Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN KOMUNIKATOR POLITIK INDONESIA PERIODE 2009-2014: ANALISIS KOMUNIKASI POLITIK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO: KAJIAN KOMUNIKATOR POLITIK INDONESIA PERIODE 2009-2014: ANALISIS KOMUNIKASI POLITIK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Mohamad Permana, Rangga Saptya; Rosfiantika, Evi
KABUYUTAN Vol 1 No 1 (2022): Kabuyutan, Maret 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i1.33

Abstract

Komunikator politik adalah individu atau sekelompok individu yang menyampaikan pesan yang berkaitan dengan kekuasaan dan kebijakan/aturan/kewenangan pemerintah yang bertujuan untuk memengaruhi khalayak. Dalam hal ini, presiden termasuk ke dalam salah satu komunikator politik, tepatnya dalam tatanan suprastruktur komunikasi. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan presiden Indonesia ke-6 yang memegang tampuk pimpinan kepala negara Indonesia selama dua periode kepemimpinan (2004-2009 dan 2009-2014). Jadi, bisa dibilang SBY adalah salah satu tokoh komunikator politik di Indonesia. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis komunikasi politik SBY sebagai salah satu tokoh komunikator politik di Indonesia dengan menggunakan metode studi literatur untuk menggambarkan bagaimana fenomena komunikasi politik yang dilakukan oleh SBY pada periode kedua beliau menjabat sebagai presiden. Hasil menunjukkan bahwa sebagai komunikator politik, SBY termasuk ke dalam golongan politikus, di mana beliau berperan sebagai pemimpin politik negara sekaligus sebagai individu yang termasuk ke dalam sebuah partai (partisan). Gaya komunikasi politik SBY yang normatif seringkali dinilai oleh masyarakat sebagai keragu-raguan, rapuh, dan tidak tegas. Terbukti dengan friksi internal di dalam partai koalisi yang dipimpinnya saat itu (Partai Demokrat), dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai pengambil berbagai keputusan kontroversial yang bersebrangan dengan partai koalisi, di mana SBY tidak melakukan tindakan tegas terhadap PKS sebagai partai koalisi yang bercitarasa oposisi. Di balik berbagai anggapan negatif terhadap gaya komunikasi politiknya pada saat itu, ternyata SBY pun pernah dianugerahi Gold Standar Awards pada tahun 2010 oleh Public Policy Affairs sebagai Komunikator Politik Terbaik 2010. Ini merupakan salah satu penghargaan dari dunia internasional terhadap kinerja SBY dalam memimpin Indonesia.
STUDI KASUS IKLAN POLITIK PASANGAN AHER-DEDDY PADA MASA PEMILU GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2013 DI TELEVISI NASIONAL INDONESIA: STUDI KASUS IKLAN POLITIK PASANGAN AHER-DEDDY PADA MASA PEMILU GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2013 DI TELEVISI NASIONAL INDONESIA Mohamad Permana, Rangga Saptya; Abdullah, Aceng; Mahameruaji, Jimi Narotama
KABUYUTAN Vol 1 No 2 (2022): Kabuyutan, Juli 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i2.35

Abstract

Dalam konteks komunikasi politik, iklan merupakan salah satu upaya untuk “memasarkan” diri dan pesan-pesan politik dari para calon pemegang kekuasaan atau bahkan pihak yang berkuasa untuk mendapatkan dan/atau mempertahankan kekuasaan. Sebagai seorang incumbent pada saat itu, Ahmad Heryawan (Aher) beriklan kembali dengan tujuan untuk melanggengkan kekuasaannya di Jawa Barat. Untuk mempertahankan kekuasaannya, ia juga menggaet Deddy Mizwar (Deddy)—yang notabene seorang aktor kawakan Indonesia—untuk mendampinginya sebagai wakil gubernur pada saat itu. Tujuan dari kajian dalam artikel ini adalah untuk menjelaskan bagaimana iklan-iklan politik pasangan Aher-Deddy yang ditayangkan di televisi-televisi nasional Indonesia pada masa pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat tahun 2013 berhasil menjadi salah satu “senjata ampuh” dalam misi mereka meraih kursi kepemimpinan di Jawa Barat pada saat itu. Kajian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, dengan memfokuskan riset pada iklan-iklan televisi pasangan Aher-Deddy disertai analisis dengan menggunakan konsep-konsep komunikasi politik. Hasil menunjukkan bahwa iklan politik yang disebarkan oleh Aher dan Deddy bertujuan untuk membentuk citra positif di tengah masyarakat Jawa Barat. Dengan iklan politik, mereka menggugah kesadaran khalayak akan eksistensi mereka di dunia politik. Selain itu, iklan politik Aher-Deddy juga bertujuan untuk mempertebal kesetiaan anggota dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhadap diri mereka sekaligus mengajak masyarakat non-partai untuk memilih mereka. Iklan politik yang mereka sebarkan secara intensif pada tahap primary dalam The Communicative Functions Model bertujuan untuk bersaing secara langsung dengan empat pasangan kandidat cagub dan cawagub Jabar dalam merebut perhatian masyarakat Jabar.
Meneropong Transisi Politik Kekuasaan Indonesia 2010-2015: Analisis Komunikasi Politik Jelang Pemilihan Presiden Republik Indonesia Tahun 2014 Permana, Rangga Saptya Mohamad; Sumarlina, Elis Suryani Nani; Darsa, Undang Ahmad
KABUYUTAN Vol 1 No 3 (2022): Kabuyutan, November 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i3.77

Abstract

Setahun menjelang Pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014, telah banyak calon yang bertarung untuk menduduki pucuk kepemimpinan tertinggi di negara ini. Banyak di antaranya yang merupakan wajah-wajah lama, seperti Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Wiranto dan Jusuf Kalla. Selain wajah-wajah lama tersebut, muncul pula beberapa tokoh politik baru yang pada saat itu muncul ke permukaan, di antaranya Joko Widodo, Mahfud MD, Hatta Rajasa, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Hary Tanoesoedibjo, dan Dahlan Ishkan, yang pada saat itu turut meramaikan bursa Pilpres 2014. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana komunikasi politik yang dilakukan para calon presiden pada kontestasi politik Pilpres 2014 yang lalu. Kajian dalam artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menggambarkan data-data yang telah terkumpul semasa proses riset berlangsung. Data-data dikumpulkan dengan metode pengumpulan data berupa observasi dan telaah dokumen. Hasil menunjukkan bahwa komunikasi politik yang para capres lakukan jelang Pilpres 2014 ini cenderung mengarah pada pencitraan diri mereka melalui media. Sebagai pemilik modal, Aburizal Bakri dan Surya Paloh bisa menggunakan kekuasaan mereka untuk mengiklankan diri mereka secara intensif melalui media-media yang mereka miliki. Para capres lain seperti Hatta Rajasa juga sudah “melempar” iklan pada masyarakat dan disiarkan di beberapa televisi swasta nasional pada saat itu. Fenomena koalisi di kalangan partai politik juga mewarnai ranah komunikasi politik jelang Pilpres RI 2014. Parpol-parpol yang mengusung capres mulai ramai mengajak serta parpol lain untuk mendukung manuver yang sedang dan akan mereka lakukan pada saat itu.
PERILAKU KOMUNIKASI KELOMPOK-KELOMPOK INDIVIDU DI TERMINAL LEUWI PANJANG PADA ERA PRA-TRANSPORTASI UMUM DARING: PERILAKU KOMUNIKASI KELOMPOK-KELOMPOK INDIVIDU DI TERMINAL LEUWI PANJANG PADA ERA PRA-TRANSPORTASI UMUM DARING Mohamad Permana, Rangga Saptya; Nani Sumarlina, Elis Suryani; Ahmad Darsa, Undang
KABUYUTAN Vol 2 No 1 (2023): Kabuyutan, Maret 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i1.122

Abstract

Bisa dibilang, Terminal Leuwi Panjang (selanjutnya disebut TLP) adalah salah satu terminal bus terbesar di wilayah Bandung Raya, jika bukan yang terbesar. Terminal yang berada di lahan seluas 15.545,43 m2 ini kini berkonsep mixed-use, di mana terminal tidak hanya sebagai simpul transportasi naik-turun penumpang, namun juga menjadi pusat perekonomian dan kegiatan masyarakat. Terdapat banyak perilaku komunikasi yang berlangsung di antara kelompok-kelompok individu melalui interaksi-interaksi yang mereka lakukan di TLP. Penulis merasa bahwa perilaku-perilaku komunikasi yang terjadi di TLP sebelum maraknya transportasi daring yang dimulai pada tahun 2014-2015 di Bandung merupakan fenomena yang menarik untuk dibahas, karena kaya akan konteks komunikasi di dalamnya, terutama dalam konteks komunikasi persuasif. Kajian dalam artikel ini bertujuan untuk menjelaskan dan menggambarkan bagaimana perilaku komunikasi kelompok-kelompok individu di TLP pada era pra-transportasi umum daring. Penulis menggunakan metode observasi dalam penelitian ini. Penulis mengobservasi lima kelompok individu utama yang selalu ada di tiap terminal bus, termasuk di TLP, yakni sopir, kondektur dan kernet, calo penumpang, calon penumpang, serta pedagang. Adapun fenomena yang diamati adalah perilaku-perilaku komunikasi dari kelima kelompok individu tersebut, lebih tepatnya dari unsur komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Hasil menunjukkan bahwa terdapat lima belas proposisi yang melibatkan para sopir, kondektur dan kernet, calo penumpang, calon penumpang serta pedagang, di mana kelimabelas proposisi tersebut menunjukkan berbagai konteks komunikasi, mulai dari komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, dan komunikasi persuasif, yang ditunjukkan melalui kode-kode verbal dan nonverbal, di mana konteks bahasa dan budaya juga terlibat di dalam tiap interaksi yang mereka lakukan.
IMPLEMENTASI KOMUNIKASI POLITIK BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT BADUY: IMPLEMENTASI KOMUNIKASI POLITIK BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT BADUY Nani Sumarlina, Elis Suryani; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Ahmad Darsa, Undang
KABUYUTAN Vol 2 No 1 (2023): Kabuyutan, Maret 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i1.129

Abstract

Setiap suku bangsa tentu memiliki kearifan lokal secara turun temurun, demikian halnya dengan masyarakat Sunda. Salah satunya yang masih eksis saat ini adalah sistem pemerintahan, kepemimpinan, dan pembagian kekuasaan, di masyarakat adat Baduy, yang dikenal dengan Tri Tangtu Di Buana, yakni Tiga kelembagaan yang memiliki kekuasaan dalam bidangnya masing-masing, yang terdiri dari Prebu, Rama, dan Resi. Ketiganya berkelindan erat dengan lembaga kapuunan (pemerintahan) masyarakat adat Baduy dan disebut Tangtu Telu, yang merepresentasikan tiga kapuunan yang mengatur kehidupan komunitas masyarakat adat Baduy, yakni Puun Ponggawa (Prebu) di Cibeo, Puun Rama di Cikeusik, dan Puun Resi di Cikartawana. Ketiga lembaga tersebut, membawahi beberapa jabatan yang berfungsi sebagai pembantu dan penyambung lidah, baik kepada masyarakat Baduy maupun untuk berurusan dengan pihak luar (pemerintah), yang terdiri atas puun, jaro tangtu, pangiwa, dan jaro pamaréntah; serta pemimpin tiap kampung, yaitu kokolot lembur. Keterjalinan lembaga dan jabatan di sana, membuka peluang terjadinya aktivitas komunikasi politik. Bagaimana implementasi komunikasi politik dalam lembaga kapuunan (pemerintahan) Baduy tersebut merupakan tujuan dari penelitian ini, dengan menggunakan penelitian kualitatif, khususnya metode fenomenologi, melalui metode pengumpulan data wawancara dan observasi. Hasil menunjukkan bahwa implementasi komunikasi politik yang terjadi dalam proses penunjukkan/pemilihan puun, jaro tangtu, jaro pamaréntah dan kokolot lembur dilaksanakan dan diterapkan dalam pemberian kuasa dan jabatan dalam berbagai konteks komunikasi, yaitu komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok secara top-down dan bottom-up.
KABAYAN, SANG TRICKSTER SUNDA: ANTARA HUMOR DAN KRITIK: KABAYAN, SANG TRICKSTER SUNDA: ANTARA HUMOR DAN KRITIK Mohamad Permana, Rangga Saptya; Nani Sumarlina, Elis Suryani; Ahmad Darsa, Undang
KABUYUTAN Vol 2 No 2 (2023): Kabuyutan, Juli 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i2.163

Abstract

Kisah Trickster, dalam tradisi lisan di seluruh dunia, adalah sebuah cerita yang menampilkan seorang protagonis yang memiliki kekuatan magis dan dicirikan sebagai ringkasan dari hal-hal yang berlawanan. Genre cerita rakyat Trickster muncul dalam beberapa bentuk di setiap budaya, termasuk di Indonesia, khususnya di masyarakat Sunda, lewat sosok Kabayan. Kabayan merupakan sosok yang bisa dititipi pesan, tergantung dari tujuan, motivasi dan misi pengarangnya. Dalam setiap dongengnya, Kabayan tidak pernah lepas dari unsur humor dan beberapa pencipta memasukkan unsur-unsur kritik dalam nuansa humor Kabayan. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan kajian mengenai Kabayan sebagai medium kritik. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menjelaskan bahwa Kabayan bisa digolongkan sebagai sosok Trickster dan untuk menjelaskan bagaimana sosok Kabayan bisa digunakan sebagai medium kritik. Penulis menggunakan metode kajian literatur dalam kajian ini, dengan menggunakan referensi-referensi yang membahas konsep-konsep mengenai Trickster, Kabayan dan tokoh-tokoh sejenisnya, dan Kabayan sebagai medium kritik. Hasil menunjukkan bahwa Kabayan adalah Trickster berwujud manusia yang tergolong ke dalam “Pahlawan Cerdik”, di mana tokoh Trickster lain yang mendekati sosoknya adalah Juha dan Abu Nawas dari Timur Tengah. Kabayan juga diakui secara global sebagai salah satu sosok Trickster dalam buku Trickster and Hero: Two Characters in the Oral and Written Traditions of the World (2012) karya Harold Scheub. Terkait dengan Kabayan sebagai medium kritik, salah satu contoh yang paling relevan adalah ketika Utuy Tatang Sontani menggunakan sosok Kabayan dalam karya pementasan teaternya yang berjudul Si Kabayan (1959), di mana ia menggunakan Kabayan sebagai medium untuk mengkritisi masyarakat Indonesia yang terlalu bergantung pada hal-hal mistis untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka miliki.
TUNAS BERSEMI DI BUMI NUSANTARA: PERTALIAN ANTARA TARUMANAGARA - KUTAI KARTANEGARA BERDASARKAN TRADISI PERNASKAHAN KUNO: TUNAS BERSEMI DI BUMI NUSANTARA: PERTALIAN ANTARA TARUMANAGARA - KUTAI KARTANEGARA BERDASARKAN TRADISI PERNASKAHAN KUNO Ahmad Darsa, Undang; Mohamad Permana, Rangga Saptya; Nani Sumarlina, Elis Suryani
KABUYUTAN Vol 2 No 2 (2023): Kabuyutan, Juli 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i2.171

Abstract

Pada saat ketika seluruh sistem geopolitik dan ekonomi global nampak berada dalam perputaran perkembangan tatanan baru, sebuah penelaahan terhadap teks-teks tertulis khususnya tradisi naskah kuno mengenai dasar-dasar ideologis dari pemerintahan asli bukanlah tidak pada tempatnya dan malahan mungkin akan menjadi penarik perhatian yang melebihi minat teoretika semata-mata. Konsepsi-konsepsi ideologis keagamaan dan filsafat (religio philosophical) yang menjadi dasar dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masa lalu masih merupakan energi-energi yang hidup yang harus kita perhitungkan, dan tentu saja dengan memasukkan buah-buah pemikiran baru. Dengan demikian, kita mengelakkan pemutusan seluruhnya hubungan dengan masa silam, suatu penghancuran yang berbahaya bagi pemikiran dan kebudayaan bangsa.
Local Expertise the Baduy Indigenous Community as a Literacy Reference in The Millennium Era Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Ganjar Kurnia; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 1 (2023): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i1.25131

Abstract

Every ethnic group has inherited local cultural wisdom from their predecessors. Similarly, the Sundanese people's riches include a wide range of great ideas, religious systems, and perspectives on life. This local wisdom can be utilized as a reference for the next generation, as it is still relevant to modern millennial life. One is related to the habits, traditions, and religious systems practiced by the Baduy traditional community. This indigenous wisdom is reflected in rituals and traditions that the community still follows and fiercely adheres to. This is inextricably linked to their belief system. Baduy society's beliefs are based on Sundanese Wiwitan teachings. The existence of these teachings is intimately related to the customs. This page also seeks to reveal the calculation and calendar system, which will serve as a reference and guideline for 'kolénjér' and 'literature' calculations. This study employs both descriptive analytical research methodologies and multidisciplinary cultural study methods, such as ethnography, social anthropology, communication, and oral traditions. The findings can disclose practices, traditions, religious systems, calculations, and calendars that have previously been hidden and unknown to individuals outside Baduy and are generally significantly different from other belief systems. The findings of this study can be used as a literacy resource for other scientific domains in a multidisciplinary context. 
The Relevance of the Tatamba Mantra Manuscript and Family Medicinal Plants (TOGA) in the Baduy Indigenous Community Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Wina Erwina; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i2.25774

Abstract

Sundanese manuscripts are still relatively unknown in today's society. Perhaps it is regarded a new science with no benefit to scientific development. In truth, manuscripts and writings as subjects of philological study have been known in Alexandria from the third century BC, according to a character named Erasthothenes. Manuscripts as cultural documents and literary references for other sciences must be made aware of their existence in the current millennium, as many manuscripts' contents remain unknown. One of them is Family Medicinal Plants (TOGA), which is revealed in the manuscript text of the Tatamba mantra and is used by the Baduy indigenous community to boost endurance and immunity. The Tatamba manuscript's significance to Baduy TOGA must be maximized in order to determine the kind, function, dose, processing technique, and therapy actions, as well as the usage of TOGA for health maintenance based on the Tatamba manuscript. Descriptive research, comparative analysis, and text criticism study methodologies, as well as codicology and textology, pharmacology, health communication, and transdisciplinary cultural studies, were investigated. TOGA in the Tatamba mantra manuscript is relevant to the lives of the Baduy indigenous community because it is supported by the ngukus tradition, which is a ngajampé ceremony'reciting mantras' to pray for the safety, health, and welfare of the Baduy indigenous community, which is performed once a year when the ngalaksa tradition is carried out. This topic is relevant not only to philology, but also to other multidisciplinary fields such as agriculture, pharmacy, medicine, cultural communication, anthropology, and public health.
The Integration of the Requirements and Characters of the Pupuh in the Wawacan Panji Wulung Manuscript Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Abdul Rasyad; Wina Erwina
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i1.28065

Abstract

Manuscripts, as a legacy and cultural inheritance of predecessors, are vital cultural documents for the advancement of a society's culture. Consequently, manuscripts must not be undervalued. This is comprehensible, as their existence can still be realized in the Generation Z age. The important and interesting manuscripts studied in this article are manuscripts in the Sundanese literature category in the form of Wawacan, which is closely related to pupuh. Wawacan has an influence on the Sundanese literary treasury. The purpose of this study is to explain the definition, position and classification, as well as the requirements and character of pupuh in an effort to support understanding of the ins and outs of WPW. This article's examination of the literary elements aims to offer an overview, context, and elucidation of the Wawacan Panji Wulung text, which was widely esteemed and utilized as an educational reference, culminating in six print editions during its era. This article is part of qualitative research, employing descriptive analysis methodologies through sociological literary approaches, hermeneutics, which are intrinsically linked to philological studies, both codicologically and textologically, as well as cultural studies in general. The study's results demonstrate the interconnection between the requirements and characteristics of the pupuh, together with the complexities of Wawacan Panji Wulung. This page serves as a reference for literacy across several scientific disciplines in a multidisciplinary context.