Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pola Konsumsi Masyarakat Post-Modern (Suatu Telaah Perilaku Konsumtif Dalam Masyarakat Post-Modern) Heldi, Heldi
Al-Iqtishad: Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah Vol. 1 No. 1 (2009)
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/aiq.v1i1.2458

Abstract

Kehidupan postmodern menciptakan pola-pola konsumsi baru yang merupakan ciri khas dari kehidupan postmodern tersebut dan membuat orang atau para konsumen bisa menikmati apa-apa yang disediakan oleh era kehidupan tersebut yang disebabkan oleh khayalan. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka manusia harus bekerja. Pekerjaan merupakan identitas dari manusia itu sendiri. Keberadaan manusia ditentukan oleh pekerjaan yang dimilikinya. Eksistensi manusia hilang manakala ia tidak bekerja. Dengan timbunan besar barang/komoditi ini melahirkan kemakmuran dalam masyarakat kapitalis.DOI: 10.15408/aiq.v1i1.2458
Studi Penempatan Motif Ukiran dan Kaligrafi Islam pada Fasad Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi Rahmat, Miftahul; Heldi, Heldi
TSAQOFAH Vol 5 No 4 (2025): JULI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/tsaqofah.v5i4.6410

Abstract

Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi in West Sumatra is a historic structure that exemplifies the acculturation between Islamic values and Minangkabau local culture. Serving as both a place of worship and a cultural symbol, the mosque features a façade rich in traditional Minangkabau carvings and Islamic calligraphy, each carrying philosophical and religious meaning. This study aims to analyze the placement patterns and visual meanings of the carved motifs and Islamic calligraphy on the façade of the mosque. A descriptive qualitative approach was employed, using literature review and visual analysis. The findings reveal that motifs such as Pucuak Rabuang, Siriah Gadang, Bungo Tanjuang, Kaluak Paku, as well as fauna and anthropomorphic motifs like Motif Bada, Rajo Tigo Selo, and Ninik Mamak, convey moral and social messages such as the pursuit of knowledge, leadership responsibility, and communal harmony. Meanwhile, Islamic calligraphy featuring phrases such as Allah, Muhammad Rasul Allah, and the Shahada (commonly rendered in Thuluth script) is strategically placed to reinforce messages of monotheism and spirituality. These findings demonstrate that the decorative elements serve not only aesthetic purposes but also function as a medium for conveying Islamic values and Minangkabau cultural identity. This research contributes to the preservation of Indonesia’s Islamic cultural heritage and offers valuable insights for developing contextual Islamic architectural design rooted in traditional values.
Motif Batak Mandailing Dalam Kriya Makrame Sebagai Hiasan Dekoratif Fitriani Hasibuan, Linda; Heldi, Heldi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36230

Abstract

Ragam hias Batak Mandailing merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang sarat dengan nilai simbolik, filosofis, dan identitas lokal. Namun, dalam konteks kehidupan modern, pemahaman generasi muda terhadap motif tradisional Batak Mandailing cenderung mengalami penurunan seiring dengan dominasi budaya populer dan media informasi digital. Penelitian penciptaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik visual dan interpretasi makna motif Batak Mandailing serta mewujudkannya ke dalam tujuh karya kriya makrame sebagai hiasan dekoratif yang bersifat kontemporer. Metode yang digunakan adalah metode penciptaan seni konsorsium menurut Bandem yang meliputi tahapan persiapan, elaborasi, sintesis, realisasi konsep, dan penyelesaian. Hasil penciptaan berupa tujuh karya kriya makrame yang mengadaptasi motif-motif Batak Mandailing seperti Boraspati, Ulu ni Horbo, Adop-adop, dan ragam motif flora serta geometris. Karya-karya tersebut tidak hanya menonjolkan aspek estetis melalui pengolahan unsur dan prinsip seni rupa, tetapi juga merepresentasikan nilai budaya dan filosofi masyarakat Batak Mandailing. Penciptaan ini diharapkan dapat menjadi media alternatif pelestarian budaya sekaligus memberikan kontribusi terhadap pengembangan kriya tekstil berbasis kearifan lokal dalam ranah seni kontemporer.