Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

IMPLEMENTASI PERMAINAN MONOPOLI DALAM BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KARIR PADA SISWA DI SANGGAR BIMBINGAN KEPONG MALAYSIA Ali Akbar Riadi; Asbi Asbi
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026): Al Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/al-irsyad.v16i1.28359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil layanan dengan mengimplementasikan dan mengevaluasi efektivitas permainan Monopoli Karir sebagai media bimbingan kelompok dalam meningkatkan pemahaman karir siswa di Sanggar Bimbingan Kepong, Malaysia. Latar belakang penelitian diambil dari kebutuhan peserta didik di pendidikan non-formal yang umumnya memiliki keterbatasan informasi karir serta pengalaman belajar yang beragam. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling (PTBK) dengan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus mencakup kegiatan bimbingan kelompok melalui permainan Monopoli Karir, yang difokuskan pada identifikasi pemahaman karir, pengelolaan pikiran, penguatan keterampilan, relaksasi, dan perencanaan tindak lanjut. Data diperoleh melalui observasi partisipan, instrument evaluasi proses dan hasil, serta Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Cara memperoleh hasil yaitu dengan menyebarkan instrumen-instrumen yang sudah ditentukan dan untuk menganalisis hasilnya yaitu dengan mengumpulkan ketiga jenis instrumen itu yang nantinya akan dijumlahkan dan akan mendapatkan skor yang jelas. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman karir yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya skor pemahaman dari 156 pada siklus I menjadi 215 pada siklus II, nilai tertinggi yang stabil pada angka 32, serta peningkatan nilai terendah dari 23 menjadi 25. Selain itu, peserta menunjukkan perubahan positif dalam pengelolaan pikiran, apresiasi terhadap berbagai pilihan karir, dan kemampuan menyusun rencana karir sederhana. Temuan ini menunjukkan bahwa permainan Monopoli Karir efektif digunakan sebagai media bimbingan dalam konteks pendidikan non-formal untuk membantu siswa memahami pilihan pendidikan dan karir secara lebih jelas dan menyenangkan. Penelitian ini memberikan manfaat penting bagi konselor dan pendidik non-formal untuk mengembangkan pendekatan bimbingan yang kreatif dan interaktif.
IMPLEMENTASI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK MENGUNAKAN SOCIAL SKILLS PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA SANGGAR BIMBINGAN KEPONG MALAYSIA Agung Ramadan; Asbi Asbi
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling Vol 16, No 1 (2026): Al Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/al-irsyad.v16i1.28211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan implementasi layanan bimbingan kelompok menggunakan Social Skills Puzzle di Sanggar Bimbingan Muhammadiyah Kepong, Malaysia; (2) menganalisis peningkatan keterampilan sosial siswa yang mencakup komunikasi, kerja sama, dan keberanian berpartisipasi; serta (3) mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan layanan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) yang dilaksanakan dalam dua siklus pertemuan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, evaluasi proses, evaluasi akhir, dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) pada delapan siswa, kemudian dianalisis secara deskriptif-naratif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada ketiga dimensi keterampilan sosial: komunikasi meningkat dari 65% menjadi 92%, kerja sama meningkat dari 58% menjadi 88%, dan keberanian meningkat dari 52% menjadi 85%. Rata-rata evaluasi akhir juga meningkat dari 20,2 (kategori Cukup) pada siklus pertama menjadi 31,8 (kategori Sangat Baik) pada siklus kedua. Temuan ini menunjukkan bahwa Social Skills Puzzle berfungsi sebagai medium pembelajaran sosial yang terstruktur, memfasilitasi pengalaman langsung (enactive learning), pengamatan (vicarious learning), dan pengelolaan diri (self-regulation) siswa. Dinamika kelompok berkembang dari tahap pembentukan (forming) ke tahap produktif (performing), dengan siswa yang awalnya pasif menjadi aktif dan reflektif. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis pada literatur bimbingan kelompok di setting pendidikan nonformal lintas negara serta kontribusi praktis berupa model intervensi yang aplikatif dan dapat direplikasi di lembaga pendidikan nonformal lain, khususnya di Malaysia dan kawasan Asia Tenggara.
Development and Formative Evaluation of a Flipbook-Based Digital Module for Basic Guidance and Counseling M Fauzi Hasibuan; Sri Ngayomi Yudha Wastuti; Asbi Asbi
COUNS-EDU: The International Journal of Counseling and Education Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education, and Therapy & Indonesian Counselor Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/00202601152210

Abstract

Digital teaching materials may provide greater visual support, flexibility, and instructional guidance than conventional materials in counselor education. This study aimed to develop a flipbook-based digital teaching module for the Basic Guidance and Counseling course and obtain preliminary evidence of its content feasibility, instructional appropriateness, and lecturer-perceived usability. The study used an ADDIE-informed development research design comprising analysis, design, development, limited implementation, and formative evaluation. The module included learning outcomes, concept maps, instructional content, summaries, assignments, multimedia-supported explanations, navigation features, and references. Formative evaluation involved three guidance and counseling experts and three lecturers. Data were collected using an expert validation sheet, lecturer usability questionnaire, open-ended questionnaire, and focus group discussion guide. Quantitative ratings were analyzed descriptively using a five-point scale, while qualitative comments were categorized and used to revise the module. The mean expert rating was 3.82, indicating that the module was considered feasible according to the predetermined assessment criteria. Lecturer ratings were 3.72 during individual review and 4.14 during limited usability evaluation, while the structured rating obtained following the focus group discussion was 4.66. Feedback resulted in revisions to the module’s language, illustrations, navigation, and implementation guidance. These findings provide preliminary evidence that the module is feasible in content and instructional organization and is perceived by lecturers as usable for Basic Guidance and Counseling instruction. Further evaluation involving students and classroom implementation is required to assess student usability and learning outcomes.
Peran Konselor Sekolah sebagai Garda Depan dalam Penanganan Krisis Kesehatan Mental Mariza Rafaelita Siswoyo; Asbi Asbi; Alysha Ulima Lubis; Nayla Olivia Putri
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 4 (2026): May: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66749/0nn77503

Abstract

Kesehatan mental siswa adalah isu penting yang mempengaruhi perkembangan akademis dan sosial mereka, dan intervensi konselor sekolah berperan signifikan dalam mengatasi masalah ini. Meningkatnya prevalensi gangguan kecemasan, depresi, dan masalah emosional di kalangan pelajar menuntut adanya sistem dukungan kesehatan mental yang terstruktur dan responsif di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi efektivitas intervensi konselor sekolah serta faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam memberikan dukungan kesehatan mental. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap konselor sekolah di beberapa sekolah menengah di Indonesia, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konselor sekolah menggunakan berbagai jenis intervensi, termasuk konseling individu dan kelompok, yang terbukti efektif dalam meningkatkan kesehatan mental siswa. Di samping itu, pelatihan keterampilan sosial juga menjadi salah satu pendekatan yang berhasil membantu siswa membangun hubungan interpersonal yang lebih sehat. Konselor juga berperan dalam deteksi dini tanda-tanda krisis mental pada siswa, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius. Namun, terdapat tantangan yang signifikan terkait dengan keahlian profesional, konteks sekolah, dan dukungan sistemik. Faktor-faktor seperti lingkungan sekolah yang kondusif, kebijakan institusional yang mendukung, serta keterlibatan aktif orang tua turut menentukan keberhasilan intervensi yang diberikan. Stigma terhadap kesehatan mental juga masih menjadi hambatan nyata yang perlu diatasi melalui edukasi dan sosialisasi di lingkungan sekolah. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan pelatihan berkelanjutan untuk konselor dan kolaborasi yang lebih baik antara konselor, orang tua, dan staf sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental siswa secara menyeluruh dan berkelanjutan.