Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH POC LIMBAH TAHU DAN BIOCHAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PAKCOY DI LAHAN KERING Seda Wea, Arkajel Jerianus; Tobing, Wilda Lumban; Djata Ndua, Natalia Desy; Naisali, Hyldegardis
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 22 No 2 (2025): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fp.v22i2.4781

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi antara pupuk organik cair (POC) limbah tahu dan komposisi biochar pada media tanam, pengaruh pemberian POC limbah tahu dan pengaruh komposisi biochar pada media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yaitu konsentrasi POC limbah tahu meliputi L1=100 mL/L air, L2=200 mL/L air, L3=300 mL/L air, dan jenis biochar meliputi S1= tanah : biochar sekam padi (1:1), S2= tanah: biochar serbuk kayu (1:1), S3= tanah: biochar sekam padi: biochar serbuk kayu (1:1:1). Hasil penelitian menujukan bahwa interaksi antara POC limbah tahu dan komposisi biochar pada media tanam serta perlakuan tunggal POC limbah tahu tidak berpengaruh signifikan terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy. Perlakuan komposisi biochar berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun umur 35 HST, bobot segar tajuk, bobot segar akar, dan indeks panen dimana perlakuan terbaik terdapat pada komposisi media tanam S1=tanah:biochar sekam padi (1:1).
Pemberdayaan KWT Mekar Sari Kelurahan Kefa Selatan melalui Pelatihan Pembuatan Kompos Biochar untuk Budidaya Tanaman Hortikultura Deseriana Bria; Natalia Desy Djata Ndua; Hyldegardis Naisali; Jefrianus Nino; Wilda Lumban Tobing; Faustinus Kadha; Bernardinus Kolo
Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal PKM Manajemen Bisnis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/pkmb.v6i1.1691

Abstract

The issue of declining soil fertility and limited access to sustainable agricultural inputs is a major challenge for smallholder farmers in Kefa Selatan, Timor Tengah Utara Regency, East Nusa Tenggara Province. In response, a community service program was initiated under the title Empowerment of KWT Mekar Sari in Kefa Selatan Subdistrict through Biochar Compost Training for Horticultural Cultivation. The objective of this activity was to enhance the capacity of local farmers, particularly members of the Mekar Sari Women Farmers Group (KWT), in producing and utilizing biochar compost to improve soil quality and increase horticultural crop productivity. The activity was carried out from July to September 2024 in Kefa Selatan and involved 15 local farmers as participants, facilitated by a team of 7 lecturers and students from the University of Timor. The methods employed included educational sessions on the benefits of compost, hands-on training in biochar compost production, and demonstration of its application in horticultural crop cultivation. As a result, participants gained practical knowledge and skills in sustainable composting techniques and showed increased awareness of organic farming benefits. The training also stimulated greater community engagement and environmental awareness. This program is expected to serve as a model for similar initiatives in other rural communities.
Upaya Diversifikasi pangan Sumber Protein pada Kelomppok Wanita Tani Oematfanu, Desa tapenpah Melalui Pelatihan Pembuatan tempe Kedelai Naisali, Hyldegardis; Bria, Deseriana; Ndua, Natalia Desy Djata; Binsasi, Yeremias
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i1.1014

Abstract

Selama ini hampir semua KWT hanya melakukan kegiatan budidaya tanaman hortikultura maupun tanaman pangan namun belum melakukan kegiatan pengolahan produk. Hal ini yang menyebabkan jumlah stunting di Desa Tapenpah 21 orang. Untuk mengatasi hal demikian perlu adanya pangan sumber protein. Tempe merupakan sumber protein nabati yang cukup penting bagi masyarakat Indonesia yang difermentasi. Keunggulan tempe diantaranya daya cerna protein, karbohidrat dan lemaknya lebih baik; beberapa kandungan vitamin lebih tinggi, ketersediaan (bioavailabilitas) mineral menjadi lebih baik. Pelatihan pembuatan tempe dengan tujuan untuk menurunkan angka stunting. Selain itu, diharapkan menjadi nilai tambah bagi masyarakat Desa Tapenpah yaitu membuat tempe sendiri untuk dikonsumsi dan juga dapat dijual. Hal ini akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat. Melalui KWT diharapkan wanita-wanita yang umumnya adalah ibu rumah tangga bukan saja dapat produktif dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya tetapi juga produktif dan mandiri dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.  Oleh karena itu perlu adanya sosialisasi dan pelatihan pembuatan tempe kepada KWT sebagai penyedia makanan dalam rumah tangga. Sehingga dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk (Stunting) akan menurun dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kacang kedelai  menjadi tempe dapat menurunkan kadar raffinosa dan stakoisa yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (perut kembung).
Pelatihan Pupuk Kompos Biochar Untuk Mewujudkan Pertanian Ramah Lingkungan di Desa Femnasi Taena, Werenfridus; Nino, Jefrianus; Binsasi, Yeremias; Delviana Klau, Anggelina; Djata Ndua, Natalia Desy; Taena, Emanuael Tati
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 4 (2025): Edisi Oktober - Desember
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i4.7309

Abstract

Pertanian ekstensif dan penggunaan pupuk organik berdampak negatif terhadap lingkungan termasuk menyebabkan peningkatan terhadap efek gas rumah kaca, sehingga dibutuhkan upaya untuk meningkatkan praktek pertanian ramah lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani tentang pembuatan dan aplikasi penggunaan kompos-biochar guna meningkatkan produktivitas pertanian dan mewujudkan pertanian ramah lingkungan di Desa Femnasi. Kegiatan pengabdian melibatkan aparat desa, anggota kelompok tani, perwakilan masyarakat umum, dan aparatur desa. Hasilnya partisipasi masyarakat tergolong tinggi dalam kegiatan sosialisasi dan praktek pembuatan kompos-biochar; sehingga peserta pelatihan memperoleh peningkatan pengetahuan dan ketrampilan tentang pembuatan kompos-biochar dan aplikasi pada usaha pertanian yang akan berdampak pada terwujudnya pertanian ramah lingkungan. Dibutuhkan tindak lanjut dari kegiatan pelatihan ini, dengan mengaplikasikannya pada kebun percontohan milik desa ataupun masyarakat agar mempercepat terwujudnya pertanian ramah lingkungan
PENERAPAN MEDIA TANAM LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM DAN KOMPOS BIOCHAR TERHADAP TANAMAN PAKCOY Bria, Deseriana; Naisali, Hyldegardis; Tobing, Wilda Lumban; Ndua, Natalia Desy Djata; Mali, Dementrius Dedi
AGRICA Vol. 18 No. 2 (2025): December
Publisher : Agriculture Faculty of Flores University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/agr.v18i2.5621

Abstract

Pakcoy cultivation in horticultura, organic material in the form of waste such as white oyster mushroom baglog waste. Baglog waste compost contains 2.03% N, 0.61% P and 1.78% K, this nutrient content is able to meet the nutrient needs of plants. Another organic material that can be used as a planting medium is biochar compost. Biochar compost can increase plant growth and yield. The aim of this research was to determine the comparative effect of white oyster mushroom baglog waste and biochar compost as a planting medium on the growth and yield of pak choy plants. The research used a randomized factorial design. White oyster mushroom baglog waste is the factor I have of three levels: baglog waste 0.625 kg/polybag (L1), baglog waste 1.25 kg/polybag (L2), baglog waste 1.875 kg/polybag (L3). Biochar compost is the second factor have of three levels: 0.625 kg biochar compost/polybag (B1), 1.25 kg biochar compost/polybag (B2), 1.875 kg biochar compost/polybag (B3). Each treatment was repeated 3 times so that there were 27 experimental units. The results of the was an interaction between white oyster mushroom baglog waste and biochar compost on the parameters of plant height 14-35 DAP, number of leaves 14-35 DAP, root dry weight, shoot dry weight with the best treatment of baglog waste 0.625 kg/polybag and biochar compost 0.625 kg/polybag. Providing white oyster mushroom baglog waste fertilizer had a significant effect on all observation parameters with the best treatment being baglog waste 0.625 kg/polybag.