Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Elkawnie

Edible Film dari Karaginan (Eucheuma cottonii) Asal Aceh, Indonesia : Karakterisasi dengan FTIR dan SEM Reni Silvia Nasution; Muhammad Ridwan Harahap; Husnawati Yahya
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v5i2.5567

Abstract

Edible film karaginan merupakan salah satu alternatif pengganti kemasan plastik yang sulit terdegradasi di alam dan aman bagi bahan pangan. Karaginan merupakan hasil ekstraksi salah satu jenis rumput laut yaitu Eucheuma cottonii. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gugus fungsi dari edible film dengan variasi konsentrasi karaginan dan sifat permukaan dari edible film karaginan dengan SEM. Pemanfaatan karaginan hasil ekstraksi E.cottonii asal Aceh untuk pembuatan edible film diharapkan dapat meningkatkan potensi budidaya E.cottonii di Aceh. Tahapan penelitian dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama proses ekstraksi karaginan dari E. cottonii dengan penggunaan KOH 14% dan tahap kedua pembuatan edible film dengan varisi konsentrasi karaginan 0,1%; 0,2%; 0,3% (b/v) dengan penambahan PEG sebagai plasticizer. Hasil FTIR menunjukkan gugus fungsi ester sulfat, ikatan glikosidik, 3,6 anhidro-d-galaktosa, gugus OH dan CH dengan bilangan gelombang berturut-turut pada rentang 1246,36-1246,9 cm-1 , 1072-1074 cm-1, 932-934 cm-1,  3370- 3382 cm-1, dan 2876-2880 cm-1. Perubahan bilangan gelombang edible film karaginan dibandingkan dengan FTIR karaginan hasil ekstraksi pada penelitian sebelumnya menunjukkan adanya interaksi antara karaginan dengan plasticizer PEG yang ditambahkan. Pengujian morfologi pada edible film pada konsentrasi karaginan 0,1% dan 0,2% dengan SEM menunjukkan permukaan yang homogen dan kontinyu, sedangkan pada konsentrasi 0,3% edible film tidak terbentuk.
Analisis Sifat Kimia dan Fisika dari Maleat Anhidrida Tergrafting pada Polipropilena Terdegradasi Reni Silvia Nasution
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v3i1.1439

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang analisa sifat kimia dan sifat fisika dari maleat anhidrida tergrafting pada polipropilena terdegradasi (PPd-g-MA). PPd-g-MA yang diperoleh dibuat dengan perbandingan 95 : 3 : 2 (PPd : MA : BPO). Selanjutnya diuji sifat kimia dengan FTIR untuk menunjukkan proses grafting dapat terjadi dan kemudian diuji dengan DTA untuk mengetahui sifat fisika yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan sifat kimia dan fisika dari PPd-g-MA apabila dibandingkan dengan polipropilena murni. Pada FTIR ditunjukkan dengan munculnya gugus karbonil pada PPd-g-MA sebelum dan sesudah pemurnian berturut-turut pada bilangan gelombang 1712,79 cm-1 dan 1720,50 cm-1 dan gugus alkoksi pada bilangan gelombang 1165,00 cm-1. Perubahan titik leleh pada PPd-g-MA yang ditunjukkan oleh DTA yaitu 150oC.
Berbagai Cara Penanggulangan Limbah Plastik Reni Silvia Nasution
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v1i1.522

Abstract

Plastik merupakan bahan polimer sintesis yang dibuat melalui proses poli- merisasi dimana tidak dapat lepas dari kehidupan kita sehari-hari yang umumnya kita jumpai dalam bentuk plastik kemasan ataupun penggunaannya pada alat-alat listrik dan peralatan rumah tangga. Sifatnya yang sulit terdegradasi di alam menjadikannya penyumbang limbah terbesar yang menyebabkan rusaknya keseimbangan alam. Tiga cara penanggulangan limbah plastik yang meliputi mengurangi penggunaan kantong plastik dengan menggantinya dengan alat (kain) untuk membungkus barang atau dikenal dengan furoshiki ; pengolahan limbah plastik menggunakan metode fabrikasi; dan penggunaan plastik biodegradable yang lebih mudah terurai di alam. Tiga cara tersebut diharapkan dapat menjadi solusi bagi penanggulangan limbah plastik.
Pemanfaatan Berbagai Jenis Bahan Sebagai Penggumpal Lateks Reni Silvia Nasution
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v2i1.639

Abstract

Indonesia merupakan salah satu produsen karet terbesar di dunia yang kini menempati posisi kedua setelah Thailand. Lateks yang diperoleh dari pohon karet dengan cara penyadapan selanjutnya di olah untuk berbagai keperluan. Rendahnya mutu bahan olah karet di Indonesia mendorong para peneliti untuk dapat meningkatkan kualitasnya. Salah satunya dengan memanfaatkan berbagai bahan untuk menggumpalkan lateks sebagai proses penanganan setelah penyadapan. Penelitian tentang pemanfaatan bahan-bahan seperti ekstrak buah-buahan yang memiliki pH asam, nira aren ataupun penggunaan limbah cair pabrik tahu yang juga sebagai bentuk penanganan limbah telah dilakukan. Hasil dari beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut dapat digunakan sebagai penggumpal lateks.
Characterization of Carrageenan Edible Film With Natural Antioxidant From Syzygium Cumini Leaf Extract (SCLE) Reni Silvia Nasution
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v8i2.10966

Abstract

Abstract: Edible film have received considerable attention because of their advantages including their use as edible packaging material over synthetic films. This study aimed to characterize an edible film based on carrageenan and Syzygium cumini leaf extract (SCLE) as a natural antioxidant. The addition of SCLE was carried out with various concentrations of 0, 5, 10 and 15%. Characterization was carried out by measuring the physical properties, mechanical properties and antioxidant activities. The result showed that the presence of SCLE gave an increase in thickness and a decrease in solubility and water content compared to the edible film without the addition of SCLE. The addition of 5% SCLE resulted in a slight increase in tensile strength and a reduction in elongation at break. The edible films also showed an increase in antioxidant activity with the addition of SCLE where the highest antioxidant activity was at the addition of 15% SCLE. The incorporation of natural antioxidants in edible films can be a potential strategy to produce promising active packaging to extend product shelf life in the food packaging industry.Abstrak: Edible film telah mendapat banyak perhatian karena keuntungannya sebagai kemasan yang dapat dimakan  dibandingkan film sintetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi edible film berbasis karaginan dan ekstrak daun Syzygium cumini (SCLE) sebagai antioksidan alami. Penambahan SCLE dilakukan dengan variasi konsentrasi 0, 5, 10 dan 15%. Karakterisasi dilakukan dengan mengukur sifat fisika, sifat mekanik dan aktivitas antioksidannya. Hasil menunjukkan bahwa keberadaan SCLE memberikan peningkatan pada ketebalan dan penurunan pada kelarutan dan kadar air dibandingkan edibe film tanpa penambahan SCLE. Penambahan SCLE sebanyak 5% menghasilkan sedikit peningkatan pada kuat tarik dan pengurangan pada perpanjangan putus. Edible film juga menunjukkan peningkatan aktivitas antioksidan dengan penambahan SCLE dimana aktivitas antioksidan tertinggi pada penambahan 15% SCLE. Penggabungan antioksidan alami pada edible film dapat menjadi strategi potensial untuk menghasilkan kemasan aktif yang menjanjikan untuk memperpanjang umur simpan produk pada industri kemasan makanan.
Effect of Acetobacter aceti Concentration and Fermentation Time on Acetic Acid Content Produced From Seaweed Gracilaria sp. Harahap, Muhammad Ridwan; Nasution, Reni Silvia; Nadhifa, Husniah; Khairani, Ana
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v9i1.26631

Abstract

Abstract: This study evaluates the conversion of Gracilaria sp. seaweed into acetic acid using the bacterium Acetobacter aceti. Acid hydrolysis breaks down the carbohydrates in Gracilaria sp. into glucose, which is then fermented by Acetobacter aceti to produce acetic acid. Assessed the impact of varying concentrations of Acetobacter aceti and different fermentation durations on acetic acid yield. Results indicated that Gracilaria sp. produced bioethanol at approximately 7.108% using bread yeast and 1.572% with tapai yeast. The bioethanol from bread yeast was used for fermentation. FTIR analysis revealed specific absorption peaks for hydroxyl (OH) at 3248 cm⁻¹, carbonyl (C=O) at 1635.64 cm⁻¹, and carbon-oxygen (C-O) at 1249 cm⁻¹. Acetic acid concentrations were influenced by the concentration of Acetobacter aceti (5%, 10%, 15%) and fermentation time (7, 10, 13 days), with the highest concentration of 0.380% achieved after 10 days at 10% Acetobacter aceti.Abstrak: Penelitian ini mengevaluasi perubahan rumput laut Gracilaria sp. menjadi asam asetat menggunakan bakteri Acetobacter aceti. Hidrolisis asam memecah karbohidrat dalam Gracilaria sp. menjadi glukosa, yang kemudian difermentasi menggunakan Acetobacter aceti untuk menghasilkan asam asetat. Pengaruh dari berbagai konsentrasi Acetobacter aceti dan durasi fermentasi yang berbeda pada hasil asam asetat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioetanol Gracilaria sp. diproduksi sekitar 7,108% menggunakan ragi roti dan 1,572% dengan ragi tapai. Bioetanol dari ragi roti digunakan untuk fermentasi. Analisis FTIR mengungkapkan puncak serapan spesifik untuk hidroksil (OH) pada 3248 cm⁻¹, karbonil (C=O) pada 1635,64 cm⁻¹, dan karbon-oksigen (C-O) pada 1249 cm⁻¹. Konsentrasi asam asetat dipengaruhi oleh konsentrasi Acetobacter aceti (5%, 10%, 15%) dan lama fermentasi (7, 10, 13 hari), dengan konsentrasi tertinggi sebesar 0,380% dicapai setelah 10 hari pada 10% Acetobacter aceti.