Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KOMUNIKASI ORGANISASI DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, PERLINDUNGAN ANAK, PENGENDALIAN PENDUDUK, DAN KELUARGA BERENCANA (DP3AP2KB) DALAM MEWUJUDKAN LHOKSEUMAWE MENUJU KOTA LAYAK ANAK (Studi Pada Forum Anak Lhokseumawe Kreatif) maulina maulina; Subhani Subhani
Jurnal Jurnalisme Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jj.v12i1.9063

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi organisasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Lhokseumawe dalam mewujudkan Lhokseumawe menuju Kota Layak Anak dengan keterlibatan Forum Anak Lhokseumawe Kreatif (FALAK) serta mengetahui hambatan-hambatan komunikasi organisasi dalam mewujudkan program Kota Layak Anak. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan komunikasi organisasi yang berlangsung di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Lhokseumawe sudah berlangsung dengan baik, seperti saling melakukan koordinasi, atasan terbuka dan menerima keluhan atau masukan dari bawahan. Adapun hambatannya seperti penyesuaian diri dalam lingkungan, belum terlalu menguasai tupoksi kerja, belum melibatkan Falak dalam proses perencanaan kegiatan, dan juga belum adanya kerja sama yang baik antar lintas sektor terkait dengan program Lhokseumawe menuju Kota Layak Anak. Selain itu juga terhambat kegiatan karena kurangnya anggaran atau dana.
INTERGENERATIONAL TRANSMISSION OF GAYO LANGUAGE IN BENER MERIAH, ACEH Ratri Candrasari; Harinawati Harinawati; Subhani Subhani; Ichsan Ichsan; Safriandi Safriandi
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v4i2.10056

Abstract

This study aims to (1) describe the level of existence of the Gayo language and (2) formulate recommendations for strengthening intergenerational transmission of the Gayo language spoken by the tribes in Aceh. This research is studied using a Linguistic-Anthropological perspective, namely a review that analyzes the relationship between culture and language. The research approach used is mixed methods, quantitative and qualitative. To describe the level of existence of the Gayo language, data on language use and language attitudes are needed by distributing questionnaires. Furthermore, the data were analyzed based on the generation group and the realm of language use. The measurement results were then discussed through FGDs involving Gayo ethnic community leaders, Gayo youth, Reje village, Head of the Education and Culture Office. The results of the study show that the Gayo language is still strong in the realm of kinship, social and custom. Gayo language is also still used in almost all generation groups except for the 4th generation, namely those aged <50 years who are at a strong level but are in danger of experiencing a shift. In the realm of association, poetry is still alive, both in important ceremonies and in association, especially advice poetry. Customary law in Gayo land is still upheld so that the Gayo language is still very much alive because qanuns or customary regulations are written in Gayo language. In addition, the effort to transmit language to the younger generation is the Pemangu ceremony, which is the ceremony of handing over children from parents represented by the Gayo Traditional Council to teachers at school.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan tingkat eksistensi bahasa Gayo dan (2) merumuskan rekomendasi penguatan transmisi antargenerasi bahasa Gayo yang dituturkan oleh suku-suku di Aceh . Penelitian ini dikaji dengan menggunakan perspektif Linguistik-Antropologi, yaitu tinjauan yang menganalisis hubungan antara budaya dan bahasa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode campuran, kuantitatif, dan kualitatif. Untuk menggambarkan tingkat keberadaan bahasa Gayo diperlukan data penggunaan bahasa, dan sikap berbahasa dengan cara menyebarkan kuesioner. Selanjutnya data dianalisis berdasarkan kelompok generasi dan ranah penggunaan bahasa. Hasil pengukuran tersebut kemudian dibahas melalui FGD yang melibatkan tokoh masyarakat etnis Gayo, pemuda Gayo, kampung Reje, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Gayo masih kuat dalam ranah kekeluargaan, sosial, dan adat. Bahasa Gayo juga masih digunakan hampir di semua kelompok generasi kecuali generasi ke-4, yaitu mereka yang berusia <50 tahun yang berada pada level kuat namun terancam mengalami pergeseran. Dalam ranah pergaulan, puisi masih tetap hidup, baik dalam upacara-upacara penting maupun dalam pergaulan, khususnya puisi nasehat. Hukum adat di tanah Gayo masih ditegakkan sehingga bahasa Gayo masih sangat hidup karena qanun atau peraturan adat tertulis menggunakan bahasa Gayo. Selain itu upaya transmisi bahasa kepada generasi muda yaitu dengan upacara Pemangu yaitu upacara penyerahan anak dari orang tua yang diwakili Dewan Adat Gayo kepada guru di sekolah.
Training on Milkfish Processing for the Community Seumadu Island, Lhokseumawe Anismar Anismar; Muhammad Ali; Subhani Subhani
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar Vol 4, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/baktiku.v4i1.4567

Abstract

Milkfish Processing Training for the Seumadu Island Community, Batuphat Barat Village, Muara Satu District, Lhokseumawe City is important to carry out, because nowdays Lhokseumawe - Aceh, is experiencing the Covid-19 pandemic which affects almost all sectors of the community's economy, including the tourism sector, so that it can boost the community's economy, especially the family economy, because milkfish has been a side sector for the people on Seumadu Island in addition to the tourism sector. There is also a method that is designed in this presto milkfish processing training to involve two groups of people who live in the tourism area of Seumadu Island, including: a group of housewives, and a youth group of Karang Taruna. Then these activities are also trained by experts in their fields who have experience in conducting fish processing training outside Aceh. Among the various types of fish, milkfish is one of the fish that is easy to find and has a lot of nutrition, because it contains many spines so that it is less attractive to the public. Then, milkfish also smells of earth, so many people do not like it. The smell of earth in fish can be caused by the presence of geosmin compounds produced by the fungus Actinomycetes and blue algae Oscillatoria tenus. This often occurs in ponds that are shallow and located far from the sea (land ponds), with this training, it can make milkfish taste more delicious and odorless, so that it can be liked by the general public.
Medsos Sehat: Edukasi Literasi Digital bagi Komunitas Karang Taruna Gampong Blang Pulo Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe Subhani Subhani; Rizki Yunanda; M. Nazaruddin; Teuku Zulkarnaen; Anismar Anismar; Awaluddin Arifin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i2.22685

Abstract

ABSTRAK Media sosial telah menjadi ruang utama generasi muda dalam berinteraksi, memperoleh informasi, dan mengekspresikan diri. Namun, penetrasi teknologi ini sering tidak diiringi literasi digital yang memadai. Hoaks, ujaran kebencian, pelanggaran etika, serta rendahnya kesadaran privasi masih menjadi masalah serius di tingkat komunitas. Artikel ini memaparkan hasil program pengabdian masyarakat berupa edukasi literasi digital bertajuk “Medsos Sehat” bagi pemuda Karang Taruna di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Metode yang digunakan mencakup ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi cek fakta, workshop pembuatan konten digital, serta evaluasi pre–post test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan peserta memilah informasi benar dan palsu, peningkatan kepercayaan diri dalam memproduksi konten positif, serta kesadaran etika digital yang lebih baik. Dampak jangka panjang terlihat dari terbentuknya komunitas Medsos Sehat yang secara aktif mengelola akun media sosial Karang Taruna sebagai sarana edukasi publik. Program ini menghasilkan modul literasi digital, konten kampanye anti-hoaks, publikasi di media, serta MoU dengan gampong untuk keberlanjutan kegiatan. Artikel ini menyimpulkan bahwa literasi digital berbasis komunitas merupakan strategi efektif untuk membangun ekosistem digital sehat di tingkat lokal, dan merekomendasikan replikasi model ini ke gampong pesisir lainnya di Aceh. Kata Kunci: Literasi Digital, Karang Taruna, Media Sosial, Edukasi, Pengabdian.  ABSTRACT Social media has become the main space for the younger generation to interact, obtain information, and express themselves. However, the penetration of this technology is often not accompanied by adequate digital literacy. Hoaxes, hate speech, ethical violations, and low privacy awareness are still serious problems at the community level. This article describes the results of a community service program in the form of digital literacy education entitled "Healthy Social Media" for youth of Karang Taruna in Gampong Blang Pulo, Muara Satu District, Lhokseumawe City. The methods used include interactive lectures, group discussions, fact-checking simulations, digital content creation workshops, and pre-post test evaluations. The results showed a significant increase in participants' ability to sort out true and false information, increased confidence in producing positive content, and better awareness of digital ethics. The long-term impact can be seen from the formation of the Healthy Social Media community which actively manages Karang Taruna's social media accounts as a means of public education. This program produces digital literacy modules, anti-hoax campaign content, publications in the media, and MoU with gampong for the sustainability of activities. This article concludes that community-based digital literacy is an effective strategy for building a healthy digital ecosystem at the local level, and recommends replicating this model to other coastal gampongs in Aceh. Keywords: Digital Literacy, Youth Organization, Social Media, Education, Service.
KOMUNIKASI INTERPESONAL GURU DAN SISWA DALAM PERKEMBANGAN SOSIAL SISWA MTsS KRUENG MANE Ristia Putri; Dwi Fitri; Cut Andyna; Muhammad Fazil; Subhani Subhani
Jurnal Network Media Vol 9, No 2 (2026): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v9i2.8350

Abstract

Komunikasi interpersonal memainkan peran strategis dalam pendidikan, karena tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian materi pembelajaran tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk sikap, perilaku, dan keterampilan sosial siswa melalui interaksi berkelanjutan. Observasi lapangan menunjukkan beberapa tanda perkembangan sosial yang kurang optimal di kalangan siswa, termasuk bolos sekolah, meninggalkan kelas selama pelajaran, tidur di kelas, dan mengejek teman sebaya. Perilaku-perilaku ini menunjukkan perlunya perhatian yang lebih besar terhadap pola komunikasi yang terjalin antara guru dan siswa dalam lingkungan madrasah. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk memberikan gambaran mendalam tentang praktik komunikasi interpersonal. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan guru dan siswa sebagai partisipan penelitian. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman komprehensif tentang temuan penelitian. Kerangka teoritis didasarkan pada teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead, yang menekankan makna dalam interaksi sosial, serta konsep komunikasi interpersonal Joseph A. Devito, yang meliputi keterbukaan, empati, dukungan, dan sikap positif. Temuan menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif antara guru dan siswa memainkan peran penting dalam mendorong perkembangan sosial anak. Guru yang menunjukkan komunikasi yang terbuka, empatik, dan suportif cenderung membangun hubungan yang harmonis dengan siswa, sehingga mendorong kepercayaan diri, keterampilan interaksi, dan saling menghormati. Sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif dapat menghambat perkembangan sosial siswa. Oleh karena itu, meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal antara guru dan siswa sangat penting untuk mendukung perkembangan sosial anak secara optimal.
ANALISIS WACANA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM DRAMA KOREA FAMILY BY CHOICE Miftahul Jannah; Subhani Subhani; Awaluddin Arifin; Muhammad Fazil; Cut Andyna
Jurnal Network Media Vol 9, No 2 (2026): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v9i2.8562

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana komunikasi keluarga dalam drama Korea Family By Choice. Latar belakang penelitian ini didasari komunikasi keluarga dapat tetap efektif dalam keluarga alternatif yang dibentuk bukan dari ikatan darah, melainkan karena keinginan membentuk keluarga, solidaritas, dan komunikasi. Representasi ini membuka ruang baru untuk memahami wacana komunikasi keluarga dibentuk, dinegosiasikan, dan dipertahankan dalam hubungan yang tidak konvensional. Keluarga dalam drama ini diwacanakan sebagai suatu kesatuan atau sekelompok orang yang dibentuk berdasarkan keinginan, bukan berdasarkan ikatan darah dan pernikahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data yang diperoleh dengan observasi tanpa partisipan dan dokumentasi. Penelitian dilakukan berdasarkan teori analisis wacana Van Dijk yang terdiri dari struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga sejati diwacanakan terbentuk melalui komunikasi dan kepedulian. Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi keluarga dalam wacana ini terlihat dengan rendahnya tekanan terhadap kesetaraan antara orang tua dan anak. Kesimpulan penelitian ini keluarga diwacanakan sebagai sebuah ikatan yang terbentuk tidak berdasarkan ikatan biologis dan pernikahan, komunikasi keluarga terjadi secara dua arah dan terbuka antara orang tua dan anak angkat. Adapun saran dari penelitian ini ialah bagi peneliti selanjutnya agar meningkatkan pemahaman komunikasi keluarga modern dengan menganalisis lebih banyak drama bertema keluarga alternatif.
GAYA KOMUNIKASI MASTER OF CEREMONY (MC) DALAM MEMANDU ACARA PERNIKAHAN DI KOTA LHOKSEUMAWE Muliya Arsy; Ade Muana Husniati; Anismar Anismar; Subhani Subhani; Muhammad Ali
Jurnal Network Media Vol 9, No 2 (2026): NETWORK MEDIA
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jnm.v9i2.8384

Abstract

This study examines the communication styles used by Masters of Ceremony (MCs) in guiding wedding ceremonies in Lhokseumawe City. The background of this research is based on the increasing use of professional wedding MC services and the fact that each MC has a different communication style. These differences influence the atmosphere of the event, the comfort of the bride and groom and the guests, as well as the overall impression left after the ceremony. Therefore, this study aims to identify and describe the communication styles of Masters of Ceremony in leading wedding events in Lhokseumawe and to explore how these styles help create a warm, harmonious atmosphere and effective communication during the ceremony. This research employs a descriptive qualitative approach using interviews, observations, and documentation, and is based on Robert Norton’s communication style theory (Dominant Style, Dramatic Style, Argumentative/Contentious Style, Animated Expressive Style, Relaxed Style, Attentive Style, Open Style, and Friendly Style). The findings show that not all of Norton’s communication styles are applied by the MCs studied. Of the nine communication styles proposed by Robert Norton, only eight were found in the communication practices of MCs when hosting wedding ceremonies. This indicates that the MCs tend to adapt their communication styles to the context of the event, the audience, and their role as hosts, so that one communication style is not used because it is considered less relevant or unsuitable for the sacred and formal atmosphere of a wedding ceremony.