Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Identification and Assay of Isoniazid and Pyrazinamide in Fixed-Dose Dispersible Tablets Containing Rifampicin Using High-Performance Liquid Chromatography Santikasari, Citra; Wulandari, Meyliana; Nafisa Ulfa, Shofi; Siregar, Mirawati; Sulaiman, Syed Azhar Syed
Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Riset Sains dan Kimia Terapan, Volume 11 Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Program Studi Kimia Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JRSKT.112.04

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a major global health challenge, particularly in Indonesia, which ranks among the countries withthe highest TB burden. Fixed-dose dispersible anti-tuberculosis formulations containing rifampicin, isoniazid, and pyrazinamide are widely recommended to enhance patient adherence and minimize the risk of drug resistance. Ensuring the quality and appropriate dosage of active pharmaceutical ingredients is essential for achieving therapeutic effectiveness and maintaining TB control. This study aimed to perform routine quality assessment and regulatory compliance assays on commercialanti-TB fixed-dose combination (FDC) dispersible tablets using a reversed-phase high-performance liquid chromatography (HPLC) method as specified in the International Pharmacopoeia 2025. The HPLC system was equipped with a C18 column and used a mobile phase consisting of acetate buffer (pH 5) and methanol (94:6 v/v). System suitability testing was conducted before analysis, with %RSD values below 2%, resolution greaterthan 2.0, and tailing factors ≤ 2.0, indicating acceptable precision, selectivity, and chromatographic performance. The retention times of isoniazid and pyrazinamide were consistent with those of the reference standards, confirming identity. The assay results showed that pyrazinamide (100.3%) and isoniazid (99.9%) were within the specification limits set by the International Pharmacopoeia. These findings demonstrate that the official monograph method is suitable for regulatory-grade quality control testing of dispersible anti-tuberculosis fixed-dose combination tablets, and that the tested product met pharmacopeial quality requirements.
Deteksi Dini Diabetes Melitus dan Edukasi Kesehatan bagi Guru Kimia Madrasah Aliyah, Jakarta Wulandari, Meyliana; Kartika, Irma Ratna; Ramadani, Rosi Fitri
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.21581

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terus meningkat dan membutuhkan upaya deteksi dini serta edukasi yang komprehensif, terutama bagi kelompok berisiko seperti guru. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran guru Kimia MA MGMP Provinsi DKI Jakarta melalui deteksi dini DM, serta edukasi penerapan pola makan sehat. Metode: Pemeriksaan kadar glukosa darah, pretest dan postest pengetahuan DM, serta penyampaian materi interaktif oleh dosen. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa 25–40% peserta pada tiap kelompok usia memiliki kadar glukosa darah puasa >126 mg/dL yang mengindikasikan tingginya risiko DM (ambang batas normal puasa <100 mg/dL). Perbandingan nilai pretest dan postest berdasarkan uji-t memperlihatkan peningkatan pengetahuan peserta (p<0,001), sementara survei umpan balik menunjukkan lebih dari 96% peserta merasa kegiatan ini sangat bermanfaat, relevan, dan aplikatif. Kesimpulan: Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan guru serta mendorong praktik hidup sehat di lingkungan sekolah. Program ini juga mendukung capaian IKU-PTN dan SDG 3 terutama pada tujuan kesehatan dan kesejahteraan.
Penguatan Kompetensi Guru Madrasah Aliyah Wilayah MGMP Kimia Jakarta melalui Implementasi E-Modul Kimia Berbasis STEM dan Etnosains Nurjayadi, Muktiningsih; Wulandari, Meyliana; Hati, Futi Kusuma; Fitri, Ika Keumala; Fatimah, Siti; Nur’aini, Ruhul Aflah; Purnama, Yaktiva Dwi; Erliasna, Emia
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.22706

Abstract

Background: Madrasah Aliyah (MA) menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu pembelajaran dan sarana praktikum yang berdampak pada optimalisasi pembelajaran kimia. Pemanfaatan e-modul berbasis STEM dan etnosains menjadi alternatif inovatif, namun implementasinya masih memerlukan penguatan kompetensi guru. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru kimia MA yang tergabung dalam MGMP Kimia Jakarta melalui pelatihan dan pendampingan implementasi e-modul generasi keempat berbasis STEM-POGIL, STEM–Case Based Learning, dan etnosains pada materi laju reaksi, koloid, dan larutan penyangga. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui pendekatan blended learning berupa pelatihan, diskusi kelompok terarah (FGD), dan pendampingan kepada guru kimia Madrasah Aliyah yang tergabung dalam MGMP Kementerian Agama DKI Jakarta. Materi meliputi penggunaan e-modul kimia generasi keempat berbasis STEM-POGIL pada materi laju reaksi, STEM–Case Based Learning pada koloid, serta pendekatan etnosains pada larutan penyangga. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, serta kuesioner tertutup dan terbuka. Hasil:  Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, ditandai dengan dominasi skor post-test sebesar 100% pada sebagian besar indikator dibandingkan pre-test yang masih berada pada rentang 60–70% pada beberapa butir, serta tidak adanya peserta dengan skor di bawah 60 pada akhir kegiatan. Tingkat kepuasan peserta juga berada pada kategori sangat baik (88,3–98,3%), terutama pada aspek penguasaan materi narasumber (98,3%) dan pemahaman materi (97,2%). Kesimpulan: Meskipun demikian, implementasi di sekolah masih menghadapi kendala infrastruktur dan kebijakan internal, sehingga diperlukan pendampingan berkelanjutan untuk memastikan penerapan e-modul berbasis STEM dan etnosains secara lebih merata dan berkelanjutan.
The Total Phenolic, Total Flavonoid, and Brown Pigment in Honey Before and After Heating Achmad Tjachja Nugraha; La Ode Sumarlin; Anna Muawanah; Nurul Amilia; Meyliana Wulandari
Elkawnie Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v8i1.12757

Abstract

Abstract: Honey has unique components, a characteristic that makes it a valuable food for consumers. It is known that UV radiation and heating impact the quality of honey's bioactive compounds, including total phenolic, total flavonoid, and brown pigment contents. The absorbance of brown pigment at a wavelength of 420 nm, total phenolic at a wavelength of 733 nm, and total flavonoid at a wavelength of 430 nm was measured using a UV-Vis spectrophotometer. The method used in the total phenolic test was the Folin-Ciocalteu method with gallic acid standard (mgGAE/g sample). In contrast, for flavonoids, the method used was the colorimetric method with quercetin standard (mg QE/g sample). The qualitative test results showed that all honey samples contained phenolic and flavonoid compounds. Total phenolic and flavonoid levels showed a decrease in several samples, including TR SLT (Trigona Southeast Sulawesi), TRG BGR (Trigona Bogor), and TR SLS (Trigona Genotrigona Indica South Sulawesi) in the range of 11.8–57.6%. However, most of the total phenolic and flavonoid levels increased after the heating process, i.e., in the samples of AP LMB (apis North Lombok) (25.3% and 88.8%), AP MG (apis mango) (73.1% and 114%), AP MAC (Aceh honey, Buloh Seuma) (8.8% and 199%), TR BIR (Trigona tetroginola biroi South Sulawesi) (58.8% and 146%), and TR LMB (Trigona North Lombok) (44.3% and 84.9%). In contrast, for the formation of brown pigment, there was an increase in all honey samples between 32 and 1.428%. The presence of brown pigment at the end of the heating process of honey samples is thought to have the same role as phenolic compounds and flavonoids, which change the heating process, especially in antioxidant activities and other bioactivities. However, further analysis is needed to prove the conjecture.Abstrak: Madu memiliki komponen yang unik, yang membuatnya menjadi makanan yang berharga bagi konsumen.  Telah diketahui bahwa radiasi UV dan pemanasan berdampak pada kualitas senyawa bioaktif madu, di antaranya kandungan total fenolik, total flavonoid, dan pigmen coklat. Pengukuran absorbansi pigmen coklat pada panjang gelombang 420 nm, pengukuran total fenolik pada panjang gelombang 733 nm dan total flavonoid pada panjang gelombang 430 nm dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Metode yang digunakan untuk uji total fenolik adalah metode Folin-Ciocalteu dengan standar asam Galat (mgGAE/g sampel), uji flavonoid menggunakan metode Kolorimetri dengan standar kuersetin (mg QE/g sampel).  Hasil uji kualitatif menunjukan bahwa semua sampel madu terdapat senyawa fenolik dan flavonoid. Kadar total fenolik dan flavonoid menunjukkan penurunan pada beberapa sampel, di antaranya TR SLT (Trigona Sulawesi Tenggara, TRG BGR (Trigona Bogor), TR SLS (Trigona Genotrigona Insica Sulawesi Selatan) pada kisaran 11,8 – 57,6%.  Namun, sebagian besar kadar total fenolik dan kadar flavonoid mengalami kenaikan setelah proses pemanasan, yaitu pada sampel AP LMB (apis Lombok Utara) (25,3% dan 88,8%), AP MG (apis mangga) (73,1% dan 114%), AP MAC (madu Aceh, Buloh Seuma) (8,8% dan 199%), TR BIR (Trigona Tetroginola biroi sulawesi selatan) (58,8% dan 146%), TR LMB (Trigona North Lombok) (44,3% dan 84,9), sedangkan untuk pembentukan pigmen coklat, terjadi peningkatan pada semua sampel madu di antara 32 – 1.428%. Keberadaan pigmen coklat pada akhir proses pemanasan, diduga memiliki peran yang sama dengan senyawa fenolik dan flavonoid yang mengalami perubahan selama proses pemanasan, terutama pada aktivitas antioksidan dan bioaktivitas lainnya.  Namun diperlukan analisis lebih lanjut untuk membuktikan dugaan tersebut.