Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Hasil Audit Keselamatan Jalan di Lokasi Rawan Kecelakaan Lalu Lintas Gito Sugiyanto; Ari Fadli; Mina Yumei Santi
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2020): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v4i1.3476

Abstract

Traffic accidents are increasing along with the increasing number of traffic violations, the increasing number of vehicles, especially motorcycles, and driving vehicles exceeds the maximum allowable speed (speeding). The number of traffic accidents and the number of accident victims is increasing every year. Data from the National Police Traffic Corps, road transportation accidents in 2016 recorded 106,129 cases with 26,185 fatalities, 22,558 seriously injured, 121,550 minor injuries, and property damage only Rp 226,883,000,000.00. The most vulnerable road users are pedestrians, non-motorized vehicle users, children, and elderly people. The solution proposed is by mapping traffic accident-prone locations, conducting road safety audits at black spot locations to determine the conditions and handling efforts to reduce accident events in the form of installing traffic signs. The results of the road safety audit revealed that there had been a deficiency of road infrastructure in Tlahab Lor road section. One of the recommendations made is by installing traffic signs. Handling of black spot locations on the Tlahab Lor road, Karangreja that is by installing 4 (four) vehicle maximum limit signs of 40 km/h and 30 km/h. After knowing the location of black spot people is expected to be more alert and careful when passing through these roads.
DESIGN AND SIMULATION OF BUILDING BLOCKS OF A LOW-DROPOUT VOLTAGE REGULATOR Arief Wisnu Wardhana; Azis Wisnu Widhi Nugraha; Eko Atmojo; Ari Fadli
Transmisi: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Vol 24, No 1 Januari (2022): TRANSMISI
Publisher : Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/transmisi.24.1.9-22

Abstract

Regulator Low Dropout (LDO) adalah sebuah cara yang sederhana dan murah untuk mengatur sebuah tegangan keluaran yang diberi daya dari suatu masukan yang lebih tinggi tegangan nya. Regulator LDO adalah sebuah pengatur tegangan DC linear yang bisa meregulasi besarnya tegangan keluaran bahkan ketika tegangan suplai nya berubah turun menjadi sangat mendekati tegangan keluaran tersebut. Pada artikel penelitian ini, dijelaskan secara detail tentang cara untuk mendesain setiap blok penyusun suatu regulator tegangan drop-out rendah berbasis CMOS. Semua blok penyusun kemudian digabung untuk membentuk piranti LDO tersebut. Hasil desain kemudian disimulasikan menggunakan Multisim LIVE, yang merupakan sebuah simulator rangkaian online. Berbasis pada hasil simulasi, beberapa spesifikasi dari LDO yang sudah didesain kemudian diberikan. Spesifikasi tersebut diantara nya adalah besarnya tegangan dropout LDO, arus quiescent, besarnya regulasi beban, dan besarnya regulasi line. Kata kunci: regulator tegangan, tegangan dropout, arus quiescent, regulasi beban, regulasi line Low dropout regulators (LDOs) are a simple and inexpensive way to regulate an output voltage that is powered from a higher voltage input. An LDO regulator is a DC linear voltage regulator that can regulate the magnitude of the output voltage even when the supply voltage is very close to the output voltage. In this research paper, various building blocks of a CMOS-based low-dropout voltage regulator were designed and simulated using Multisim LIVE, an online circuit simulator. All of the building blocks were then combined to form the device. Based on the results of the simulation, several spesifications of the LDO were determined. Those are the LDO’s dropout voltage, its quiescent current, its load regulation, and its line regulation. Keywords: voltage regulator, dropout voltage, quiescent current, load regulation, line regulation
Utilization of Solar Street Lights as Lighting Facilities in Tourist Places: Pemanfaatan Lampu Penerangan Jalan Umum Bertenaga Surya Sebagai Sarana Penerangan di Tempat Wisata Ari Fadli; Daru Tri Nugroho; Arief Wisnu Wardhana; Gito Sugiyanto; Hari Prasetijo; Widhiatmoko Herry Purnomo
Mattawang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1267.35 KB) | DOI: 10.35877/454RI.mattawang801

Abstract

Hutan Pinus Limpakuwuswhich is located on the southern slope of Mount Slamet is located at an altitude of about 750 meters above sea level (MDPL). The Limpakuwus Pine Forest has limited access to electricity from the PLN network, so there are still many locations at night or cloudy skies, so these locations have limited access, this causes the manager to use generators to turn on the lights in order to provide the electricity needed for electricity. provide information on the location in the Limakuwus Pine Forest tourist spot. The interview and survey method started this service activity, the interview aimed to determine the need for the number of spots (spots), to get lighting and a survey to determine the location of the lamp installation. equipment, and manufacture of solar powered PJU light poles and their installation. The results of these activities include increasing knowledge, skills of residents in the field of fabrication and installation of solar-powered PJU lamps with the installation of 2100Lm 20 Watt LED lights, 5V/40Watt Solar Panels and 3.2V/32 Ah batteries at predetermined locations, as well as increased ease of use. running activities at night at that location. Abstrak Hutan Pinus Limpakuwus yang berada di lereng selatan Gunung Slamet itu berada pada ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (MDPL). Hutan Pinus Limpakuwus memiliki akses listrik terbatas dari jaringan PLN, sehingga masih banyaknya lokasi yang malam hari atau kondisi langit mendung, maka lokasi tersebut memiliki akses yang terbatas hal ini menyebabkan pihak pengelola menggunakan genset guna menghidupkan lampu dalam rangka menyediakan sarana kebutuhan listrik yang digunakan untuk memberikan penerangan pada lokasi di tempat wisata Hutan Pinus Limakuwus tersebut. Metode wawancara dan survey mengawali kegiatan pengabdian ini, wawancara bertujuan untuk menentukan kebutuhan jumlah titik (spot), untuk mendapat penerangan dan survey guna menentukan lokasi pemasangan lampu Metode pelaksanaan kegiatan meliputi: survey lokasi, identifikasi dan solusi masalah, perencanaan kegiatan, perhitungan kebutuhan bahan dan peralatan, dan pembuatan tiang lampu PJU bertenaga surya dan pemasangannya. Hasil kegiatan antara lain peningkatan pengetahuan, ketrampilan warga di bidang fabrikasi dan instalasi lampu PJU bertenaga surya dengan terpasangnya lampu LED 2100Lm 20 Watt, Solar Panel 5V/40Watt dan battery 3.2V/32 Ah pada lokasi yang telah di tentukan sebelumnya, serta peningkatan kemudahan dalam menjalankan aktivitas dimalam hari pada lokasi tersebut.
Merancang Perangkat Lunak Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Perguruan Tinggi yang Memiliki Daya Adaptasi Terhadap Perubahan Kebutuhan Pengguna secara Cepat dan Sering Acep Taryana; Ari Fadli; Siti Rahmah Nurshiami
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 5, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v5i3.372

Abstract

Abstrak – Salah satu permasalahan mendasar proses pengembangan perangkat lunak adalah kebutuhan yang tidak tertangkap lengkap saat awal pengembangan, atau abstraksi kebutuhan pengguna yang kurang terpetakan secara sistematis, runut oleh pengembang. Ketidaksempurnaan pengungkapan kebutuhan pengguna tersebut dapat mengakibatkan produk perangkat lunak yang kurang lengkap bahkan bisa tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna. Ketidaksesuaian baru dapat diamati oleh pengguna setelah pengembang menyelesaikan setiap rilis produk. Pada paper ini akan ditunjukkan bagaimana sebuah perangkat lunak SPMI dirancang, diterima oleh pengguna, diberikan masukan oleh pengguna atas masukan perbaikan pada kurun waktu tertentu. Metode yang digunakan dalam proses pengembangan perangkat lunak adalah metode DevOps yang memiliki kemampuan untuk mensinkronkan kebutuhan pengguna dengan pengembangan aplikasi yang berkelanjutan, cepat selama pengembangan dan pengoperasian berlangsung. Metode DevOps tidak hanya mengelola bagian pengembangan tetapi juga mengelola bagian pengoperasian. Hasil perancangan menunjukkan bahwa DevOps menjadi pendekatan tepat agar perangkat lunak pengembangan SPMI dikembangkan dari kecil menjadi besar, step by step tetapi tanpa kehilangan penelusuran antara rilis produk. Dan yang lebih mendasar, DevOps mampu memperkecil gap antara pengembang dengan pengguna aplikasi SPMI-PT. Melalui metode DevOps, pengembangan dan pengoperasian memiliki keterhubungan sebagai timbal balik antara pengembangan dengan pengoperasian maupun sebaliknya.Abstract – One of the fundamental problems of the software development process is the requirement that is not completely captured at the beginning of development, or the abstraction of user requirements that are less systematically mapped out, by the developer. Imperfections in disclosing the requirements of these users can result in incomplete software products that may not even match the user's needs. New nonconformities can be observed by users after the Developer completes each product release. In this paper, we will show how an SPMI software is designed, accepted by the user, given input by the user for input improvement in a certain period time. The method used in the software development process is the DevOps method which can synchronize user requirements with rapid, rapid application development during development and operation. The DevOps method not only manages the development part but also manages the operation part. The design results show that DevOps is the right approach so that SPMI development software is developed from small to large, step by step but without losing traces between product releases. And more fundamentally, DevOps can reduce the gap between developers and SPMI-PT application users. Through the DevOps method, development and operation have a relationship as a trade-off between development and operations and vice versa.Keywords – Software engineering, Devops, Continuous improvement
Analisis Perbandingan Metode Certainty Factor, Dempster Shafer dan Teorema Bayes dalam Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Mental Novanka Veldasari; Ari Fadli; Arief Wisnu Wardhana; Muhammad Syaiful Aliim
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 2 No 7 (2022): JPTI - Juli 2022
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.191

Abstract

Kesehatan adalah hal yang sangat penting, karena tanpa kesehatan yang cukup, maka setiap individu akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya kesehariannya, baik berupa kesehatan fisik maupun mental. Dewasa ini, kesehatan mental masih menjadi hal yang sering diabaikan oleh sebagian masyarakat. Padahal gangguan kesehatan mental ini dapat menyebabkan komplikasi serius, baik pada fisik, emosi, maupun perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan diagnosis awal terhadap gangguan kesehatan mental, sehingga dapat diminimalisir dampak yang dapat ditimbulkannya. Diagnosis awal yang dihasilkan merupakan hasil analisis berdasarkan gejala yang ditimbulkan dengan menggunakan tiga buah metode yaitu Certainty Factor, Dempster-Shafer, dan Teorema Bayes. Ketiga metode ini melakukan analisis masing-masing dengan cara mengukur tingkat keyakinan pakar dengan nilai probabilitas berdasarkan gejala yang ada. untuk dapat mengukur nilai kemungkinan seseorang menderita gangguan Kesehatan Mental, sehingga dapat mengetahui metode mana yang paling tepat digunakan. Berdasarkan hasil analisis tersebut penelitian ini menunjukan bahwa metode Certainty Factor memiliki nilai probabilitas sebesar 99,4%, metode Dempster-Shafer dengan nilai probabilitas sebesar 94% dan Teorema Bayes dengan nilai probabilitas sebesar 81.65%. Sehingga metode Certainty Factor merupakan metode yang paling tepat digunakan untuk melakukan diagnosasi penyakit ini. Pada pengujian Usability yang dilakukan website Sistem Pakar hasil implementasi ketiga metode ini diperoleh hasil sebesar 80.68%, sehingga juga dapat disimpulkan bahwa hasil pengguna cukup puas dengan sistem pakar tersebut.
Rancang Bangun Sistem Informasi Presensi Berbasis RFID Yang Terintegrasi Dengan Database Berbasis Web Di Fakultas Teknik Unsoed Sukma Adi Kurniawan; Retno Supriyanti; Yogi Ramadhani; Ari Fadli; Muhammad Syaiful Aliim
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 2 No 9 (2022): JPTI - September 2022
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.194

Abstract

Coronavirus atau virus Covid-19 merupakan virus berbahaya dan sangat menular. Berdasarkan data dari worldometers.info per tanggal 11 Januari 2022 terdapat 44,907,560 kasus virus Covid-19 aktif di seluruh dunia. Mengingat masih tingginya kasus virus Covid-19, maka diperlukan upaya untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Selain menerapkan perilaku hidup sehat, upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19 juga dapat dilakukan dengan menciptakan inovasi teknologi. Salah satu inovasi teknologi tersebut adalah pemanfaatan sistem informasi presensi RFID berbasis website sebagai media penyimpanan data yang terintegrasi dengan alat RFID, media pendaftaran kartu RFID, dan media tracing covid berdasarkan data presensi yang tersimpan di database. Sistem informasi ini berfungsi untuk administrator mendaftarkan pengguna untuk mempunyai kartu RFID, melakukan pengaturan maupun penambahan alat RFID melalui website, dan mengolah data presensi RFID melalui website. Dalam penelitian ini, sistem informasi ini dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP yang dikombinasikan dengan sebuah jquery. Adapun metode pertukaran informasi pada sistem informasi dibangun dengan menggunakan metode webhook sehingga proses pertukaran informasi antara alat RFID dengan website dapat dilakukan secara real time tanpa membutuhkan jeda waktu tertentu. Sistem informasi yang telah dibangun kemudian diuji dengan menggunakan black box testing berbasis equivalence partitions. Dari hasil pengujian sistem informasi menghasilkan masing-masing fungsi yang ada dalam sistem informasi ini telah berhasil dan berjalan sesuai dengan fungsi yang diharapkan.
Perancangan Sistem Deteksi Manusia Menggunakan Sensor PIR, RCWL, dan Infrared Pada Sistem Manajemen Lampu Gedung Berbasis Internet of Things Aldi Setia Pramuda; Azis Wisnu Widhi Nugraha; Ari Fadli
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 3 No 1 (2023): JPTI - Januari 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.224

Abstract

Semakin berkembangnya zaman maka berkembang pula teknologi yang digunakan, kita dituntut untuk selalu berkembang menciptakan teknologi yang lebih baik dari pada sebelumnya. Disisi lain penggunaan energy semakin tahun semakin meningkat. Salah satu faktor penyebabnya adalah kelalaian dalam mematikan lampu. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan adalah internet of thing, teknologi ini apabila dimanfaatkan dengan baik dapat menyelesaikan masalah yang ada. Salah satunya kelalaian dalam mematikan lampu. Dengan IoT kita bisa merancang sistem yang berjalan secara otomatis dengan memanfaatkan sensor pendeteksi. Salah satu jenis sensor pendeteksi adalah sensor yang mendeteksi berdasarkan gerakan. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan seseorang disekitar sensor dengan menggunakan deteksi gerakan dari orang tersebut. Jenis dari sensor deteksi berdasar gerakan sendiri ada sensor microwave RCWL-0516 dan juga sensor Pasif Infrared (PIR). Selain berdasar gerakan cara pendeteksian juga bisa berdasarkan pancaran sensor Infrared dan digunakan sensor infrared. Perancangan menggunakan modul Esp 8266 dan Esp 32 sebagai mikrokontroler.  Setiap mikrokontroler terhubung ke MQTT Broker untuk menerima dan mengirimkan informasi. Informasi-informasi tersebut diolah ke dalam Node RED untuk mengkondisikan sistem dan mengintegrasikan dengan sistem lain. Sensor PIR dan RCWL terpasang diatas ruangan untuk mendeteksi orang yang ada didalam. Sensor PIR memiliki potensiometer untuk mengatur jarak deteksi dan juga sensitifitas sensor. Sensor infrared digunakan untuk mendeteksi orang yang keluar masuk ruangan dengan sistem satu pintu dan juga menghitung jumlah orang yang ada diruangan.
Penerapan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) Untuk Memilih Desa Sebagai Lokasi Kuliah Kerja Nyata Muhammad Fikra Adzaki; Yogi Ramadhani; Ari Fadli
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 3 No 3 (2023): JPTI - Maret 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.268

Abstract

Berdasarkan Undang Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi (PT), maka setiap Perguruan Tinggi berkewajiban melaksanakan Tridharma. Tridharma yang dimaksudkan dalam undang undang tersebut adalah pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pada penelitian yang kami lakukan berfokus pada peran perguruan tinggi pada poin tridharma pengabdian kepada masyarakat. Beberapa perguruan tinggi merealisasikan poin Tridharma ini dalam bentuk program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dalam implementasinya untuk melaksanakan program KKN setiap PT telah memilih beberapa desa dengan kriteria tertentu untuk dijadikan targetnya. Dalam proses menentukan pilihan desa berdasarkan kriteria tersebut tentunya dilakukan atas dasar pertimbangan beberapa aspek. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaan program di desa tersebut. Salah sasaran dapat mengurangi efektivitas upaya pengabdian masyarakat ini. Penelitian ini dilaksanakan dengan cakupan area adalah desa yang ada Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk membangunan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) untuk menentukan pilihan desa tempat pelaksaan KKN berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Metode yang digunakan yaitu Analytic Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan lima kriteria yaitu Lingkungan, Kesehatan, Kependudukan, Wanita, serta Budaya Pariwisata, SPK memberikan rekomendasi pilihan desa yaitu Desa Kalisalak dengan nilai 0.016026.
Rancang Bangun Aplikasi Quest Board Untuk Masyarakat Menggunakan Metode Devops Berbasis Android Bima Adityo Kurniawan; Acep Taryana; Yogi Ramadhani; Ari Fadli
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 3 No 4 (2023): JPTI - April 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.285

Abstract

Indonesia dikenal sebagai negara yang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai gotong royong dan menolong satu sama lain. Dalam wilayah pedesaan masih sangat kental prinsip gotong royong ini. Namun dalam wilayah perkotaan, seringkali kita melihat masyarakat yang jangankan untuk dimintai pertolongan ataupun bantuan, sekadar berkenalan pun cukup sulit. Dikarenakan sifat individualistis yang lebih dominan pada penduduk kota dibandingkan penduduk desa, maka muncul sikap acuh tak acuh terhadap sesama. Berdasarkan masalah tersebut maka dikembangkan sebuah aplikasi bernama Kota Quest: Aplikasi Quest Board untuk masyarakat perkotaan. Pengembangan dan pembuatan aplikasi ini merupakan salah satu wujud penerapan kembali prinsip saling membantu satu sama lain bangsa Indonesia yang sudah mulai hilang khususnya pada daerah perkotaan. Aplikasi ini menggunakan metode DevOps dalam pengembangannya. DevOps merupakan metode baru dalam Software Development dan hadir sebagai solusi atas masalah metode modern lain dimana pengguna belum dapat merasakan produk yang sudah jadi selama tahap development. DevOps tidak terlalu mementingkan persyaratan sistem yang lengkap pada awal development. Sebagai gantinya, persyaratan dibuat secara langsung dalam bentuk model untuk kemudian diimplementasikan dan dikembangkan, sehingga pengguna dapat secara cepat mendapatkan gambaran umum dari produk yang akan dibuat. Implementasi pengembangan aplikasi ini menggunakan Kotlin sebagai bahasa pemrograman yang digunakan dan Firebase untuk back-end, serta beberapa tools lain yang mendukung pengembangan aplikasi. Hasil dari penelitian ini adalah berupa aplikasi mobile yang dapat dipasang pada perangkat Android dan terhubung dengan Firebase datastore. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu melestarikan budaya gotong royong yang sudah sulit ditemukan pada masyarakat kota.
Pengaruh Deep Neck Muscle Exercise terhadap penurunan Nyeri pada Penderita Neck Pain Afrianti Wahyu; Rahajeng Mellytria Noor Subagyo; Arif Fadli
Physiotherapy Health Science (PhysioHS) Vol. 5 No. 1 (2023): Physiotherapy & Health Science (PhysioHS) - Edisi Juni 2023
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/physiohs.v5i1.26086

Abstract

Penjahit sering memposisikan tubuhnya yang tidak ergonomis dalam waktu yang lama sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Gerakan menunduk terlalu lama pada penjahit bisa memicu sakit leher. Hal ini dapat menyebabkan nyeri leher yang berkepanjangan, intervensi seperti Deep Neck Muscle Exercise dengan memberikan kontraksi isometrik pada deep neck muscle dapat mengurangi nyeri. Tujuan untuk mengetahui pengaruh latihan otot leher dalam terhadap penurunan nyeri pada penderita nyeri leher. Penelitian ini menggunakan randomized controlled trial. Subyek yang digunakan sebanyak 31 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok I mendapatkan intervensi deep neck muscle exercise dan kelompok II sebagai kelompok kontrol mendapatkan intervensi edukasi posisi ergonomis. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur nyeri menggunakan QVAS. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Berdasarkan hasil statistik pre-test dan post-test dengan menggunakan paired t-test pada kelompok I menghasilkan p = 0,000 (p<0,05) yang berarti ada pengaruh pemberian deep neck muscle exercise, sedangkan pre-test dan post-test berpasangan dengan menggunakan paired t-test pada kelompok kedua menghasilkan p=0,101 (p>0,05) yang menunjukkan tidak adanya pengaruh intervensi pada kelompok kontrol. Uji beda mean post-test menghasilkan selisih sebesar 32,2 dengan independent t-test menghasilkan p=0,00 dimana (p<0,05) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh intervensi deep neck muscle exercise dengan kelompok kontrol sehingga menunjukkan deep neck muscle exercise lebih baik untuk mengurangi intensitas nyeri. Kesimpulan: Setelah 6 minggu pemberian deep neck muscle exercise berpengaruh terhadap penurunan nyeri pada pasien nyeri leher