Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

LANDSLIDE VULNERABILITY ZONE MODELING BASED ON AHP-GIS AND GEOELECTRIC METHOD VERIFICATION: AN EARLY DETECTION STRATEGY IN SEBULU DISTRICT, KUTAI KARTANEGARA REGENCY Fadillah, Rizky; Djayus, Djayus; Khoirunisa, Nanda
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 8, No 2 (2025): Volume 08 Issue 02 Year 2025
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/elipsoida.2025.29468

Abstract

Landslides and soil movement frequently occur in Sebulu District, especially on the main access road. This study aims to analyze the vulnerability to landslides in Sebulu District, Kutai Kartanegara Regency, using the Analytical Hierarchy Process (AHP) and Geographic Information System (GIS) approaches, with verification through the geoelectric method. The advantage of this integrated approach is its ability to combine multi-criteria spatial modeling with physical validation of subsurface conditions, thereby producing a more comprehensive and reliable analysis. The secondary data used includes geological information, rainfall, slope gradient, soil type, and land cover. By applying AHP weighting, landslide vulnerability values were obtained with "low," "medium," and "high" categories, covering areas of 230.31 ha, 301.99 ha, and 309.30 ha, respectively. Verification using the geoelectric method identified a weak zone with a thickness of 1–5 meters, which could trigger soil movement towards the southwest. These results provide a clearer understanding of landslide-prone areas, which can serve as the basis for early detection strategies in disaster mitigation.Keywords: susceptibility zones, landslide, geographic information system, AHP, geoelectric resistivity.
Kajian Penggunaan Lahan terhadap Area Kerentanan Banjir di Sub DAS Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda Maheswari, Carissa Aulia; Khoirunisa, Nanda; Mislan, Mislan; Hamdani, Dadan; Mawadah, Anis
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v9i3.1-11

Abstract

Kota Samarinda merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur yang kerap dilanda banjir saat musim hujan dan berdasarkan Peta Kajian Risiko Bencana (KRB), wilayah ini termasuk dalam kategori risiko tinggi terhadap bencana banjir. Salah satu kawasan yang kerap terdampak adalah Sub DAS Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda. Penelitian ini bertujuan memetakan dan menganalisis karakteristik penggunaan lahan terhadap genangan banjir di Sub DAS Loa Bakung. Kajian penggunaan lahan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan citra Google Satellite dari SAS Planet dan Landsat 8/9 OLI TIRS dari USGS dengan resolusi 0,5 – 30 meter/pixel. Hasil digitasi citra menunjukkan klasifikasi penggunaan lahan, yaitu: permukiman (28,7%), badan air (5%), pertanian lahan kering (34,9%), semak belukar (6,8%), dan hutan (24,5%). Hasil pengolahan juga diperkuat dengan analisis Normalized Difference Built-up Index (NDBI) yang digunakan untuk mengidentifikasi wilayah terbangun, sedangkan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan untuk mengevaluasi tingkat tutupan vegetasi. Hasil analisis mengidentifikasi bahwa nilai NDBI tinggi terkonsentrasi pada kawasan permukiman padat di sepanjang sungai dan jaringan jalan utama, yang mengindikasikan dominasi lahan terbangun dan minimnya area resapan air. Sementara itu, nilai NDVI yang rendah pada wilayah yang sama menunjukkan rendahnya tutupan vegetasi yang berperan sebagai penyerapan alami. Berdasarkan hasil validasi lapangan dan overlay peta KRB Kota Samarinda, mengonfirmasi bahwa genangan banjir terjadi terutama di sepanjang Jalan Padat Karya dan Jalan Jakarta, Kelurahan Loa Bakung yang wilayah dengan intensitas pemanfaatan lahan tinggi serta rendahnya ruang terbuka hijau. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola dan intensitas penggunaan lahan, terutama konversi lahan menjadi area terbangun dengan vegetasi minim, secara signifikan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko genangan banjir di Sub DAS Loa Bakung, Kota Samarinda.Kata kunci: penggunaan lahan, kerentanan banjir, sub DAS Loa Bakung, SIG, NDBI, NDVI
INTEGRASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PEMETAAN ZONA RAWAN LONGSOR: PENDEKATAN SKORING DAN WEIGHTED OVERLAY PADA KELURAHAN HARAPAN BARU, SAMARINDA Azisyarlina, Dwi; Wardana, Dwi Wahyu; Febrianti, Nabila; Sapu', Elvy Trifena; Khoirunisa, Nanda
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.9.1.2026.88-103

Abstract

Kelurahan Harapan Baru, yang terletak di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, memiliki karakteristik morfologi wilayah yang kompleks serta intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi tinggi mengalami bencana tanah longsor. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona rawan longsor dengan mengintegrasikan metode skoring dan analisis overlay dalam kerangka Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode skoring digunakan untuk memberikan nilai pada setiap parameter yang mempengaruhi longsor, seperti kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, elevasi, dan penggunaan lahan. Setiap parameter diberi bobot berdasarkan tingkat kontribusinya terhadap kejadian longsor, lalu dilakukan proses overlay berbobot untuk memperoleh peta probabilitas zona rawan longsor. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa wilayah studi didominasi oleh luas area dengan kerawanan sangat tinggi 2,061 km² yang dipengaruhi oleh parameter tingkat kemiringan lereng, elevasi, dan tutupan lahan. Zona dengan tingkat kerawanan tinggi hingga sangat tinggi cenderung berada pada area dengan kemiringan lereng terjal, semak belukar yang tidak mengikat tanah, juga area yang berada pada elevasi dengan ketinggian >66 m. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan tata ruang dan pemanfaatan lahan yang lebih aman dan berkelanjutan, sekaligus mendukung langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana longsor di wilayah tersebut.
Penguatan Kapasitas Masyarakat dan Mahasiswa melalui Aksi Bersih Pantai: Upaya Konservasi Lingkungan Berbasis Edukasi dan Kolaborasi di Pesisir Samboja Sihotang, Zetsaona; Hermawan, Qori Fajar; Khoirunisa, Nanda; Riza, Muhammad; Mandang, Idris; Yusuf, Mustaid; Wiyani, Riski Indah; Rahmiati
Bakti Budaya Vol 9 No 1 (2026): 2026: Edisi 1
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bakti.9380

Abstract

This community service activity was motivated by the problem of marine waste that has an impact on the ecosystem and quality of tourism at Cemara Beach and Pemedas Beach, Samboja, East Kalimantan. To overcome this, a collaborative approach was applied by involving three strategic groups: tourism managers, the community/visitors, and students. The methods used consisted of capacity building for the community and managers, as well as service learning for students. During the two-day implementation, socialization, beach clean-up actions, marine monitoring, and waste sorting were carried out. This activity has collected 160 kg of waste, increased environmental literacy, and encouraged behavioral change. Students gained contextual experience in oceanographic monitoring and waste identification. The implications of this activity include plans to establish a fostered beach as a center for sustainable capacity development that supports environmental conservation and community welfare. The results show that multi-actor collaboration is able to create significant social and ecological impacts in coastal areas. === Kegiatan pengabdian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan sampah laut yang berdampak pada ekosistem dan kualitas wisata di Pantai Cemara dan Pantai Pemedas, Samboja, Kalimantan Timur. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan kolaboratif diterapkan dengan melibatkan tiga kelompok strategis: pengelola wisata, masyarakat/pengunjung, dan mahasiswa. Metode yang digunakan terdiri dari capacity building bagi masyarakat dan pengelola, serta service learning untuk mahasiswa. Selama pelaksanaan dua hari dilakukan sosialisasi, aksi bersih pantai, pemantauan laut, dan pemilahan sampah. Kegiatan ini telah mengumpulkan 160 kg sampah, meningkatkan literasi lingkungan, dan mendorong perubahan perilaku. Mahasiswa memperoleh pengalaman kontekstual dalam pemantauan oseanografi dan identifikasi sampah. Implikasi dari kegiatan ini mencakup rencana pembentukan pantai binaan sebagai pusat pengembangan kapasitas berkelanjutan yang mendukung konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa kolaborasi multiaktor mampu menciptakan dampak sosial dan ekologis yang signifikan di kawasan pesisir.