Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Persepsi Mahasiswa PAI tentang Konsep Mahabbah terhadap Hidup Selibat dalam Perspektif Rabi’ah Al-Adawiyah Annuriah Syahrani; Darwis Darwis; Atika Muliyandari
Borneo Journal of Islamic Education Vol. 4 No. 1 (2024): Borneo Journal of Islamic Education 4 (1), Mei 2024
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/bjie.v4i1.8554

Abstract

Abstract The Mahabbah notion originated with the first female Sufi figure, Rabi'ah Al-Adawiyah. Sufism's teachings were one of Rabi'ah's reasons for not marrying. The figure of Rabi'ah, as well as the concept of mahabbah and Rabi'ah's life story, have been known in various parts of the world in Islamic history, including among Islamic Religious Education students at the Sultan Aji Muhammad Idris State Islamic University of Samarinda, where the researcher initially obtained answers by observing the students' daily lives. The pupil recognized Rabi'ah's figure and even idolized him through his love poetry to Allah. So the researcher's goal in this study is to investigate the perspectives of Islamic Religious Education Students at Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda State Islamic University regarding the concept of Mahabbah Rabi'ah Al-Adawiyah. This study followed a qualitative descriptive research design. According to the findings of this study, students of Islamic Religious Education at Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda State Islamic University have a harmonious perception that the concept of mahabbah is the perfect reason for someone to live celibate, owing to their understanding of mahabbah, specifically how pure a servant's love is for his Rabb. Celibacy, according to them, is defined as someone who chooses to live without marriage in order to improve their religion. However, a number of students stressed the importance of remembering the level of maqamat. Rabi'ah Al-Adawiyah's maqam is a guardian, therefore he is not reckless with his decisions, so lay people must exercise caution if they desire to be celibate while adhering to the notion of mahabbah, because his maqam is not present, allowing the concept of mahabbah to be broken. As a result, when studying Sufism, students must have a more in-depth and meaningful understanding. Keywords: Celibacy, Mahabbah, Rabi'ah Al-Adawiyah, Abstrak Konsep Mahabbah merupakan ajaran tasawuf dari tokoh sufi perempuan pertama, Rabi’ah Al-Adawiyah. Yang mana ajaran tasawufnya tersebut menjadi salah satu alasan Rabi’ah untuk hidup tanpa pernikahan. Sosok Rabi’ah beserta konsep mahabbah, dan kisah hidup Rabi’ah telah dikenal diberbagai belahan dunia dalam sejarah Islam, termasuk dikalangan mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, dimana pada observasi awal peneliti memperoleh jawaban dari mengamati keseharian mahasiswa yang menggambarkan bahwa mahasiswa tersebut mengenali akan sosok Rabi’ah bahkan mengidolakannya melalui syair-syair cintanya kepada Allah. Maka tujuan dari penelitian ini adalah, peneliti ingin mengkaji terkait Persepsi Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Tentang Konsep Mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah. Penelitian ini disusun dengan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini ialah mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda memberikan persepsi yang selaras bahwa konsep mahabbah adalah alasan yang sempurna jika seseorang ingin hidup selibat, karena pengetahuan mereka tentang konsep mahabbah yaitu bagaimana kemurnian cinta seorang hamba kepada Rabb-Nya. Adapun selibat dalam pandangan mereka yaitu seseorang yang memutuskan hidup tanpa pernikahan dengan tujuan untuk menyempurnakan agamanya. Namun, sejumlah mahasiswa juga menyampaikan pandangannya bahwa perlu diingat terkait tingkatan maqamat. Rabi’ah Al-Adawiyah maqamnya adalah wali sehingga tidak sembarangan dengan keputusannya, maka perlu berhati-hati bagi para awam jika ingin berselibat meskipun dengan konsep mahabbah, karena maqamnya tidak sampai sehingga konsep mahabbahnya bisa terpatahkan. Maka dari itu mahasiswa harus diberikan pemahaman yang lebih mendalam dan implikatif dalam mempelajari ilmu tasawuf. Kata Kunci: Mahabbah, Rabi’ah Al-Adawiyah, Selibat
Optimalisasi Media Ajar dalam Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SDN 035 Tenggarong Aldriawan Widianata; Rumainur; Atika Muliyandari
Borneo Journal of Primary Education Vol. 6 No. 2 (2026): Borneo Journal of Primary Education, 6 (2), Juni 2026
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/q16eeg83

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tersedianya sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai di SDN 035 Tenggarong yang mendukung optimalisasi proses belajar mengajar. Ketersediaan media ajar seperti LCD proyektor, Smart TV, Chromebook, dan perangkat pendukung lainnya menunjukkan komitmen sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi media ajar dilakukan melalui evaluasi rutin dan pelatihan terkait penggunaan media pembelajaran yang tersedia. Guru PAI mengoptimalkan media ajar dengan membuat presentasi PowerPoint yang dilengkapi animasi menarik serta menampilkan video dan gambar yang berkaitan dengan materi PAI, seperti hukum bacaan ghunnah, sehingga peserta didik dapat mengamati materi secara langsung dan memahaminya dengan lebih baik. Penyediaan dan pemanfaatan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi mendukung penyampaian materi yang lebih efektif dan optimal. Keberhasilan optimalisasi media ajar didukung oleh ketersediaan sarana, akses internet, dan dukungan dari pihak sekolah. Namun, masih terdapat beberapa kendala berupa gangguan jaringan, keterbatasan perangkat, dan masalah teknis. Temuan ini menegaskan pentingnya pemanfaatan media ajar berbasis teknologi secara maksimal untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran PAI.