p-Index From 2021 - 2026
5.811
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Humaniora Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Jurnal Bahasa dan Sastra Semantik : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Arbitrer KEMBARA JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature JURNAL ILMU BUDAYA Journal of Language and Literature Diglosia Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Jurnal Madah Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurnal Masyarakat dan Budaya Linguistik Indonesia Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Suar Betang Metahumaniora Ethical Lingua: Journal of Language Teaching and Literature Mimesis Jurnal Bastrindo: Kajian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurnal Ilmiah Teunuleh: The International Journal of Social Sciences International Journal of Forensic Linguistic Jurnal Pertahanan dan Bela Negara Jurnal bahasa, sastra, seni, dan pengajarannya Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Deskripsi Bahasa LingPoet: Journal of Linguistics and Literary Research Sewagati: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Widyaparwa Worksheet : Jurnal Akuntansi Jurnal Multidisiplin West Science Riwayat: Educational Journal of History and Humanities TENANG : Teknologi, Edukasi, dan Pengabdian Multidisiplin Nusantara Gemilang Rainbow : Journal of Literature, Linguistics and Culture Studies Indonesia Berdampak: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal bahasa, sastra, seni, dan pengajarannya
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Suar Betang

Kategorisasi atas Kata Bread, Pastry, Cake, Biscuit, dan Cookie dalam Pikiran Orang Jawa Jihan Riza Islami; Sailal Arimi
SUAR BETANG Vol 17, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v17i1.328

Abstract

The purpose of this study is to describe the categorization of bread, pastry, cake, biscuit, and cookies in the minds of the Javanese. The study was conducted using a questionnaire given to 135 people using the snowball sampling technique. To achieve this goal, the first step is to register or take an inventory of the lexicon of five foods in Javanese that emerged from the respondents' responses and record the information related to them. Furthermore, an analysis of the lexicon from the inventory is carried out. From the results of data analysis, it is known that the Javanese categorize the five foods prototypically, perceptually, and conceptually, and there are two categorization models, namely the Idealized Cognitive Model (ICM) and the metonymic model. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kategorisasi bread, pastry, cake, biscuit, dan cookie dalam pikiran orang Jawa. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 135 orang menggunakan teknik snowball sampling. Untuk mencapai tujuan tersebut, langkah pertama yang dilakukan ialah mendaftar atau menginventarisasi leksikon kelima makanan tersebut dalam bahasa Jawa yang muncul dari tanggapan responden dan mencatat informasi yang berkaitan dengannya. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap leksikon hasil inventarisasi tersebut. Dari hasil analisis data diketahui bahwa orang Jawa mengategorikan kelima penganan tersebut secara prototipikal, perseptual, konseptual, dan terdapat dua model kategorisasi, yaitu Model Kognitif Ideal (ICM) dan model metonimik.
Speech Features in Food Endorsement of Indonesian Influencers: a Study of Language and Gender Assayyidah Bil Ichromatil Ilmi; Sailal Arimi
SUAR BETANG Vol 18, No 1 (2023): June 2023
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v18i1.4457

Abstract

This study aims to identify the speech features employed by male and female influencers while promoting food. This research decided to apply a qualitative method, specifically in the form of a case study. Meanwhile, the researchers chose observation through social media, namely Instagram, as the data collection process. The data analysis consists of three stages, such as reduction, presentation, and conclusion. The researchers found that the female influencers use speech features are intensifier, emphatic stress, tag question, rising intonation, empty adjectives, specialized, hypercorrect grammar, super polite forms, avoidance of strong swear, and one form that belongs to the men known as command and directive. Meanwhile, the speech features employed by the men are command and directive, swearing and taboo words, compliments, and theme, and three forms of speech feature that belong to women, which are intensifier, empty adjective, and emphatic stress. The finding of this study is that both genders are not constantly with their own speech features. Both genders also applied speech features that belong to the opposite gender while doing promotion, although the language features of each gender dominate the respective results. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi fitur tuturan yang digunakan oleh influencer pria dan wanita saat melakukan promosi makanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, khususnya dalam bentuk studi kasus. Penulis memilih observasi melalui salah satu media sosial, yakni Instagram, pada proses pengumpulan data. Proses analisis data terdiri atas tiga tahap, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Penulis menemukan bahwa para influencer wanita menggunakan fitur ucapan yang intensif, penekanan tegas, tanda pertanyaan, intonasi tinggi, kata sifat kosong, kata khusus, tata bahasa yang berlebihan, bentuk sangat sopan, menghindari umpatan yang kuat, dan satu bentuk milik pria yang dikenal sebagai perintah dan direktif. Sementara itu, ciri-ciri tuturan yang digunakan oleh influencer laki-laki adalah tuturan perintah dan direktif, umpatan dan kata-kata tabu, pujian, dan tema, serta tiga bentuk tuturan yang dimiliki wanita, yaitu intensifier, kata sifat kosong, dan tekanan empatik. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa kedua jenis influencer tidak selalu memiliki fitur bicara mereka sendiri. Mereka juga menerapkan fitur bicara milik lawan jenis saat melakukan promosi meskipun hasilnya didominasi oleh ciri fitur bahasa pada masing-masing gender. 
Ahmad Dhani’s Legal Case: a Forensic Linguistic Study of Defamation Arimi, Sailal; Adelawati, Munzila
SUAR BETANG Vol 19, No 1 (2024): June 2024
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v19i1.14995

Abstract

This forensic linguistics study aims to evaluate whether the prosecutors of the South Jakarta and Surabaya District Courts in the case of hate speech committed by Ahmad Dhani (AD) are in accordance with the Electronic Information and Transaction Law (ITE Law) Number 11 of 2018 and ITE Law Number 19 of 2016. In addition, this research also aims to determine the qualifications of hate speech in AD's case. Data was collected through the documentation method, which includes collecting data that has been circulating in the community online, following the legal process written in the South Jakarta and Surabaya Case Tracking Information System (SIPP), and looking at the results of the District Court decisions that have been legally binding (Inkracht) Number 370/Pid.Sus/2018/PN JKT.SEL and Number 275/Pid.Sus/2019/PN Sby. After the data was collected it was analyzed using a forensic linguistic approach. The language data of the legal case was analyzed through the approach of the internal structure of language, namely semantics, and the external structure of language which includes sociolinguistics and pragmatics. The results of this study show that the speech used by AD has negative diction and can demean his speech partners, then the prosecutor's charges against AD were not found to abuse the 2016 ITE Law and there were no rubber articles that caused multiple interpretations. AbstrakKajian linguistik forensik ini bertujuan mengevaluasi apakah tuntutan jaksa Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Surabaya dalam kasus ujaran kebencian yang dilakukan oleh Ahmad Dhani (AD) sesuai dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomer 11 Tahun 2018 dan UU ITE Nomor 19 Tahun 2016. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menentukan kualifikasi ujaran kebencian dalam kasus AD. Data dikumpulkan melalui metode dokumentasi, yang meliputi pengumpulan data yang telah beredar di masyarakat secara daring, mengikuti proses hukum yang tertulis di Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Jakarta Selatan dan Surabaya, dan melihat hasil putusan Pengadilan Negeri yang telah berkekuatan hukum tetap (Inkracht) Nomer.370/Pid.Sus/2018/PN JKT.SEL dan Nomer.275/Pid.Sus/2019/PN Sby. Setelah data terkumpul, analisis dilakukan menggunakan pendekatan  linguistik forensik. Data bahasa berkasus hukum tersebut dianalisis melalui pendekatan struktur internal bahasa, yaitu semantik, dan struktur eksternal bahasa yang mencakup sosiolinguistik dan pragmatik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tuturan yang digunakan AD memiliki diksi negatif dan dapat merendahkan mitra tuturnya. Dalam tuntutan jaksa kepada AD tidak ditemukan penyalahgunaan UU ITE 2016 dan tidak terdapat pasal karet yang menyebabkan multitafsir.