Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PERAN ORMAS ISLAM DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL (SEJARAH DAN PERAN FUUI DALAM MENOLAK ISLAM LIBERAL BANDUNG 2000-2003) Samsudin Samsudin; Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.9034

Abstract

Ulil Abshar Abdalla sebagai tokoh Islam Liberal pernah mengungkapkan Pemahaman ”hukum tuhan” yang oleh kebanyakan orang orang islam sebetulnya tidak ada. Aspek yang dibahas meliputi hukum pernikahan, jual beli, pencurian dan lain sebagainya yang tergolong prinsip umum lebih dikenal maqashidusy syari’an dalam tradisi pengkajian hukum klasik. Pernyataan ini mendapat kritikan tajam dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) terhadap pernyataan tidak ada namanya “hukum Tuhan” adalah sebuah prilaku penghinaan. Dengan kritik tajam terhadap Islam liberal itu, maka penulis tertarik untuk meneliti FUUI tersebut dengan tujuan diperoleh gambaran sejarah berdirinya FUUI, bagaimana peran FUUI dalam menolak pemikiran Islam Liberal, dan bagaimana pengaruh FUUI dalam menolak Islam Liberal. Penulis menggunakan dengan metode sejarah, terdiri dari heuristik, kritik (Intern dan Ekstern), interpretasi, juga historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, FUUI didirikan pada hari Selasa tanggal 1 November 2000 di mesjid Al-Furqan UPI Bandung, dengan sekretariat di Mesjid Al-Fajr Jl.Situsari VI No 2 Cijagra Bandung. Keanggotaan FUUI terdiri dari seluruh wilayah Indonesia dengan penasehat H. Prof. Dr. M. Djawad Dahlan, ketua umum pertama K.H. Atiyan Ali. M. Da’I, MA, dan sekretris jendral Ustadz. Hedi Muhammad Suwandi. Peranannya dalam menolak Islam Liberal Semua Ulama dan umat Islam yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah serta Jawa Timur sepakat mengeluarkan pernyataan, dari penolakan ini. Kemudian dampaknya memengaruhi ormas lain yang menolak Islam liberal, seperti Forum Bandung Circle, Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), Institut for the Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Indonesia Tanpa JIL (ITJ), dan Pimpin Bandung serta puncaknya dikeluarkan fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme.Kata Kunci: Islam liberal, sejarah, dampak penolakan FUUI
Perjuangan Rakyat Cirebon-Indramayu Melawan Imprialisme Wahyu Iryana; Nina Herlina Lubis; Mumuh Muhsin Zakaria; Kunto Sofianto
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2022

Abstract

Attempts to write local history to the development of national history writing is very important, even expected at each campus has a study program must include the History Education courses Local History or can be Local Historiography. The research method that I use is the heuristic method historical research, criticism, interpretation and historiography. Exposure War history Kedondong or War of Cirebon to Dutch colonization and social protests of farmers in Indramayu during the Japanese occupation is one of the local history authors suppose caliber already can be called national history. Writing of local history is not only the responsibility of all academics who manages the department of History Education in Indonesia but also the relevant government policy.  
PENGOBATAN ALTERNATIF PENYAKIT TULANG STUDI KASUS KEARIFAN LOKAL PARA TERAPIS PENYAKIT TULANG DI WILAYAH JAWA BARAT Mumuh Muhsin Zakaria; Dade Mahzuni; Ayu Septiani
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.931 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.544

Abstract

Penelitian tentang pengobatan alternatif penyakit tulang ini dilakukan dengan tujuan, pertama, untuk mengungkap faktor-faktor  yang menjadi alasan pengobatan alternatif penyakit tulang masih sangat diminati oleh masyarakat; kedua, menjelaskan kearifan lokal yang digunakan oleh  para terapis penyakit tulang dalam praktik pengobatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal para terapis penyakit tulang di wilayah Jawa Barat. Pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian lapangan adalah terungkapnya alasan masyarakat masih menggunakan jasa pengobatan tradisional. Alasan itu meliputi alasan praktis, ekonomis, berdaya guna, dan berhasil guna. Selain itu, terungkap juga kearifan lokal yang diwujudkan dalam cara penanganan pasien. Simpulannya adalah pengobatan alternatif penyakit tulang bukan lagi sebagai alternatif tetapi menjadi pilihan utama dan pertama. Oleh karena itu, kearifan lokal yang berkait dengan hal itu perlu diwariskan kepada generasi berikutnya dan sekaligus disistematisasi secara metodologis.This research aims to study why alternative medicine for bone disease is still in great demand by the public and to explain the local wisdom used by therapists for bone disease in West Java. This study uses a descriptive-qualitative method. Data collection is carried out through field studies, interviews, and literature studies. The results show that efficaciousness of its treatment are the reasons why the appeal for alternative medicine for bone disease aren’t declining, besides it having practical and economic advantages. In addition, local wisdom in handling patients plays an important part in its success. The conclusion is that alternative treatments for bone disease are no longer an alternative but they are becoming the first and foremost choice. Therefore, its local wisdom needs to be passed on to the next generation and at the same time methodologically systematized.
THE REPRESENTATION OF SUNDANESE FOLKLORE NYI MAS SANGHYANG DEWI SRI IN THREE LANGUAGES Erlina Zulkifli Mahmud; Taufik Ampera; Mumuh Muhsin Zakaria
Sosiohumaniora Vol 24, No 2 (2022): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v24i2.35494

Abstract

Folklore about Dewi Sri, the goddess of fertility in Indonesian culture has various versions. The version of the folklore used in this article is the Sundanese version “Nyi Mas Sanghyang Dewi Sri” collected in a research done by lecturers of Faculty of Cultural Sciences, Universitas Padjadjaran. The folklore is represented in a written text in Sundanese language as the source language text and from the text, it is represented in Indonesian language as the first target language text, then in English language as the second target language text. How the folklore is represented in three languages and what methods of translation are used in target language texts are the objectives of this research. The research method used is descriptive-comparative method. The results show that the folklore is represented in different ways; some additional information are added particularly in the English target text and the method of translation used in the two target languages is mostly communicative translation but in the second target language text, free translation is also found. Despite these differences, the message that needs to be conveyed about Nyi Mas Sanghyang Dewi Sri as the goddess of fertility remains the same in all texts.
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat Kuna Tatar Sunda (Abad V –XVI) Mumuh Muhsin Zakaria
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22867

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis kondisi sosial-ekonomi masyarakat Tatar Sunda pada abad ke-5 hingga abad ke-16. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.  Hasil dari kajian ini adalah bahwa wilayah Tatar Sunda memiliki potensi ekonomi yang  sangat tinggi. Hal ini dimungkinkan berkat faktor-faktor geografis. Tatar Sunda memiliki tanah yang sangat subur dan bisa ditanami oleh beragam jenis tanaman, termasuk tanaman ekspor yang sangat laku di pasar internasional. Di samping itu, wilayah Tatar Sunda pun cukup strategis karena memiliki banyak pelabuhan yang bisa dijadikan akses ke luar dan masuknya barang dan orang dari dalam dan luar Tatar Sunda.This article aims to analyze the socio-economic conditions of the Tatar Sunda community in the 5th to the 16th century.The method used is a historical method that includes four stages of work, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography.The result of this study is that the Tatar Sunda region has very high economic potential.This is possible because of geographical factors. Tatar Sunda has very fertile land and can be planted by various types of plants, including export crops needed on the international market.In addition, the Tatar Sunda region is also quite strategic because it has many ports that could be used as access to the outside and the entry of goods and people from inside and outside the Tatar Sunda.    
PERAN ACHMAD NOE’MAN TERHADAP DAKWAH DAN PEMBAHARUAN GAGASAN ARSITEKTUR MASJID DI INDONESIA Muhammad Rizki Utama; Mumuh Muhsin Zakaria; Raden Muhammad Mulyadi
Metahumaniora Vol 13, No 1 (2023): METAHUMANIORA, APRIL 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i1.43180

Abstract

Kehadiran Islam di Indonesia mempengaruhi beragam aspek seperti kebudayaan, sosial,  termasuk bidang arsitektur dengan munculnya bangunan masjid sebagai produk budaya yang berkembang di lingkungan komunitas Muslim. Arsitektur awal masjid di Nusantara selama berabad-abad memiliki ciri khas atap tumpang dengan tiang penyangga di tengahnya. Mulai awal abad ke-20, dominasi atap tumpang mulai terkikis dengan mendominasinya masjid berkubah di Indonesia. Pada masa itulah sosok arsitek Achmad Noe’man hadir melakukan pembaharuan pada bidang arsitektur masjid dengan rancangan yang berbeda dari masjid-masjid sebelumnya yang pernah ada yaitu Masjid Salman ITB. Karya-karyanya mendobrak tradisi arsitektur masjid pada zamannya. Tulisan ini mencoba menguraikan secara singkat pengaruh dan peran Achmad Noe’man sebagai seorang yang berlatar belakang muslim modernis terhadap perkembangan dakwah Islam dan pembaharuan gagasan arsitektur masjid di Indonesia.
The Influence of the Islamic Social Environment in Developing Children's Creativity: A Case Study of Maestro Architect Achmad Noe'man Utama, Muhammad Rizki; Zakaria, Mumuh Muhsin; Mulyadi, Raden Muhammad
International Journal Pedagogy of Social Studies Vol 8, No 1 (2023): Social, Religion and Democracy
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijposs.v8i1.53334

Abstract

The purpose of this paper is to discuss the influence of Islamic socialenvironment such as extended and nuclear family, Muslimcommunity social movement, and non-formal education in order todevelop children's creativity in the case of the maestro architectAchmad Noe'man's childhood life. The research would employ thehistorical method with the multiple intelligence theory approach.Achmad Noe'man is an early generation Indonesian architect whowas the first architect to graduate from the Faculty of Engineering,University of Indonesia Bandung (now ITB) in 1958. He was one ofthe founders of the Indonesian Architect Association (IAI). At theyoung age, he successed to design the Salman Mosque of ITB, calleda milestone in modern mosque architecture and has even becomeone of the world's contemporary mosques. He passed away in 2016after practicing as an architect for more than 50 years with the tittlethe architect of a thousand mosques and the maestro of mosquearchitecture in Indonesia. This study will attempt to describe howthe role of the social environment around Noe'man formed hispersonality which will later encourage him to become a creativeperson.
Perkembangan Saluran Pembuangan dan Normalisasi Sungai di Kota Cirebon Pada Masa Kolonial (1870-1938) Mutawally, Anwar Firdaus; Zakaria, Mumuh Muhsin; Falah, Miftahul
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v7i1.2793

Abstract

This research aims to explain the development of drainage channels and river normalization in Cirebon City during the Dutch colonial period (1870-1938). This research was motivated by the lack of research regarding drainage channels and river normalization in Cirebon City during the colonial period. The method used is the historical method which includes four stages of work, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography. The research results show that before the 20th century, Cirebon did not have any government-managed sewers at all. Therefore, city residents build sewers independently or use the surrounding environment to dispose of sewage and household waste. Construction of drainage channels and river normalization in Cirebon began in 1885 and peaked from 1918 to 1934. The development project was divided into South Cirebon and North Cirebon. The presence of sewers gave rise to toilet facilities in Cirebon City and developments in waste management.
AKTUALISASI POTENSI KEWIRAUSAHAAN MASYARAKAT DI KOTA BANDUNG Zakaria, Mumuh Muhsin; Mahzuni, Dade; Falah, Miftahul; Setiani, Ayu
Dharmakarya Vol 11, No 2 (2022): Juni. 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v11i2.36082

Abstract

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membantu memberdayakan masyarakat dalam melakukan aktivitas kewirausahaan terutama pada situasi pandemik seperti sekarang ini. Metode yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan PPM ini adalah metode pendidikan masyarakat dan pelatihan. Diawali dengan mengidentifikasi subjek dan permasalahannya, kemudian disampaikan solusi alternatif, dan diakhiri dengan penulisan laporan. Hasil dari penelitian ini ditemukan permasalahan utama yaitu rendahnya kecakapan kewirausahaan dan sulitnya pemasaran. Hasil dari kegiatan ini adalah peserta merespons dengan aktif dan cepat terutama penggunaan handphone untuk kegiatan pemasaran produk mereka di tengah pandemik yang sebelumnya peserta hanya menggunakan handphone sebagai sarana hiburan semata bukan untuk kepentingan bisnis praktis.
IDENTIFIKASI, ANTISIPASI, DAN SOLUSI MASALAH KEMANUSIAAN DI BANDUNG RAYA Zakaria, Mumuh Muhsin; Septiani, Ayu
Midang Vol 2, No 2 (2024): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Juni 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i2.54460

Abstract

Artikel ini berdasarkan pada kegiatan Pengabdian pada Masyarakat yang dilakukan untuk mengantisipasi masalah kemanusiaan di Bandung Raya. Masalah kemanusiaan di sini meliputi konsumsi minuman oplosan, penyalahgunaan narkoba, bullying, dan pengangguran dengan berbagai implikasinya. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode pendidikan masyarakat dalam bentuk penyuluhan dengan sistem pembelajaran yang digunakan yaitu luring dan daring. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap masalah kemanusiaan yang sedang dan akan terjadi. Sasaran kegiatan ini yaitu siswa kelas XII SMA/SMK sederajat yang terdapat di Bandung Raya. Bandung Raya yang dimaksud dalam kegiatan ini meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kecamatan Jatinangor. Simpulan dari kegiatan ini yaitu sebagai kawasan metropolitan terbesar di Jawa Barat dan ketiga di Indonesia, Bandung Raya tidak lepas dari masalah kemanusiaan seperti konsumsi minuman oplosan, penyalahgunaan narkoba, bullying, dan pengangguran sehingga diperlukan kerja sama yang baik dari pemerintah, LSM, akademisi, dan masyarakat umum.