Claim Missing Document
Check
Articles

Belida’s Knife Back Is Beautiful : Analogi Ikan Belida dalam Busana Feminine Elegant Nariasih, Kadek Ayu; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1776

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan busana bergaya feminine elegant yang terinspirasi dari Ikan Belida endemik dari pulau Jawa, pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan namun dalam tugas akhir ini penulis mengambil ikan Belida endemik khas dari pulau Sumatera. Ikan Belida memiliki bentuk tubuh yang menjadi keistimewaannya terletak pada dibagian punggung yang berbentuk seperti punggung pisau dan memiliki bibir monyong dan memiliki warna yang sangat elegan yaitu warna silver dan hitam, dulu ikan ini dijadikan bahan utama pembuatan pempek, namun sekarang sudah tidak lagi dikarenakan mulai punahnya ikan tersebut. Oleh karena itu, penulis mengambil ide pemantik ikan Belida dikarenakan keistimewaan yang dimiliki ikan ini dan dikarenakan mulai punahnya ikan ini, penulis berharap dengan diangkatnya ikan tersebut menjadi ide pemantik dalam karya busana ready to wear deluxe dan semi couture dapat membuat masyarakat tau dengan keberadaan ikan tersebut. Dengan menggunakan tehnik surface design yang merupakan jati diri dari tempat magang yaitu Agung Bali Collection kedalam karya tugas akhir. penulis menciptakan brand yang bernama ‘K A N’ . Metode penciptaan yang digunakan adalah Analogi dan Frangipani. Frangipani adalah delapan tahapan penciptaan meliputi design brief, research and sourching, design development, sampel, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production, dan the business
Bunga Kibut: Beauty of Corpse Flower Handayani, Luh Meri; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1796

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan busana bergaya feminime romantic yang terinspirasi dari Bunga Bangkai Raksasa/Bunga Kibut yang habitatnya pada saat ini banyak di temukan di hutan Sumatera. Kibut atau bunga bangkai raksasa atau suweg raksasa, Amorphophallus titanum merupakan tumbuhan dari suku talas- talasan endemik dari Sumatra, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatra) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m. Kibut disebut juga bunga bangkai dikarenakan bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat untuk menyerbuki bunganya. Kibut sering dipertukarkan dengan padma raksasa atau Rafflesia Arnoldii. Jenis - jenis Amorphophallus juga dapat dijumpai pada hutan hujan tropis. Bunga Kibut dipilih sebagai ide pematik dalam penciptaan karya busana ready to wear dan semi haute couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap analogi berdasakan 5 kata kunci terpilih yaitu: Sumatera, mekar, biji, burung rangkong dan kerut. Penciptaan kedua busana ini menggunakan metode dari Dr. Tjok Istri Ratna C.S., S.Sn., M.Si yaitu “FRANGIPANI” dengan delapan tahapan penciptaan meliputi Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Sample, Prototype, Final Collection Promoting, Branding, Sale, Production Businnes. Hasil penciptaan ini nantinya diharapkan menambah refrensi kepustakaan mengenai ilmu fashion dengan teori Bunga Bangkai/Bunga Kibut.
“Kama Thani” Studi Kasus Busana Semi Haute Couture Dan Deluxe Di Pertenunan Astiti Virgyan Yustianti, Ni Putu Nanda; Radiawan, I Made; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1798

Abstract

Barong Landung merupakan warisan budaya leluhur Bali yang sangat unik, Barong Landung muncul dari sebuah urband legend Dalem Balingkang yang berasal dari daerah Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Kisah Barong Landung tidak lain merupakan akulturasi budaya yang terjadi di masa lampau saat para pedagang negeri China datang ke pulau Bali untuk berdagang. Hal ini tentunya menjadi warisan budaya yang patut untuk dilestarikan dan patut untuk diceritakan kepada masyarakat luas. Maka dari itu perlu adanya media pengenalan yang menarik menganai kisah ini agar masyarakat tergugah untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi pada kisah Barong Landung. Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), ISI Denpasar mewajibkan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan magang di salah satu perusahaan mitra yang telah memiliki kerjasama dengan kampus ISI Denpasar, dan penulis memilih untuk melaksanakan kegiatan magang di Pertenunan Astiti, Klungkung. Pelestarian mengenai urband legend Dalem Balingkang ini dilakukan dengan upaya membuat kain endek tradisional Bali bermotif Barong Landung, yang nantinya kain endek ini akan dijadikan karya busana RTW dan Semi Couture. Keseluruhan busana melewati proses kreatif monumental tekstil dan tahapan proses desain fashion bertajuk “FRANGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion (Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan proses desain fashion FRANGIPANI ini meliputi 10 tahapan yang memberikan tahapan sistematis dalam mengembangkan sumber ide Barong Landung ke dalam karya busana RTWD dan Semi Couture.
Ngastiti Pralina Geni: Sebuah Analogi dari Tradisi Ngemumu oleh Masyarakat Desa Adat Manggis Karangasem Oktaviani, Putu Dian; Radiawan, I Made; Priatmaka, I Gusti Bagus
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberagaman budaya dan tradisi di Indonesia tercermin dalam berbagai kebudayaan lokal yang berkembang di masyarakat. Bali terkenal dengan adat dan budayanya sangat menyatu dengan kehidupan adat istiadat dan keagamaan. Salah satunya Tradisi Ngemumu dilaksanakan di Desa Pakraman Manggis. Tradisi ini diadaptasi dari masyarakat klungkung yang merupakan paicen Ida Dlem Klungkung karena pada saat itu desa Manggis terkena wabah penyakit Grubug Agung. Tradisi Ngemumu dalam Usabha Dalem Desa Manggis Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem adalah Nilai Bakti, Nilai Ketaatan dan Nilai Kerukunan. Tradisi ini menjadi ide pemantik yang dipilih penulis untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang tradisi di Manggis Karangasem Penciptaan karya busana ini untuk mengetahui bagaimana proses Tradisi Ngemumu dan mengetahui proses penciptaan karya tugas akhir ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture dalam kolaborasi dengan PT. Erika Peña Boutique. Proses penciptaan busana ini menggunakan sepuluh langkah penciptaan desain fashion FRANGIPANI yang di ambil dari disertasi : Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 meliputi penggalian ide, riset, analisa elemen estetis, pengembangan desain, pembuatan sampel, singularitas produk, promosi, afirmasi branding, hingga bisnis fashion. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat menambah kepustakaan khususnya dibidang fashion dengan teori analogi tradisi Ngemumu yang mengaplikasikan Kain Tenun ikat sebagai unsur dari ciri khas PT. Erika Peña Boutique tersebut ke dalam karya tugas akhir yang akan dibuat menjadi modern style.
Catus Patha Puputan Badung : Arsitektur Patung Catur Muka Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Dengan Berkolaborasi Di CV. Terimakasih Banyak Pratama, I Putu Febryana; Priatmaka, I Gusti Bagus; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Denpasar merupakan sebuah kota di Pulau Bali dan sekaligus menjadi ibu kota Provinsi Bali, Indonesia. Pertumbuhan industri pariwisata di Pulau Bali mendorong Kota Denpasar menjadi pusat kegiatan bisnis, dan menempatkan kota ini sebagai daerah yang memiliki pendapatan per kapita dan pertumbuhan tinggi di Provinsi Bali . Beberapa ornamen dan fasilitas kota dilakukan untuk menunjang pertumbuhuan perekonomian di Kota Denpasar, salah satunya adalah pengembangan landmark patung catur muka Kota Denpasar . Patung catuspata atau patung empat muka merupakan landmark Kota Denpasar dengan mengambil perwujudan empat muka sebagai simbolis pemegang kekuasaan pemerintahan yang dilukiskan dalam keempat buah tangannya. Oleh karena itu penulis ingin memperkenalkan Patung Catur Muka kepada masyarakat luas melalui penciptaan busana mempergunakan teori FRANGIPANI yaitu 8 tahapan penciptaan busana dan gaya ungkap analogi. Dari sepuluh metode tahapan FRANGIPANI hanya delapan metode penciptaan dijadikan sebagai landasan dalam penciptaan koleksi busana dengan ide pemantik tradisi mebuug-buugan kedalam tiga jenis busana meliputi ready to wear busana pria, ready to wear deluxe busana wanita, dan semi couture busana wanita. Hasil dari penciptaan busana ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang fashion.
Ngalap Segara Tradisi Petik Laut Muncar Dalam Bentuk Busana Bergaya Feminim Romantic Devi, Ni Wayan Hanisya; Radiawan, I Made; Sari, Dewa Ayu Putu Leliana
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Petik Laut Muncar merupakan sebuah ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan Muncar atas rezeki dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan melalui alam, khususnya laut. Penciptaan ini ditujukan untuk mewujudkan transformasi penciptaan karya busana feminim romantik, mengetahui dan memahami proses mewujudkan karya busana feminim romantik, mewujudkan bentuk karya busana feminim romantik dengan tradisi petik laut Muncar sebagai ide dalam penciptaan. Proses kreatif penciptaan menggunakan sepuluh langkah penciptaan desain fashion FRANGIPANI. Proses kreatif meliputi penggalian ide, riset, analisa elemen estetis, pengembangan desain, pembuatan sampel, singularitas produk, promosi, afirmasi branding, hingga bisnis fashion. Karya busana femimim romantic ini menghasilkan tiga karya busana yaitu ready to wear, ready to wear deluxe dan couture. Karya busana ngalap segara dibedah menggunakan mindmapping untuk mendapatkan kata kunci yang akan diaplikasikan dalam bentuk busana, diantaranya adalah, Laut, Bulan, Gitik, Nasi, dan Bunga Mawar, yang divisualisasikan dengan cara analogi. Warna biru yang di dapatkan dari menganalogikan kata kunci laut, ruffles dari analogi bulan, manik-manik berbentuk perahu merupakan visualisasi dari gitik, taburan mutiara penggambaran kata kunci nasi dan lace mawar dari kata kunci bunga mawar.
Renteng Maharya Pertiwi: Metafora Sesaji Sate Renteng Dalam Busana Gaya Exotic Dramatic Sari, Ni Made Ayu Widya; Radiawan, I Made; Mayun KT, A.A Ngurah Anom
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.409 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.286

Abstract

Kebudayaan, agama dan tradisi memiliki peran penting di setiap daerah khususnya umat Hindu di Bali. Keyakinan umat Hindu sehari-hari diungkapkan melalui banten sebagai persembahan dalam menjalankan aktivitas ritual. Banten memiliki keanekaragaman bentuk dan fungsi seperti sate renteng yang memiliki karakteristik bentuk yang berbeda dari jenis sate lainnya. Adanya aktivitas merangkai daging babi dan ornamen yang terbentuk dari kulit babi menjadikannya ciri khas pada sate ini. Sate renteng memiliki arti bergelantungan atau ngelenteng. Selain itu, sate renteng merupakan simbol dari senjata nawa sanga serta bermakna keseimbangan dalam menjaga makrokosmos dan mikrokosmos. Sate renteng terwujud dari peperangan Dewi Durga melawan asura. Keunikan sate renteng ini menginspirasi saya menjadikan ide pemantik dalam penciptaan koleksi busana Renteng Maharya Pertiwi. Penciptaan karya tugas akhir ini berupa busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture dengan menggunakan metode Frangipani yaitu delapan tahapan penciptaan busana dari disertasi Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, serta beberapa teori yang mendukung dalam perencanaan desain busana. Teori tersebut meliputi: teori semiotika dengan gaya ungkap metafora, teori warna, teori estetika serta teori strategi pemasaran, merek, dan penjualan. Karya busana ini juga dipadupadankan dengan style exotic dramatic, look boho-chic dan trend svarga. Koleksi Renteng Maharya Pertiwi memiliki siluet H dan X. Hasil karya yang diciptakan tak lepas dari elemen dan prinsip desain yang membuat suatu koleksi dapat menjadi satu kesatuan, keselarasan dan keharmonisan dengan konsep. Koleksi yang diciptakan akan di branding dengan strategi pemasaran dari Business Model Canvas (BMC) Osterwalder dan Pigneur untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu busana.
Gammara Lopi : Metafora Ritual Kapal Pinisi Dalam Karya Busana Exotic Dramatic Style Puspa Yeni, Ni Putu Ryani; Ratna Cora S., Tjok Istri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1566.868 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.294

Abstract

“Gammara Lopi” adalah judul dalam karya busana Tugas Akhir bertemakan “Diversity of Indonesia” yang diwujudkan dalam busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture dengan mengadopsi exotic dramatic style. Karya busana Gammara Lopi terinspirasi dari ritual kapal Pinisi yang dilakukan selama proses pembuatan kapal Pinisi di daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan. Karya busana Gammara Lopi diciptakan menggunakan delapan tahapan yaitu Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Prototypes, Final Collection, Promotion Branding and Marketing, Production, dan Business. Karya busana ini diciptakan dengan memetaforakan ide pemantik ritual kapal Pinisi yang dikaitkan dengan teori estetika dan teori semiotika yang diimplementasikan ke dalam unsur desain, prinsip desain dan elemen desain. Dalam karya busana Gammara Lopi diambil beberapa kata kunci yaitu serpihan kayu, lunas, annyorong lopi, lontara, darah dan pembakaran kemenyan. Busana ini menggunakan material berupa cotton oxford natural, tenun dobby, cotton printing, kulit sintetis, jacguard, cordurouy yang dipadukan dengan warna nude, coklat dan hitam. Pada proses pengerjaan karya busana Gammara Lopi meletakkan beberapa detail dengan menggunakan teknik macrame serta beberapa teknik fabric manipulation untuk mendukung penciptaan detail dalam karya busana Gammara Lopi.
Anyutirupa Of Ngelawang Barong Bangkal: Metafora Ngelawang Barong Bangkal Dalam Busana Edgy Style Trisnadewi, Anak Agung Sagung Istri; Ratna Cora S., Tjok Istri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2018.839 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.295

Abstract

“Anyutirupa of ngelawang barong bangkal” adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari tradisi ngelawang barong bangkal di Pura Hyang Api dengan memadukan style edgy dan gothic look. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture. Penciptaan koleksi Anyutirupa of Ngelawang Barong Bangkal menggunakan delapan tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan Rahasia dari Seni Fashion Art. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap metafora yang akan diuraikan pada teori semiotika dan keyword berupa penolak bala, sakral, mistik, pelindung, rwa bhineda, dan kemenangan. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep tradisi ngelawang barong bangkal yaitu hitam, putih, abu, dan gold. Melalui perpaduan material utama, yaitu faux fur, leather look, suede, tulle, poleng, woven scatola, dan cotton combed. Proses pengerjaan koleksi Tugas Akhir Anyutirupa of Ngelawang Barong Bangkal terdapat ukiran bali yang nantinya akan di prada menggunakan teknik lukis dengan kuas, pemasangan kaca cermin pada kulit serta teknik payet yang membentuk sesuai dengan desain. Selain itu terdapat teknik rumbai, drapery, dan manipulasi tekstil dibeberapa bagian – bagian pada busana.
Penolak Bala: Metafora Tradisi Mejaga-Jaga Dalam Busana Exotic Dramatic Indradewi, Dewa Ayu Diah Arie; Radiawan, I Made; Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1089.385 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.298

Abstract

Tradisi Mejaga-jaga di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung dilaksanakan pada Tilem Sasih Karo . Tradisi ini digelar tiap tahun dengan tujuan untuk menghidari terjadinya malapetaka bagi warga desa. Kegiatan tradisi ini dipusatkan di catus pata desa setempat. Tradisi ini menggunakan seekor banteng sebagai kurban suci yang di arak keliling desa dan di tebas untuk di cecerkan darahnya di jalanan, karena dipercaya sebagai penetralisir desa. Darah tersebut juga di yakini warga setempat sebagai obat berbagai macam penyakit sehingga warga berebut mengambil darah yang bercucuran untuk dilumuri di seluruh badan.Tradisi Mejaga-jaga menjadi inspirasi dalam penciptaan karya busana. Proses karya busana berdasarkan delapan tahapan penciptaan busana yang terdiri dari ; design brief, research and sourcing, design development; prototypes, sample and contruction, final collaction; promotion marketing, branding and sales, prodaction, dan the business. Koleksi busana tersebut juga diciptakan dengan pendekatan teori semiotika dan estetika. Berdasarkan analisis teori dari Charles Sander Peirce dan metode penciptaan busana yang terdiri dari busana ready to wear, ready to wear delux dan haute couture Tradisi Mejaga-jaga yang divisualisasikan dengan menggunakan motif yang berkaitan dengan tradisi tersebut.