Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal Pekommas

Hoaks Kategori Satire Sebagai Cyberbullying dalam Hoaks Isu Politik Agus Ari Iswara
Jurnal Pekommas Vol 6, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2021.2060207

Abstract

Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.
Social Media “Bali Clarify” as an Antidote to Hoaxes in Pandemic of Covid-19 Agus Ari Iswara; Ajeng Larasati
Jurnal Pekommas Vol 6, No 1 (2021): April 2021
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2021.2060108

Abstract

The pandemic of the Covid-19 Virus was used by hoax producers as momentum to spread false information. It has also happened in Bali Province. All parties must cooperate to stop the spread of hoaxes and additional media were needed to verify the correctness of the information and convey facts to the public. This research examined the category of hoaxes related to Covid-19 and the use of the “Bali Carify” social media account as a medium for publishing fact-checking results as well as educating the public about the 7 categories of hoaxes. This research used two data sources: reports were released by Bali Province Office of Communication, Information, and Statistic (Diskominfos) and social media monitoring results. Data collection techniques use secondary data in the form of journals, books, and mass media that were relevant to the problems in the study. The object of this research was hoaxes related to Covid-19. This research applied the theory of classification hoaxes into seven categories and theory to verify the correctness of the information. Data analysis was performed inductively.  The data period was limited to only from January to June 2020 (six months). From 14 samples of hoax data that content was related to the Covid-19 phenomenon in Bali, one data was taken that can represent the hoax in the specified category. The results found that there were six categories of hoaxes circulating in Bali, namely parody, misleading content, fake content, fake content, false context, and manipulated content.
Analisis Hoaks Yang Dipublikasikan Berulang Iswara, Agus Ari
Jurnal Pekommas Vol 8 No 1 (2023): June 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v8i1.4950

Abstract

This study is about repeated hoaxes. This is qualitative research. The online library method was applied to collect references, theories, and data. Data triangulation was needed to ensure that the data used were fact-checked and verified as hoaxes. Data collected by the tapping method and note-taking technique. Data were collected from Turnbackhoax.id. The ‘Search’ menu on the Turnbackhoax.id website was used to find data with some keywords. Data were presented in the form of links of the fact-checked result of old hoaxes and recycled hoaxes followed with its clarification. Data analysis used the descriptive method assisted by the triangulation method with theories. The result of this study showed hoax producers got an advantage over internal and external factors. The internal factor, hoax maker chose topics that seem important and were presented with a persuasive or provocative narrative. The first external factor was the level of literation of the recipient of the information. Second, environmental conditions or momentum that supported the spread of repeated hoaxes. Then, the momentum that could trigger friction in society also supports the circulation of repeated hoaxes.
Social Media “Bali Clarify” as an Antidote to Hoaxes in Pandemic of Covid-19 Iswara, Agus Ari; Larasati, Ajeng
Jurnal Pekommas Vol 6 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v6i1.3720

Abstract

The pandemic of the Covid-19 Virus was used by hoax producers as momentum to spread false information. It has also happened in Bali Province. All parties must cooperate to stop the spread of hoaxes and additional media were needed to verify the correctness of the information and convey facts to the public. This research examined the category of hoaxes related to Covid-19 and the use of the “Bali Carify” social media account as a medium for publishing fact-checking results as well as educating the public about the 7 categories of hoaxes. This research used two data sources: reports were released by Bali Province Office of Communication, Information, and Statistic (Diskominfos) and social media monitoring results. Data collection techniques use secondary data in the form of journals, books, and mass media that were relevant to the problems in the study. The object of this research was hoaxes related to Covid-19. This research applied the theory of classification hoaxes into seven categories and theory to verify the correctness of the information. Data analysis was performed inductively.  The data period was limited to only from January to June 2020 (six months). From 14 samples of hoax data that content was related to the Covid-19 phenomenon in Bali, one data was taken that can represent the hoax in the specified category. The results found that there were six categories of hoaxes circulating in Bali, namely parody, misleading content, fake content, fake content, false context, and manipulated content.
Hoaks Kategori Satire Sebagai Cyberbullying dalam Hoaks Isu Politik Iswara, Agus Ari
Jurnal Pekommas Vol 6 No 2 (2021): October 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v6i2.3945

Abstract

Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.