Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

KONSTRUKSI KALIMAT KESANTUNAN BERBAHASA Iswara, Agus Ari; J. Sastaparamitha, Ni Nyoman
Sphota : Jurnal Linguistik dan Sastra Vol 11 No 2 (2019): Sphota
Publisher : Sphota : Jurnal Linguistik dan Sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.935 KB)

Abstract

This research aims in analyzing about politeness of STMIK STIKOM Indonesia?s students and lecturers based on their sentence construction in communicating on social media. The data was collected from documentation of their conversation on social media in two semesters of 2017 until 2018. Theory of Pragmatic from Wijana and theory of Indonesian Languages from Moelyono and Alwi are applied in this research. The research shows some result. Based on constructions of the sentence, the politeness can be divided by three parameters; those are syntactic form of the sentence, completeness of the sentence element, and word sequence pattern.
Hoaks Kategori Satire Sebagai Cyberbullying dalam Hoaks Isu Politik Agus Ari Iswara
Jurnal Pekommas Vol 6, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2021.2060207

Abstract

Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.
Social Media “Bali Clarify” as an Antidote to Hoaxes in Pandemic of Covid-19 Agus Ari Iswara; Ajeng Larasati
Jurnal Pekommas Vol 6, No 1 (2021): April 2021
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2021.2060108

Abstract

The pandemic of the Covid-19 Virus was used by hoax producers as momentum to spread false information. It has also happened in Bali Province. All parties must cooperate to stop the spread of hoaxes and additional media were needed to verify the correctness of the information and convey facts to the public. This research examined the category of hoaxes related to Covid-19 and the use of the “Bali Carify” social media account as a medium for publishing fact-checking results as well as educating the public about the 7 categories of hoaxes. This research used two data sources: reports were released by Bali Province Office of Communication, Information, and Statistic (Diskominfos) and social media monitoring results. Data collection techniques use secondary data in the form of journals, books, and mass media that were relevant to the problems in the study. The object of this research was hoaxes related to Covid-19. This research applied the theory of classification hoaxes into seven categories and theory to verify the correctness of the information. Data analysis was performed inductively.  The data period was limited to only from January to June 2020 (six months). From 14 samples of hoax data that content was related to the Covid-19 phenomenon in Bali, one data was taken that can represent the hoax in the specified category. The results found that there were six categories of hoaxes circulating in Bali, namely parody, misleading content, fake content, fake content, false context, and manipulated content.
KOMPOSISI DAN MODIFIKASI NARASI PADA HOAKS BERULANG Agus Ari Iswara
Linguistik Indonesia Vol 39, No 2 (2021): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v39i2.239

Abstract

This research examined the comparison of hoax narratives that have been published and then recycled and re-published. The data source for this research was Turnbackhoax.id, an antidote to hoaxes media in Indonesia. Data were collected using online library methods and documentation techniques. Data triangulation was applied on the Turnbackhoax.id page so that the data used had been verified as a hoax. Data analysis used the side-by-side comparison method in the Plagiarism Checker application. The analysis was assisted by triangulation with theories. Data and analysis were presented descriptively. Based on the side-by-side comparison method, the narratives on the old hoaxes that were republished varied, performed a slight modification, performed many modifications, modifications with additional narratives, and eliminated narratives. The composition or a narrative framework of hoaxes also varied. There were the head; salutation; dateline; lead; body; and closing which was followed by a complimentary close and the element of ‘So What’. There were also hoax narratives that did not have complete elements of the head, salutation, dateline, lead, body, and closing. Information in old and recycled hoax narratives did not have a complete 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How) element and the information was unclear and fictitious. Hoaxes generally contain ‘So What’ elements with imperative narratives with persuasive or provocative diction.
KONSTRUKSI KALIMAT KESANTUNAN BERBAHASA: KOMUNIKASI MAHASISWA DAN DOSEN STMIK STIKOM INDONESIA Agus Ari Iswara; Ni Nyoman Ayu J. Sastaparamitha
SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2019): SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa Asing (FBA) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.935 KB) | DOI: 10.36733/sphota.v11i2.1194

Abstract

This research aims at analyzing about politeness of STMIK STIKOM Indonesia’s students and lecturers based on their sentence construction in communicating on social media. The data was collected from documentation of their conversation on social media in two semesters of 2017 until 2018. Theory of Pragmatic from Leech and structural theory from Alwi are applied in this research. The research indicates that based on the number of clauses students and lecturers use simple sentence and compound sentence. Based on the syntactic form of the sentence, they use declarative, interrogative, imperative, exclamation, and affirmative sentence. Based on the completeness of the sentence element, they use complete and incomplete sentence. Based on the word sequence pattern, they use regular and inversion word sequence pattern
Pengenalan Big Data Untuk Siswa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Piwulang Becik Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah Ni Kadek Ariasih; I Komang Arya Ganda Wiguna; Wayan Gede Suka Parwita; Ni Putu Suci Meinarni; I Made Dwi Putra Asana; Gede Wirya Wardhana; Eddy Hartono; Ni Nyoman Ayu J. Sastaparamitha; Emmy Febriani Thalib; Agus Ari Iswara; Dwi Novitasari; Ni Luh Putu Agetania; Ni Luh Putu Mery Marlinda
Journal of Social Work and Empowerment Vol 1 No 1 (2021): Journal of Social Work and Empowerment - September 2021
Publisher : Yayasan Sinergi Widya Nusantara (Sidyanusa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Memberikan solusi untuk mitra yaitu, pengembagan konten-konten digital untuk mendukung akun sosial media mitra seperti facebook, Instagram, TikTok, dan youtube sebagai strategi pemasaran, pelatihan sosial media marketing dan mengolah konten digital untuk keperluan promosi. Tidak lupa mitra juga menerapkan model protokol kesehatan new normal dalam pemberian jasa bagi konsumen. Menyediakan konten-konten digital yang kreatif bagi mitra untuk mendukung proses pemasaran merupakan tujuan yang ingin dicapai melalui program ini dan selanjutnya mitra diharapkan mampu mengembangkan konten-konten digital secara mandiri. Metode Penelitian: Metode Pelaksanaan meliputi beberapa kegiatan, dimulai dari analisis kebutuhan mitra hingga evaluasi dan pelaporan. Analisis kebutuhan dilakukan terhadap manajemen pemasaran, manajemen tugas, manajemen produk dan pelayanan jasa sehingga dapat dirumuskan pada program ini kegiatan yang berbasis pemanfataan teknologi dan penerapan standar protokol Kesehatan. Penemuan: Kondisi pandemi COVID-19 memberikan dampak yang cukup signifikan pada mitra yaitu menurunnya omzet dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Jasa rias adalah salah satu jasa yang mengharuskan antara pemberi jasa dan penikmat jasa saling bersentuhan. Hal ini cukup menyulitkan mitra untuk berstrategi agar tetap mendapatkan pelanggan baik jasa rias maupun penyewaan busananya. Selain itu, kemampuan mitra untuk memanfaatkan teknologi informasi sebagai salah satu sarana marketing dirasa belumlah maksimal. Implikasi: Dalam hal pemanfaatan teknologi, kegiatan akan berfokus pada pemanfaatan berbagai media sosial untuk meningkatkan promosi dengan menambah konten-konten digital melalui foto produk berupa layanan jasa makeup dan penyewaaan kostum. Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 bulan dan mengingat kuantitas dari program ini yang cukup banyak, tim program akan melaksanakan penelitian ini sesuai dengan bidang keahlian masing-masing tim agar segala seuatunya berjalan secara efisien, efektif dan selesai tepat waktu.
Analisis Hoaks Yang Dipublikasikan Berulang Iswara, Agus Ari
Jurnal Pekommas Vol 8 No 1 (2023): June 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v8i1.4950

Abstract

This study is about repeated hoaxes. This is qualitative research. The online library method was applied to collect references, theories, and data. Data triangulation was needed to ensure that the data used were fact-checked and verified as hoaxes. Data collected by the tapping method and note-taking technique. Data were collected from Turnbackhoax.id. The ‘Search’ menu on the Turnbackhoax.id website was used to find data with some keywords. Data were presented in the form of links of the fact-checked result of old hoaxes and recycled hoaxes followed with its clarification. Data analysis used the descriptive method assisted by the triangulation method with theories. The result of this study showed hoax producers got an advantage over internal and external factors. The internal factor, hoax maker chose topics that seem important and were presented with a persuasive or provocative narrative. The first external factor was the level of literation of the recipient of the information. Second, environmental conditions or momentum that supported the spread of repeated hoaxes. Then, the momentum that could trigger friction in society also supports the circulation of repeated hoaxes.
Strengthening Writing Skill Using Duolingo and Grammarly Di Panti Asuhan Tat Twan Asi Denpasar Monny, Maria Osmunda Eawea; Agus Ari Iswara; Evelyn Angelita Pinondang Manurung
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 2 No. 4 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 2 Nomor 4 (April 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v2i4.290

Abstract

This Community Service Activity aimed to improve English language mastery skills, especially the acquisition of vocabulary and grammar and continued with the Grammarly application to enhance grammar to a more advanced level. This activity was carried out at Tat Twam Asi-Denpasar Orphanage and was attended by 22 participants who were children from the orphanage who were middle and high school students. The Duolingo and Grammarly applications were chosen because these two applications are quite easy to use and can be downloaded and installed on cell phones and personal computers. This activity can be carried out on the spot because of the stable internet network at PKM partners. This activity was carried out for 2 days, where the first day was the Duolingo application activity and the second day was the Grammarly application. The results of this activity show that the participants have enthusiasm for learning vocabulary and grammar which the participants need at school and will then use when the participants have jobs in the future.
Social Media “Bali Clarify” as an Antidote to Hoaxes in Pandemic of Covid-19 Iswara, Agus Ari; Larasati, Ajeng
Jurnal Pekommas Vol 6 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v6i1.3720

Abstract

The pandemic of the Covid-19 Virus was used by hoax producers as momentum to spread false information. It has also happened in Bali Province. All parties must cooperate to stop the spread of hoaxes and additional media were needed to verify the correctness of the information and convey facts to the public. This research examined the category of hoaxes related to Covid-19 and the use of the “Bali Carify” social media account as a medium for publishing fact-checking results as well as educating the public about the 7 categories of hoaxes. This research used two data sources: reports were released by Bali Province Office of Communication, Information, and Statistic (Diskominfos) and social media monitoring results. Data collection techniques use secondary data in the form of journals, books, and mass media that were relevant to the problems in the study. The object of this research was hoaxes related to Covid-19. This research applied the theory of classification hoaxes into seven categories and theory to verify the correctness of the information. Data analysis was performed inductively.  The data period was limited to only from January to June 2020 (six months). From 14 samples of hoax data that content was related to the Covid-19 phenomenon in Bali, one data was taken that can represent the hoax in the specified category. The results found that there were six categories of hoaxes circulating in Bali, namely parody, misleading content, fake content, fake content, false context, and manipulated content.
Hoaks Kategori Satire Sebagai Cyberbullying dalam Hoaks Isu Politik Iswara, Agus Ari
Jurnal Pekommas Vol 6 No 2 (2021): October 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v6i2.3945

Abstract

Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.Cyberbullying atau perundungan di dunia digital merupakan kekerasan atau penindasan melalui perangkat yang terhubung ke media cyber. Cyberbullying dapat berupa tindakan menyebarkan kebohongan tentang korban atau mengunggah gambar yang bercitra negatif dari korban dengan tujuan mencemooh, menebar kebencian, dan kritik yang melecehkan pada korban. Terdapat persamaan karakteristik antara cyberbullying dengan hoaks kategori satire. Dalam era kekacauan informasi, satire dimanfaatkan untuk mengelabui pemeriksaan fakta dan untuk menyebarkan kebohongan dengan terselubung, seolah-olah tidak dimaksudkan untuk hal yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hoaks kategori satire dikaji sebagai tindakan cyberbullying, khususnya hoaks dengan konten isu politik, dan bagaimana pola kekuasaan pelaku dan korban. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian sosial yang dipadukan dengan metode penelitian bahasa. Metode penelitian sosial diaplikasikan untuk menjelaskan mengenai status fenomena. Metode penelitian bahasa digunakan untuk membantu dalam penyajian data narasi hoaks dan membantu penyajian analisis. Objek kajian dari penelitian ini adalah konten informasi yang terverifikasi hoaks berkategori satire yang mengandung unsur penghinaan. Sumber data penelitian ini adalah media daring Turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Data dikumpulkan dengan metode pustaka yang dipadukan dengan teknik dokumentasi dan teknik catat. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Metode triangulasi digunakan untuk memverifikasi fakta hoaks dan kategori hoaks. Triangulasi secara teoritis diaplikasikan dalam analisis. Data yang digunakan dibatasi dari periode Bulan Januari sampai April tahun 2021. Hasil penelitian disajikan menggunakan desain deskriptif yang menjelaskan mengenai status fenomena. Analisis disajikan berupa gambar beserta deskripsi-deskripsi singkat. Cyberbullying berupa hoaks kategori satire dengan tujuan untuk menghina, menyebarkan ujaran kebencian, menyampaikan konten yang intimidatif. Kontennya dibuat secara sengaja, memiliki tujuan mengkritik atau tujuan politis, dan pelaku sudah menentukan sasaran korbannya. Kontennya untuk menganggu kepentingan politik atau kekuasaan tokoh politik. Kemudian, konten dapat dipublikasikan berulang-ulang atau terus menerus. Cyberbullying dalam bentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung berjenis harassment, image of victim spread, dan opinion slammed. Cyberbullying berbentuk hoaks kategori satire dengan konten politik cenderung memiliki karakteristik willful, harm, dan repeated. Dalam perundungan cyber yang menggunakan media hoaks satire, pelaku mengunggah narasi yang frontal dan intimidatif, seolah-olah pelaku memiliki kuasa yang lebih besar untuk menghina.