Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN DAN PENGETAHUAN TERHADAP SIKAP ORANG TUA DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI Ryska Setiawati Dewi; Murtiningsih Murtiningsih
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Vol. 1 No. 4 (2024): Desember
Publisher : CV. Naiwa Best Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18723980

Abstract

Imunisasi dasar lengkap pada bayi merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah penyakit menular dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Namun, cakupan imunisasi di beberapa wilayah masih belum optimal, yang dapat disebabkan oleh faktor kurangnya pengetahuan dan sikap orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penyuluhan kesehatan dan tingkat pengetahuan terhadap sikap orang tua dalam pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi melalui literature dari 10 artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2015-2023. Hasil menunjukan bahwa program penyuluhan kesehatan yang terstruktur dan berkelanjutan, disertai dengan upaya meningkatkan pengetahuan orang tua, sangat diperlukan untuk mencapai cakupan imunisasi dasar lengkap. Kesimpulannya Pemerintah dan penyedia layanan kesehatan perlu bekerja sama untuk mengintegrasikan program penyuluhan dalam kegiatan Posyandu, kunjungan rumah, dan program lainnya.
Sosialisasi pengelolaan dismenorea dan pencegahan anemia pada remaja melalui intervensi berbasis digital (SMART TEEN) Yayat Suryati; Fauziah Rudhiati; Murtiningsih Murtiningsih; Iin Inayah; Argi Virgona Bangun; Rahmi Imelisa; Elisa Adelia do Carmo; Monika Anggelia Tumbol; Sanzina Agus da Silva
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2691

Abstract

Background: Among adolescent girls, dysmenorrhea and anemia are two common yet under-recognized health problems. Dysmenorrhea, or menstrual pain, affects a significant proportion of adolescent girls worldwide. Adolescent girls commonly face reproductive health issues such as dysmenorrhea and anemia, which significantly impact their academic performance and quality of life. Purpose: To empower adolescents to manage dysmenorrhea and prevent anemia through digital-based health education. Method: The program was conducted in 2026 at SMAN IV Cimahi, targeting adolescent girls who met the inclusion criteria (aged 15-18 years, having a menstrual cycle, and no chronic gynecological diseases). The program population comprised all female students, using a purposive sampling technique to obtain a sample of 139 respondents. Material was delivered through lectures and discussions, as well as through interactive digital audio-visual videos, including mobile applications and social media platforms. Knowledge levels were measured using a 30-item multiple-choice questionnaire covering the mechanisms of dysmenorrhea, non-pharmacological management, an iron-rich diet, and knowledge of menstrual cycle tracking. Qualitative data were coded thematically and triangulated with quantitative results. Results: Demonstrated a significant increase in reproductive health literacy and a better understanding of anemia prevention strategies. Data showed that the average age of respondents was 16.37 years with a standard deviation of ±0.56 years, and the majority of respondents (82) were 16 years old. The average score for respondents' knowledge about dysmenorrhea ranged from 80 to 92 points, and their knowledge about anemia ranged from 89 to 92 points. Conclusion: Educational activities with digital-based interventions proved effective in improving adolescent health literacy, particularly in the areas of dysmenorrhea management and anemia prevention. Furthermore, positive qualitative feedback about the digital format highlighted its relevance and appeal to adolescents, aligning with broader eHealth engagement trends. The synergy between digital education and peer learning, self-monitoring, and institutional support emerged as key factors for the intervention's success. Suggestion: Integration of digital health education with existing school curricula and health promotion programs is needed to ensure consistency and strengthen learning across contexts. It is also hoped that future activities will include education with the ability to adapt interventions to cultural and socioeconomic environments so that they can be more accessible to the community and implemented broadly. Keywords: Adolescent health; Anemia prevention; Digital intervention; Health education Pendahuluan: Di antara remaja perempuan, dismenore dan anemia merupakan dua masalah kesehatan yang paling umum namun kurang mendapat perhatian. Dismenore, atau nyeri menstruasi, memengaruhi sebagian besar remaja perempuan di seluruh dunia. Remaja putri umumnya menghadapi masalah kesehatan reproduksi seperti dismenore dan anemia, yang secara signifikan memengaruhi prestasi akademik dan kualitas hidup mereka. Tujuan: Untuk memberdayakan remaja dalam mengelola dismenore dan mencegah anemia melalui pendidikan kesehatan berbasis digital. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di SMAN IV Cimahi dengan sasaran remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi (usia 15-18 tahun, siklus menstruasi, tidak memiliki penyakit ginekologis kronis). Populasi kegiatan adalah seluruh siswi, dengan menggunakan teknik purposive sampling mendapatkan sampel sebanyak 139 responden. Penyampaian materi dilakukan melalui ceramah dan diskusi, serta menyimak audio visual video berupa digital interaktif, termasuk aplikasi seluler dan platform media sosial. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner berupa 30 soal pilihan ganda yang mencakup mekanisme dismenore, penanganan non-farmakologis, diet kaya zat besi, dan pengetahuan pelacakan siklus menstruasi. Data kualitatif dikodekan secara tematik dan ditriangulasi dengan hasil kuantitatif. Hasil: Menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi kesehatan reproduksi, dan pemahaman yang lebih baik tentang strategi pencegahan anemia. Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 16.37 tahun dengan standar deviasi ±0.56 tahun dan sebagian besar responden berusia 16 tahun yaitu sebanyak 82 (59.0%). Rata-rata pencapaian skor pengetahuan responden tentang dismenorea berada di rentang 80-92 poin dan skor pengetahuan tentang anemia berada di rentang 89-92 poin. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan intervensi berbasis digital terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja, khususnya dalam bidang manajemen dismenore dan pencegahan anemia. Selain itu, umpan balik kualitatif yang positif tentang format digital menyoroti relevansi dan daya tariknya pada kalangan remaja yang sejalan dengan tren keterlibatan eHealth yang lebih luas. Sinergi antara pendidikan digital dengan pembelajaran sebaya, pemantauan diri, dan dukungan institusional muncul sebagai faktor kunci keberhasilan intervensi.  Saran: Perlu dilakukan integrasi bagaimana pendidikan kesehatan digital dapat diintegrasikan dengan kurikulum sekolah dan program promosi kesehatan yang ada untuk memastikan konsistensi dan memperkuat pembelajaran di berbagai konteks. Diharapkan juga pada kegiatan selanjutnya untuk melakukan edukasi dengan kemampuan adaptasi intervensi terhadap lingkungan budaya dan sosial ekonomi sehingga dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dalam penerapannya secara luas.
The Effect of Antenatal Diaphragmatic Breathing Exercise in Preventing Decreased Uterine Contractions in Caesarean Section Patients Euis Tuti Haryani; Restuning Widiasih; Murtiningsih Murtiningsih; Yayat Suryati; Siti Nurbayanti
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.7112

Abstract

The number of sectio caesarea (sc) deliveries has increased, the main side effect of sc is bleeding caused by inadequate contractions. Understanding the risk of atony management is very important starting from antenatal care, various education is given to mothers including doing aerobic exercises including diphragmatic breathing as a prevention of uterine atony. The aim of this study was to see the effect of antenatal diaphgramatic breathing (dbe) exercise on preventing a decrease in uterine contractions in CS patients. This research method used a quasi-experimental posttest nonequivalent design with control group design, the sample in this study were 3rd trimester pregnant women who were at risk of being elective, totaling 56 people by using incidental sampling techniques, using the uterine contraction observation sheet instrument, data analysis used the chi square test. The results of the study showed that there was a significant effect of antenatal dbe implementation on preventing a decrease in intraoperative uterine contractions after the placenta came out. However, there was no effect of antenatal dbe on preventing uterine contractions 1-2 postoperative sc.
The Effectiveness of Exclusive Breastfeeding Education through Audio-Visual Media and Demonstration among Primiparous Mothers Pipit Fitriani; Yayat Suryati; Juju Juhaeriah; Ida Maryati; Murtiningsih Murtiningsih
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 7 No. 6 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i6.169

Abstract

Exclusive breastfeeding is the most optimal source of nutrition for infants during the first six months of life, yet its coverage in Indonesia remains suboptimal, particularly among primiparous mothers. This study aimed to analyze the effectiveness of exclusive breastfeeding education through a combination of audio-visual media and demonstration compared with leaflet-based education. This study employed a quasi-experimental design with a pretest–posttest control group, involving 48 primiparous mothers as research samples determined using the purposive sampling method based on the Slovin formula with a 10% margin of error, recruited from two midwifery practices in West Bogor District. Respondents were equally divided into intervention (audio-visual + demonstration, n=24) and control groups (leaflet, n=24). Data on knowledge, attitudes, and breastfeeding skills were collected using validated questionnaires and observation checklists, then analyzed with Wilcoxon and Mann–Whitney tests at a 5% significance level. The findings revealed that leaflet education significantly improved knowledge, particularly on basic breastfeeding concepts (p<0.05). However, audio-visual and demonstration methods were more effective in transforming attitudes and enhancing psychomotor skills, especially correct positioning and latching techniques (p<0.001). These results highlight that leaflet is useful for reinforcing cognitive understanding, while audio-visual and demonstration approaches provide more interactive and practical learning that supports behavioral change.
Determination of Factors Affecting the Incidence of Anemia in Pregnant Women Leny Blegur; Iin Inayah; Murtiningsih Murtiningsih; Tetty Solehati; Monna Maharani Hidayat
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 7 No. 6 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i6.294

Abstract

Anemia in pregnant women remains a global health problem, including in Timor Leste, where its prevalence is notably high. This study aimed to analyze the factors influencing the incidence of anemia among pregnant women at Centro Saude Komunitaria Becora, Dili. A quantitative study was conducted using an analytical cross-sectional design. The study population comprised all pregnant women diagnosed with iron deficiency anemia in July 2025, totaling 115 individuals, all of whom were included as respondents using a total sampling technique. Data were collected through a structured questionnaire tested for validity (p < 0.05) and reliability (Cronbach’s Alpha = 0.838). Variables examined included maternal age, parity, education, income, ANC visit frequency, knowledge level, compliance with iron supplementation, and anemia status based on hemoglobin levels (<11 g/dL). Data were analyzed using univariate statistics for frequency distribution, bivariate analysis with Chi-Square tests, and multivariate analysis using binary logistic regression (95% CI; p < 0.05). Results revealed six significant factors: age, parity, education, income, ANC visit frequency, and knowledge. High parity (multiparity) emerged as the dominant risk factor (OR = 43.560), while other factors were protective. In conclusion, anemia in pregnant women is more strongly influenced by sociodemographic and behavioral factors than by supplementation compliance alone. Therefore, interventions should emphasize nutrition education, strengthening ANC services, economic empowerment, and optimal birth spacing strategies.
Manajemen Self Care dalam Pencegahan dan Penatalaksanaan Terdampak Demam Berdarah (DBD) Iin Inayah; Fauziah Rudhiati; Mulyati Mulyati; Yayat Suryati; Murtiningsih Murtiningsih
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 9, No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v9i2.528

Abstract

Demam berdarah (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue di mana penularannya melalui melalui gigitan nyamuk aedes aegypti yang dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Nyamuk aedes aegypti banyak ditemukan di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, hal ini dikarenakan nyamuk ini sangat mudah berkembang biak di daerah yang tergenang air. Penyakit demam berdarah memiliki tanda dan gejala seperti demam, perdarahan di bawah kulit, nyeri ulu hati bahkan dapat menyebabkan dengue syok sindrom dan kematian pada penderitanya. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang manajemen self care pencegahan dan  penatalaksanaan demam berdarah. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk Manajemen Self Care dalam Pencegahan dan Penatalaksanaan Terdampak Demam Berdarah (DBD). Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan dengan tatap muka, ceramah, tanya jawab dan diskusi online dengan platform zoom, tentang penyakit demam berdarah, pencegahan serta penatalaksanaan demam berdarah. Sebelum dan sesudah penyuluhan keluarga pasien diberikan kuesioner untuk menilai pengetahuan keluarga tentang materi yang disampaikan. Kuesioner diberikan pada 220 warga wilayah binaan puskesmas, terdapat peningkatan dari rata-rata pre test 70 menjadi 95 pada post test, meningkat 25%. Kegiatan pengabdian ini berjalan dengan baik, keluarga pasien sangat antusias dan mereka berkomitmen untuk menerapkan Langkah-langkah pencegahan dan penatalaksanaan demam berdarah sehingga kejadiaan yang saat ini dialami tidak terulang kembali.