Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Kajian Penggunaan Lahan terhadap Area Kerentanan Banjir di Sub DAS Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda Maheswari, Carissa Aulia; Khoirunisa, Nanda; Mislan, Mislan; Hamdani, Dadan; Mawadah, Anis
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v9i3.1-11

Abstract

Kota Samarinda merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur yang kerap dilanda banjir saat musim hujan dan berdasarkan Peta Kajian Risiko Bencana (KRB), wilayah ini termasuk dalam kategori risiko tinggi terhadap bencana banjir. Salah satu kawasan yang kerap terdampak adalah Sub DAS Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda. Penelitian ini bertujuan memetakan dan menganalisis karakteristik penggunaan lahan terhadap genangan banjir di Sub DAS Loa Bakung. Kajian penggunaan lahan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan citra Google Satellite dari SAS Planet dan Landsat 8/9 OLI TIRS dari USGS dengan resolusi 0,5 – 30 meter/pixel. Hasil digitasi citra menunjukkan klasifikasi penggunaan lahan, yaitu: permukiman (28,7%), badan air (5%), pertanian lahan kering (34,9%), semak belukar (6,8%), dan hutan (24,5%). Hasil pengolahan juga diperkuat dengan analisis Normalized Difference Built-up Index (NDBI) yang digunakan untuk mengidentifikasi wilayah terbangun, sedangkan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan untuk mengevaluasi tingkat tutupan vegetasi. Hasil analisis mengidentifikasi bahwa nilai NDBI tinggi terkonsentrasi pada kawasan permukiman padat di sepanjang sungai dan jaringan jalan utama, yang mengindikasikan dominasi lahan terbangun dan minimnya area resapan air. Sementara itu, nilai NDVI yang rendah pada wilayah yang sama menunjukkan rendahnya tutupan vegetasi yang berperan sebagai penyerapan alami. Berdasarkan hasil validasi lapangan dan overlay peta KRB Kota Samarinda, mengonfirmasi bahwa genangan banjir terjadi terutama di sepanjang Jalan Padat Karya dan Jalan Jakarta, Kelurahan Loa Bakung yang wilayah dengan intensitas pemanfaatan lahan tinggi serta rendahnya ruang terbuka hijau. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola dan intensitas penggunaan lahan, terutama konversi lahan menjadi area terbangun dengan vegetasi minim, secara signifikan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko genangan banjir di Sub DAS Loa Bakung, Kota Samarinda.Kata kunci: penggunaan lahan, kerentanan banjir, sub DAS Loa Bakung, SIG, NDBI, NDVI
INTEGRASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PEMETAAN ZONA RAWAN LONGSOR: PENDEKATAN SKORING DAN WEIGHTED OVERLAY PADA KELURAHAN HARAPAN BARU, SAMARINDA Azisyarlina, Dwi; Wardana, Dwi Wahyu; Febrianti, Nabila; Sapu', Elvy Trifena; Khoirunisa, Nanda
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.9.1.2026.88-103

Abstract

Kelurahan Harapan Baru, yang terletak di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, memiliki karakteristik morfologi wilayah yang kompleks serta intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi tinggi mengalami bencana tanah longsor. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona rawan longsor dengan mengintegrasikan metode skoring dan analisis overlay dalam kerangka Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode skoring digunakan untuk memberikan nilai pada setiap parameter yang mempengaruhi longsor, seperti kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, elevasi, dan penggunaan lahan. Setiap parameter diberi bobot berdasarkan tingkat kontribusinya terhadap kejadian longsor, lalu dilakukan proses overlay berbobot untuk memperoleh peta probabilitas zona rawan longsor. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa wilayah studi didominasi oleh luas area dengan kerawanan sangat tinggi 2,061 km² yang dipengaruhi oleh parameter tingkat kemiringan lereng, elevasi, dan tutupan lahan. Zona dengan tingkat kerawanan tinggi hingga sangat tinggi cenderung berada pada area dengan kemiringan lereng terjal, semak belukar yang tidak mengikat tanah, juga area yang berada pada elevasi dengan ketinggian >66 m. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan tata ruang dan pemanfaatan lahan yang lebih aman dan berkelanjutan, sekaligus mendukung langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana longsor di wilayah tersebut.