Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Biosense

AKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK ETANOL BIJI GANITRI (Elaeocarpus sphaericus Schum.) TERHADAP PERTUMBUHAN FUNGI Aspergillus flavus Nafratilova, Hilda; Sufadjari, Agus; Nurchayati, N.
JURNAL BIOSENSE Vol 1 No 01 (2018): Edisi Desember 2018
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.103 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur pada masing-masing konsentrasi serta mengetahui konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak etanol biji ganitri (Elaeocarpus sphaericus Schum.) terhadap pertumbuhan fungi Aspergillus flavus. Konsentrasi ekstrak etanol biji ganitri (Elaeocarpus spharicus Schum.) Yang digunakan adalah 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak etanol biji ganitri (Elaeocarpus sphaericus Schum.) yang digunakan adalah 1%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%. Hasil menunjukkan ada perbedaan aktivitas masing-masing konsentrasi ekstrak etanol biji ganitri (Elaeocarpus spharicus Schum.). Ekstrak etanol biji ganitri (Elaeocarpus spharicus Schum.) konsentrasi 50% menunjukkan aktivitas antijamur tertinggi, dengan diameter zona hambat 1,16 cm, diameter zona hambat ketoconazole 1% adalah 1,26 cm, sedangkan kontrol negatif (aquades steril) tidak menunjukkan aktivitas antijamur. Hasil uji KHM menunjukkan, pada konsentrasi ekstrak etanol biji ganitri (Elaeocarpus spharicus Schum.) 1% masih dapat menghambat pertumbuhan Aspergillus flavus, dengan diameter zona bening seluas 0,13 cm. Analisis data menunjukkan setiap kelompok perlakukan berbeda nyata atau signifikan. Kata Kunci: Elaeocarpus spharicus Schum, serial konsentrasi, Aspergillus flavus, KHM
STUDI ETNOBOTANI TANAMAN BERKHASIAT OBAT BERBASIS PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT SUKU OSING DI KECAMATAN LICIN BANYUWANGI Khotimah, Kusnul; Nurchayati, N.; Ridho, Rosyid
JURNAL BIOSENSE Vol 1 No 01 (2018): Edisi Desember 2018
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.182 KB)

Abstract

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional telah dikenal sejak lama oleh masyarakat Suku Osing pada umumnya dan masyarakat Kabupaten Banyuwangi khususnya. Proses ini sudah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Akan tetapi, saat ini ada kecenderungan tradisi ini mulai ditinggalkan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menggali kembali pengetahuan tentang spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Suku Osing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan dan mengetahui pemanfaatan tumbuhan obat yang ada dimasyarakat Suku Osing Kecamatan Licin Banyuwangi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2017 di 3 desa yaitu Desa Tamansari, Desa Licin, dan Desa Segobang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan teknik survei, wawancara semi terstruktur dan kuisioner. Sampel berjumlah 70 responden meliputi masyarakat yang dianggap memahami tentang tumbuhan obat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui terdapat 43 spesies tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat. Tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat Suku Osing didominasi oleh spesies tumbuhan dari famili Zingiberaceae, diantaranya kunyit (Curcuma longa Linn) sebesar 55% dan sirih (Piper bettle Rosc) dari famili Piperaceae. Masyarakat Suku Osing memperoleh tanaman obat dengan cara: liar sebesar 32%, budidaya sebesar 39%, dan membeli 29%. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan untuk obat adalah daun sebesar 30%, rimpang sebesar 27%, bunga sebesar 13%, buah sebesar 8%, batang sebesar 9%, akar sebesar 6%, dan getah sebesar 7%. Jenis penyakit yang paling banyak diobati menggunakan obat adalah penykit tidak menular sebesar 47%, penyakit menular sebesar 30%, dan penyakit kronik sebesar 23%. Cara pengolahan tumbuhan obat diminun tanpa direbus sebesar 34%, diminum setelah direbus 45%, dan dioleskan sebesar 21%. Kata kunci: Etnobotani, Tanaman obat, dan Suku Osing Banyuwangi
KAJIAN ETNOBOTANI TANAMAN FAMILI ZINGIBERACEAE PADA MASYARAKAT SUKU USING KABUPATEN BANYUWANGI Nurchayati, N.; Ardiyansyah, Fuad
JURNAL BIOSENSE Vol 1 No 01 (2018): Edisi Desember 2018
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.668 KB)

Abstract

Masyarakat Suku Using di Kabupaten Banyuwangi terkenal memiliki keunikan budaya dan pengetahuan tradisional dalam memanfaatkan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu famili tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah golongan Zingiberaceae. Pemanfaatannya adalah sebagai bahan obat dan bumbu masakan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji tingkat pemanfaatan tumbuhan dari famili Zingiberaceae baik ditinjau dari segi etnobotani, etnomedisin, etnoekonomi dan etnoekologi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2018. Lokasi penelitian meliputi 5 kecamatan yang meliputi: 1) Kecamatan Glagah (Kemiren, Glagah, Taman Suruh, Bakungan, Mandaluko, Olehsari, Kenjo, Dukuh Kopen Kidul); 2) Kecamatan Giri (Cungking Mojopanggung, Boyolangu); 3) Kecamatan Kabat (Macan putih, Kejoyo); 4) Kecamatan Rogojampi (Aliyan); 5) Kecamatan Singojuruh (Alas Malang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada sembilan spesies dari famili Zingiberaceae yang digunakan oleh masyarakat Suku Using di Banyuwangi. Spesies tersebut meliputi Alpinia galangal, Curcuma alba, Curcuma domestica, Zingiber officinale, Curcuma xantorrizha, Kaemferia galanga, Boensenbergia rotunda, Zingiber aromaticum, Amomum dealbatum. Semua spesies berhabitus terna. Pemanfaatan tanaman tersebut sebagai bahan obat dan bumbu masakan. Hampir semua memiliki nilai ekonomi dan hampir semua telah dibudidayakan oleh masyarakat Suku Using Banyuwangi di area sekitar rumah. Kata kunci: Etnobotani, Zingiberaceae, dan Suku Using Banyuwangi
STUDI ETNOBOTANI KEANEKARAGAMAN TANAMAN PANGAN SEBAGAI REFERENSI KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT USING BANYUWANGI Susanti, Erni Duwi; Nurchayati, N.; Ardiyansyah, Fuad; Kurnia, Tristi Indah Dwi; Anam, Khoirul
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3848

Abstract

Etnobotani merupakan interaksi antara masyarakat, lingkungan, dalam pemanfaatan tumbuhan, keanekaragaman tanaman yang dimanfaatkan mampu mengatasi kondisi ketahanan pangan. Jenis penelitian deskriptif eksploratif bertujuan untuk mengetahui tanaman pangan sebagai referensi ketahanan pangan masyarakat suku Using di Banyuwangi. Adapun metode yang digunakan adalah wawancara terstruktur dan wawancara semiterstruktur dengan keterlibatan aktif peneliti dalam kegiatan masyarakat. Penelitian dilakukan di lima kecamatan yaitu kecamatan Glagah, kecamatan Giri, kecamatan Singojuruh, kecamatan Kabat, dan kecamatan Rogojampi. Hasil penelitian yaitu terdapat 40 jenis tanaman pangan yang digunakan masyarakat suku Using. Dari 40 jenis tanaman pangan terdapat 10 jenis tanaman dengan prosentase tertinggi yaitu diperoleh presentase padi 11%, bawang merah 11%, bawang putih 11%, cabai 11%, kelapa 10%, kunyit 8%, ubi jalar 10%, ubi kayu 10%, asam 10%, dan pisang 8%. Tanaman pangan terdiri dari kategori bahan pangan utama, bahan pangan tambahan, rempah-rempah, dan polong-polongan. Tanaman pangan masyarakat suku Using dapat dijadikan daya dukung ketahanan pangan karena mudah ditemukan, dan memiliki nilai gizi yang tinggi. Upaya konservasi yang dilakukan masyarakat yaitu dengan menanam tanaman pangan di lingkungan pekarangan rumah dan persawahan.
MORFOMETRI KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) DI KAWASAN MANGROVE PANTAI PULAU SANTEN BANYUWANGI Lutiya, Ida Lutiya; Sufadjari, Agus; Nurchayati, N.; Nurmasari, Fitri; Firmasyah, Moh.
JURNAL BIOSENSE Vol 7 No 01 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v7i01.3849

Abstract

Mangrove crab (Scylla paramamosain) is one of crab species that live in mangrove area. The purpose of this research was to obtain the morphometric and alometric of mangrove crab in mangrove area in santen island Banyuwangi. The sample of this research were taken by used transek methode by divide the area in to 3 stations. The first station was located in upper course of mangrove, the second station in down stream of mangrove, and the third station in the middle of mangrove zone. This research was measure about carapac length (CL), carapac width (CW), abdoment leng (AL), abdoment width (AW), hand bite length (HBL), hand bite width (HBW), frontal length (FL), and frontal width (FW). The alometric was observed about relation of morphometric measurement and bodymass in female and male of crab. The result of this research showed 3 species from all of the stations. But the focus of measurement was in one species called Scylla paramamosain. The result of male morphometric measurement minimal CL: 6,5 cm, CW: 8,5 cm, AL: 4 cm, AW: 1,5 cm, HBL: 10 cm, HBW: 1,5 cm, FL: 1 cm, FW: 2 cm, Body mass: 200 gram. Maximum CL: 9 cm, CW: 10 cm, AL: 4 cm, AW: 2 cm, HBL: 8,25 cm, HBW: 2,75 cm, FL: 1,5 cm, FW: 3 cm, Body mass: 500 gram. Al though in female measurement minimal CL: 5 cm, CW: 7,5 cm, AL: 3 cm, AW: 2,5 cm, HBL: 2 cm, HBW: 1,5 cm, FL: 1 cm, FW: 2 cm, Body mass: 200 gram. Maximum CL: 7,5 cm, CW: 11 cm, AL: 3 cm, AW: 5 cm, HBL: 4 cm, HBW: 5 cm, FL: 2 cm, FW: 4 cm, Body mass: 300 gram. The alometric result of male crabs was 0,98, that means negative alometric because it was less than 3 point. The negative alometric also happen in female crabs. The conclusion of the measurement is produce a negative growth pattern in male and female crabs
STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI DI KAWASAN KAMPUNG KEANEKARAGAMAN HAYATI DESA SUMBERARUM KECAMATAN SONGGON, BANYUWANGI As’ari, Hasyim; Nurchayati, N.; Ardiyansyah, Fuad; Dagsy, Irqami Rachma Dwi; Hanani, Muhammad Muizul; Kuswanto , Wawan; Nasyuddin, Rizky Abdan; Mukhlisin, Mohammad
JURNAL BIOSENSE Vol 9 No 1 (2026): Edisi Januari 2026
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v9i1.7383

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur dan komposisi vegetasi di Kampung Keanekaragaman Hayati (Kampung Kehati) Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Analisis dilakukan pada empat kategori tegakan yaitu pohon, tiang, pancang, dan semai melalui 30 sub stasiun dan lima plot pada setiap sub stasiun. Parameter yang diamati meliputi kerapatan, frekuensi, dominansi, indeks keanekaragaman (H’), kemerataan (E), kekayaan jenis (R), serta Indeks Nilai Penting (INP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori pohon terdiri dari 50 spesies, tiang 22 spesies, pancang 56 spesies, dan semai 34 spesies. Keanekaragaman kategori pohon, tiang, dan pancang berada pada kategori sedang, sementara semai berada pada kategori rendah akibat dominansi Coffea canephora yang mencapai lebih dari 95% dari total individu. INP tertinggi pada semua kategori didominasi oleh Coffea canephora, Swietenia mahagoni, dan Hibiscus tiliaceus yang memiliki peranan penting dalam penyusunan struktur vegetasi. Secara spasial, wilayah taman kehati dan dekat sungai memiliki kekayaan jenis lebih tinggi dibandingkan wilayah perbatasan PT yang menunjukkan kondisi vegetasi rendah. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa keberadaan spesies lokal memerlukan perhatian konservasi lebih lanjut untuk menjaga keberlanjutan ekologis dan hidrologis Kampung Kehati Sumberarum.