Claim Missing Document
Check
Articles

AMBON CARDINAL FISH : ANALOGI IKAN CAPUNGAN AMBON DALAM BUSANA BERGAYA GLAMOUR ELEGANT Sintya Dewi, Ni Komang Atik; Radiawan, I Made; Mayun KT, A.A Ngurah Anom
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.740

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) mewujudkan ide Ikan Capungan Ambon ke dalam busana Ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture, (2) strategi pemasaran branding dan penjualan koleksi busana ambon cardinal fish, (3) sistem produksi dan bisnis koleksi busana Ambon cardinal fish. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan busana ini diwujudkan dengan 10 tahapan frangipani, the secret steps of art fashion yang meliputi finding the brief idea based on balinee culture, research and sourching, analising art fashion element, narating into design, giving a soul- TAKSU, interpreting the singularity of art fashion, promoting the final collection, affirmation branding, navigating art fashion production, introducing art fashion bussiness. Proses penciptaan yang digunakan yaitu design development, prototype, sample and construction, alat dan bahan. Simpulan dari tulisan ini mengacu pada busana yang diwujudkan menjadi 3 baju yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture. Strategi pemasaran yang digunakan adalah promosi, branding, dan penjualan produksi. Sistem produksi meliputi menyiapkan bahan, membuat pola, dan menciptakan busana.
YEN DIELEM ATIMU OJO MEMPER: ANALOGI KUE LEMPER PADA BUSANA EDGY Sutrisnayanti, Ni Nyoman; Mudra, I Wayan; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.744

Abstract

Kue lemper dalam bahasa jawa merupakan singkatan dari kalimat “Yen dielem atimu ojo memper” yang memiliki arti “jangan sombong saat dipuji” mengajarkan kita tentang pentingnya sikap rendah hati serta banyak nilai filosofis lainnya. Kue lemper memiliki beberapa komponen yaitu pembungkus dari daun pisang, ketan dan juga suwiran atau potongan daging, beberapa komponen tersebut dituangkan kedalam rancangan busana yang dibuat semenarik mungkin guna menarik perhatian masyarakat sehingga menumbuhkan rasa kepedulian terhadap kebudayaan Indonesia khususnya kue tradisional lemper. Tujuan penciptaan ini untuk mewujudkan ide atau konsep dari kue lemper menjadi suatu busana hingga proses penjualan, promosi, branding serta proses produksi dan bisnis dari koleksi busana tersebut. Proses penciptaan karya busana menggunakan metode penciptaan “Frangipangi dari disertasi karya Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana yang memuat delapan (8) tahapan penciptaan yang terdiri dari ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain (design development), (sample, prototype, and contruction), koleksi akhir (the final collection), promosi (promotion, sales, and branding), produksi (production), dan bisnis (the business) dengan menggunakan pendekatan analogi serta penerapan unsur-unsur dan prinsip-prinsip desain. Busana yang dihasilkan berupa busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi haute couture dengan gaya feminim dan look edgy. Busana dipromosikan melalui pagelaran busana yang dipasarkan berdasarkan target kalangan pecinta fashion kelas menengah atas dengan merk atau brand Manakala wears dan dijual dengan mempersiapkan kartu nama, label, pricetag dan packaging sebagai komponen pendukung. Tahap bisnis menghasilkan sebuah rancangan Business Model Canvas (BMC) sebagai pemetaan strategi bisnis.
SCARLET JADE VINE: ANALOGI FLORA ENDEMIK NUSANTARA ANGGREK KUKU MACAN DALAM BUSANA SEXY ALLURING Wijaya, Ni Putu Ayu Nadia; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.745

Abstract

Anggrek Kuku Macan merupakan flora endemik Papua. Dapat ditemukan di kawasan cagar alam Pegunungan Arfak, Manokwari, Provinsi Papua Barat. Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Mucuna Novaeguinea, Mucuna Bennetti, New Guinea Creeper, dan memiliki dua persamaan nama yaitu Scarlet Jade Vine dan Red Jade Vine. Selain Kuku Macan, flora ini juga memiliki sebutan lainnya yakni Anggrek Flame of Irian karena tanaman ini memiliki puluhan kuntum bunga yang bergerombol dan bertingkat yang sekilas terlihat seperti api yang membara diantara pepohonan. Memiliki keunikan pada bagian kelopak bunga yang menyerupai kuku macan. Karena keunikan kelopak bunganya inilah yang menjadikan Anggrek Kuku Macan dipilih sebagai ide pemantik dalam menciptakan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi-couture. Berdasarkan ide pemantik Anggrek Kuku Macan maka akan tercipta busana dengan style sexy alluring. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya busana mengacu pada metode analogy dan penciptaan desain fashion FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion oleh Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana yang berisi sepuluh tahapan dalam proses perancangan desain fashion berdasarkan kekayaan alam yang ada di Indonesia. Delapan dari sepuluh tahapan metode penciptaan tersebut dijadikan sebagai landasan dalam penciptaan koleksi busana dengan ide pemantik Anggrek Kuku Macan kedalam tiga jenis busana meliputi ready to wear busana pria, ready to wear deluxe busana wanita, dan semi-couture busana wanita.
LEADING TO THE LAST PLACE: ANALOGI ARSITEKTUR MAKAM GANTUNG DALAM BUSANA BERGAYA EDGY Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya; Ratna Cora S., Tjok Istri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.746

Abstract

Erong adalah makam gantung yang berasal dari Sulawesi Selatan, Tana Toraja. Erong memiliki arsitektur dan cara pemakaman yang unik. Makam ini dipenuhi dengan berbagi macam ukiran Toraja yang memiliki makna tersendiri. Kemudian dituangkan ke dalam busana untuk mengetahui proses penciptaan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture dengan ide Erong, sehingga dapat menjadi inspirasi dan refrensi bagi penciptaan yang akan datang. Proses penciptaan menggunakan metodelogi desain Tjok Ratna Cora, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” yang terdiri atas sepuluh tahapan dalam proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Bali. Berdasarkan ide pematik Erong, maka tercipta busana dengan style edgy. Edgy merupakan busana yang tergolong tidak biasa atau out of the box dengan ciri warna gelap yang mendominasi. Dalam karya ini menggunakan gaya ungkap analogi yang mengambil bentuk perahu sebagai salah satu bentuk Erong dengan berbagai macam ukiran yang memiliki makna tersendiri. Warna yang di ambil meggunakan empat warna dasar ukiran Toraja yaitu merah, kuning, putih, hitam, dan warna dari tebing serta makam yang sudah lapuk yaitu abu- abu. Selain itu bada busana juga terdapat banyak garis lurus yang menggambarkan siluet dari Erong yang didominasi garis lurus. Ketiga busana ini menggunakan print fabric dengan motif ukirn Toraja yang terdapat ada Erong. Pada busana ready to wear terdiri dua pieces, yaitu top dan celana. Pada busana ready to wear deluxe terdiri dari satu pieces, yaitu dress. Dan pada busana haute couture terdiri atas dua pieces, yaitu dress dan cape.
Wongkula Metafora Tradisi Wayang Wong Tejakula Danayanti, Ni Kadek Melnia; Radiawan, I Made; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1498

Abstract

“Wongkula” adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari tarian yang berasal dari Desa Tejakula. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear deluxe dan semi couture. Penciptaan koleksi Wongkula menggunakan delapan tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan rahasia dari Seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap metafora yang akan diuraikan pada teori keyword berupa mistis, sakral, larangan, pertempuran dan penari. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep Wongkula. Melalui perpaduan material utama, yaitu Satin, Linen, dan Mikro. Proses pengerjaan koleksi Wongkula Tugas Akhir terdapat pada teksmo yang dibuat pada kain.
Samiya Dwi Arcapada : Implementasi Busana Wanita Ready To Wear dan Semi Couture Pada Pertenunan Astiti Setianis, Ni Kadek; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1504

Abstract

Pertenunan Astiti adalah mitra industri yang bergerak dalam bidang tekstil sebagai tempat melaksanakan praktik kerja lapangan. Pertenunan Astiti dibangun oleh Nyoman Sudira pada tahun 1998 sesuai dengan surat perizinan dari pemerintah. Karna pertenunan astiti belum pernah menggunakan promosi fashion show maka dari itu penulis mengangkat dan membuat pakaian dengan mengkombinasikan bahan dasar Endek untuk diperlihatkan kepada masyarakat luas maka penulis membuat penelitian dengan judul Samiya Dwi Arcapada: Implementasi Busana Wanita Ready To Wear dan Semi Couture Pada Pertenunan Astiti. Tahapan perancangan busana yang penulis terapkan yaitu tahapan proses Design Fashion bertajuk “ FRNGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion ( Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan “FRANGIPANI” memiliki 10 tahapan yang sistemtis dalam mengolah sumber ide menjadi sebuah karya. Proses pembuatan busana menggunakan tenun endek akan dikombinasikan menggunakan kain lainnya sebagai bahan penunjang pada busana, dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat lebih sadar akan budaya yang dimiliki dan diharapkan suatu saat nanti agar tenun endek tradisional Bali dapat selalu eksis di tengah era modern.
Munjung Kerti : Rhythm of Ujungan Analogi Tradisi Ujungan dalam Penciptaan Busana Deluxe dan Semi Couture Andriasih, Maulia Putri; Radiawan, I Made; Mayun KT, A.A Ngurah Anom
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1506

Abstract

Tradisi Indonesia merupakan warisan budaya yang masih dilestarikan sampai saat ini. Tradisi Ujungan merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Desa Gumelem-Banjarnegara, Jawa Tengah. Tradisi Ujungan menjadi ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan semi haute couture dengan tema besar “Diversity of Indonesia” yang melahirkan koleksi dengan nama Munjung Kerti . Koleksi busana Munjung Kerti memadukan look cassual dengan sentuhan sexy alluring style yang menargetkan para wanita remaja. Penciptaan koleksi busana Munjung Kerti menggunakan metode yang dicetuskan oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, S.Sn, M.Si, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Step of Art Fashion” dengan delapan tahapan seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap analogi yang diwujudkan sesuai dengan teori keyword yaitu obong menyan, rotan, berani, maskulin dan bela diri. Dari pemilihan keyword tersebut akan diaplikasikan pada koleksi busana dengan mencakup prinsip desain dan elemen desain sebagai acuan dalam penciptaan busana. Hasil dari proses penciptaan koleksi ini melahirkan suatu busana gaya cassual dengan menerapkan fabric manipulation di beberapa bagian serta penggunaan mutiara untuk meningkatkan nilai jual dalam mem-branding hasil karya.
Nostalgia Rasa : Mengulang Manisnya Kenangan Analogi Kue Putu dalam Busana Feminim Romantic Yunika Dewi, Desak Nyoman; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1507

Abstract

Kue putu merupakan salah satu jajanan tradisinal indonesia yang memiliki cita rasa lembut, manis dan harum. Kue putu menyimpan banyak kenangan pada masa kecil anak-anak di jaman dahulu sehingga membuat penulis memilih kue putu sebagai ide pemantik yang bertujuan untuk mengingatkan akan kenangan manis yang ditinggalkan kue tradisional di jaman dahulu agar tetap lestari. Tahapan perancangan busana sangat penting dilakukan agar busana yang akan diwujudkan dapat sesuai dengan sumber ide yang telah ditentukan, tahapan perancangan busana yang penulis terapkan yaitu tahapan proses desain fashion bertajuk “ FRNGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion ( Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Dalam pembuatann karya “Nostalgia rasa : mengulang manisnya kenangan” terinspirasi dari jajanan tradisional kue putu menggunakan gaya ungkap analogi.
Kucing Tersembunyi dari Tanah Borneo Analogi Fauna Kucing Merah sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Exotic Dramatic Melani, Komang Ayu; Priatmaka, I Gusti Bagus; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1768

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragam faunanya. Di Pulau Kalimantan terdapat sebuah hewan endemik yang keberanaannya sangat langka dan terancam punah yaitu kucing merah. Kucing merah memiliki bulu berwana merah kastanye yang gelap dan berbintik samar, kepala yang pendek bulat dengan warna coklat oranye. Telinga kucing ini berwarna hitam atau cokelat tua, dan pada ekor bergaris putih dengan bintik hitam diujung ekor. Populasi kucing ini sampai sekarang tidak diketahui dan dikategorikan dalam status konservasi endangered (terancam punah) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature's) Redlist. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan busana ini diwujudkan dengan “Frangipani”, Tahapan – tahapan Rahasia dari Seni FashionArt. Proses penciptaan yang digunakan yaitu design development, prototype, sample and construction, alat dan bahan. Kucing Merah dipilih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear dan semi couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap analogi berdasarkan 6 kata kunci terpilih, yaitu bulat, wajah, kulit, bintik hitam, bulu dan ekor. Pada busana ini menggunakan exotic dramatic sebagai style dan dituangkan pada beading serta aksesoris busana. Dari penciptaan karya ini diharapkan khususnya pelaku fesyen menjadi salah satu referensi agar dapat menciptakan busana yang terinspirasi dari fauna fauna endemik yang keberadaanya sudah hampir punah dan harus dikenang.
Bulan Pejeng : Amazing Moon from The Night Sky Hawaninggih, Ni Putu Hellmy Paulina; Mayun, A.A Ngurah Anom; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1775

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan yang busana yang terinspirasi dari legenda Bulan Pejeng ke dalam busana bergaya Exotic Dramatic yang berasal desa Pejeng,kecamatan Tampak Siring,kabupaten Gianyar. Bulan Pejeng adalah sebuah legenda yang dipercayai warga setempat sebagai bulan yang jatuh dari langit, bulan pejeng ini berbentuk nekara atau yang biasa disebut nekara pejeng, nekara pejeng ini berukuran sangat besar dan sakral tak hanya itu benda ini sudah diresmikan sebagai benda cagar budaya oleh bupati gianyar pada tahun 2019.Karna legenda dan visual benda ini sangat unik,penulis menjadikan inspirasi sebagai ide pemantik dalam menciptakan karya busana ready to wear dan semi haute couture.Dengan mengunakan teknik digital printing,teknik bordir dan teknik payet sebagai penghias,yang perwujudannya dari keyword yang dipilih yaitu kedok muka,pola tumpal,logam,ukir dan bidang pukul nekara.Selain itu juga menciptakan sebuah brand yang bernama “HPH” dilengkapi dengan name card, price tag, paper bag, dan lain lain sesuai dengan brand HPH melalui strategi promosi, pemasaran, branding, dan penjualan dengan system bisnis model canvas.Metode penciptaan yang digunkan adalah analogi dan frangipani. Frangipani adalah delapan tahapan penciptaan meliputi Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Sample,Prototype, Dummy, Final Collection Promoting, Branding, Sale, Production, The Business. Hal ini menunjukkan bahwa untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal yang unik kita bisa mempromosikannya melalui apapun salah satunya melalui desain fashion.