Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

STUDI EKSPERIMENTAL BETON NORMAL DALAM PENCAPAIAN KUAT TEKAN BETON RAHMADI, YUSRIZAL; Wesli, Wesli; Sarana, David; Akbar, Said Jalalul
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 7 No. 2 (2017): Vol. 7 Nomor 2, September 2017
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.125 KB) | DOI: 10.29103/tj.v7i2.135

Abstract

Rancangan campuran (mix design) merupakan upaya membuat proporsi material penyusun beton agar memenuhi mutu beton yang direncanakan.Kekuatan pada beton sangat tergantung pada komposisi dan kekuatan dari masing-masing material. Pada penelitian ini ingin melakukan eksperimental penggunaan material dengan mengurangi komposisi agregat halus dan agregat kasar namun dengan jumlah satuan yang sama. Dimana akan dibuat bervariasi seperti beton normal pengadukan mixer, beton normal pengadukan manual,  beton normal 50% kerikil, beton normal 100% pasir dan beton normal 100% kerikil. Dengan umur pengujian pada saat beton berumur 7,14, 21, dan 28 hari. Benda uji yang dibuat berupa silinder berukuran tinggi 30 cm, diameter 15 cm untuk uji kuat tekan beton. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil yang didapatkan dari pengujian kuat tekan beton pada umur 28 hari untuk beton normal (mixer) dengan kuat tekan rata-rata 27.97 Mpa, untuk beton normal (manual) kuat tekan beton rata-rata mencapai 22.92 Mpa,  pada beton normal (50% kerikil) kekuatan beton 11.75 Mpa, untuk beton normal (100% pasir) dengan kuat tekan rata-rata 10.66 Mpa, untuk beton normal (100% kerikil) dengan kuat tekan rata-rata 7.28 Mpa, sedang untuk beton semen dengan kuat tekan rata-rata 25.51 Mpa.
ANALISA NILAI SIMPANGAN HORIZONTAL (DRIFT) PADA STRUKTUR TAHAN GEMPA MENGGUNAKAN SISTEM RANGKA BRESING EKSENTRIK TYPE BRACED V akbar, said jalalul; Candra, Yovi
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 7 No. 2 (2017): Vol. 7 Nomor 2, September 2017
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.127 KB) | DOI: 10.29103/tj.v7i2.139

Abstract

Negara kepulauan yang berada diwilayah rawan akan gempa salah satunya adalah Indonesia. Hal ini menyebabkan ancaman yang cukup tinggi terhadap bencana gempa. Untuk menahan gempa diperlukan bangunan yang memiliki material serta pengaku (bresing) dengan daktilitas yang cukup. Pada umumnya, bangunan yang terbuat dari material baja dan pengaku (bresing) dengan Sistem Rangka Bresing Eksentrik (SRBE) memiliki sifat daktilitas yang tinggi dan bersifat fleksibel, tidak mudah patah serta cepat dibangun. Tujuan dari penelitian dilakukan untuk membandingkan perubahan drift struktrur baja bangunan gedung tanpa bresing dan gedung yang menggunakan bresing type V yang diberi beban gravitasi (beban mati dan beban hidup) dan beban horizontal (beban gempa). Model penelitian berupa analisis struktur baja tanpa bresing dan struktur menggunakan bresing type V. Pembebanan gempa dihitung dengan menggunakan analisis dinamik yaitu analisis respon spektrum dan analisis statik ekuivalen. Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa nilai simpangan masing-masing tingkat berdasarkan kinerja batas ultimit telah aman baik struktur tanpa bresing maupun yang menggunakan bresing. Penurunan nilai simpangan yang terjadi antara struktur tanpa bresing dan menggunakan bresing yang terjadi pada arah X yaitu sebesar 51,60 % dan begitupun pada arah Y, penurunan nilai simpangan horizontal yang terjadi yaitu sebesar 44,40 %. Hal ini menunjukkan bahwa secara signifikan penggunaan bresing dapat meningkatkan kekakuan, kekuatan dan stabilitas struktur.   Kata Kunci : simpangan horizontal (drift), kinerja batas ultimit, bresing
PENGGUNAAN KAPUR SEBAGAI FILLER PADA CAMPURAN ASPAL(AC-BC) TERHADAP PARAMETER MARSHALL akbar, said jalalul
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 8 No. 1 (2018): Vol 8 Nomor 1, Maret 2018
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.551 KB) | DOI: 10.29103/tj.v8i1.145

Abstract

Abstrak Jalan yang merupakan salah satu prasarana transportasi darat mempuyai  peranan yang sangat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah. Kekuatan dan ketahanan sebuah perkerasan jalan dalam memikul beban lalulintas sangat dipengaruhi oleh material pembentuknya. Semakin baik material yang digunakan semakin baik pula mutu perkerasan yang dihasilkan. Sehubungan hal tersebut pada penelitian ini ingin dicoba apakah penggunaan kapur sebagai bahan pengganti sebahagian filler pada campuran aspal AC-BC dapat meningkatkan nilai parameter marshall. Adapun metode yang digunakan   mengikuti persyaratan sesuai yang telah disyaratkan AASHTO dan ASTM (spesifikasi Bina Marga 2010 Revisi 2). Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa penggunaan kapur sebagai pengganti sebahagian  filler (variasi 25%-100%) ternyata tidak dapat meningkatkan nilai parameter marshall ( tadak memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010 Revisi 2). Adapun nilai yang tidak memenuhi spesifikasi tersebut adalah nilai VMA dan VITM, sedangkan nilai VFWA, Stability, Flow dan MQ memenuhi. Dikarekan ada beberapa nilai parameter yang tidak memenuhi syarat, maka dapat dikatakan kapur sebagai bahan penggati sebahagian  filler atau seluruhnya tidak dapat digunakan pada campuran aspal AC-BC
PENGGUNAAN ABU BATU KARANG SEBAGAI FILLER DAN PASIR BESI SEBAGAI AGREGAT HALUS TERHADAP PARAMETER MARSHALL PADA CAMPURAN ASPAL AC-BC akbar, said jalalul; wesli, wesli; Widari, Lis Ayu
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 2 (2019): Volume 9, Nomor 2, September 2019
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.002 KB) | DOI: 10.29103/tj.v9i2.253

Abstract

Abstrak Campuran beraspal panas adalah kombinasi antara agregat yang dicampur merata dan dilapisi oleh aspal. Bahan penyusun dari campuran AC-BC hampir sama dengan bahan penyusun campuran aspal beton lainnya yaitu agregat halus, agregat kasar, filler dan aspal, yang membedakan adalah komposisi gradasi masing-masing lapisan. Penelitian ini membahas mengenai pengaruh penggantian Filler pada perkerasan jalan aspal beton AC-BC. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan Abu batu karang sebagai Filler dan pasir besi sebagai agregat halus terhadap karakteristik Marshall terhadap campuran Aspal AC-BC (Asphalt Concrete - Binder Course) terhadap stabilitas dengan metode Spesifikasi Umum Bina Marga 2010 Revisi 3, Benda uji yang didapatkan dari kadar aspal optimumnya adalah sebesar 6,2 % dan untuk benda uji penambahan variasi yang digunakan adalah abu batu karang dan pasir besi  25% - 50% -75% - 100%. Adapun Hasil dari pengujian di laboratorium di dapatkan hasil grafik yang naik turun, peningkatan nilai stabilitas didapat dari penambahan kadar variasi 25%, 50%, 75%, dan mengalami penurunan pada penambahan 100% variasi pasir besi dan abu batu karang, sedangkan nilai Density meningkat pada variasi 100%,  VMA , VIM dan FLOW dengan penambahan pasir besi dan abu batu karang menurun pada variasi 50%-100%, sedangkan VFA, MQ  terjadi Peningkatan yang tidak terlalu signifikan pada variasi 100%. Maka dapat disimpulkan variasi penambahan abu batu karang dan dan pasir besi  sebagai pengganti filler dan penganti agregat halus memenuhi spesifikasi bina marga 2010 revisi 3. Kata Kunci: Spesifikasi 2010 rev 3, Filler, Agregat halus, Parameter Marshall  Abstract Hot asphalt mixture is a combination of aggregates that are mixed evenly and coated with asphalt. The composition of AC-BC mixture is almost the same as the composition of other concrete asphalt mixers, namely fine aggregate, coarse aggregate, filler and asphalt, the difference is the gradation composition of each layer. This study discusses the effect of Filler replacement on AC-BC asphalt concrete pavement. The purpose of this research is to find out how the influence of the use of coral ash as fillers and iron sand as fine aggregate on the Marshall characteristics of the Asphalt Concrete - Binder Course asphalt mixture against stability with the General Reinforcement 2010 Revised 3 General Specifications method, The specimens obtained from the optimum asphalt content is 6.2% and for specimens the addition of variations used is rock ash and iron sand 25% - 50% -75% - 100%. As for the results of testing in the laboratory graph results get up and down, increasing the value of stability obtained from adding levels of variation 25%, 50%, 75%, and decreased in the addition of 100% variation of iron sand and rock ash, while the Density value increased at variations of 100%, VMA, VIM and FLOW with the addition of iron sand and coral ash decreased at a variation of 50% -100%, while VFA, MQ occurred a not too significant increase at 100% variation. Then it can be concluded that variations in the addition of coral ash and iron sand as a substitute for filler and substitute for fine aggregate meet the specifications of the 2010 revision 3.Keywords: 2010 rev 3 specification, filler, fine aggregate, Marshall parameters
PERENCANAAN JARINGAN PERPIPAAN AIR MINUM MENGGUNAKAN APLIKASI WATERCAD V8-I Wesli, Wesli; Fasdarsyah, Fasdarsyah; Kurniawan, Indra; Yusuf, Khairullah; Akbar, Said Jalalul; Maizuar, Maizuar; Arfiandi, Joni
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2021): Volume 11 Nomor 2, September 2021
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v11i2.554

Abstract

Abstrak Pelayanan kebutuhan air di wilayah IKK Bukit Oregon kurang memadai diduga jaringan pipa menjadi pokok masalahnya sehingga berdasar hal tersebut maka diperlukan evaluasi jaringan perpipaan air minum dan design dibuat dengan menggunakan software Aplikasi Watercad V8-I dan ingin diketahui seberapa besar kebutuhan debit pada proyeksi tahun 2030 termasuk kapasitas pompa dan jenis pipa transmisinya. Hasil pengamatan secara langsung di wilayah studi pada pelayanan terdapat permasalahan yang terjadi pada pipa transmisi, yaitu pipa dari intake (sumber air baku utama) menuju ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang akan di distribusikan ke masyarakat. Permasalahan yang terjadi adalah pipa induk tersebut mengalami kebocoran akibat umur teknis pipa yang sudah tua. Meningkatnya jumlah penduduk sama halnya semakin meningkatnya pemenuhan akan kebutuhan air bersih. Permasalahan tersebut harus ditanggulangi dengan pergantian pipa dengan jenis dan diameter yang tepat serta kapasitas pompa yang sesuai hasil menggunakan software Watercad V8-i. Dari hasil perhitungan analisa pertumbuhan penduduk pada tahun 2030 dengan jumlah pelanggan 96.770 jiwa kebutuhan air mencapai 102,476 liter/detik. Sistem transmisi menggunakan sistem pompa dengan kapasitas terpasang 90 liter/detik. Jenis pipa yang dipakai untuk pipa transmisi menggunakan pipa HDPE dengan diameter 350 mm. Kata kunci: evaluasi, air bersih, perpipaan, pompa, Watercad V8-i   Abstract The service for water needs in the IKK Bukit Oregon area is inadequate, it is suspected that the pipeline network is the main problem, so based on this, it is necessary to evaluate the drinking water piping network and the design is made using the Watercad V8-I application software and wants to know how much the demand for discharge in the 2030 projection includes pump capacity and type of transmission pipe. The results of direct observations in the study area on the service there are problems that occur in the transmission pipe, namely the pipe from the intake (main raw water source) to the Water Treatment Plant (IPA) which will be distributed to the community. The problem that occurs is that the main pipe has a leak due to the technical age of the pipe which is old. The increasing population is the same as the increasing fulfillment of clean water needs. These problems must be overcome by changing the pipe with the right type and diameter and the pump capacity according to the results using the Watercad V8-i software. From the calculation results of population growth analysis in 2030 with the number of customers 96,770 people, water needs reach 102,476 liters/second. The transmission system uses a pump system with an installed capacity of 90 liters/second. The type of pipe used for the transmission pipe uses HDPE pipe with a diameter of 350 mm. Keywords: evaluation, clean water, piping, pump, Watercad V8-i 
Evaluasi Jari-Jari Tikungan Jalan (Studi Kasus Simpang Dama Kecamatan Tanah Pasir Kabupaten Aceh Utara) Wesli, Wesli; Akbar, Said Jalalul; Lubis, Akhiruddin
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 12 No. 2 (2022): Volume 12 Nomor 2, September 2022
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v12i2.805

Abstract

Abstrak Jalan Propinsi di wilayah Kabupaten Aceh Utara terdapat banyak tikungan yang dibuat sejak zaman penjajahan dan disainnya tidak sesuai dengan ketentuan disain tikungan yang ditetapkan oleh Bina Marga karena pada saat itu tidak terlalu penting kesesuaian disain kar ena yang diutamakan adalah adanya jalan dengan tikungan apa adanya untuk keperluan transportasi dan mobilitas masyarakat. Salah satu tikungan yang ada terdapat pada Simpang Dama, Kecamatan Tanah Pasir. Pada penelitian ini ingin diketahui kondisi eksisting tikungan dan kondisi tikungan standar sesuai dengan yang diatur pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Hasil penelitian menggambarkan bahwa kecepatan rata-rata pada daerah tikungan adalah 28-45 km/jam dengan panjang lengkung (Lc) adalah 20 meter. Jari-jari tikungan pada kondisi eksisting yang diukur menggunakan alat Global Positioining System (GPS) Hiper II adalah 33,80 m, sedangkan jari-jari tikungan yang diperlukan adalah 80 m sesuai dengan kecepatan rencana sebesar 50 km/jam, hal ini menggambarkan bahwa jari-jari tikungan kondisi eksisting di Simpang Dama tidak memenuhi persyaratan Bina Marga 1997. Kata kunci: Evaluasi, Jalan Raya, Jari-jari tikungan, Kenyamanan  Abstract The provincial road in the North Aceh Regency area has many bends made since the colonial era and the design is not in accordance with the bend design provisions set by Bina Marga because at that time the suitability of the design was not too important because the priority was the existence of a winding road for public transportation purposes. and mobility. One of the bends is located at Simpang Dama, Tanah Pasir District. In this study, we want to know the existing bend conditions and standard bend conditions as regulated in the Indonesian Road Capacity Manual (MKJI). The results of the study illustrate that the average speed in the bend area is 28-45 km/hour with a bend length (Lc) of 20 meters. The bend radius in the existing condition as measured using the Global Positioning System (GPS) Hiper II is 33.80 m, while the required bend radius is 80 m according to the design speed of 50 km/hour. - The bend radius at Simpang Dama does not meet the 1997 Highways requirements. Keywords: Evaluation, Highway, Radius of bend, Comfort
Studi Komparasi Metode American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO) 1993 dan Metode Bina Marga 2017 Pada Perencanaan Tebal Lapis Perkerasan Wesli, Wesli; Akbar, Said Jalalul; Irwana, Irwana
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 13 No. 1 (2023): Volume 13 No 1, Maret 2023
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v13i1.891

Abstract

Abstrak Tebal perkerasan yang diteliti akan dikomparasi antara 2 metode yaitu metode Bina Marga 2017 dan metode AASHTO 1993 dengan tujuan untuk mengetahui besarnya komparasi tebal lapis pekerasan jalan. Hasil dari Metode Bina Marga 2017 menggambarkan bahwa tebal total perkerasan 54,5 cm erupa lapisan permukaan 10 cm terdiri dari lapis AC-WC 4 cm dan lapis AC-BC 6 cm, lapisan pondasi 44,5 cm terdiri dari lapis AC Base 14,5 cm dan lapis pondasi bawah 30 cm. Hasil dari Metode AASHTO 1993 didapat tebal total 83 cm berupa lapisan permukaan 15 cm, lapis pondasi 68 cm terdiri dari lapis pondasi atas 15 cm dan lapis pondasi bawah 53 cm. Lapis perkerasan AASHTO 1993 lebih tebal 65,6% berupa lapis permukaan lebih tebal 66,6%, lapis pondasi lebih tebal 65,4% dari Metode Bina Marga 2017. Kata Kunci: Komparasi, metode bina marga 2017, metode aashto 1993, perkerasan lentur, tebal perkerasan   Abstract The thickness of the pavement under study will be compared between the 2 methods, namely the 2017 Bina Marga method and the 1993 AASHTO method with the aim of knowing the magnitude of the thickness comparison of road pavement layers. The results of the 2017 Highways Method illustrate that the total pavement thickness is 54.5 cm, with a surface layer of 10 cm consisting of 4 cm AC-WC layer and 6 cm AC-BC layer, 44.5 cm foundation layer consisting of 14.5 AC Base layer. cm and 30 cm subbase layer. The results of the 1993 AASHTO method obtained a total thickness of 83 cm in the form of a 15 cm surface layer, 68 cm foundation layer consisting of 15 cm top layer and 53 cm bottom layer. The 1993 AASHTO pavement layer was 65.6% thicker in the form of a 66.6% thicker surface layer, 65.4% thicker foundation layer than the 2017 Highways Method. Keywords: Comparison, 2017 Bina Marga Method, 1993 AASHTO Method, Flexible Pavement, Pavement Thickness
Analisis Beban Emisi Pencemaran Udara Akibat Aktivitas Transportasi Kendaraan Bermotor di Jalan Keude Cunda, Kota Lhokseumawe Ersa, Nanda Savira; Akbar, Said Jalalul; Fadhliani, Fadhliani; Akbar, Teuku Ilhami Surya; Ikhwali, Muhammad Faisi
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 13 No. 2 (2023): Volume 13 Nomor 2, September 2023
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v13i2.898

Abstract

Abstrak Sektor transportasi salah satu penyumbang emisi udara terbesar di Indonesia. Selain berkontribusi terhadap pemanasan global, pencemaran udara juga dapat menurunkan kualitas kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi beban pencemaran udara dari aktivitas transportasi di ruas Jalan Keude Cunda, Kota Lhokseumawe. Penelitian diawali dengan survey lapangan untuk menentukan jumlah kendaraan yang melintas pada jam puncak selama 7 hari sepanjang 400 meter. Kendaraan diklasifikasikan menjadi sepeda motor, mobil pertalite dan mobil solar. Selanjutnya, dilakukan estimasi beban emisi pencemaran dengan metode Tier-1 dan Tier-2. Melalui metode Tier-1, untuk jenis BBM pertalite dan solar diestimasi menghasilkan beban emisi CO2 sebesar 99.178 ton/tahun, CH4 28,8 ton/tahun dan N2O 9,2 ton/tahun. Sedangkan dengan metode Tier-2, beban emisi CO sebesar 13,8 ton/tahun, HC 4 ton/tahun, NOx 0,7 ton/tahun, PM10 0,2 ton/tahun dan SO2 0,04 ton/tahun. Aksi mitigasi dengan program Car Free Day diestimasi dapat menurunkan beban emisi sebesar 6% setiap tahunnya. Kata kunci: Bahan bakar, beban emisi, jumlah kendaraan, pencemaran udara Abstract The transportation sector is one of the largest contributors to air emissions in Indonesia. Besides contributing to global warming, air pollution can also reduce the public health quality. This study aims to estimate the air pollution load from transportation activities on Jalan Keude Cunda, Lhokseumawe City. First, a field survey was conducted to determine the number of vehicles passing during peak hours for 7 days with mileage 400 meters. Vehicles are classified into motorcycles, gasoline cars and diesel cars. Secondly, estimation of pollution emission loads is carried out using the Tier-1 and Tier-2 methods. Lastly, emission load reduction is predicted through a program mitigation, namely the Car Free Day. Through the Tier-1 method, gasoline and diesel fuel are estimated to produce a CO2 emission load of 99,178 tons/year, CH4 28.8 tons/year and N2O 9.2 tons/year. Whereas with the Tier-2 method, the CO emission load is 13.8 tons/year, HC 4 tons/year, NOx 0.7 tons/year, PM10 0.2 tons/year and SO2 0.04 tons/year. The Car Free Day mitigation actions will contribute to reducing the emission load by 6% annually. Keywords: fuel, emission load, vehicle number, air pollution
Analisis Stabilitas Lereng Sungai Tamiang Kampung Rantau Pakam Yusuf, Khairullah; Al Hadi, Yassin; Maulani, Emi; Akbar, Said Jalalul; Arfiandi, Joni
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 13 No. 2 (2023): Volume 13 Nomor 2, September 2023
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v13i2.941

Abstract

Abstrak Lereng merupakan permukaan tanah yang memiliki beda tinggi. Ketidakstabilan lereng menyebabkan bencana keruntuhan yang menyebabkan kerugian secara materil maupun korban jiwa. Pada lereng Sungai Aceh Tamiang, Kampung Rantau Pakam, Provinsi Aceh sering terjadi bencana keruntuhan sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap stabilitas lereng. Penelitian bertujuan mengetahui nilai faktor keamanan lereng dan meningkatkan nilai stabilitas lereng sungai dengan perkuatan lereng. Metode analisis menggunakan metode Bishop untuk perhitungan secara manual dan Metode Elemen Hingga menggunakan bantuan software Plaxis 2D. Jenis perkuatan stabilitas lereng menggunakan soil nailing dan dinding MSE. Hasil penelitian menunjukkan nilai faktor keamanan lereng eksisting tidak memenuhi persyaratan minimum kestabilan lereng maka perlu perkuatan lereng. Hasil perhitungan faktor keamanan stabilitas lereng dengan perkuatan soil nailing sebesar 1,335 lebih kecil dari persyaratan sebesar 1,5. Faktor keamanan stabilitas lereng dengan perkuatan dinding MSE sebesar 1,457 lebih besar dari persyaratan sebesar 1,3. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode MSE lebih sesuai digunakan untuk perkuatan lereng. Kata kunci: Dinding MSE, faktor keamanan, metode Bishop, Plaxis 2D, soil nailing  AbstractThe slope is a ground surface that has a height difference. The instability of the slope can cause catastrophic collapse which causes material loss and loss of life. On the slopes of the Aceh Tamiang River, Rantau Pakam Village, Aceh Province, collapse of the slopes often occurs, so it is necessary to conduct research on slope stability. The research aims to determine the value of the slope safety factor and increase the stability value of river slopes by strengthening the slopes. The analytical method uses the Bishop method for manual calculations and the Finite Element Method uses Plaxis 2D software. The type of slope stability strengthening using soil nailing and MSE walls. The results showed that the value of the factor of safety for the existing slope did not meet the minimum requirements for slope stability, so it needed to strengthen the slope. Based on the analysis, the safety factor for slope stability with soil nailing strengthening is 1.335, which is less than the requirement of 1.5. The safety factor for slope stability with the MSE wall strengthening is 1.457, which is greater than the requirement of 1.3 for such method strengthening. The results of the analysis show that the MSE method is more suitable for slope strengthening at the location. Keywords: MSE wall, safety factor, bishop method, Plaxis 2D, soil nailing
Pemanfaatan Plastik Low Density Polyethylene (LDPE) dan Arang Tempurung Kelapa Sebagai Substitusi Sebagian Aspal Pada Lapisan AC-WC MT, Wesli; Syahputra, Mhd. Afrizam; Akbar, Said Jalalul; Muthmainnah, Muthmainnah
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 14 No. 2 (2024): Volume 14 Nomor 2, September 2024
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v14i2.1149

Abstract

Abstrak Sampah plastik saat ini sudah menjadi suatu permasalahan yang sangat umum di lingkungan hidup, upaya pengurangan dan pencegahan telah banyak dilakukan, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan pertumbuhan dan penggunaan yang terus meningkat khususnya plastik yang tidak terkelola dengan baik. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi limbah plastik adalah dengan memanfaatkan viscoelastisity plastik dan dikombinasikan dengan karbon arang tempurung kelapa serta material tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan pengganti sebagian aspal pada lapisan AC-WC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya variasi campuran plastik LDPE dan arang tempurung kelapa yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi parameter marshall pada lapisan AC-WC. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental yang bersifat deduktif. Hasil penelitian yang telah dilakukan dengan kadar variasi plastik LDPE 5%, 10%, 15% dikombinasikan dengan arang tempurung kelapa 5%, 10% dan 15% hasil yang diperoleh dari pengujian marshall untuk variasi 10%, VIM dan VFA tidak memenuhi, variasi 20% VIM dan VFA tidak memenuhi dan variasi 30% hanya flow yang tidak memenuhi spesifikasi yang disyaratkan oleh Bina Marga Tahun 2018 Revisi II, sehingga dapat disimpulkan bahwa plastik LDPE dan arang tempurung kelapa tidak dapat dimanfaatkan sebagai substitusi sebagian aspal pada variasi 10%, 20% dan 30%, hal tersebut disebabkan karena seluruh variasi campuran tidak memenuhi parameter marshall. Kata kunci: Arang Tempurung Kelapa, Plastik LDPE, Parameter Marshall, Substitusi Sebagian Aspal   Abstract Plastic waste has now become a very common problem in the environment, Many reduction and prevention efforts have been carried out, but the results obtained are not in line with the growth and increasing use, especially plastics that are not managed properly. One of the efforts that must be made to reduce plastic waste is to utilize the viscoelasticity of the plastic and combined with coconut shell charcoal carbon and the material will be used as a substitute for part of the asphalt in the AC-WC layer. The purpose of this study was to determine the magnitude of variations in the mixture of LDPE plastic and coconut shell charcoal that can be used to meet marshall parameters in the AC-WC layer. The method used in this study is an experimental method that is deductive. The results of studies that have been carried out with LDPE plastic variation levels of 5%, 10%, 15% combined with coconut shell charcoal 5%, 10% and 15% results obtained from marshall testing for 10% variation, VIM and VFA are not eligible, 20% variation in VIM and VFA are not qualified and 30% variation only flow does not meet the specifications required by Bina Marga 2018 Revision II, so it can be concluded that LDPE plastic and coconut shell charcoal cannot be used as a partial substitution of asphalt at variations of 10%, 20% and 30%, this is because the entire variation of the mixture does not meet the parameters of marshalls. Keywords: Coconut Shell Charcoal, LDPE Plastic, Marshall Parameters, Partial Substitution