Claim Missing Document
Check
Articles

Education and Character Development in the Sundanese Manuscript Texts Pupujian and Nadoman in the Millennial Era Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal IKADBUDI Vol. 14 No. 2 (Special Issue) (2025): Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Dae
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v14i2.90487

Abstract

Collecting, describing, transliterating, editing, and studying the Pupujian texts derived from Sundanese manuscripts, codified at Islamic boarding schools, is a challenging endeavor. The contents are religious/Islamic, representing cultural assets derived from the ingenuity of Sundanese forebears, whose presence in the contemporary millennial era is hardly acknowledged in madrasas, mosques, prayer rooms, or Islamic boarding schools. If neglected and unpreserved, it will be lost to history. The examination of Character Education in Sundanese manuscript texts is conducted from a literary and cultural standpoint, focusing on the elements that shape the character of the nation's youth, encompassing discipline, responsibility, heroism, faith, Islamic teachings, prophetic history, Islamology, and the relationships between humans and God, among humans, and with the environment. Utilized descriptive comparative analysis, philological methodologies, codicology, textology, and hermeneutic studies of literary and cultural works to serve as a literacy reference for other disciplines in the contemporary millennial age. The Pupujian manuscript is intricately connected to the 'yellow book,' which is significantly linked to the development of the nation's character and identity.
RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA: RINEKASASTRA MAJAS DALAM TEKS NASKAH MANTRA SUNDA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.177

Abstract

Unsur majas dalam sebuah teks puisi tidak dapat dilepaskan dari kajian linguistik dan stuktur karya sastra. Demikian pula dalam teks mantra yang memiliki fungsi sangat penting, dalam upaya menunjang kepuitisan teks mantra itu sendiri, di samping unsur rima, irama, diksi, dan citraan. Melalui majas itulah teks mantra mampu menarik perhatian pembaca, membuat lebih hidup, serta dapat menimbulkan kesegaran, terutama dalam upaya menimbulkan kejelasan gambaran angan. Unsur Majas dalam teks naskah mantra Sunda mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain agar gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan lebih hidup. Yang dimaksud majas dalam teks mantra Sunda adalah kiasan kata untuk menghidupkan lukisan maupun perasaan yang akan diungkapkan lebih nyata, tergambarkan lebih jelas, lebih terasa, dan lebih ekspresif. Bahasa yang digunakan dalam majas lebih menonjol, melalui kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya yang biasa, menjadi luar biasa, untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan makna serta ekspresi dengan cara memanfaatkan perbandingan, pertentangan, dan pertautan hal yang satu dengan hal lainnya yang ada dalam sebuah teks mantra. Menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, melalui metode kajian struktur puisi mantra dan maknanya, sehingga majas yang terdapat dalam teks mantra Sunda, yang meliputi majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas pertautan dapat ditelusuri melalui rinekasastra-nya ‘upaya memperhalus perkataan (cerita) agar lebih indah’, karena bahasa itu dianggap hanya sekadar ‘bahan’, keindahan dan kehalusan bahasa menjelma setelah mengalami pengolahan (digubah oleh pengarang).
KONTRIBUSI PULAU JAWA UNTUK KULTUR SINEMA INDONESIA: KAJIAN SINGKAT FESTIVAL-FESTIVAL FILM DI PULAU JAWA: KONTRIBUSI PULAU JAWA UNTUK KULTUR SINEMA INDONESIA: KAJIAN SINGKAT FESTIVAL-FESTIVAL FILM DI PULAU JAWA Rangga Saptya Mohamad Permana; Pandu Watu Alam; Sri Seti Indriani
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.179

Abstract

Festival film merupakan salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji karena sifatnya yang multidisipliner, karena kita bisa mengkaji festival film dari berbagai sudut pandang, mulai dari perspektif ekonomi, manajemen, budaya, sejarah, hingga geografi. Terkait dengan festival film, Indonesia sendiri memiliki banyak festival film yang rutin diadakan setiap tahunnya baik yang berskala nasional maupun regional, khususnya di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa sendiri, beberapa festival film telah lama diselenggarakan dan rutin diadakan setiap tahunnya, baik itu festival film internasional seperti Festival Film Bandung (FFB) di Bandung, ARKIPEL di Jakarta, atau Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta, serta festival film berskala nasional, seperti Festival Film Purbalingga (FFP) di Purbalingga dan Malang Film Festival (MAFI Fest) di Malang. Tujuan dari kajian ini adalah untuk untuk memberikan gambaran mengenai kondisi festival film di Indonesia secara umum, dan khususnya lima festival film di Pulau Jawa yang disebutkan sebelumnya. Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kajian literatur dalam kajian ini. Hasil menunjukkan bahwa meski mayoritas festival film di Indonesia masih berupa audience festivals, namun setidaknya festival-festival film di Indonesia sudah dalam trek yang benar dan turut mendukung kemajuan industri film Indonesia karena seringkali menjadi titik awal perjuangan para sineas nasional maupun internasional asal Indonesia. Pulau Jawa masih menjadi barometer festival film di Indonesia, dengan berbagai misi, kepentingan dan genre yang diusung oleh masing-masing festival tersebut. Hal ini juga berlaku untuk lima festival film di Pulau Jawa, yakni FFB, ARKIPEL, JAFF, FFP dan MAFI Fest. Mulai dari program festival hingga film-film yang disajikan kepada penonton festival, kelima festival film tersebut memiliki kualitas tersendiri, yang masing-masing berkontribusi untuk kultur sinema Indonesia.
RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO: RAJA-RAJA SUNDA PERIODE KERAJAAN PAJAJARAN BERDASARKAN TRADISI TULIS SUNDA KUNO Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.185

Abstract

Sumber data penelitian ini berdasarkan tradisi tulisan Sunda kuno berupa naskah daun lontar pada Kropak 406 yang berjudul Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan. Perbandingannya dilakukan dengan menggunakan teks piagam pelat tembaga Kebantenan dan prasasti Batutulis Bogor. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji bukti-bukti tertulis yang menggambarkan kondisi kehidupan para Raja Sunda pasca berdirinya Kerajaan Pajajaran, serta mengungkap latar belakang kondisi sosial yang menyebabkan kronologis berakhirnya pemerintahan kerajaan di wilayah Sunda. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diambil pendekatan teori filologi karena berkaitan dengan proses pengkajian sumber tradisi tertulis, disertai dengan upaya penafsiran isi teks pada sumber data tersebut dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Metode penelitian kualitatif diterapkan untuk memahami fakta di balik realitas yang dapat diamati atau dirasakan secara langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan sebutan “Kerajaan Pajajaran” yang berlangsung selama kurun waktu 97 tahun (1482-1579 M). Kerajaan ini diperintah oleh 6 raja: (1) Maharaja Sri Baduga yang menjadi Maharaja Sunda pertama dan Galuh atau Maharaja Pajajaran yang berkuasa selama 39 tahun; (2) Prabu Surawisesa yang bertahta sebagai Maharaja Pajajaran selama 14 tahun; (3) Prabu Ratudewata yang memerintah sebagai Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (4) Sang Prabhusakti yang menyandang gelar Maharaja Pajajaran selama 8 tahun; (5) Prabu Nilakendra yang menjadi Raja Pajajaran; dan (6) Prabu Ragamulya yang merupakan Raja Pajajaran terakhir yang memerintah selama 16 tahun. Pada tahun 1579 M, Kerajaan Pajajaran lenyap dan melebur menjadi Kesultanan Banten dan Cirebon.
MANUSKRIP WAWACAN PANJI WULUNG KRITIK TEKS DAN KAJIAN HERMENEUTIK KARYA SASTRA: MANUSKRIP WAWACAN PANJI WULUNG KRITIK TEKS DAN KAJIAN HERMENEUTIK KARYA SASTRA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i1.213

Abstract

Tulisan ini mengambil objek kajian manuskrip berjudul Wawacan Panji Wulung, karya H. Muhamad Musa, salinan tahun 1862. Manuskrip tersebut diyakini satu-satunya karya sastra Sunda berujud manuskrip, yang disalin ke dalam teks manuskrip Jawa. Manuskrip Wawacan Panji Wulung (WPW) berdasarkan hasil penelitian Sumarlina (1990), teridentifikasi sebanyak delapan buah, terdiri atas dua buah teks naskah dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip) dan enam buah teks naskah cetakan. Namun dalam tulisan ini secara khusus hanya melibatkan tiga buah manuskrip. Teks-teks naskah WPW dimaksud menggunakan huruf Cacarakan dan huruf Latin, berbahasa Sunda dan Belanda. Kedelapan manuskrip itu teksnya tidak ada yang utuh. Melalui garapan filologis, baik kodikologis maupun tekstologis, akhirnya dapat ditentukan tiga buah teks naskah WPW yang lebih banyak digunakan dalam rangka menyusun sebuah Edisi Teks Wawacan Panji Wulung yang lengkap dan bebas dari kesalahan, agar dapat lebih mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat pada saat ini, sehingga akhirnya bisa dipertanggungjawabkan dan dipandang mendekati teks aslinya. Metode penelitian menggunakan deskriptif analisis komparatif. Penggarapan teks didasarkan kepada metode landasan dan metode gabungan. Untuk teks WPW melibatkan pendekatan filologi dan hermeneutik. Kecacatan WPW ini disebabkan oleh gejala salah tulis di dalam tradisi penurunan sepanjang sejarah perkembangannya, meliputi penggantian (substitutions), penghilangan (omissions), penambahan (additions), dan perubahan (transpositions). Edisi Teks WPW yang digubah dalam bentuk wawacan, meliputi sebanyak 28 pupuh yang terdiri atas 1018 pada. Manuskrip WPW termasuk ke dalam salah satu khazanah susastra Sunda yang memiliki nilai tinggi, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra lainnya yang sejaman. Hal ini tampak dari hasil tinjauan dari sudut pandang karya sastra, meskipun tinjauan yang dilakukan belum menyeluruh dan mendalam. Tinjauan dari aspek sastra pada dasarnya hanyalah sebagai pembuka jalan bagi penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain.
KABUYUTAN DALAM TRADISI SUNDA: KABUYUTAN DALAM TRADISI SUNDA Undang Ahmad Darsa; Rangga Saptya Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.244

Abstract

Artikel ini berjudul Kabuyutan dalam Tradisi Sunda. Sumber data kajiannya didasarkan pada tradisi tulis Sunda Kuno berupa naskah lontar, piagam lempengan logam, maupun prasasti. Adapun tujuannya penulisan artikel adalah menelusuri bukti jejak-jejak tempat aktivitas keagamaan berupa kabuyutan yang terpantulkan dalam lingkungan tradisi masyarakat Sunda Kuno pada zamannya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut ditempuh melaui pendekatan filologi karena berkaitan dengan proses kajian sumber tradisi tulis dalam upaya peafsiran data yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian kualitatif diterapkan dalam upaya memahami fakta di balik kenyataan yang dapat diamati atau diindera secara langsung.Hasilnya diperoleh bukti, pertama, kabuyutan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda sudah sangat akrab, baik di telinga maupun di hati. Istilah kabuyutan ini adalah kosa kata asli Sunda dari kata dasar buyut (artinya: 1. generasi ke-4 dari ego: anak-indung/bapa-nini/aki-buyut; 2. pamali ‘tabu, bertuah, suci’) ditambah konfiks ka-an menunjukkan tempat atau lokasi. Jadi, kabuyutan secara generik mengandung arti suatu lokasi yang oleh masyarakat setempat dianggap mempunyai kesaktian, bertuah, angker, suci, atau sebuah tempat keramat. Istilah keramat itu sendiri berasal dari kosa kata bahasa Arab: karamah yang mengadung makna ‘mulia’. Kedua, menurut catatan yang tertuang dalam teks-teks tradisi tulis Sunda Kuno, artinya sejauh hal itu terdapat dalam berbagai sumber data, tempat yang dianggap keramat dan suci yang dinamakan kabuyutan itu dapat diduga ada yang dengan sengaja didirikan atau dibangun langsung pada masanya. Akan tetapi, tidak jarang masyaarakat itu cukup menata dan hanya memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam di lingkungan tempat tinggalnya. Apabila sebuah tempat sudah dianggap sebagai kabuyutan, apakah di situ ada benda cagar budaya atau tidak, bukan menjadi sesuatu perdebatan yang utama. Bagi masyarakat sekitarnya, lokasi-lokasi semacam itu adalah tempat suci dan keramat sehingga hampir tidak ada yang berani bertindak gegabah di situ.
MENELUSURI EKSISTENSI DAN FUNGSI TEKNOLOGI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT KAMPUNG NAGA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Wina Erwina
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 3 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i3.263

Abstract

Perkembangan teknologi di era milenial saat ini memang tidak bisa kita hindari. Namun sebagai generasi muda, kita dituntut agar pandai memilih dan memilah serta mencerna budaya asing yang masuk, mana yang baik, dan mana yang tidak baik untuk diterima. Khususnya kearifan lokal yang berkaitan dengan teknologi serta seluk-beluknya, yang harus tetap dirawat dan dilestarikan, bahkan kalau bisa dikembangkan tanpa menghilangkan keasliannya. Teknologi yang canggih memacu kita menuju kebudayaan industri. Tetapi, dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, masih terdapat beberapa suku bangsa yang tetap bersikukuh mempertahankan budaya tradisional dan adat istiadat, serta tradisinya. Salah satunya masyarakat adat Kampung Naga, yang tinggal di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Teknologi tradisional yang masih tersimpan dan digunakan oleh masyarakat adat Kampung Naga ditelusuri dan dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, serta metode kajian hermeneutik, sosiologis, antropologis, dan kajian budaya. Diharapkan mampu mengungkap beragam teknologi tradisional yang ada di Kampung Naga dari berbagai alat, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya, sesuai dengan adat dan tradisinya.
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN STUNTING DALAM MANUSKRIP SUNDA KUNO ABAD XVI M. Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.381

Abstract

Manuskrip yang lebih dikenal dengan istilah naskah, di era Generasi Z saat ini masih eksis dan sangat dibutuhkan. Itu sebabnya, manuskrip perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Banyak teks naskah Sunda Kuno Abad XVI Masehi tersebut yang belum terungkap isinya, terutama yang terkait dengan antistunting. Hal ini dimaklumi, karena para pegiat naskah Sunda kuno terkendala dengan penguasaan aksara, bahasa, dan kandungan isinya. Padahal berdasarkan informasi dari katalog, museum, perpustakaan, pasulukan, maupun tempat penyimpanan naskah lainnya, ada puluhan manuskrip Sunda kuno yang ditengarai mengungkap seluk beluk cara pencegahan, perawatan, dan pemeliharaan janin sejak dalam kandungan Ibu hamil hingga remaja, dengan memanfaatkan tanaman obat tradisional, yang mampu mencegah gagal tumbuh kembangnya bayi. (stunting). Jika isi hasil penelitian dan pengkajian antistunting tersebut tidak segera disosialisasikan dan diinformasikan, maka akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan para Gen Z ke depannya. Manuskrip Antistuting mengungkap beragam jenis, fungsi, dosis, cara pengolahan, dan tindak pengobatan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui metode penelitian deskriptif analisis komparatif. Adapun metode kajiannya melibatkan metode kajian filologis, baik secara kodikologis maupun tekstologis, hermeneutik, sosiologi, leksikografis, serta kajian budaya secara umum. Tulisan ini diharapkan mampu mengungkap upaya pencegahan dan penanggulangan stunting berbasis manuskrip Sunda Kuno yang terungkap dalam tanaman obat tradisional. Hasil tulisan ini diharapkan mampu menjadi referensi literasi yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin.
PERSPEKTIF FILOLOGIS TERHADAP BENDA-BENDA BUDAYA BERNUANSA SPIRITUAL PUSAKA NUSANTARA DALAM BABAD CIREBON Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.389

Abstract

Artikel ini membahas tentang naskah Babad Cirebon. Kisah yang tertuang dalam teks naskah Babad Cirebon ini merupakan sebuah karya sastra bersifat sejarah daerah Cirebon yang berpusat pada kisah tokoh Raden Walangsungsang dan Sunan Gunungjati. Karya tersebut dapat dipandang sebagai refleksi masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, pengamatan, pendeskripsian, dan analisis terhadap benda-benda budaya sebagaimana tercatat dalam naskah Babad Cirebon ini tak lain dari pembicaraan tentang kebudayaan dan masyarakat yang menghasilkannya, baik dilihat dari dalam teks Babad Cirebon itu sendiri maupun dari luarnya. Pendekatan yang dilakukan terhadap hubungan naskah Babad Cirebon dengan alam sekitar pada dasarnya mempelajari naskah ini sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial, mengingat ada semacam potret sosial yang bisa ditarik dari naskah Babad Cirebon.
FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN: FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.195

Abstract

Manuskrip sebagai dolumen budaya masa lampau, sampai saat ini masih belum dikenal luas di masyarakat. Keberadaan manuskrip hanya populer di kalangan filolog saja. Manuskrip sebagai objek kajian filologi berfungsi sebagai sumber informasi bagi ilmu lain, karena berisi berbagai data dan informasi ide, gagasan, pikiran, pandangan hidup, dan pengetahuan sejarah, serta kearifan lokal budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu, yang isinya meliputi tujuh unsur budaya. Sehubungan dengan hal itu, hasil kajian bidang filologi melalui penggalian, penelitian, dan pengkajian manuskrip, teksnya bisa menjadi referensi literasi bagi ilmu lain secara multidisiplin. Kearifan lokal yang terungkap dalam sebuah manuskrip berakar dari sejarah dan budaya masa silam. Berkat sejarah pula kita sampai di masa kini. Kita sepakat bahwa keberadaan budaya suatu ‘masyarakat’ saat ini merupakan hasil perjalanan sejarah dan pengolahan serta proses perubahan budaya masa lampau. Salah satunya kearifan lokal yang terpendam dalam teks manuskrip Sanghyang Siksakandang Karesian, yang dianggap sebagai ensiklopedia panorama budaya masa silam. Mengapa? Karena beranekaragam kearifan lokal yang ada di masa silam, masih eksis dan berguna sebagai tuntunan moral dalam kehidupan kita saat ini. Tulisan ini diharapkan dapat mengungkap kearifan lokal yang meliputi tujuh unsur budaya Sunda yang terpendam dalam teks manuskrip Sunda Kuno berjudul Sanghyang Siksakandang Karesian. Dikaji menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian filologis, yang meliputi kajian kodikologis & tekstologis, kajian budaya, dan komunikasi sosial. Meliputi metode kajian tersebut, membuktikan bahwa kearifan lokal yang terdiri atas tujuh unsur budaya tersebut tercantum dalam teks naskah Sanghyang Siksakandang Karesian sebagai ensiklopedia panorama masa lampau, yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin.