Claim Missing Document
Check
Articles

TRUTH & POST TRUTH DEWASA INI Mohammad Refi Omar Ar Razy; Mumuh Muhsin Zakaria
SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi Vol 15 No 02 (2021): Volume 15 No 02 Juli-Desember 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) - Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jsfk.v15i02.2293

Abstract

Artikel ini berusaha menganalisis konsep mengenai kebenaran dan pasca kebenaran dalam kajian filsafat dikaitkan dengan kajian kontekstual. Perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia seolah tidak pernah berakhir, pasalnya perkembangan apa yang dianggap benar dewasa ini berbeda dengan apa yang dianggap benar pada masa sebelumnya. Perkembangan zaman dewasa ini yang sering disebut sebagai postmodernisme yang di dalamnya termasuk dalam banyaknya penemuan-penemuan yang dilakukan oleh manusia terutama mengenai penemuan teknologi ikut mempengaruhi hal-hal yang dianggap benar. Perkembangan kebenaran menuju pasca kebenaran juga bukanlah sesuatu yang instan tetapi melalui sebuah proses evolusi yang cukup lama sehingga perlu kajian yang cukup mendalam bagaimana proses tersebut, juga hal-hal yang dimaksud ke dalam isi dari konsepsi mengenai kebenaran dan pasca kebenaran. Selain itu, artikel ini menggunakan metode kualitatif di mana menekankan terhadap analisis-analisis sumber yang relevan dengan kajian yang dimaksud. Dari artikel ini dapat diketahui: 1) maksud dari kebenaran yang di dalamnya menggunakan pendekatan teori-teori kebenaran. 2) maksud dari pasca kebenaran dengan terlebih dahulu mengkaji mengenai pasca modern. 3) fenomena pasca kebenaran yang terjadi di Indonesia dengan lebih mengkaji kehidupan bersosial media yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan terutama mengenai politik dan ilmu pengetahuan.
PERAN ORMAS ISLAM DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL (SEJARAH DAN PERAN FUUI DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL BANDUNG 2000-2003) Samsudin Samsudin; Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.9034

Abstract

Ulil Abshar Abdalla sebagai tokoh Islam Liberal pernah mengungkapkan Pemahaman ”hukum tuhan” yang oleh kebanyakan orang orang islam sebetulnya tidak ada. Aspek yang dibahas meliputi hukum pernikahan, jual beli, pencurian dan lain sebagainya yang tergolong prinsip umum lebih dikenal maqashidusy syari’an dalam tradisi pengkajian hukum klasik. Pernyataan ini mendapat kritikan tajam dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) terhadap pernyataan tidak ada namanya “hukum Tuhan” adalah sebuah prilaku penghinaan. Dengan kritik tajam terhadap Islam liberal itu, maka penulis tertarik untuk meneliti FUUI tersebut dengan tujuan diperoleh gambaran sejarah berdirinya FUUI, bagaimana peran FUUI dalam menolak pemikiran Islam Liberal, dan bagaimana pengaruh FUUI dalam menolak Islam Liberal. Penulis menggunakan dengan metode sejarah, terdiri dari heuristik, kritik (Intern dan Ekstern), interpretasi, juga historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, FUUI didirikan pada hari Selasa tanggal 1 November 2000 di mesjid Al-Furqan UPI Bandung, dengan sekretariat di Mesjid Al-Fajr Jl.Situsari VI No 2 Cijagra Bandung. Keanggotaan FUUI terdiri dari seluruh wilayah Indonesia dengan penasehat H. Prof. Dr. M. Djawad Dahlan, ketua umum pertama K.H. Atiyan Ali. M. Da’I, MA, dan sekretris jendral Ustadz. Hedi Muhammad Suwandi. Peranannya dalam menolak Islam Liberal Semua Ulama dan umat Islam yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur sepakat mengeluarkan pernyataan, dari penolakan ini. Kemudian dampaknya memengaruhi ormas lain yang menolak Islam liberal, seperti Forum Bandung Circle, Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), Institut for the Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Indonesia Tanpa JIL (ITJ), dan Pimpin Bandung serta puncaknya dikeluarkan fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme.Kata Kunci: Islam liberal, sejarah, dampak penolakan FUUI
Perjuangan Rakyat Cirebon-Indramayu Melawan Imprialisme Wahyu Iryana; Nina Herlina Lubis; Mumuh Muhsin Zakaria; Kunto Sofianto
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2022

Abstract

Attempts to write local history to the development of national history writing is very important, even expected at each campus has a study program must include the History Education courses Local History or can be Local Historiography. The research method that I use is the heuristic method historical research, criticism, interpretation and historiography. Exposure War history Kedondong or War of Cirebon to Dutch colonization and social protests of farmers in Indramayu during the Japanese occupation is one of the local history authors suppose caliber already can be called national history. Writing of local history is not only the responsibility of all academics who manages the department of History Education in Indonesia but also the relevant government policy.  
STRUKTUR SOSIAL, POLITIK, DAN PEMILIKAN TANAH DI PRIANGAN ABAD KE-19 Mumuh Muhsin Z.
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.343 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i3.253

Abstract

AbstrakAbad ke-19 bagi Priangan khususnya dan Pulau Jawa umumnya merupakanmomen penetrasi kolonial yang sangat intens. Hal ini dilakukan melalui pelibatanhampir sebagian besar komponen masyarakat dalam mengusahakan tanamankomersial yang laku di pasar internasional, seperti nila, kopi, teh, dan kina. Gunamengoptimalkan pencapaian target-targetnya, pemerintah kolonial melakukanrekayasa tatanan sosial dan politik masyarakat pribumi. Pola rekayasa sosial politikyang dilakukannya tidak selalu tetap. Perubahan selalu dilakukan atas nama dan demikepentingan pemerintah kolonial yakni mendapatkan keuntungan ekonomi sebesarbesarnyabagi kesejahteraan negeri induknya, Kerajaan Belanda.Mobiltas sosial terjadi semakin dinamis, baik yang bersifat vertikal maupunyang horizontal. Hal itu terjadi terutama setelah dibuka peluang bagi pribumi untukmemasuki sekolah. Munculnya elit baru hasil dari sistem pendidikan ini berefek padaperubahan-perubahan sosial. Satu sisi ketidakmungkinan kelompok sosial menengah(priyai rendah) masuk birokrasi pemerintah berakhir sudah. Pola rekruitmen pegawaipemerintah bukan lagi didasarkan pada faktor “darah” (geneologis), tapi faktorkemampuan dan prestasi yang direpresentasikan dalam bentuk ijazah. Sisi lain,secara kuantitas muncul elit-elit baru di tengah-tengah masyarakat. Artinya juga,konsekuensi dari perubahan sosial seperti itu, kekuatan politik yang semula hanyaterpusat pada elit tradisional mengalami pemudaran karena semakin terbagi denganelit-elit baru. Tidak hanya terhadap aspek sosial dan politik penduduk pribumi, tetapipengaturan-pengaturan mengenai tataguna tanah pun senantiasa dilakukan. Tanahsebagai faktor produksi yang cukup penting mesti direkayasa sedemikian rupa demikepentingan pemerintah kolonial. Kombinasi dari politisasi aspek sosial, politik, danpertanahan tak pelak lagi telah menguntungkan pemerintah kolonial.AbstractIn 19th century, Priangan – and Java in general – faced an intensive colonialpenetration. The Dutch colonial government forced people to cultivate some crash crops which were highly demanded in international market, such as nila (IndigoferaL), quinine (Chincona spp.), tea (Camellia sinensis) and coffee (Coffea). The colonialgovernment constructed social and political structue among native Indonesians inorder to gain their goals and targets. Land, as an important factor of productions hadto be reformed for the sake of the colonial government. Land reform was established,allowing new elites to emerge. These new elites had changed traditional socialstructure, making traditional elites less powerful among their society.
PENGOBATAN ALTERNATIF PENYAKIT TULANG STUDI KASUS KEARIFAN LOKAL PARA TERAPIS PENYAKIT TULANG DI WILAYAH JAWA BARAT Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni; Ayu Septiani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.931 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.544

Abstract

Penelitian tentang pengobatan alternatif penyakit tulang ini dilakukan dengan tujuan, pertama, untuk mengungkap faktor-faktor  yang menjadi alasan pengobatan alternatif penyakit tulang masih sangat diminati oleh masyarakat; kedua, menjelaskan kearifan lokal yang digunakan oleh  para terapis penyakit tulang dalam praktik pengobatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal para terapis penyakit tulang di wilayah Jawa Barat. Pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian lapangan adalah terungkapnya alasan masyarakat masih menggunakan jasa pengobatan tradisional. Alasan itu meliputi alasan praktis, ekonomis, berdaya guna, dan berhasil guna. Selain itu, terungkap juga kearifan lokal yang diwujudkan dalam cara penanganan pasien. Simpulannya adalah pengobatan alternatif penyakit tulang bukan lagi sebagai alternatif tetapi menjadi pilihan utama dan pertama. Oleh karena itu, kearifan lokal yang berkait dengan hal itu perlu diwariskan kepada generasi berikutnya dan sekaligus disistematisasi secara metodologis.This research aims to study why alternative medicine for bone disease is still in great demand by the public and to explain the local wisdom used by therapists for bone disease in West Java. This study uses a descriptive-qualitative method. Data collection is carried out through field studies, interviews, and literature studies. The results show that efficaciousness of its treatment are the reasons why the appeal for alternative medicine for bone disease aren’t declining, besides it having practical and economic advantages. In addition, local wisdom in handling patients plays an important part in its success. The conclusion is that alternative treatments for bone disease are no longer an alternative but they are becoming the first and foremost choice. Therefore, its local wisdom needs to be passed on to the next generation and at the same time methodologically systematized.
THE REPRESENTATION OF SUNDANESE FOLKLORE NYI MAS SANGHYANG DEWI SRI IN THREE LANGUAGES Erlina Zulkifli Mahmud; Taufik Ampera; Mumuh Muhsin Zakaria
Sosiohumaniora Vol 24, No 2 (2022): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v24i2.35494

Abstract

Folklore about Dewi Sri, the goddess of fertility in Indonesian culture has various versions. The version of the folklore used in this article is the Sundanese version “Nyi Mas Sanghyang Dewi Sri” collected in a research done by lecturers of Faculty of Cultural Sciences, Universitas Padjadjaran. The folklore is represented in a written text in Sundanese language as the source language text and from the text, it is represented in Indonesian language as the first target language text, then in English language as the second target language text. How the folklore is represented in three languages and what methods of translation are used in target language texts are the objectives of this research. The research method used is descriptive-comparative method. The results show that the folklore is represented in different ways; some additional information are added particularly in the English target text and the method of translation used in the two target languages is mostly communicative translation but in the second target language text, free translation is also found. Despite these differences, the message that needs to be conveyed about Nyi Mas Sanghyang Dewi Sri as the goddess of fertility remains the same in all texts.
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat Kuna Tatar Sunda (Abad V –XVI) Mumuh Muhsin Zakaria
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22867

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis kondisi sosial-ekonomi masyarakat Tatar Sunda pada abad ke-5 hingga abad ke-16. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.  Hasil dari kajian ini adalah bahwa wilayah Tatar Sunda memiliki potensi ekonomi yang  sangat tinggi. Hal ini dimungkinkan berkat faktor-faktor geografis. Tatar Sunda memiliki tanah yang sangat subur dan bisa ditanami oleh beragam jenis tanaman, termasuk tanaman ekspor yang sangat laku di pasar internasional. Di samping itu, wilayah Tatar Sunda pun cukup strategis karena memiliki banyak pelabuhan yang bisa dijadikan akses ke luar dan masuknya barang dan orang dari dalam dan luar Tatar Sunda.This article aims to analyze the socio-economic conditions of the Tatar Sunda community in the 5th to the 16th century.The method used is a historical method that includes four stages of work, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography.The result of this study is that the Tatar Sunda region has very high economic potential.This is possible because of geographical factors. Tatar Sunda has very fertile land and can be planted by various types of plants, including export crops needed on the international market.In addition, the Tatar Sunda region is also quite strategic because it has many ports that could be used as access to the outside and the entry of goods and people from inside and outside the Tatar Sunda.    
PERAN ACHMAD NOE’MAN TERHADAP DAKWAH DAN PEMBAHARUAN GAGASAN ARSITEKTUR MASJID DI INDONESIA Muhammad Rizki Utama; Mumuh Muhsin Zakaria; Raden Muhammad Mulyadi
Metahumaniora Vol 13, No 1 (2023): METAHUMANIORA, APRIL 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i1.43180

Abstract

Kehadiran Islam di Indonesia mempengaruhi beragam aspek seperti kebudayaan, sosial,  termasuk bidang arsitektur dengan munculnya bangunan masjid sebagai produk budaya yang berkembang di lingkungan komunitas Muslim. Arsitektur awal masjid di Nusantara selama berabad-abad memiliki ciri khas atap tumpang dengan tiang penyangga di tengahnya. Mulai awal abad ke-20, dominasi atap tumpang mulai terkikis dengan mendominasinya masjid berkubah di Indonesia. Pada masa itulah sosok arsitek Achmad Noe’man hadir melakukan pembaharuan pada bidang arsitektur masjid dengan rancangan yang berbeda dari masjid-masjid sebelumnya yang pernah ada yaitu Masjid Salman ITB. Karya-karyanya mendobrak tradisi arsitektur masjid pada zamannya. Tulisan ini mencoba menguraikan secara singkat pengaruh dan peran Achmad Noe’man sebagai seorang yang berlatar belakang muslim modernis terhadap perkembangan dakwah Islam dan pembaharuan gagasan arsitektur masjid di Indonesia.
Prosedur Pengajuan Dana Bantuan di Lazis Darul Hikam Ahmad Kusnadin; Ilham Mujahid; Mumuh Muhsin; Ade Hidayat
Prestise: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Ekonomi dan Bisnis Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Ekonomi dan Bisnis
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/prestise.v1i1.16648

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan materi dan kemampuan sertamenambah wawasan dan pengetahuan bagi para mahasiswa yang setelah lulus akanmenghadapi dunia kerja. Metodologi yang digunakan adalah metode deskriptifdengan prosedur pemecahan masalah yang memerlukan pendefinisian status subjekatau objek studi, yang dapat mencakup orang, institusi, komunitas, dan entitas lainyang saat ini didasarkan pada fakta yang terlihat atau apa adanya. Dalam bekerjaselama kuliah kerja lapangan (KKL) di LAZIS Darul Hikam, penulis di amanahidan bertanggung jawab untuk menjadi penanggung jawab program berbagi takjilbuka puasa setiap hari senin dan kamis yang dilaksanakan pada setiap pekannya,kegiatan program ini disalurkan kepada masjid-masjid yang menghimpun danmenerima sedekah takjil untuk berbuka puasa hari senin dan kamis. Hasil yangdidapat Memberikan pemikiran dan terobosan baru dalam strategi pemasarandengan menciptakan dan mengelolaan media sosial sebagai iklan agar lembagaLAZIS Darul Hikam dikenal lebih luas lagi, terutama di sosial media youtube daninstagram, Membuat struktur organisasi berbentuk majalah dinding LAZIS DarulHikam, Menciptakan suasana kerja menjadi lebih hangat, tidak kaku dan salingbekerja sama antara satu dan yang lainnya.Kata kunci: LAZIS, Teknik Deskriptif, Hubungan Internal Eksternal, ProsedurPengajuan Dana
The Pesantren Networking in Priangan (1800-1945) Ading Kusdiana; Nina Herlina Lubis; Nurwadjah Ahmad EQ; Mumuh Muhsin Z
International Journal of Nusantara Islam Vol 1, No 2 (2013): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v1i2.30

Abstract

This research is about the networks of pesantren in Priangan from 1800 to 1945. The result shows that along 1800-1945, there were many networks that described the relations among pesantrens in Priangan. There are five networks forms as manifested from those relations. First, the networks among pesantrens, which were formed, are based on scientific relation. They are Pesantren Al-Falah Biru, Pangkalan and Keresek in Garut; Gentur, Kandang Sapi and Darul Falah Jambudipa in Cianjur; Sukamiskin Bandung; and Darul Ulum in Ciamis. Those pesantrens have intellectual relation that pointed to one public figure, namely Syekh Khatib Sambas in Mecca. Second, the networks among pesantrens, which were formed, are based on relative (genealogy) relations. The existence of Pesantren Sumur Kondang, Keresek, Gentur, and Cijawura were the ones that have this relation. Third, the networks among pesantrens, which were formed, are based onmarriage relation. For instance, Pesantren Cidewa with Pagerageung, Pesantren Cipari with Cilame, Cipasung with Gentur Rancapaku, Cijantung with Gegempalan, Sukamiskin with Al-Jawami, and Pesantren Sukamiskin with Cijawura Bandung, were the ones that have this relation. Fourth, the networks among pesantrens, which were formed, are based on the similarities in developing a particular Islamic mysticism (tarekat). The existence of Pesantren Suryalaya which develops Qodiriyah wa Naqsabandiyah mysticism—followed by generating their talqin and Pesantren Al-Falah Biru which develops Tijaniyah mysticism—followed by generating their muqaddam are the ones of this relation. Fifth, the networks among pesantrens, which were formed, are based on the same vision of their movement and struggle against the colonizer. The existence of Pesantren Al-Falah Biru with Samsul Ulum Gunung Puyuh through POII (Persatoean Oemat Islam Indonesia) organization, and Pesantren Cipasung with Sukamanah through Nahdhatul Ulama organization in Tasikmalaya were the ones who struggle against the colonizers of Netherland and Japan.