Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Assessment and Management of Dysphagia with Fiberoptic Endoscopic Examination of Swallowing (FESS) and its Future Implementation in Indonesia Tamin, Susyana; Ku, Peter K; Cheung, Dilys
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 34 (2004): Volume 34, No. 4 October - December 2004
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.715 KB) | DOI: 10.32637/orli.v34i4.293

Abstract

-
Penggunaan esofagoskopi transnasal di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Yunizaf, Rahmanofa; Zulka, Elvie; Tamin, Susyana; Surya, Guntur
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 1 (2017): Volume 47, No. 1 January - June 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.419 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i1.197

Abstract

Latar belakang: Esofagoskopi transnasal merupakan teknik diagnostik baru yang memberikankesempatan kepada spesialis Telinga Hidung Tenggorok untuk melakukan pemeriksaan traktus aerodigestif,dari vestibulum nasi sampai kardia. Tindakan ini dilakukan di poliklinik rawat jalan, dengan anestesi lokaltopikal dan tanpa sedasi.Tujuan: Mendapatkan gambaran tentang penggunaan esofagoskopi transnasaldi Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo.Laporan kasus: Dilaporkan 32 pasien yang dilakukan esofagoskopi transnasalselama Februari 2014 hingga Maret 2015, terdiri dari 20 laki-laki (63%) dan 12 perempuan (37%),dengan rentang usia 11-82 tahun. Keluhan terbanyak adalah sulit menelan sebanyak 18 pasien. Indikasiterbanyak adalah disfagia, globus atau refluks sebanyak 12 pasien. Diagnosis terbanyak adalah akalasiaesofagus sebanyak 7 pasien.Metode: Pencarian literatur dilakukan pada database EBSCO Host Medline,Cochrane dan Pubmed Medline sesuai pertanyaan klinis. Setelah dilakukan penapisan dengan kriteriainklusi dan ekslusi, didapatkan didapatkan 2 jurnal yang relevan.Hasil: Dari jurnal yang didapatkan,merupakan laporan kasus serial yang dilakukan esofagoskopi transnasal pada pasien dengan keluhantraktus aerodigestif.Kesimpulan: Esofagoskopi transnasal telah menghasilkan layanan satu pintu yangmengurangi keterlambatan diagnosis, pembiusan umum dan pemeriksaan menelan barium.Kata kunci: Esofagoskopi transnasal, esofagoskopi kaku, esofagoskopi transoral, anestesi lokal topikal ABSTRACTBackground: Transnasal esophagoscopy (TE) is a new diagnostic technique that provides theopportunity for ENT specialists to examine the aerodigestif tract, from the nasal vestibulum until the cardia,at the outpatient clinic, with topical local anesthesia and without the need for sedation. Purpose: To obtaindata of transnasal esophagoscopy in Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department, CiptoMangunkusumo Hospital. Cases: Reported 32 patients which had undergone transnasal esophagoscopyfrom February 2014 to March 2015, consisted of 20 male and 12 female, age ranged between 11-82years. Most chief complaints were difficulty of swallowing in 18 patients. Most common indications ofTE were dysphagia, globus or reflux in 12 patients. Most common diagnosis was achalasia esophagus in7 patients. Methods: The evidence based literature were searched from EBSCO Host Medline, Cochraneand Pubmed Medline database according to clinical question. After filtered with inclusion and exclusioncriteria, we found 2 journals that relevant to our case. Results: From the journals, we found reports ofserial cases of transnasal esophagoscopy on patiens with aerodigestive problems. Conclusion: Transnasalesophagoscopy provides an ‘one stop’ diagnosis service, reducing diagnostic delays, the need for endoscopyunder general anaesthesia and barium swallows.Keywords: Transnasal esophagoscopy, rigid esophagoscopy, transoral esophagoscopy, topical localanesthesia
Prevalensi refluks laringofaring pada bayi laringomalasia primer Nasution, Dina Putri; Tamin, Susyana; Hutauruk, Syahrial; Bardosono, Saptawati
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 2 (2012): Volume 42, No. 2 July - December 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v42i2.28

Abstract

Background: Primary laryngomalacia is a congenital weakness of the supraglottis structures which collapsed during inspiration causing upper airway obstruction. This condition can cause changes in gradient of intrathoraxic-abdominal pressure resulting reflux of gastric juice into the upper airway causing laryngopharyngeal reflux (LPR). Purpose: To find out the prevalence of LPR as a comorbid disease of primary laryngomalacia in infant using fiberoptic laryngoscopy examination, to know the characteristics  of samples, and the correlation between laryngomalacia with LPR. Methods: This is a cross-sectional  study to assess the prevalence of LPR in infants with primary laryngomalacia at Cipto Mangunkusumo Hospital. LPR was diagnosed based on clinical signs from flexible laryngoscopy video records. Result: The prevalence of LPR was 90% in primary laryngomalacia. There were significant differences from three of five clinical findings with LPR, such as arytenoid edema/erythema (p<0,001), ventricular fold edema (p=0,001), and vocal fold edema (p<0,001). Conclusion: Most of the samples with laryngomalacia in this study also have LPR. The presence of LPR could worsen the clinical manifestation and delay the healing of laryngomalacia. Keywords: primary laryngomalacia, fiberoptic laryngoscopy, laryngopharyngeal reflux    Abstrak :  Latar belakang: Laringomalasia primer merupakan kelainan kongenital laring berupa kelemahan pada struktur supraglotis yang terhisap saat inspirasi dan menyebabkan sumbatan jalan napas atas. Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan selisih tekanan intra-abdominal/ intratorakal sehingga terjadi refluks cairan lambung ke saluran napas atas, yang menyebabkan refluks laringofaring (RLF). Tujuan: Mengetahui prevalensi RLF pada bayi laringomalasia primer menggunakan pemeriksaan laringoskopi serat optik lentur, mengetahui karakteristik percontoh, dan hubungan laringomalasia primer dengan RLF.  Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan metode potong lintang untuk mengetahui prevalensi RLF sebagai penyakit penyerta pada bayi laringomalasia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Diagnosis RLF ditegakkan berdasarkan tanda klinis dari rekaman video laringoskopi serat optik lentur. Hasil: Prevalensi RLF diperoleh sebesar 90%. Terdapat tiga dari lima tanda klinis RLF yang berbeda bermakna dengan kejadian RLF, yaitu edema/eritema aritenoid (p<0,001), edema plika ventrikularis (p=0,001), dan edema plika vokalis (p<0,001). Kesimpulan: Hampir seluruh percontoh laringomalasia primer disertai dengan RLF. Penyakit penyerta RLF akan memperberat gejala dan memperpanjang waktu penyembuhan laringomalasia.   Kata kunci: laringomalasia primer, laringoskopi serat optik lentur, refluks laringofaring 
Disfagia fase oral dan faring pada anak sindrom Down Tamin, Susyana; Zulka, Elvie; Maryadi, Iman Pradana; Yunizaf, Rahmanofa
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 1 (2018): Volume 48, No. 1 January - June 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.379 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i1.261

Abstract

Latar Belakang: Sindrom Down merupakan kelainan kromosom autosomal yang terjadi akibat trisomi seluruh atau sebagian dari kromosom 21, yang terjadi kurang lebih 1 dari 700 kelahiran hidup. Berbagai studi mendapatkan bahwa gangguan makan (feeding difficulty) dan disfagia merupakan masalah yang umum terjadi dan terkadang persisten pada anak sindrom Down. Tujuan: Memaparkan karakteristik kelainan disfagia fase oral dan fase faring yang dapat timbul pada anak dengan sindrom Down menggunakan instrument pemeriksaan Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES). Laporan kasus: Dilaporkan 8 pasien anak dengan sindrom Down yang didapatkan dari rekam medis pasien sejak Oktober 2016 hingga September 2017, yang dilakukan pemeriksaan FEES di Poli Endoskopi Bronkoesofagologi Departemen Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Metode: Pencarian literatur secara terstruktur dilakukan dengan menggunakan Pubmed, ClinicalKey, Cochrane, dan Google scholar, sesuai dengan pertanyaan klinis berupa bagaimana karakteristik disfagia pada pasien anak dengan sindrom Down melalui pemeriksaan FEES. Pemilihan artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil didapatkan 1 artikel yang relevan. Hasil: Artikel yang didapat merupakan suatu studi retrospektif yang melaporkan gambaran deskriptif karakteristik disfagia pada anak dengan sindrom Down. Kesimpulan: Kelainan anatomis pada sindrom Down berperan pada terjadinya gangguan makan dan disfagia. ABSTRACTBackground: Down syndrome is an autosomal chromosomal disorder caused by entire or partial trisomy of chromosome 21, which occurs in approximately 1 out of 700 live births. Several studies had found that feeding difficulty and swallowing disorder (dysphagia) are common and persistent problems in children with Down syndrome. Purpose: to describe characteristics of abnormalities that can occur in children with Down syndrome using the Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES) examination. Case report: 8 Pediatric patients with Down syndrome, obtained from medical record of FEES examination in Endoscopic Bronchoesophagology Clinic of Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department (ENT-HNS) Cipto Mangunkusumo Hospital, from October 2016 up to September 2017. Method: A structured literature search was performed using Pubmed, ClinicalKey, Cochrane, and Google scholar, according to clinical question of how the characteristics of dysphagia in pediatric patients with Down syndrome through FEES examination? The selection of articles is based on inclusion and exclusion criteria which resulted in 1 relevant paper. Results: The article obtained was a retrospective study reporting descriptive characteristics of dysphagia in children with Down syndrome. Conclusion: Anatomical abnormalities in children with Down syndrome play a role in eating disorders and dysphagia. Keywords:
The role of human papillomavirus in advanced laryngeal squamous cell carcinoma Fauziah Fardizza; Bambang Hermani; Susyana Tamin
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 46, No 2 (2016): Volume 46, No. 2 July - December 2016
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3045.349 KB) | DOI: 10.32637/orli.v46i2.163

Abstract

Background: Many studies had been conducted regarding the association of human papillomavirus (HPV) with laryngeal cancer. HPV was assumed to be one of the etiology of squamous cell carcinoma (SCC) besides smoking and alcohol consumption. Neck lymph node metastasis which is found in advanced laryngeal cancer could decrease the 5-year survival rate up to 50%. Purpose: This study aimed to investigate the role of HPV infections in the oncogenesis of the advanced laryngeal SCC and to evaluate the role of HPV in neck metastasis. Methods: Cross-sectional, double blind study with planned data collection. Data were taken from Formalin Fixed Paraffin Embedded (FFPE) of laryngeal cancer specimen after laryngectomy. Samples were analyzed by nested Polymerase Chain Reaction (PCR) and continuous flow-through hybridization for genotyping. Expression of Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), and Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) as metastasis biomarker were evaluated by immunohistochemistry. Results: Overall HPV proportion in laryngeal cancer was 28.7%. A total of 9% laryngeal cancer patients were infected with high risk HPV type and HPV 16 was found in 5 out of 7 samples. Mantel-Haenszel multivariate analysis found that HPV infection did not play a role in neck metastasis even though there were positive evidences of metastasis biomarker. On the contrary, in the absent of HPV, high expression metastasis biomarkers increased the risk of neck nodes metastasis: in EGFR 3.38 and VEGF 5.14 fold. Conclusion: HPV was found to be an oncogenic factor of laryngeal SCC, and HPV 16 was the most frequently observed type of HPV. HPV had protective function towards lymph node metastasis.Keywords: Human papillomavirus, advanced laryngeal squamous cell carcinoma, expression of epidermal growth factor receptor, vascular endothelial growth factor, formalin fixed paraffin embeddedABSTRAK Latar belakang: Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat hubungan antara Human papillomavirus (HPV) dengan karsinoma sel skuamosa (KSS) laring. HPV dianggap sebagai etiologinya, selain dari merokok dan konsumsi alkohol. Metastasis kelenjar getah bening (KGB) leher merupakan salah satu faktor yang menurunkan angka kesintasan lima tahun sebanyak 50% dan sering kali terjadi pada KSS laring yang telah lanjut. Tujuan: Penelitian ini ingin mengetahui peran HPV sebagai faktor onkogenesis dan faktor risiko kejadian metastasis KGB leher pada KSS laring lanjut. Metode: Cross-sectional, double blind study dengan pengumpulan data sekunder dari rekam medis. Data diambil dari parafin blok pasien KSS laring yang telah dilaringektomi. Semua data dianalisis dengan nested Polymerase Chain Reaction (PCR), dilanjutkan dengan flow-through hybridization untuk identifikasi tipe virus HPV. Dilakukan juga pemeriksaan imunohistokimia terhadap biomarka penanda metastasis yaitu Expression of Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), dan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). Hasil: Secara keseluruhan didapatkan proporsi HPV pada KSS laring sebanyak 28,7%. Terdapat infeksi HPV tipe risiko tinggi pada 9% KSS laring, dan HPV 16 ditemukan pada 5 dari 7 sampel. Analisis multivariat Mantel-Haenszel mendapatkan infeksi HPV tidak berperan terhadap kejadian metastasis leher, meskipun didapati adanya biomarka penanda metastasis yang tinggi. Sebaliknya, pada ketiadaan infeksi HPV, adanya ekspresi biomarka metastasis yang tinggi meningkatkan risiko terjadinya metatasis KGB lokoregional pada EGFR 3,38 kali dan VEGF 5,14 kali. Kesimpulan: HPV dianggap sebagai faktor onkogenik KSS Laring, dan HPV 16 merupakan tipe yang paling sering ditemukan. HPV mempunyai fungsi protektif terhadap kejadian metastasis KGB lokoregional.Kata kunci: Human papillomavirus, advanced laryngeal squamous cell carcinoma, expression of epidermal growth factor receptor, vascular endothelial growth factor, formalin fixed paraffin embedded
Gambaran disfagia pada anak dan karakteristiknya Indah Trisnawaty; Elvie Zulka; Susyana Tamin
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 46, No 2 (2016): Volume 46, No. 2 July - December 2016
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.57 KB) | DOI: 10.32637/orli.v46i2.164

Abstract

Latar belakang: Disfagia pada anak merupakan kelainan yang sering ditemukan. Beberapa kelompok bayi dan anak dengan kelainan perkembangan dan/atau kondisi medis tertentu berisiko mengalami disfagia. Kondisi patologis yang melibatkan lokasi anatomi yang berperan dalam proses menelan, dapat berdampak negatif terhadap koordinasi fase-fase menelan. Hal ini dapat menimbulkan gejala disfagia ataupun kesulitan makan (feeding difficulties) yang akan berdampak buruk apabila tidak ditangani secara optimal. Tujuan: Mendapatkan gambaran tentang disfagia pada anak di Departemen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo. Metode: Studi deskriptif dengan desain potong lintang berdasarkan hasil pemeriksaan Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES) pada 19 pasien anak dengan disfagia. Data diambil dari status rekam medik pasien. Hasil: Didapatkan 7 feeding difficulties, 4 disfagia mekanik, 5 disfagia neurogenik, 1 disfagia campuran (disfagia mekanik dan neurogenik), 1 fungsi menelan normal sesuai usia, dan 1 disfagia neurogenik yang masih didiagnosis banding dengan disfagia mekanik fase esofageal dan feeding difficulties. Penyakit penyerta yang terbanyak adalah cerebral palsy, global delay development, hipertrofi tonsil dan adenoid, serta ensefalopati. Kesimpulan: Disfagia neurogenik pada anak paling banyak disebabkan oleh kelainan neurologik seperti cerebral palsy. Disfagia mekanik pada anak dapat disebabkan oleh hipertrofi tonsil dan adenoid.Kata kunci: Anak, disfagia, feeding difficulties, flexible endoscopic evaluation of swallowingABSTRACT Background: Dysphagia in the pediatric population are becoming more common. Certain groups of infants and children with specific developmental and/or medical conditions have been identified as being at high risk for developing dysphagia. If it does not managed properly, pathologic conditions involving any of the anatomic sites associated with the phases of swallowing can have negative impact on the coordination of these phases and lead to symptoms of dysphagia and feeding difficulties. Purpose: To obtain data in pediatric dysphagia in Otohinolaryngology-head and neck surgery, Medicine Faculty of Universitas Indonesia, dr. Cipto Mangunkusumo Hospital. Methods: A cross sectional and descriptive study of Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES) results in 19 pediatric patients with dysphagia. Data were collected from medical records. Results: Seven feeding difficulties, 4 mechanic dysphagia, 5 neurogenic dysphagia, 1 mixed (mechanic and neurogenic), 1 normal swallowing function and neurogenic dysphagia with the possibility of esophagea dysphagia. The comorbids were cerebral palsy, global delay development, adenoid-tonsil hypertrophy and ensephalopaty. Conclusion: The most common etiology of neurogenic dysphagia was cerebral palsy. Adenoid and tonsil hypertrophy were the common cause of mechanic dysphagia.Keywords: Children, dysphagia, feeding difficulties, flexible endoscopic evaluation of swallowing
Patogenesis dan diagnosis gangguan napas saat tidur dengan Drug Induce Sleep Endoscopy (DISE) Elvie Zulka Kautzia Rachmawati; Wresty Arief; Susyana Tamin; Rahmanofa Yunizaf; Fauziah Fardizza
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.548 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i2.229

Abstract

Latar belakang: Obstructive sleep apnea (OSA) ialah penyakit kronis yang terjadi akibat episode intermiten sumbatan jalan napas komplit atau sebagian saat tidur. OSA dapat menimbulkan komplikasi seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke dan excessive daytime sleepiness yang dapat berakibat fatal. OSA merupakan bagian dari gangguan napas saat tidur. Tujuan: Mengindentifikasi letak atau level dan konfigurasi sumbatan pada saat tidur. Tinjauan pustaka: Cara untuk mendiagnosis OSA adalah nasofaringolaringoskopi dengan Muller`s maneuver, pemeriksaan polisomnography (PSG), dan drug induce sleep endoscopy (DISE). Pemeriksaan PSG merupakan standar baku emas untuk mendapakan nilai apnea-hipopnea index (AHI) yang menentukan derajat OSA. Pemeriksaan untuk mengidentifikasi lokasi sumbatan jalan napas yang menyebabkan peningkatan resistensi aliran udara adalah Muller`s maneuver dan DISE. Pada pemeriksaan DISE, digunakan propofol atau midazolam secara intravena untuk menstimulasi keadaan sumbatan pada saat tidur, dilanjutkan dengan pemeriksaan nasofaringolaringoskopi. Kesimpulan: Pemeriksaan ini merupakan cara yang sangat terpercaya untuk menentukan level sumbatan pada keadaan tidur, sehingga jenis tindakan operasi yang dilakukan menjadi lebih tepat. Kata kunci: Drug induced sleep endoscopy, midazolam, propofol, manuver Muller’s, obstructive sleep apnea, polisomnografi  ABSTRACT Background: Obstructive sleep apnea (OSA) is a common chronic disorder caused by intermittent episodes of complete or partial upper airway obstruction during sleep. It may lead to complications such as hypertension, diabetes mellitus, stroke, as well as excessive daytime sleepiness which can be fatal. OSA is a part of sleep disorder breathing. Purpose: To identify the sites or the levels of obstruction and its configuration. Literature review: Muller’s maneuver upon nasopharyngoscopy, polysomnography (PSG), and drug-induced sleep endoscopy (DISE) are the modalities for diagnosing OSA. Polysomnography is the gold standard examination for OSA, one of the variables; the apnea-hipopnea index (AHI) is used to determine the presence and severity of OSA. Muller’s maneuver and DISE are the examination to identify the sites responsible for increase in airflow resistance. DISE technique uses intravena injection of propofol or midazolam to produce obstruction in a “natural sleep” condition followed by nasopharyngolaryngoscopy examination. Conclusion: DISE is considered as a very reliable means to define the level of obstruction during sleeping, thus could help to determine appropriate surgery. Keywords: Drug induced sleep endoscopy, midazolam, propofol, Muller’s maneuver, obstructive sleep apnea, polisomnography
Proton pump inhibitors effect on the quality of life of patients with laryngopharyngeal reflux Susyana Tamin; Elvi Zulka; Rahmanofa Yunizaf; Adang Bachtiar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 51, No 2 (2021): VOLUME 51, NO. 2 JULY - DECEMBER 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i2.438

Abstract

ABSTRACTBackground: Laryngopharyngeal reflux (LPR) is a condition caused by retrograde flow of gastric contents to the larynx, pharynx, trachea, and bronchus, which can affect patients’ quality of life (QOL). Purpose: To evaluate the effect of proton pump–inhibitor (PPI) therapy on the quality of life of patients with laryngopharyngeal reflux (LPR). Methods: This randomized controlled trial study involved 52 patients with dysphagia. The short-form REFLUX-QUAL® questionnaire was used to assess QOL. The patients were given lansoprazole twice daily as early diagnostic method as well as a therapy for LPR. If improvement found, PPI therapy was continued for two months. Afterwards patients was randomly divided into continuous therapy group (n = 25) or an on-demand therapy group (n = 27). Results: There was no significant difference in gender, age group, or economic level among subjects in both groups. Treatment with PPIs both continuously and on-demand significantly improved patients’ QOL from 44.83 ± 19.11 to 83.37 ± 11.51 (p <0.001). Significant improvements occurred in almost all of eight QOL domains as compared at the start of and six months into PPI therapy (p <0.001); discomfort remained the exception as patients with LPR must continue to avoid certain foods, (p = 0.233). However, there was no significant difference between the continuous and on-demand therapy groups concerning improvements in the quality of life (p = 0.281). Conclusion: Treatment with PPIs either continuously or on-demand for six months significantly improved patients’ quality of life, with no significant difference between the two treatment groups.Keywords: proton pump inhibitor, PPI, quality of life, laryngopharyngeal reflux, LPRABSTRAKLatar belakang: Refluks laringofaring (RLF) adalah kondisi terjadinya aliran balik isi lambung ke laring, faring, trakea, dan bronkus yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Terapi empiris Proton Pump Inhibitor (PPI) merupakan pendekatan diagnosis dan metode terapi untuk RLF. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan PPI terhadap kualitas hidup pasien RLF Metode: Penelitian secara uji acak terkendali ini melibatkan 52 pasien dengan keluhan disfagia. Digunakan Reflux-Qual Short form (RQS) untuk menilai kualitas hidup subjek. Pasien diberikan lansoprazole dua kali sehari sebagai diagnosis dini dan terapi untuk refluks. Apabila terdapat perbaikan, PPI diteruskan selama 2 bulan, kemudian pasien dibagi menjadi 2 grup secara acak. Kelompok pasien yang mendapatkan terapi secara kontinu terdiri dari 25 pasien, sedangkan kelompok terapi on-demand terdiri dari 27 pasien. Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan pada jenis kelamin, usia, tingkat ekonomi antara pasien pada kelompok terapi kontinu dan on-demand. Pengobatan PPI secara kontinu dan on-demand secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien dari 44,83 ± 19,11 menjadi 83,37 ± 11,51 (p<0,001). Selain itu, terdapat perbaikan yang signifikan pada hampir semua dari delapan domain kualitas hidup pada bulan keenam terapi PPI dibandingk an awal terapi, kecuali pada domain ketidaknyamanan pasien karena pasien harus menghindari makanan tertentu (p = 0,233). Namun, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada kelompok terapi secara kontinu dan on-demand pada peningkatan kualitas hidup (p = 0,281). Kesimpulan: Pengobatan PPI secara kontinu dan on-demand selama 6 bulan secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien RLF. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok tersebut terhadap peningkatan kualitas hidup.Kata kunci: penghambat pompa proton, PPI, refluks laringfaring, refleks laringofaring, kualitas hidup
A survey of Indonesian otolaryngologist behavior in medical service during the CoVid-19 pandemic Indra Zachreini; Jenny Bashiruddin; Susyana Tamin; Harim Priyono; Ika Dewi Mayangsari; Respati Ranakusuma; Natasha Supartono; Fikri Mirza Putranto; Dewo Aksoro; Selfiyanti Bimantara; Yussy Afriana Dewi; Kote Noordhianta; Bintang Napitupulu; Sagung Rai Indrasari; Nyilo Purnami; Tengku Siti Hajar Haryuna; Juliandi Harahap; Eka Savitri; Tjandra Manukbua
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 51, No 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i1.444

Abstract

Background: World Health Organization (WHO) announced a newly discovered virus that first identified in Wuhan, China on December 2019, namely SARS-CoV-2 as the cause of corona virus disease (COVID-19) which had become global pandemic. Doctors as medical practitioners are categorized as vulnerable group to be infected by corona virus, and many otorhinolaryngologists had been infected and even died in performing medical services. Among the causative factors why otorhinolaryngologists could get infected by corona virus is their behavior. Purpose: To assess the behavioral level of otorhinolaryngologists in medical services during Covid-19 pandemic. Method: Descriptive study with a cross sectional design. Research samples were otorhinolaryngologists in Indonesia who met the inclusions criteria. The samples were selected by consecutive sampling method, and obtained 1299 subjects. Behavioral level was assessed from 3 aspects: knowledge, attitude, and practice, which comprised of 12 questions. Result: It was found that 461 respondents had a good behavioral level (35.5%), 677 respondents had moderate levels (52.1%) and 161 respondents had low level (12.4%). There was a statistically significant correlation between knowledge with behavioral level, attitude with behavioral level, and practice with behavioral level (p=0.001). Conclusion: The study of behavioral level of otorhinolaryngologists in medical service during Covid-19 pandemic obtained the highest number was moderate level 677 respondents (57.2%), and there was a statistically significant correlations between the variable of knowledge with behavioral level, the variable of attitude with behavioral level, and the variable of practice with behavioral level (p=0.001).ABSTRAK Latar belakang: Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengumumkan virus baru yang pertama kali muncul di Wuhan China, pada Desember 2019, yaitu SARS-CoV-2 sebagai penyebab corona virus disease 19 (Covid 19) dan menyatakan sebagai pandemi. Dokter sebagai tenaga kesehatan merupakan kelompok yang rentan terinfeksi virus corona dan berdasarkan laporan, sudah banyak dokter Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher (THT-KL) yang terinfeksi bahkan meninggal dunia dalam pelayanan medis. Salah satu faktor penyebab dokter THT-KL terinfeksi oleh virus corona adalah tingkat perilaku dokter THT-KL. Tujuan: Mengetahui tingkat perilaku dokter THT-KL dalam melakukan pelayanan medis saat pandemi Covid 19. Metode: Penelitian deskriptif dengan rancangan studi potong lintang. Sampel penelitian adalah dokter THT-KL di Indonesia yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel secara berurutan, dan mendapatkan 1299 sampel. Tingkat perilaku dinilai dari 3 aspek yaitu dimulai dari pengetahuan, sikap dan tindakan yang terdiri dari 12 pertanyaan. Hasil: Didapatkan tingkat perilaku responden dokter THT-KL dalam pelayanan medis pada pandemi Covid 19, tingkat perilaku baik sebanyak 461 responden (35,4%), tingkat sedang 677 responden (52,1%), dan tingkat kurang 161 responden (12.4%). Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan tingkat perilaku, sikap dengan tingkat perilaku dan tindakan dengan sikap perilaku (p=0,001). Kesimpulan: Didapatkan tingkat perilaku dokter THT-KL dalam pelayanan medis pada pandemi covid 19, terbanyak adalah tingkat perilaku sedang sebanyak 677 responden (57,2%), dan terdapat hubungan yang bermakna antara variabel pengetahuan dengan tingkat perilaku, variabel sikap dengan tingkat perilaku dan variabel tindakan dengan tingkat perilaku dokter THT-KL dalam pelayanan medis pada pandemi Covid 19, dimana nilai p = 0,001. Kata kunci: perilaku, dokter THT-KL, pandemic, Covid-19
Penyakit kelenjar saliva dan peran sialoendoskopi untuk diagnostik dan terapi Susyana Tamin; Duhita Yassi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 2 (2011): Volume 41, No. 2 July - December 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.01 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i2.45

Abstract

Background: Human salivary glands could be prone to diseases. Special tools have been createdto diagnose the disease of the glands and with the advancement of technology, better instruments weredeveloped. Purpose: We present this literature review to share the knowledge of diagnostic and therapyin today’s management of salivary gland disease. Literature Review: Human salivary glands consistedof major and minor salivary glands which produce saliva. Salivary gland secretion is a process that involves cell synthesis and active transport. Salivary gland diseases are also associated with secretion process. Sialoendosopy can be use as diagnostic and therapeutics tool in salivary glands disease. As atherapeutic tool, sialoendoscopy has a role in stone fragmentation and extraction and also dilatation ofstenosis and stricture. Conclusion: Sialoendscopy has many advantages in diagnosis and treatment ofsalivary gland disease, but its employment is still limited because of the high price and required skilledand experienced operator. Key words: salivary gland, salivary gland disease, sialoendoscopy Abstrak :  Latar belakang: Kelenjar saliva manusia tidak lepas dari gangguan penyakit. Beberapa alat telahditemukan untuk diagnosis penyakit ini dan dengan semakin berkembangnya teknologi, sangat diharapkanberkembang pula alat diagnosis yang lebih baik. Tujuan: dengan tulisan ini diharapkan dapat memperluaswawasan terhadap perangkat diagnostik dan terapi pada penyakit kelenjar saliva. Tinjauan Pustaka:Kelenjar saliva manusia terdiri dari kelenjar saliva mayor dan minor yang berperan untuk memroduksisaliva. Sekresi kelenjar saliva merupakan suatu proses yang melibatkan sintesis sel dan transpor aktif.Penyakit kelenjar saliva juga berhubungan dengan proses sekresi. Sialoendoskopi dapat digunakansebagai alat diagnostik maupun terapi pada penyakit kelenjar saliva. Sebagai alat terapi, sialoendoskopidapat berperan pada fragmentasi dan ekstraksi batu serta dilatasi stenosis dan striktur. Kesimpulan:Sialoendoskopi memiliki keunggulan dalam diagnosis dan terapi penyakit kelenjar saliva, namunpenggunaannya masih terbatas karena harganya yang mahal dan diperlukan operator yang trampil danberpengalaman. Kata kunci: kelenjar saliva, penyakit kelenjar saliva, sialoendoskopi
Co-Authors Adang Bachtiar Aldri Frinaldi Alia, Dina Aminuyati Anggina Diksita Ardiantara, Sabda Aria Kekalih Bambang Hermani Bintang Napitupulu Cheung, Dilys Damayanti Soetjipto Damayanti, Heditya Dewo Aksoro Dina Alia Duhita Yassi Dwi Restuti, Ratna Eka D. Safitri Eka Savitri Eka Savitri Elvi Zulka Elvie Z. Rachmawati Elvie Zulka Fardizza, Fauziah Fikri Mirza Putranto Harahap, Juliandi Haryuna, Tengku Siti Hajar Hasnan Habib, Hasnan Heditya Damayanti Hidayatul Fitria Hidayatul Fitria Hutauruk, Syahrial Hutauruk, Syahrial Marsinta Ika Dewi Mayangsari Ika Dwi Mayangsari Indah Trisnawaty Indra Zachreini Indra Zachreini Indra Zachreini Iqbal, Mochamad Jenny Bashiruddin Jenny Bashiruddin Juliandi Harahap Juliandi Harahap Juliandi Harahap Koento, Trimartani Kote Noordhianta Ku, Peter K Luh K Wahyuni Marlinda Adham Maryadi, Iman Pradana Mayangsari, Ika Dewi Mayangsari, Ika Dwi Mochamad Iqbal Muchtaruddin Mansyur Nasution, Dina Putri Natasha Supartono Natasha Supartono Natasha Supartono Nirza Warto Nur Indah Lestari Lestari Nyilo Purnami Octavia, Devianty Parmaditya Pamungkas, Indra Priyono, Harim Rachmawati, Elvie Zulka Kautzia Rahmanofa Yunizaf Rahmanofa Yunizaf Rahmanofa Yunizaf Ranakusuma, Respati Ratna Dwi Restuti Respati Ranakusuma Respati Ranakusuma Respati Ranakusuma Restuti, Ratna Dwi Retno Asti Werdhani Rizaldi, Riza Ronny Suwento, Ronny Rudiatmoko, Diar Riyanti Ruth Ariyani Sabda Ardiantara Sagung Rai Indrasari Sagung Rai Indrasari Salim Harris Saptawati Bardosono Saptawati Bardosono Selfiyanti Bimantara Semiramis Zizlavsky Soetjipto, Damayanti Supartono, Natasha Supit, Ivana Surya, Guntur Tjandra Manukbua Tjandra Manukbua Warto, Nirza Widayat Alviandi Widayat Alviandi Widjajalaksmi Widjajalaksmi Kusumaningsih Wresty Arief Yunizaf, Rahmanofa Yunizaf, Rahmanofa Yussy Afriana Dewi Yussy Afriana Dewi Zachreini, Indra Zizlavsky, Semiramis Zulka, Elvie