Ketut Dewi Kumara Wati
Department Of Pediatrics Faculty Of Medicine Udayana University

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Peran Bifidobakteria dalam Pencegahan dan Pengobatan Alergi serta Gangguan Sistem Imun pada Anak Ketut Dewi Kumara Wati; Budi Setiabudiawan
Sari Pediatri Vol 22, No 6 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.6.2021.394-400

Abstract

Bifidobakteria berperan dalam dinamika maturasi sistem imun dan memiliki timeline yang terhubung dengan timelinesistem imun. Bifidobakteria membantu pembentukan sistem imun nonspesifik maupun spesifik sedangkan sistem imun membantu pembentukan komposisi bifidobakteria. Bifidobakteria dapat berperan dalam sistem imun karena memiliki banyak enzim yang menunjang kolonisasi, mampu memelihara homeostasis mukosa intestinal, bekerjasama dengan mukus dan SIgA memerangkap patogen, membantu pembentukan SIgA dan IgM, serta meningkatkan survival koloni Treg. Secara klinis, penggunaan bifidobakterium tunggal maupun kombinasi bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan kasus alergi dan gangguan sistem imun. Pemberian bifidobakteria pada dosis 109 colony forming unit satu hingga dua bulan sebelum kelahiran dilanjutkan pemberian pada bayi selama 6 bulan menurunkan kejadian dermatitis atopik. Pemberian bifidobakteria pada bayi prematur memperbaiki profil kolonisasi bifidobakteria, menurunkan kejadian,dan keparahan nerotizing enterocolitis. Pemberian bifidobakteria memperbaiki kualitas hidup rinitis alergi musiman dan asma intermiten, menurunkan skor dermatitis (SCORAD) dan penggunaan steroid pada dermatitis atopik, serta membantu menurunkan berulangnya infeksi saluran nafas pada anak. 
Tinggi Badan dan Usia Tulang Sindrom Nefrotik yang Mendapat Terapi Steroid Jangka Panjang K Dewi Kumara Wati; Ketut Suarta; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.2.2002.83-7

Abstract

Pasien SN anak akan sering mendapat steroid yang memiliki efek samping seperti obesitas,penekanan pertumbuhan, hipertensi serta osteoporosis Tujuan Penelitian untuk menilaitinggi badan dan usia tulang pasien sindrom nefrotik yang mendapat terapi steroidjangka panjang dan mengetahui hubungannya dengan dosis kumulatif, lama terapi danjumlah frekuensi. Retrospektif, deskriptif analitik, dengan subjek pasien sindrom nefrotikyang dirawat di Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak RSUP Denpasar antara 1 Januari1998 hingga 31 Juli 2000. Data diambil dari rekam medik sedangkan penentuan tinggibadan dan usia tulang dilakukan saat penelitian. Analisis regresi linier dilakukan untukmelihat hubungan antara tinggi badan dan usia tulang dengan dosis kumulatif, lamaterapi, serta jumlah relaps. Kemaknaan ditentukan dengan p<0.05. Terdapat 16 pasien,dengan usia 7,3 tahun (+3,3), rerata dosis kumulatif steroid 4,1 mg (+2730), lama terapi9,6 bulan (+2,4), rerata tinggi badan terhadap standar 97% (+4,8), D usia tulang + 8,3bulan (+9,7). Tinggi badan tidak mempunyai hubungan dengan dosis steroid kumulatif,lama terapi maupun jumlah relaps (r=0.16, p>0.05). Usia tulang tidak mempunyaihubungan, baik dengan dosis steroid kumulatif, lama terapi, maupun jumlah relaps(r=0.39, p>0.05). Tinggi badan dan usia tulang pasien sindrom nefrotik pada penelitianini tidak mempunyai hubungan dengan dosis kumulatif dan lama terapi steroid, maupunjumlah relaps.
Hubungan Jumlah Leukosit serta Kadar Cluster of Differentiation-4 dengan Derajat Keparahan Pneumonia pada Anak dengan Infeksi Human Immmunodeficiency Virus I Nyoman Supadma; Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; Ayu Setyorini Mestika Mayangsari; Ketut Dewi Kumara Wati; Komang Ayu Witarini
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.269 KB) | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.36-40

Abstract

Latar belakang. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia di bawah 5 tahun di seluruh dunia, terutama pada infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Parameter yang mudah diukur dan dikerjakan diperlukan untuk memprediksi derajat keparahan pneumonia pada anak dengan HIV.Tujuan. Mengetahui hubungan jumlah leukosit dan kadar CD4 dengan derajat keparahan pneumonia pada anak dengan infeksi HIV.Metode. Penelitian analitik dengan desain potong lintang, dilibatkan 42 anak HIV dengan pneumonia berat dan sangat berat. Pemeriksaan penunjang yang rutin dikerjakan adalah darah lengkap dan kadar CD4.Hasil. Nilai median (minimal-maksimal) kadar CD4 pneumonia sangat berat lebih rendah [19,5 (12,5-26,0)]% dibandingkan dengan pneumonia berat [35,3 (14,0-56,5)]%. Analisis bivariat menunjukkan derajat keparahan pneumonia tidak dipengaruhi oleh jumlah leukosit [RO 0,63 (IK 95% 0,09 sampai 4,23), P=0,63], tetapi dipengaruhi oleh kadar CD4 [RO 0,10 (IK 95% 0,02 sampai 0,46), P=0,01]. Kesimpulan. Kadar CD4 berhubungan dengan derajat keparahan pneumonia pada anak dengan infeksi HIV.
Studi Observasional Pasca-Pemasaran Formula Isolat Protein Kedelai pada Bayi dengan Gejala Sugestif Alergi Terhadap Protein Susu Sapi Zakiudin Munasir; Dina Muktiarti; Anang Endaryanto; Ketut Dewi Kumarawati; Budi Setiabudiawan; Sumadiono Sumadiono; Johannes Hudyono; Melva Louisa; Arini Setiawati
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.237-43

Abstract

Latar belakang. Fomula berbasis isolat protein kedelai banyak digunakan untuk anak-anak dengan alergi susu sapi di Indonesia. Namun, diperlukan penelitian untuk mendapatkan gambaran penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna pada penggunaan formula isolat protein kedelai.Tujuan. Pertama, menentukan penerimaan orangtua terhadap pemberian suatu isolat protein kedelai pada bayi yang diduga mengalami alergi terhadap protein susu sapi. Kedua, mengetahui toleransi saluran cerna pada pemberian susu formula tersebut.Metode. Suatu studi pasca-pemasaran, prospektif, multisenter yang dilakukan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Denpasar sejak September 2011 sampai April 2012. Subyek berusia antara 6 bulan hingga 1 tahun dengan gejala dugaan alergi terhadap protein susu sapi yang diberikan formula isolat protein kedelai dan diamati selama 4 minggu. Luaran yang diharapkan adalah penerimaan orangtua terhadap pemberian formula isolat protein kedelai dan toleransi saluran cerna terhadap pemberian isolat protein kedelai.Hasil. Diteliti 534 subyek yang dapat dianalisis selama periode penelitian. Mayoritas orangtua (84%) merasa puas dengan formula isolat protein kedelai, 83% orangtua berencana untuk melanjutkan pemberian susu formula karena berkurang (31,5%) dan hilangnya gejala yang diduga akibat alergi susu sapi (32,4%). Gejala klinis yang diduga akibat alergi terhadap protein susu sapi menurun pada setiap kunjungan berikutnya. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan selama periode penelitian.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan tingkat penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna yang baik terhadap pemberian formula isolat protein kedelai kepada bayi dengan gejala sugestif alergi terhadap protein susu sapi. Formula isolat protein kedelai cukup aman dijadikan sebagai formula alternatif pengganti pada anak dengan alergi susu sapi.
Pneumonia Pneumosistis I Wayan Gustawan; BNP Arhana; Putu Siadi Purniti; IB Subanada; K Dewi Kumara Wati
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.328-34

Abstract

Pneumonia pnemosistis merupakan penyebab kesakitan yang serius dan kematian pada kasus gangguansistem imun. Pneumonia pnemosistis merupakan infeksi oportunistik tersering pada kasus yang terinfeksiHIV, leukemia dan anak yang menerima transplantasi organ. Organisme penyebab adalah Pneumocystiscarinii. Manifestasi klinis berupa gangguan pernapasan disertai penyakit dasarnya. Diagnosis pasti ditegakkandengan ditemukannya organisme dalam pemeriksaan mikroskopis. Pengobatan secara umum terdiri daritata laksana suportif dan spesifik. Trimetoprim-sulfametoksasol masih merupakan pilihan pertama baikuntuk terapi maupun profilaksis. Angka kematian masih tinggi, terutama yang terlambat mendapat terapi.
Co-Authors Adnyana, I Gusti Agung Ngurah Sugitha Ahmad Suryawan Anak Agung Ngurah Ketut Putra Widnyana Anak Agung Tri Yuliantini Anang Endaryanto Apsari, Putu Indah Budi Arini Setiawati Aryono Hendarto Ayu Setyorini Mestika Mayangsari Badriul Hegar Bagus Ngurah Putu Arhana BNP Arhana Budi Setiabudiawan Cempaka, Putu Mas Vina Paramitha Deborah Melati, Deborah Della Sabrina Marta Dewi Wulandari Dewi, Ni Luh Putu Mulia Laksmi Dina Muktiarti, Dina Dyah Kanya Wati Eka Gunawijaya Endy P. Prawirohartono Erfi Prafiantini Eva Jacomina Jemima Sapulete Gusti Ayu Putu Nilawati Hamid H A Haryadi Haryadi - Hendra Santoso Hendra Santoso Hendra Santoso Hindra Irawan Satari I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi I gusti Lanang Sidhiarta I Gusti Lanang Sidiartha I Gusti Ngurah Sanjaya Putra I Ketut Suarta I Made Kardana I N Sartika I Nyoman Budi Hartawan I Nyoman Supadma I Nyoman Supadma I Putu Gede Karyana I Wayan Dharma Artana I Wayan Dharma Artana, I Wayan Dharma I Wayan Eka Satriawibawa I Wayan Gede Artawan Eka Putra I Wayan Gede Artawan Eka Putra, I Wayan Gede Artawan Eka I Wayan Gustawan Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan Ida Bagus Subanada Irene Irene Johannes Hudyono Juergens, Stefanie Kadek Deddy Ariyanta Kadek Surya Jayanti, Kadek Surya Ketut Suarta Ketut Tangking Ketut Tuti Parwati Merati Komang Ayu Witarini Luh Putu Ratna Sundari Made Ardinata Made Bandem Kenny Wijaya Nugraha Made lndah Nastiti Utami Budha Maria Priskila Melisa Anggraeni Melva Louisa Merati, Tuti Parwati Metriani Nesa, Ni Nyoman Mohammad Juffrie Nesa, Ni Nyoman Metriani Ni Made Ayu Agustini Ni Nyoman Metriani Nesa Ni Putu Siadi Purniti Ni Putu Veny Kartika Yantie, Ni Putu Veny Kartika NP Veny Kartika Yantie Pande Putu Yuli Anandasari Purwoko, Agus Putu Ayu Widyanti Putu Ayunda Trisnia Putu Diah Vedaswari Putu Indah Budi Apsari Retno Asti Werdhani Ronaldi, Melissa Roni Naning Sawitri, Anak Agung Sagung Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Stefanie Juergens Suandi IKG Sumadiono Sumadiono supadma, I nyoman Susanto, Yohanes Widiantari, Ni Made Widiastari, A.A Ayu Widiastari, A.A Ayu Yvan Vandenplas Zakiudin Munasir