Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Optimizing Green Infrastructure for Urban Thermal Comfort: A Case Study of Bondowoso Regency Ratih Novi Listyawati; Prasetiyo Prasetiyo; Dian Aulia Salsabila; Fery Ardi Aliansyah
Jurnal Planologi Vol 23, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v23i1.46959

Abstract

The Urban Heat Island (UHI) is a serious environmental issue in tropical regions because it increases surface temperatures, reduces thermal comfort, and exacerbates health risks. Bondowoso Regency shows the potential for an increase in UHI as green open space decreases. This study aims to identify the distribution of UHI, analyze the effectiveness of green open spaces, and formulate strategies for optimizing green open spaces for mitigation. Secondary data from Landsat 8 TIRS/OLI imagery were analyzed using spatial and descriptive evaluative approaches. The results show that the distribution of UHI in Bondowoso fluctuated between 2013 and 2024, with peak intensity in 2017 and a significant decline in 2022. However, extreme temperatures reappeared in 2024, marked by an increase in the area with temperatures >30°C by 248.75 Ha. The 53% decline in green open space also accelerated the expansion of hot areas, showing an inverse relationship between vegetation and surface temperature. The scenario strategy indicates the need for an additional 317 green open space units covering 11,507.1 Ha to reduce the temperature by 3°C and 8 green open space units covering 580.8 Ha to reduce it by 6°C. Thus, green open space plays an important role in reducing the intensity of the UHI. Therefore, policies to increase the quantity and connectivity of green open space need to be prioritized so that Bondowoso can maintain thermal comfort and environmental sustainability.Keywords: Green Infrastructure, Green Open Space, Remote Sensing, Thermal Comfort, Urban Heat Island Urban Heat Island (UHI) adalah isu lingkungan yang serius pada wilayah tropis karena meningkatkan suhu permukaan, menurunkan kenyamanan termal, dan memperburuk risiko kesehatan. Kabupaten Bondowoso menunjukkan potensi peningkatan UHI seiring berkurangnya ruang terbuka hijau. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi distribusi UHI, menganalisis efektivitas ruang terbuka hijau, serta merumuskan strategi optimasi ruang terbuka hijau untuk mitigasi. Data sekunder citra Landsat 8 TIRS/OLI dianalisis menggunakan pendekatan spasial dan deskriptif evaluatif. Hasil menunjukkan distribusi UHI di Bondowoso berfluktuasi pada tahun 2013–2024 dengan puncak intensitas pada tahun 2017 dan penurunan signifikan pada tahun 2022. Namun, tahun 2024 suhu ekstrem kembali muncul yang ditandai dengan peningkatan luas area suhu >30°C sebesar 248,75 Ha. Penurunan ruang terbuka hijau sebesar 53% turut mempercepat ekspansi area panas yang memperlihatkan hubungan terbalik antara vegetasi dan suhu permukaan. Strategi skenario menunjukkan kebutuhan tambahan 317 unit ruang terbuka hijau seluas 11.507,1 Ha untuk menurunkan suhu 3°C dan 8 unit ruang terbuka hijau seluas 580,8 Ha untuk penurunan 6°C. Dengan demikian, ruang terbuka hijau memiliki peranan penting dalam mengurangi intensitas UHI. Oleh sebab itu, kebijakan peningkatan kuantitas dan konektivitas ruang terbuka hijau perlu diprioritaskan agar Bondowoso mampu menjaga kenyamanan termal dan ketahanan lingkungan secara berkelanjutan.Kata kunci: Infrastruktur Hijau, Kenyamanan Termal, Penginderaan Jauh, Ruang Terbuka Hijau, Urban Heat Island
Integrasi Citra VIIRS dan Statistik Sosial dalam Pemetaan Kemiskinan di Kabupaten Bondowoso Ratih Novi Listyawati; Prasetiyo Prasetiyo; Fery Ardi Aliansyah; Dian Aulia Salsabila
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7755

Abstract

Abstract. Poverty remains a development issue in Bondowoso Regency, East Java Province, with a poverty rate of 12.60%. The limitations of conventional statistical data on a micro spatial scale have encouraged the use of alternative approaches based on remote sensing. This study aims to analyze the distribution of poverty through the integration of VIIRS nighttime light imagery and Integrated Social Welfare Data (DTKS). The methods used include the classification of nighttime light radiance intensity into eight classes and Pearson's correlation analysis to test the relationship between nighttime light intensity and the number and density of poor people at the subdistrict level. The results of the analysis show that the correlation between nighttime light intensity and the number of poor people is positive but not significant (r = 0.368; sig. = 0.084), while the correlation with the density of poor people shows a very strong and significant relationship (r = 0.871; sig. = 0.000). These findings indicate that nighttime light better represents the concentration of activity and population density than the absolute level of poverty. Therefore, nighttime light imagery cannot be used as a single indicator of welfare and needs to be integrated with micro-social indicators to improve the accuracy of poverty mapping. Abstrak. Kemiskinan masih menjadi permasalahan pembangunan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, dengan persentase penduduk miskin sebesar 12,60%. Keterbatasan data statistik konvensional pada skala spasial mikro mendorong penggunaan pendekatan alternatif berbasis penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran kemiskinan melalui integrasi citra cahaya malam VIIRS dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Metode yang digunakan meliputi klasifikasi intensitas radiansi cahaya malam ke dalam delapan kelas serta analisis korelasi pearson untuk menguji hubungan antara intensitas cahaya malam dengan jumlah dan kepadatan penduduk miskin pada tingkat kecamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa korelasi antara intensitas cahaya malam dan jumlah penduduk miskin bersifat positif namun tidak signifikan (r = 0,368; sig. = 0,084), sedangkan korelasi dengan kepadatan penduduk miskin menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan (r = 0,871; sig. = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa cahaya malam lebih merepresentasikan konsentrasi aktivitas dan kepadatan penduduk dibandingkan tingkat kemiskinan secara absolut, sehingga citra cahaya malam tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal kesejahteraan dan perlu diintegrasikan dengan indikator sosial mikro untuk meningkatkan akurasi pemetaan kemiskinan.
A Spatial Optimization Framework for Bus Stop Locations: Enhancing Urban Mobility in Jember Rindang Alfiah; I Made Satya Graha; Ratih Novi Listyawati; Nurul Zafira
Civilla : Jurnal Teknik Sipil Universitas Islam Lamongan Vol 11 No 1 (2026): MARET
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/cvl.v11i1.1618

Abstract

Jember's urban area has experienced economic development and has become the third-largest educational hub in East Java. To address the transportation congestion caused by large activities in urban areas, an effective and affordable public transportation system is essential. The coverage of bus stops plays a key role, as evident from their proximity to residential and public areas, as well as the reach of passengers. This research aims to evaluate the coverage of bus stops in the Jember urban area and optimize the locations of new stops. Using the network analyst service area, buffer area, and kernel density, the research defines service coverage within a 400-meter area based on a person's willingness to walk. Additionally, the scoring method used to evaluate the feasibility of bus stops is based on the standardization of bus stop design. The results show that 10 bus stops are not suitable for standardization, while the other nine are moderately suitable. Currently, only 48.7% of the urban area is served by public transport stops. The studies proposed 12 new bus stop locations, which will increase the coverage area to 79.1% and cover 216 out of 273 identified facilities. 
Arahan Perencanaan Kawasan Wisata Alam Desa Padusan, Kabupaten Mojokerto Febrina Nur Rahmi Briliana; Nunung Nuring Hayati; Ratih Novi Listyawati
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.78456.68-81

Abstract

Desa Padusan merupakan salah satu desa di Kabupaten Mojokerto yang direncanakan sebagai kawasan wisata alam unggulan. Perencanaan Desa Padusan tercantum pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Mojokerto Tahun 2012–2032 sehingga kegiatan atau upaya perencanaan pariwisata harus berpedoman pada RTRW tersebut. Upaya mewujudkan Desa Padusan sebagai kawasan wisata alam unggulan Mojokerto ini tentunya memerlukan peran serta berbagai pihak, baik pengelola maupun pengunjung yang datang. Pengelola ini terbagi menjadi dua, yaitu pihak Dinas Kebudayaan, Pemuda Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto serta masyarakat yang memiliki andil dalam perencanaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan perencanaan yang tepat untuk prioritas pengembangan Kawasan Wisata Alam Desa Padusan. Prioritas pengembangan tersebut meliputi tempat duduk, toilet/MCK, pos kesehatan, penanda dan penunjuk arah, serta ketanggapan pengelola. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis triangulasi. Tahapan analisis dimulai dengan mengumpulkan data, baik sekunder maupun primer, yang kemudian data tersebut diolah dengan metode analisis sehingga dihasilkan arahan perencanaan sebagai hasil akhir dari penelitian. Dari data primer berupa komponen 5A pariwisata (attraction, accessibility, ancillary service, amenities, dan activities), dirumuskan arahan perencanaan dengan meninjau kajian pustaka. Perbedaan kondisi eksisting dengan standar dalam teori dan kebijakan menjadi dasar penyusunan arahan perencanaan. Hasil dari penelitian ini adalan arahan pengembangan Kawasan Wisata Alam Desa Padusan yang tepat, berupa peningkatan kualitas dan kuantitas tempat duduk, penyediaan toilet sesuai standar, penyediaan poliklinik wisata 24 jam yang dilengkapi alat kesehatan dan tenaga ahli kesehatan, desain penanda dan penunjuk arah yang menarik dan jelas, serta peningkatan kerjasama antara pengelola.
Risk Analysis and Mitigation of Flash Flood in Ijen Sub-District, Bondowoso Safira Nurrahmah Ramadhani; Wiwik Yunarni Widiarti; Ratih Novi Listyawati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 4 (2026): July 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.4.786-798

Abstract

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa Kabupaten Bondowoso pernah mengalami tiga kali kejadian banjir bandang sepanjang tahun 2020 – 2024 yang seluruhnya terjadi di Kecamatan Ijen. Bencana ini menyebabkan jalan desa tertutup lumpur, kerusakan pada rumah warga, infrastruktur, dan kandang ternak. Namun, terdapat ketidaksesuaian dalam dokumen perencanaan tata ruang di tingkat kabupaten maupun provinsi. Sehingga upaya penanggulangan bencana belum dapat dilakukan secara optimal. Oleh karena itu, analisis risiko dan mitigasi bencana diperlukan untuk mengurangi risiko yang ada serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko banjir bandang dan menyusun upaya mitigasi yang relevan. Pendekatan yang digunakan meliputi analisis spasial dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan tingkat risiko bencana dan analisis Delphi yang melibatkan 6 ahli dalam 2 kali putaran iterasi menggunakan kuesioner untuk memberikan rekomendasi kegiatan mitigasi yang tepat. Penelitian ini juga melanjutkan hasil studi sebelumnya terkait manajemen tanggap darurat dan keterlibatan pemangku kepentingan dalam tahap prabencana di Kecamatan Ijen. Hasil analisis menunjukkan bahwa 52,11% wilayah termasuk dalam kategori risiko rendah, 44,12% kategori sedang, dan 3,77% kategori tinggi yang seluruhnya tersebar di 6 desa. Tingkat risiko yang didominasi kelas rendah disebabkan oleh faktor tutupan lahan yang sebagian besar berupa hutan, kepadatan penduduk yang rendah, sebaran permukiman penduduk yang terkonsentrasi, dan adanya kelompok Desa Tangguh Bencana (DESTANA) dalam meningkatkan kapasitas wilayah untuk menghadapi bencana. Selanjutnya, rekomendasi kegiatan mitigasi dibagi menjadi mitigasi struktural dan mitigasi non-struktural. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi, pertimbangan, dan rekomendasi dalam penanggulangan bencana serta kebijakan tata ruang di Kabupaten Bondowoso khususnya terkait banjir bandang. Selain itu, metode dan parameter yang digunakan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk memahami karakteristik wilayah rawan bencana secara lebih mendalam.