Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

EDUKASI BULLYING MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA SISWA SD KELAS VI MIS HAFIZH CENDEKIA BANDA ACEH Rafni Fajriati; Herawati Herawati; Finaul Asyura; Putra Ilhamsyah
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v9i1.2848

Abstract

Bullying adalah perilaku yang merasa memiliki kuasa atas orang lain dan berdampak buruk pada objeknya. Berdasarkan Komisi Perlindungan Pelajar Indonesia ada delapan laporan kekerasan pada bulan januari sampai april, dengan dua kasus pada sekolah dasar, dua kasus pada sekolah menengah pertama, dan 4 kasus pada sekolah menengah keatas. Jika anak menyadari bagaimana dampak bullying ini kepada orang lain sedari dini maka akan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi dengan menyadari pentingnya rasa simpati terhadap orang lain. Sebelum perilaku bullying ini menjadi kebiasaan buruk pelaku, hendaknya ada informasi atau edukasi mengenai dampak dari perilaku bullying. Informasi ini akan membantu anak yang masih belajar dalam bersosialisasi agar menghindari perilaku-perilaku bullying. Informasi ini bisa disampaikan menggunakan media audio visual agar anak lebih menarik sehingga informasi tersebut dapat dipahami dengan mudah. Media audio visual yaitu sejenis media yang mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan terhadap siswa kelas VI MIS Hafizh Cendekia. Pada setiap siklus yang dilakukan, siswa menunjukkan perubahan tingkah laku sesuai dengan video yang ditampilkan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa edukasi pembullyan menggunakan media audio visual telah terstruktur dengan baik sejak tahap perencanaan, terlaksana secara optimal dalam pelaksanaan tindakan dan terevaluasi dengan cermat pada setiap siklus.Kata Kunci: Bullying, Media Audio Visual Bullying Education Using Visual Audio Media for Visual Grade SD Students Mis Hafizh Cendekia Banda AcehBullying is behavior that feels you have power over other people and has a negative impact on the object. According to the Indonesian Student Protection Commission, there were eight reports of violence from January to April, with two cases in elementary schools, two cases in junior high schools, and 4 cases in high schools. If children realize how bullying impacts others from an early age, they will develop a high social sense by realizing the importance of sympathy for others. Before this bullying behavior becomes a bad habit for the perpetrator, it is superior to have information or education regarding the impact of bullying behavior. This information will help children who are still learning in socialization to avoid bullying behaviors. This information can be conveyed using audio-visual media so that children are more interesting so that the information can be understood easily. Audio-visual media is a type of media that contains sound elements and also contains image elements that can be seen. This research is a class action research (Classroom Action Research) conducted on class VI students of MIS Hafizh Cendekia. In each cycle that is carried out, students show changes in behavior according to the video shown. Therefore, it can be concluded that bullying education using audio-visual media has been well structured from the planning stage, carried out optimally in the implementation of actions and carefully evaluated in each cycle.Keywords: Bullying, Media Audio Visual
PERAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI INOVATOR DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH Herawati Herawati; Rafni Fajriati
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v9i1.3086

Abstract

Upaya menyelaraskan peran kepala sekolah yang sesuai dengan kemajuan IPTEK dan perkembangan zaman, tidak terlepas dengan perannya sebagai seorang innovator pendidikan di sekolah. Kepala sekolah sebagai innovator merupakan pribadi yang dinamis dan kreatif, yang tidak terjebak pada suatu rutinitas. Peran ini sesuai dengan tuntutan pemerintah dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional yang memberikan batasan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: kinerja kepala sekolah yang mampu menciptakan inovasi pendidikan di sekolah dan inovasi-inovasi yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan kepala sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu menela’ah, mengumpulkan, menyusun, mengklarifikasikan, dan menggambarkan masalah yang ada pada saat sekarang melalui buku-buku terkait, jurnal/artikel, majalah-majalah serta referensi terkait lainnya tentang Manajemen Kepala Sekolah sebagai Inovator di sekolah yang up to date dan terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Peran kepala sekolah dalam manajemen pendidikan di sekolah, di antaranya: kepala sekolah sebagai educator (pendidik), manajer, supervisor, innovator, motivator, dan leader. Peran kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dalam kinerja kepala sekolah yang teraplikasi secara konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional dan objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, adaptabel, dan fleksibel. Visi dan sekolah inovatif dapat ditempuh oleh kepala sekolah melalui 4 strategi, yaitu: a) Merenungkan gagasan, b) Mengatur tata nilai, c) Shared Problem, dan d) Merubah kondisi. Dan bentuk-bentuk inovasi yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan kepala sekolah dapat berupa: inovasi fisik dan non fisik. Inovasi fisik, meliputi; kurikulum, sarana dan prasarana, pengelolaan keuangan, dan strategi pembelajaran. Sedangkan inovasi non fisik, meliputi: pengelolaan siswa, tenaga guru, dan hubungan masyarakat.Kata Kunci: Peran Kepala Sekolah, Inovator, dan Mutu PendidikanEfforts to align the role of the school principal in accordance with the progress of science and technology and the times are inseparable from his role as an educational innovator in schools. The principal as an innovator is a dynamic and creative person who is not stuck in a routine. This role is in accordance with the demands of the government in Law no. 20 of 2003 concerning the National Education system which provides educational boundaries as a conscious and planned effort to create a learning atmosphere and learning process so that students actively develop their potential to have religious spiritual strength, self-control, personality, intelligence, noble character, and skills that are needed by himself, society, nation and state. The purpose of this study was to determine: the performance of school principals who are able to create educational innovations in schools and innovations that can be applied in school principal leadership to improve the quality of education in schools. This research method is a qualitative descriptive method, namely examining, collecting, compiling, clarifying, and describing the problems that exist at the moment through related books, journals/articles, magazines and other related references about Principal Management as an Innovator. in schools that are up to date and newest. The results of the study show that: The role of the principal in education management in schools includes: the principal as an educator, manager, supervisor, innovator, motivator, and leader. The role of the principal as an innovator will be reflected in the performance of the principal which is applied constructively, creatively, delegatively, integratively, rationally and objectively, pragmatically, exemplary, disciplined, adaptable and flexible. Innovative visions and schools can be pursued by school principals through 4 strategies, namely: a) pondering ideas, b) setting values, c) shared problems, and d) changing conditions. And forms of innovation that can be applied in school principal leadership can be in the form of: physical and non-physical innovations. Physical innovation, including; curriculum, facilities and infrastructure, financial management, and learning strategies. While non-physical innovations include: student management, teacher staff, and community relations.Keywords: The Role of Principals, Innovators, and Quality of Education
PENYULUHAN TENTANG CEGAH STUNTING MENUJU DESA SEHAT Finaul Asyura; Safrizan Safrizan; Rafni Fajriati; Periskila Dina Kali Kulla
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 5, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di desa Surien Kecamatan Meuraxa Kabupaten Banda Aceh masih ada ditemukan stunting. Stunting menjadi penting untuk ditangani karena menyangkut kualitas sumber daya manusia. Stunting selain bereziko pada hambatan pertumbuhan fisik dan kerentanan terhadap penyakit, juga menyebabkan hambatan perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan. Faktor penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi, penyakit infeksi, kurangnya pengetahuan ibu tentang stunting, pola asuh yang salah, sanitasi dan hygiene yang buruk dan rendahnya pelayanan kesehatan. Selain itu masyarakat belum menyadari anak stunting sebagai suatu masalah, karena anak stunting ditengah-tengah masyarakat terlihat sebagai anak dengan aktivitas yang normal. Dengan melihat permasalahan mitra ini, maka program Kemitraan Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat agar dapat mencegah dan mengatasi masalah stunting. Hasil yang dicapai pada kegiatan Program Kemitraan Masyarakat ini, yaitu, peserta memiliki pengetahuan tentang: (a) pengertian stunting dan ciri-cirinya; (b) penyebab terjadinya stunting; (c) dampak stunting; (d) cara mencegah dan mengatasi stunting; dan (e) cara meningkatkan kualitas pelayanan gizi pada anak. Kata Kunci: Pengetahuan, Penyuluhan. Stunting Abstract In Surien Village, Meuraxa District, Banda Aceh Regency, stunting is still found. Stunting is important to handle because it concerns the quality of human resources. Stunting, apart from having the risk of hampering physical growth and susceptibility to disease, also causes barriers to cognitive development which will affect the level of intelligence and productivity of children in the future. The causative factors are lack of nutritional intake, infectious diseases, lack of maternal knowledge about stunting, wrong parenting patterns, poor sanitation and hygiene and poor health services. Apart from that, the community is not yet aware of stunted children as a problem, because stunted children in society are seen as children with normal activities. By looking at the problems of these partners, the Community Partnership program aims to provide knowledge and information to the community so they can prevent and overcome the problem of stunting. The results achieved in this Community Partnership Program activity are that participants have knowledge about: (a) the meaning of stunting and its characteristics; (b) causes of stunting; (c) impact of stunting; (d) how to prevent and overcome stunting; and (e) how to improve the quality of nutrition services for children Keywords: Knowledge, Extension. Stunting.
PEMBEKALAN SOFTSKILL DALAM MEWUJUDKAN PARA ENTREPRENEUR MUDA DI SMK NEGERI 3 KOTA BANDA ACEH Herawati Herawati; Rafni Fajriati; Pardi Pardi; Periskila Dina Kali Kulla; Nur Maida
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 5, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Undang-undang Nomor: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa Perguruan Tinggi wajib melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Program pengabdian kepada masyarakat juga dilaksanakan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia secara berkala dalam satu semester atau pun pertahun akademik. Sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dapat dilakukan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia adalah: “Pembekalan Soft Skill dalam Mewujudkan Para Entrepreneur Muda di SMK Negeri 3 Kota Banda Aceh”. Pentingnya softskill bagi siswa di Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki misi mencetak lulusan yang memiliki jiwa wirausaha; diperkuat dengan terjadinya perubahan pola dan trend kewirausahaan seiring dengan kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi sehingga para siswa tidak hanya dibekali dengan ilmu kewirausahaan dalam bentuk hardskills saja, namun lebih dari itu juga harus menguasai kemampuan lunak (softskills). Kemampuan softskill menjadi demikian penting dalam berwirausaha, dan dapat ditingkatkan dengan beberapa cara yaitu; bertanggung jawab, komitmen, berani mengambil resiko, dan berorientasi pada tindakan. Lebih lanjut kemampuan softskill juga menjadi bagian dari kunci kesuksesan dalam berwirausaha selain dari kemampuan teknis (hardskills). Strategi peningkatan softskill tersebut hendaknya dimulai dari dalam diri sendiri, karena peningkatannya sangat tergantung dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu. Oleh karena itu, pelaksanaan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membantu para siswa agar: (1) Memiliki wawasan tentang urgensi soft skill selain dari hard skill dalam mempersiapkan diri sebagai entrepreneur muda di era persaingan global di masa mendatang; (2) Senantiasa mengasah soft skill dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari; serta (3) Meningkatkan semangat dan keyakinan diri siswa bahwa setiap mereka berkesempatan menjadi usahawan yang sukses dengan turut membangkitkan semangat siswa disela-sela kegiatan pembekalan. Metode pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini mengikuti teknis pelaksanaan tindakan yang terdiri dari 4 tahapan, yang terdiri dari tahap: persiapan atau perencanaan, pelaksanaan sosialisasi, evaluasi dan refleksi. Hasil pelaksanaan pembekalan soft skill dalam kewirausahaan ini menunjukkan: adanya peningkatan antusiasme siswa dalam mengembangkan soft skill serta ada yang telah mulai merintis usaha mandiri; walau hanya usaha kecil sesuai dengan bidang bakat dan minat masing-masing yang dibimbing oleh guru dan mitra.Kata Kunci: Pembekalan, Softskill, dan Entreprenuer MudaIn Law Number: 20 of 2003 concerning the National Education System it is stated that Higher Education is obliged to carry out the Tri Dharma of Higher Education, namely: teaching, research and community service. Community service programs are also carried out by the University of Ubudiyah Indonesia periodically in one semester or even per academic year. As a form of community service that can be carried out by the University of Ubudiyah Indonesia is: "Debriefing Soft Skills in Creating Young Entrepreneurs at SMK Negeri 3 Kota Banda Aceh". The importance of soft skills for students in Vocational High Schools whose mission is to produce graduates who have an entrepreneurial spirit; strengthened by changes in entrepreneurial patterns and trends along with the times and technological sophistication so that students are not only equipped with entrepreneurial knowledge in the form of hard skills, but more than that they also have to master soft skills. Soft skills are so important in entrepreneurship, and can be improved in several ways, namely; responsible, committed, dare to take risks, and action oriented. Furthermore, soft skills are also part of the key to success in entrepreneurship apart from technical abilities (hard skills). The strategy for improving soft skills should start from within oneself, because the improvement is very dependent on the abilities and potential of each individual. Therefore, the implementation of this community service aims to help students: (1) Have insight into the urgency of soft skills apart from hard skills in preparing themselves as young entrepreneurs in the era of global competition in the future; (2) Always hone soft skills and practice them in everyday life; and (3) Increasing the enthusiasm and self-confidence of students that each of them has the opportunity to become a successful entrepreneur by participating in arousing students' enthusiasm on the sidelines of debriefing activities. The method of implementing this socialization activity follows the technical implementation of the action which consists of 4 stages, which consist of the stages: preparation or planning, implementation of socialization, evaluation and reflection. The results of the implementation of soft skill training in entrepreneurship show: there is an increase in student enthusiasm in developing soft skills and some have started to start independent businesses; even if it's only a small business according to their respective areas of talent and interest guided by teachers and partners.Keywords: Debriefing, Soft Skill, and Young Entrepreneurs
IMPLEMENTASI ENGLISH DAILY CONVERSATION BAGI SELURUH MASYARAKAT INDONESIA VIA GROUP DARING SEBAGAI WADAH MENINGKATKAN MINAT DAN KEMAMPUAN BERBAHASA INGGRIS MASYARAKAT INDONESIA Safrizan Safrizan; Herawati Herawati; Periskila Dina Kali Kulla; Sri Mutia; Putra Ilhamsyah; Rafni Fajriati; Rahmat Fajri; Elda Maisy Rahmi
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 4, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar internasional yang digunakan lebih dari satu miliar orang di dunia,  bahasa Inggris menduduki peringkat ketiga dengan pengguna terbanyak setelah Cina dan Spanyol.  tidak hanya menjadi alat komunikasi secara global bahasa Inggris sangat membantu dalam banyak hal seperti memahami materi perkuliahan,  mencari sumber referensi secara global,  kesempatan besar dalam posisi karir,  memperluas kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, mudah berkeliling dunia,  memudahkan dalam memahami teknologi dan masih banyak lainnya (Setiawan, 2020). Di sisi lain Indonesia termasuk negara yang sangat minim dalam penggunaan bahasa Inggris jika dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara seperti Malaysia,  Philippine, Brunei Darussalam dan Singapura. Ketidakpahaman berbahasa Inggris  dan mahalnya biaya kursus bahasa Inggris di Indonesia akan berakibat terhadap keterbatasan masyarakat Indonesia dalam meningkatkan intelegensi personal dan global,  dalam jangka yang lama akan berimplikasi terhadap lambatnya kemajuan Indonesia di bidang pendidikan. Di era modern seperti ini akses berinteraksi secara global  merupakan hal yang lumrah seiring berkembangnya teknologi (English Linguage Training, 2011).  dengan memanfaatkan teknologi,  kami membentuk grup daring dengan nama “Daily Conversation” untuk belajar bahasa Inggris agar dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia secara gratis.Kata Kunci: Bahasa Inggris, Daily Conversation, IndonesiaEnglish is the international language of instruction used by more than one billion people in the world, English is ranked third with the most users after Chinese and Spanish. Not only being a global communication tool, but English is also very helpful in many ways such as understanding lecture material, finding reference sources globally, great opportunities in career positions, expanding opportunities to continue studies to a higher level, easy to travel the world, makes it easier to understand the technology and many others. On the other hand, Indonesia is a country that has minimal use of English when compared to several neighboring countries in Southeast Asia such as Malaysia, the Philippines, Brunei Darussalam, and Singapore. The inability to speak English and the high cost of English courses in Indonesia will result in limitations for the Indonesian people in increasing personal and global intelligence, and in the long run, it will have implications for Indonesia's slow progress in the field of education. In this modern era, access to interact globally is commonplace along with the development of technology. by utilizing technology, we formed an online group called “Daily Conversation” to learn English so that it can be accessed by all Indonesian people free of charge.Keywords: English, Daily Conversation, Indonesia 
KEWIRAUSAHAAN DALAM KONSEP ISLAM DI SMKN 3 BANDA ACEH Rafni Fajriati; Herawati Herawati; Finaul Asyura; Putra Ilhamsyah
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 5, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa Perguruan Tinggi wajib melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Program pengabdian kepada masyarakat juga dilaksanakan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia secara berkala dalam satu semester atau pun pertahun akademik. Sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dapat dilakukan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia adalah: “Kewirausahaan dalam Konsep Islam di SMKN 3 Banda Aceh”. Pentingnya memberikan edukasi mengenai kewiraushaan dalam mendukung misi SMKN 3 yaitu “Mempersiapkan Lulusan yang Memiliki Keterampilan dan Jiwa Wirausaha” bimbingan dan/atau tuntunan kepada siswa agar dapat mengimplemetasikan kemampuan wirausahaan yang sudah dimiliki oleh siswa. Selain itu, kiranya siswa dapat memiliki keterampilan dan kesadaran dalam mengembangkan kemampuannya sesuai dengan konsep islam dan memahamai keselamatan kerja selama berwirausaha. Oleh karena itu, pelaksanaan pengabdian masyarakat guna membantu para siswa agar memiliki jiwa eunterpreneur dan mempersiapkan diri sebagai SDM bangsa yang berkompeten dan unggul sesuai dengan nilai-nilai Islam sesuai firman Allah Swt dan Rasulullah Saw. Metode pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini mengikuti teknis pelaksanaan tindakan yang terdiri dari 4 tahapan, yang terdiri dari tahap: persiapan atau perencanaan, pelaksanaan sosialisasi, evaluasi dan refleksi. hasil pelaksanaan dan evaluasi serta berbagai upaya refleksi yang telah dilakukan dapat disimpulkan (1) Adanya sikap wirausaha yang dilakukan di lingkup sekolah (2) Para siswa antusias mengikuti kegiatan seminar kewirausahaan dalam konsep islam (3) Peningkatan wawasan dan pola pikir siswa dalam mengembangkan keterampilan akan ditindak lanjuti dengan kegiatan membuka Toko Roti dan sebagainya.Kata kunci: Kewirausahaan, Konsep IslamIn Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System it is stated that Higher Education is obliged to carry out the Tri Dharma of Higher Education, namely: teaching, research and community service. Community service programs are also carried out by the University of Ubudiyah Indonesia periodically in one semester or even per academic year. As a form of community service that can be carried out by the University of Ubudiyah Indonesia is: "Entrepreneurship in Islamic Concepts at SMKN 3 Banda Aceh". The importance of providing education about entrepreneurship in supporting the mission of SMKN 3, namely "Preparing Graduates with Entrepreneurial Skills and Spirit" guidance and/or guidance to students so they can implement the entrepreneurial abilities that students already have. In addition, presumably students can have skills and awareness in developing their abilities in accordance with Islamic concepts and understanding work safety during entrepreneurship. Therefore, the implementation of community service is to help students to have an entrepreneurial spirit and prepare themselves as competent and superior national human resources in accordance with Islamic values according to the words of Allah SWT and Rasulullah SAW. The method of implementing this socialization activity follows the technical implementation of the action which consists of 4 stages, which consist of the stages: preparation or planning, implementation of socialization, evaluation and reflection. the results of the implementation and evaluation as well as various reflection efforts that have been carried out can be concluded (1) There is an entrepreneurial attitude carried out in the school environment (2) Students enthusiastically participate in entrepreneurship seminars in the Islamic concept (3) Increased insight and mindset of students in developing skills followed up with activities to open a bakery and so on.Keywords: Eunterpreneur, Islamic Concep
PENGUATAN LITERASI LINGKUNGAN MELALUI PROYEK MATA KULIAH WAJIB KURIKULUM BERBASIS AKSI BERSIH PANTAI SYIAH KUALA Rafni Fajriati; Soraya Lestari; Annisa Qadrunnada; Desita Ria Yusian TB; Nurul Adilla; Jahara Putri
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 7, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi lingkungan mahasiswa yang tercermin dari kurangnya kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan pesisir. Pantai sebagai ruang publik dan ekosistem penting masih menghadapi permasalahan sampah akibat aktivitas manusia. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat literasi lingkungan mahasiswa melalui Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) berbasis aksi bersih pantai di kawasan Syiah Kuala. Metode pelaksanaan pengabdian menggunakan pendekatan partisipatif dan project-based learning yang melibatkan mahasiswa secara aktif dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi kegiatan. Aksi bersih pantai dilaksanakan melalui kegiatan edukasi awal, pengumpulan dan pemilahan sampah, serta diskusi reflektif terkait dampak lingkungan dan peran individu dalam menjaga ekosistem pesisir. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, meningkatnya kesadaran akan dampak sampah terhadap ekosistem pantai, serta tumbuhnya sikap tanggung jawab dan kepedulian lingkungan. Kegiatan ini membuktikan bahwa integrasi proyek MKWK berbasis aksi nyata efektif dalam menumbuhkan literasi lingkungan mahasiswa secara kontekstual dan berkelanjutan.
PELATIHAN DETEKSI DINI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA GURU SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI 13 BANDA ACEH Mutiawati Mutiawati; Desita Ria Yusian TB; Periskila Dina Kali Kulla; Soraya Lestari; Rafni Fajriati; Saudah Saudah
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 5, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelatihan deteksi dini anak berkebutuhan khusus menjadi esensial dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru sekolah dasar (SD) dalam mengidentifikasi kebutuhan individu siswa. Artikel ini mengulas sebuah program pelatihan yang diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mendeteksi dini anak-anak berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah dasar. Pendekatan pelatihan yang digunakan adalah interaktif, berpusat pada kasus, dan didasarkan pada pengetahuan terkini dalam bidang pendidikan inklusif. Fokus utama pelatihan ini adalah pada deteksi dini anak dengan kondisi autis, ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), slow learner, dan gifted. Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan kelompok tunggal one-group pretest-posttest design. Subyek penelitian adalah 13 guru dari SD Negeri 13 Banda Aceh dan 4 orang calon guru SD. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta terkait deteksi dini ABK setelah mengikuti pelatihan. Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa pelatihan deteksi dini ABK dapat meningkatkan pengetahuan guru sekolah inklusi. Program pelatihan seperti ini dapat menjadi langkah penting dalam mempersiapkan guru menghadapi keberagaman siswa dalam kelas inklusi. Kata Kunci: Pelatihan, Deteksi Dini, Anak Berkebutuhan Khusus, Sekolah Inklusi, dan Guru Sekolah Dasar.Early detection training for children with special needs is essential to enhance the understanding and skills of primary school (SD) teachers in identifying individual student needs. This article discusses a training program organized to improve teachers' understanding and skills in the early detection of children with special needs in the primary school environment. The training approach used is interactive, case-centered, and based on current knowledge in the field of inclusive education. The main focus of this training is on the early detection of children with conditions such as autism, ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), slow learners, and gifted students. The research uses a pre-experimental design with a single group one-group pretest-posttest design. The subjects of the study are 13 teachers from SD Negeri 13 Banda Aceh and 4 prospective primary school teachers. The results show a significant improvement in participants' knowledge related to the early detection of children with special needs after attending the training. This research confirms that early detection training for children with special needs can enhance the knowledge of inclusive school teachers. Training programs like this can be an important step in preparing teachers to address the diversity of students in inclusive classrooms.Keywords: Training, Early Detection, Children with Special Needs, Inclusive Schools, and Elementary School Teachers.
PENTINGNYA MEMAHAMI MINAT DAN BAKAT DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA Kurnia Rahmayanti; Herawati Herawati; Soraya Lestari; Cut Nursadrina; Sastria Minanggi; Rafni Fajriati
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 6, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakat dan minat merupakan faktor kunci yang memengaruhi motivasi belajar siswa, terutama di kalangan remaja saat ini yang menghadapi tantangan unik dalam pendidikan. Banyak siswa SMA mengalami penurunan motivasi belajar akibat tekanan akademik, banyaknya informasi dari media sosial, dan kurangnya dukungan dalam menemukan minat mereka. Di sisi lain, pemahaman tentang minat dan bakat sering kali kurang terintegrasi dalam sistem pendidikan, sehingga siswa tidak sepenuhnya menyadari potensi diri mereka. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk membantu siswa mengetahui dan memahami minata dan bakat serta implikasinya terhadap motivasi belajar. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA 6 Banda Aceh. Hasil pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sangat memuaskan, ini terlihat dengan antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan tes minat bakat dan konsultasi hasil tes minat bakat serta meningkatnya pemahaman siswa terhadap minat dan bakat yang dimiliki, hal ini berpengaruh terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.Kata Kunci: Minat dan Bakat, Motivasi BelajarTalents and interests are crucial factors influencing students' learning motivation, particularly among today's adolescents who face unique educational challenges. Many high school students experience decreased motivation due to academic pressure, information overload from social media, and inadequate support in identifying their interests. Moreover, the understanding of talents and interests is often insufficiently integrated into the education system, preventing students from fully recognizing their potential. This community service aims to assist students in discovering and understanding their interests and talents, as well as their impact on learning motivation. Conducted at SMA 6 Banda Aceh, the initiative yielded highly satisfactory results, as demonstrated by the students' enthusiasm during the talent and interest assessments and consultations. Increased awareness of their own interests and talents positively influenced their learning motivation.Keywords: Interests and Talents, Learning Motivation.
PENDAMPINGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM MERDEKA PADA MAHASISWA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS UBUDIYAH INDONESIA Rafni Fajriati; Mutiawati Mutiawati; Said Ashlan; Herawati Herawati; Murnia Suri; Soraya Lestari; Khairul Ihsan; Rafika Hanum
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 6, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan Kurikulum Merdeka memberikan otonomi kepada sekolah untuk merancang kurikulum sesuai dengan kebutuhan lokal dan potensi siswa, termasuk integrasi nilai-nilai karakter sebagai bagian penting dari pembelajaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pendidikan karakter dan praktiknya dalam proses pengajaran. Melalui seminar dan workshop, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis tetapi juga pengalaman praktis dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter dalam konteks Kurikulum Merdeka. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan di antara mahasiswa terkait dengan konsep dan penerapan pendidikan karakter. Partisipasi aktif mereka dalam kegiatan seminar menunjukkan komitmen untuk mengembangkan kompetensi yang diperlukan dalam membentuk karakter siswa yang tangguh dan berintegritas. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang kuat untuk berkontribusi positif dalam masyarakat.Kata kunci: Pendidikan Karakter, Kurikulum MerdekaThe Kurikulum Merdeka approach provides schools with the autonomy to design curricula according to local needs and students' potential, including the integration of character values as a crucial part of learning. Community service activities undertaken by students aim to enhance their understanding of character education and its practical application in teaching processes. Through seminars and workshops, students gain not only theoretical knowledge but also practical experience in implementing character values within the context of Kurikulum Merdeka. Evaluation results indicate a significant improvement in students' understanding of the concepts and application of character education. Their active participation in seminar activities demonstrates a commitment to developing the competencies necessary to shape resilient and integrity-driven student characters. This initiative is crucial to ensuring that education in Indonesia not only produces academically proficient individuals but also instills strong moral values to contribute positively to society.Keywords: Character Education, Kurikulum MerdekaÂ