Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Tekanan dan Temperatur Terhadap Rancangan Konstruksi Boiler Sederhana Menggunakan Solidwork 2019 Wisnaningsih, Wisnaningsih; Thohirin, Muh.; Yunus, M.; Fauzi, Ahmad Afif
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2712

Abstract

Untuk merebus tandan buah segar (TBS), tahapan yang pertama adalah proses perebusan atau sterilisasi yang dilakukan dalam bejana bertekanan (sterilizer) dengan menggunakan uap air jenuh (saturated steam). Tahap pertama sebelum menentukan model boiler untuk sterilizer kelapa sawit mini adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah beroperasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantaranya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 280 derajat celcius, suhu panas pada sterilizer sebesar 135 derajat celcius, tekanan maksimal pada sterilizer sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Analisis menggunakan metode taguchi untuk mengetahui yang paling berpengaruh antara pengaruh suhu dengan pressure terhadapat konstruksi boiler setelah dilakukan simulasi menunjukkan bahwa pengujian level pertama pada pressure memiliki nilai 4,422 dan pada temperature memiliki nilai 4,762. Sedangkan untuk level kedua memiliki nilai pressure 4,427 dan temperature e 4,422. Pengujian level ketiga memiliki nilai pressure 4,434 dan temperature 4,099. Nilai delta pada pressure sebesar 0,012 dan temperature 0,663 dan nilai rank pada pressure 2 sedangkan pada temperature 1. Sehingga dapat diketahui bahwa yang paling memiliki pengaruh besar terhadap konstruksi boiler adalah temperature dengan nilai 2,311.Variasi yang paling baik adalah yang memiliki pengaruh kritis yang paling rendah yaitu pada variasi tekanan 4 bar dan temperatur 140 derajat celcius.
Rancang Bangun Rebusan Buah Kelapa Sawit Sederhana Kapasitas 200 Kg Wisnaningsih, Wisnaningsih; Thohirin, Muh.; Yunus, M.; Santoso, Ari Beni; Raihan, Ahmad
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2713

Abstract

Provinsi Lampung memiliki potensi di bidang kelapa sawit. Potensi ini dapat dilihat dari jumlah luas dan produksi kelapa sawit yang tinggi di Provinsi Lampung. Setiap kabupaten di Provinsi Lampung memiliki potensi dan kemampuan berbeda mengenai budidaya kelapa sawit. Berdasarkan masalah tersebut maka peneliti berencana akan membuat rebusan kelapa sawit kapasitas 200 Kg. Pada penelitian ini akan menggunakan pembuatan mesin rebusan, Tahap pertama sebelum menentukan konstruksi rebusan kelapa sawit adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah berorasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantarnya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 2800c, suhu panas pada rebusan sebesar 1350c, tekanan maksimal pada rebusan sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Waktu perebusan pada penelitian ini dilakukan selama 100, 110 dan 120 menit dengan bahan bakar batok kelapa yang sudah dipecah dengan ukuran 2-3 cm. Perlakuan sterilizer menggunakan dengan suhu dan waktu, perlakuakn terlihat dengan tabel sebagai berikuti. Kelapa sawit yang sudah direbus matang, selanjutnya sawit dilumat menggunakan digester selama 10 menit sampai biji sawit terpisah dengan daging dan seratnya. Hasil dari lumatan selanjutnya dipres menggungakan pres hidrolik untuk memisahkan minyak CPO dengan fiber dan carnelnya. Waktu untuk pengepresan 5,7 dan 9 menit. Pengaruh suhu dan waktu perebusan terhaap kematangan buah kelapa sawit. Pengujian pertama dengan suhu 100oc dan waktu 120 menit hasil buah kelapa sawit kurang matang. Selanjutnya proses pengujian ke dua dengan suhu 100 dan waktu perebusan 130 menit mendapatkan hasil buah sawit kurang matang. Selanjutnya adalah pengujian ketiga dengan suhu 100 dan waktu perebusan 140. Tingkat kematangan buah kelapa sawit semakin meningkat dikarenakan lamanya waktu perebusan. pengujian pertama dengan suhu 100oc dan waktu 110 menit mendaptakan hasil yang kurang merata. Pada pengujian kedua mendapatkan hasil rebusan yang hanya mateng pada bagian terdekan yang terkena uap panas. Pengujian yang idel ditunjukan pada pengujian ketiga dan keempat dimana tingkat kematangan buah kelapa sawit merata kesemua buah kelapa sawit yang direbus (200 Kg). Pengujian kelima dan enam mendapatkan hasil lebih matang atau kelewat matang jika dibandingkan dengan pengujian-pengujian sebelumnya.
Memperbaiki Kinerja Mutu dengan Menggunakan Metode FMEA pada Industri Karung Tenun Polypropylene Fatah, Kemas Muhammat Abdul; Wisnaningsih, Wisnaningsih
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 5 (2023): LEAN AND GREEN FOR SUSTAINABILITY DEVELOPMENT GOALS IN THE I4.0 ERA
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2023.028

Abstract

The quality failure rate in the production process in the form of defective products, scrap products, rework, rejection, and waste is an indicator of a company's quality performance, especially with regard to cost quality.  Failure in the production process will increase the rate of defects, scrap, rework, rejection, and waste, which in turn will increase the cost of quality. This study uses the FMEA method to fight identified failures from gemba walk activities. Improvements made using the FMEA method with several recommendations for improvement solutions can reduce failures, this can be seen by comparing the RPN values. The RPN failure value in the extrusion process which affected the hollow or loose PP woven sacks decreased to 98 from 490, and which resulted in lighter sack weight decreased to 98 from 490. The decrease occurred due to the achievement of the process capability value (Cpk) which was as expected ie 1.36 for denier specifications and 1.33 for yarn bandwidth specifications. This Cpk achievement has an impact on a decrease of the occurrence (o) level. Meanwhile, the failure of the RPN value in the weaving process which had an impact on products returned by customers, decreased to 98 from 490. The decrease occurred because the weaving process operator was given the responsibility to carry out maintenance and cleanliness of the machine which resulted in a decrease of the occurrence (o) level.
Transformasi Digital dan Penerapan Teknologi Terbarukan di Kelurahan Pinang Jaya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung Rauf, Eka Ubaya Taruna; Wisnaningsih, Wisnaningsih; Kusumastuti, Henni; Dewi, Lies Kumara
Jurnal Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2025): JM-PKM
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jm-pkm.v4i2.3105

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan penerapan teknologi terbarukan di Kelurahan Pinang Jaya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung. Permasalahan yang dihadapi masyarakat adalah rendahnya pemanfaatan teknologi digital dalam administrasi, kegiatan ekonomi lokal, dan minimnya pemahaman mengenai energi terbarukan. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi observasi, sosialisasi, pelatihan, praktik, serta pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan masyarakat dalam menggunakan teknologi digital, seperti pengelolaan administrasi berbasis aplikasi dan pemasaran produk UMKM melalui media sosial. Selain itu, program percontohan penggunaan panel surya serta penguatan bank sampah digital mampu meningkatkan kesadaran lingkungan. Kegiatan ini diharapkan berlanjut dengan dukungan pemerintah dan perguruan tinggi untuk membentuk masyarakat yang adaptif terhadap perkembangan zaman.