film Indonesia karena seringkali menjadi titik awal perjuangan para sineas nasional maupun internasional asal Indonesia. Pulau Jawa masih menjadi barometer festival film di Indonesia, dengan berbagai misi, kepentingan dan genre yang diusung oleh masing-masing festival tersebut. Hal ini juga berlaku untuk lima festival film di Pulau Jawa, yakni FFB, ARKIPEL, JAFF, FFP dan MAFI Fest. Mulai dari program festival hingga film-film yang disajikan kepada penonton festival, kelima festival film tersebut memiliki kualitas tersendiri, yang masing-masing berkontribusi untuk kultur sinema Indonesia.
RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO: RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO Darsa, Undang Ahmad; Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.185

Abstract

Sumber data penelitian ini berdasarkan tradisi tulisan Sunda kuno berupa naskah daun lontar pada Kropak 406 yang berjudul Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan. Perbandingannya dilakukan dengan menggunakan teks piagam pelat tembaga Kebantenan dan prasasti Batutulis Bogor. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji bukti-bukti tertulis yang menggambarkan kondisi kehidupan para Raja Sunda pasca berdirinya Kerajaan Pajajaran, serta mengungkap latar belakang kondisi sosial yang menyebabkan kronologis berakhirnya pemerintahan kerajaan di wilayah Sunda. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diambil pendekatan teori filologi karena berkaitan dengan proses pengkajian sumber tradisi tertulis, disertai dengan upaya penafsiran isi teks pada sumber data tersebut dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Metode penelitian kualitatif diterapkan untuk memahami fakta di balik realitas yang dapat diamati atau dirasakan secara langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan sebutan “Kerajaan Pajajaran” yang berlangsung selama kurun waktu 97 tahun (1482-1579 M). Kerajaan ini diperintah oleh 6 raja: (1) Maharaja Sri Baduga yang menjadi Maharaja Sunda pertama dan Galuh atau Maharaja Pajajaran yang berkuasa selama 39 tahun; (2) Prabu Surawisesa yang bertahta sebagai Maharaja Pajajaran selama 14 tahun; (3) Prabu Ratudewata yang memerintah sebagai Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (4) Sang Prabhusakti yang menyandang gelar Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (5) Prabu Nilakendra yang menjadi Raja Pajajaran; dan (6) Prabu Ragamulya yang merupakan Raja Pajajaran terakhir yang memerintah selama 16 tahun. Pada tahun 1579 M, Kerajaan Pajajaran lenyap dan melebur menjadi Kesultanan Banten dan Cirebon.