Claim Missing Document
Check
Articles

Ageing in Place VS Panti Wreda: Menyatukan Dua Konsep yang Bertentangan Ni Luh Putu Pradnyandari Kencana Putri; Made Diah Lestari
Buletin Psikologi Vol 31, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/buletinpsikologi.80377

Abstract

As the population of older people grows, ageing issue becomes a priority to overcome in order to facilitate well-being among older people in Indonesia. One of critical factors that contributes to well-being is living arrangement. Ageing in place is a concept that refer to the ability of older people to live safely, independently, and comfortably in their homes as long as possible. However, there are some of older people and families who experience scare resources in caregiving and housing. To overcome these issues, institutional care is provided by the government to assist older people who do not have sufficient social supports. However, transferring older people from home to institutional care are still being a debate in Indonesia. In another words, institutional care is considered taboo by most Indonesians. In addition, international literatures emphasized the important of ageing in place and regard institutional care quite opposite to ageing in place. Therefore, this literature study aims to discuss the concept of ageing in place, institutional care, and to propose the idea to integrate the two conflicting concepts in order to facilitate inclusiveness among older people. This article is also expected to contribute to facilitate well-being among older people in Indonesia.
Persahabatan: Makna dan kontribusinya bagi kebahagiaan dan kesehatan lansia Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu61

Abstract

Activity theory telah memberikan perspektif yang baru dalam bidang gerontologi dengan konsep successful ageing. Teori ini menilai lanjut usia (lansia) sebagai kelompok yang aktif, produktif, dan masih mampu berkiprah dalam situasi sosial. Partisipasi sosial adalah salah satu indikator dari komunitas ramah lansia yang dideklarasikan oleh World Health Organization. Mampu menjaga persahabatan adalah salah satu dari bentuk kontak sosial dan partisipasi sosial bagi lansia. Pola-pola persahabatan berubah seiring dengan perkembangan usia seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pola persahabatan, makna persahabatan, dan dampak persahabatan bagi kondisi fisik dan psikologis lansia. Responden penelitian ini adalah 14 orang lansia yang berusia 64 hingga 70 tahun dan aktif mengikuti kegiatan bersama teman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan photovoice. Melalui analisis partisipatori dan koding, studi mendapatkan tema-tema yang berkontribusi pada pola persahabatan lansia, seperti siapa yang dianggap sebagai teman, durasi persahabatan dan pertemanan. Bagi responden, teman adalah sosok yang merupakan bagian dari memori masa lalu, seseorang yang menghadirkan keterbukaan, dan mampu menjauhkan mereka dari rasa kesepian. Persahabatan dinilai sebagai bentuk hubungan yang dibangun dari intensi yang murni tanpa tendensi apa pun. Aktivitas bersama sahabat yang mampu memberikan dampak positif bagi responden adalah berbagai pengalaman, mengunjungi teman, menghadiri acara-acara penting sahabat, menjalankan hobby bersama, dan berolahraga. Hasil dari penelitian ini mampu menjadi dasar bagi penatalaksanaan kesehatan bagi lansia.
"Bukan hanya sekedar kumpulan kutipan wawancara": Meningkatkan kualitas riset kualitatif bidang psikologi di Indonesia Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 8 No 1 (2021)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu481

Abstract

Relativitas merupakan kata kunci yang menggambarkan irisan antara psikologi ulayat dan pendekatan penelitian kualitatif. Paradigma pendekatan kualitatif mengapresiasi keberagaman dan subjektivitas realitas, yang oleh hegemoni paradigma kuantitatif (positivisme) dianggap kurang ilmiah dan kurang ajeg. Saya mengkritisi perkembangan kualitas dan kuantitas studi kualitatif pada artikel-artikel yang diterbitkan di Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology. Pada periode 2017–2020, jumlah artikel kualitatif pada jurnal ini menempati posisi yang sebanding dengan artikel dengan pendekatan lainnya. Meski jumlah yang sebanding ini menunjukkan minat dan persepsi yang positif terhadap pendekatan kualitatif, namun masih ada beberapa ruang perbaikan yang perlu dipikirkan untuk meningkatkan kualitas studi kualitatif. Dalam catatan editorial ini, saya mengedepankan beberapa argumen yang menekankan pentingnya mengintegrasikan tradisi kritik untuk membuat studi kualitatif lebih bermakna dan holistik dalam menggambarkan realita yang dikonstruksikan subjek penelitian.
Intimasi pada perempuan pekerja seks (PPS): Uang, perasaan, dan komitmen I Kadek Wahyu Pujhana; David Hizkia Tobing; Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 9 No 2 (2022)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu542

Abstract

Kajian tentang perempuan pekerja seks (PPS) seringkali di dominasi pada tingkat makro dalam perspektif ekonomi, kesehatan, dan sosial. Terdapat penelitian yang logis mengenai aspek emosional pada kelompok ini. Aspek emosional khususnya intimasi yang menjadi fokus penelitian ini terkadang terpinggirkan dari literatur tentang PPS. Studi sebelumnya pada area ini ditemukan bahwa PPS mengalami kesulitan dalam menetapkan batasan antara seks pribadi dan komersial. Studi tersebut sebagian besar mengaitkan intimasi dengan kesehatan seksual dan reproduksi, dan tidak ada satu pun studi yang menangkap intimasi sebagai entitas emosional yang melekat pada PPS sebagai seorang individu. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi, dengan menggunakan wawancara semi terstruktur pada lima PPS di Bali. Data dianalisis menggunakan theoretical coding dan ditemukan tiga komponen intimasi, yaitu uang, perasaan, dan komitmen. Interaksi di antara komponen-komponen ini menciptakan tujuh jenis intimasi. Temuan ini diharapkan dapat berkontribusi pada aspek psikologis prostitusi.
Ulayat sebagai sebuah ilmu Made Diah Lestari
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu865

Abstract

More than simply referring to a collective within a specific geographical, cultural, or ethnic context, ulayat, which commonly referred to as indigenous within the international literature, can be positioned as a distinct field of science. This editorial note will discuss indigenous knowledge, encompassing its ontological and epistemological dimensions. Previous literature in this area primarily concentrated on discerning disparities between indigenous knowledge and modern knowledge. Nevertheless, researchers, academics, practitioners, and policymakers have endeavoured to accommodate indigenous knowledge into contemporary approaches due to its perceived efficacy in addressing and implementing programs for the target. In the realm of research, indigenous research has some principles that cannot be generalized to other approaches. This includes the positioning of the researcher and the paramount emphasis on showing profound respect to indigenous communities as the owners and sources of knowledge. Ultimately, despite its localized and context-specific nature, indigenous knowledge must be reconnected with its foundational philosophy, which underscores its development as a means to assist specific groups in adapting to challenges and transformations.
KOPING STRES DALAM MENJALANI PERAN GANDA PADA WANITA HINDU DI DENPASAR Diputra, Nyoman Dita Wira; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.89 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i02.p09

Abstract

In Bali, Hindu women are not only demanded to perfom the roles of housewives and career women, but they also have responsibility towards their banjar and their religion. They play important roles in preparing for religious ceremonies that are done almost every day, which include preparing banten, metanding, atau majejahitan (Lanus, 2010). Hindu women that have a dual roles in the family have the potential to experience stress because they are demanded to perform their roles as, office employee, and have religious and social duties in the banjar, as well as their basic role as a housewive. Stress coping is needed to deal with stressful conditions. This study aims to see the stressors, types, symptoms, and stress coping experienced by Hindu women in Denpasar. This study used a qualitative method with a phenomenology design. The subjects used in this study were five Hindu women 25-35 years old, have been married with maximum primary school age children, have duties as a housewife and as a career woman, have activities in the banjar and pura. The result of this study showed that the stressors came from their families and environment. Generally, the types of stress that came from families were pressure and frustration with psychological symptoms and were emotional focused coping. Stress that came from the environment usually in the form of conflict and frustration. The symptoms could be psychological and biological, and the coping used may include emotional and problem focused coping.   Key Words: Hindu Women, Dual Roles, Stress and Stress Coping
HUBUNGAN POLA ASUH AUTHORITATIVE DENGAN KECENDERUNGAN HOMOGAMY DALAM PEMILIHAN PASANGAN PADA WANITA BALI DEWASA AWAL WANGSA BRAHMANA DI DENPASAR Alit, Ida Ayu; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.785 KB)

Abstract

In Bali, partner selection remains an important issue since it is still influenced by a cultural factor that is the existence of the catur wangsa (four-caste) system. Wangsa has means descendant. Catur wangsa (four castes) are divided into four, namely Brahmin, Kshatriya, Vaishya and Shudra. Balinese women who occupy the top caste that is Brahmin would be more selective in choosing a partner for fear of their family’s attitude towards them if they are nyerod, meaning having a marriage where the wangsa (caste) of the woman is higher than that of her partner. The parenting styles applied by parents have a role in decision making when individuals choose their partners. Authoritative parenting style is an effective parenting style because it applies stability properly between acceptance/responsiveness and demandingness/control. This study aims to determine the relationship between authoritative parenting style and the tendency of homogamy in partner selection by young adult women from the Brahmin caste. The subjects used in this study were women from the Brahmin caste, aged 20 to 30 years old, unmarried, and residing in Denpasar. The number of subjects used was as 60 people. The authoritative-parenting-scale reliability was 0.939 and the tendency-of-homogamy-in-partner-selection-scale reliability was 0.948 . The result of the normality test on the authoritative parenting was 0.899 and the result of the normality test on the tendency of homogamy in partner selection was 0.199. The linearity test result on the authoritative parenting towards the tendency of homogamy in partner selection was 0.000. The analytical methods used was the product moment correlation analysis. The correlation result in this study was 0.575 (p=0.000). Based on these results, it was found out that there is a relationship between authoritative parenting and the tendency of homogamy in partner selection by young adult women from the Brahmin caste in Denpasar. Keywords: Autoritative Parenting, Homogamy, Partner Selection, Balinese Women, Brahmin Wangsa (Caste)
Harga diri dan penerimaan diri pasangan menikah tidak memiliki anak di Bali Simarmata, Olivia Yohana; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.4 KB)

Abstract

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, mengatakan bahwa proporsi kehamilan perempuan menikah 10-54 tahun hanya berkisar 2,68% dimana di perkotaan 2,8% dan di pedesaan 2,55%. Infertilitas dapat menyebabkan perasaan menutup diri, merasa bersalah, cemas, stres, tidak berdaya, dan tertekan pada individu yang mengalaminya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat harga diri dan penerimaan diri pasangan menikah yang tidak memiliki anak di Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan responden pada penelitian ini adalah dua pasangan menikah yang tidak memiliki anak teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara individu, joint interview dan observasi. Hasil penelitian menemukan bahwa pasangan memiliki faktor eksternal dan internal dalam membangun harga diri positif dan menerima kondisi perkawinan. Faktor eksternal, kecenderungan yang serupa, yaitu dukungan keluarga, dukungan pasangan, lingkungan modern dan tidak adanya argumen mengenai infertilitas. Ditemukan hasil bahwa pasangan yang memiliki perasaan positif dalam memandang infertilitasnya masih mampu mempertahankan penghargaan dirinya, sedangkan pasangan yang memiliki perasaan negatif terkait diri cenderung memiliki penghargaan diri yang negatif. Perasaan negatif terkait infertilitas yang dimiliki pasangan dapat diatasi dengan koping yang berfokus pada diri dan pasangan, sehingga pasangan mampu menerima diri. Iman dan karma adalah faktor budaya dan agama yang melekat pada kondisi infertilitas.
Bangkit dari penyesalan: Studi naratif kehidupan bermakna suami sebagai caregiver bagi istri dengan skizofrenia Perry, Olvi Aldina; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 02 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.867 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i02.p16

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat dengan gangguan utama pada pikiran, emosi dan perilaku. Hal ini menyebabkan orang yang mengalaminya memiliki ketergantungan dengan orang lain, terutama anggota keluarga sebagai caregiver. Sebagian besar caregiver orang dengan gangguan jiwa merupakan perempuan dan berhadapan dengan tekanan, kesedihan serta duka. Di sisi lain terdapat juga laki-laki, khususnya suami sebagai caregiver yang menghadapi masalah serupa. Bagaimana caregiver memaknai kehidupan dalam situasi krisis akibat gangguan jiwa menjadi dasar penelitian ini. Tujuan penelitian yaitu untuk melihat gambaran kehidupan bermakna pada suami sebagai caregiver bagi istri dengan gangguan jiwa skizofrenia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan analisis naratif dengan dua responden yang merupakan suami sebagai caregiver utama bagi istri. Pengumpulan data dilakukan dengan episodic interview dan observasi. Ditemukan hasil yaitu gambaran kehidupan bermakna pada suami sebagai caregiver dipengaruhi oleh perilaku merawat dan makna merawat. Perilaku dan makna merawat tersebut dipengaruhi oleh hubungan antara suami dan istri, persepsi penyebab gangguan jiwa, posisi laki-laki dan perempuan dalam keluarga, dukungan sosial serta karakteristik caregiver. Caregiver yang menunjukkan perilaku merawat penuh perhatian serta memaknai merawat sebagai ibadah memiliki kehidupan yang bermakna dan positif, sedangkan caregiver dengan perilaku kekerasan dan memaknai merawat sebagai beban, menunjukkan gambaran kehidupan yang lebih negatif. Kata kunci: Kehidupan bermakna, skizofrenia, suami sebagai caregiver.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI KELURAHAN SADING Parasari, Gusti Ayu Trisna; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.424 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p07

Abstract

Elderly are age group that susceptible to depression. Depression in elderly is caused by lack of ability to adapt to changes in self as result of physical, mental and social decline. Severity of elderly depressive disorders are categorized into three levels, namely no depression, mild depression and moderate/severe depression. Family social support plays an important role in helping the elderly in adapting to the changes that occur in order to reduce the level of depression. This quantitative research with correlation approach aims to determine the relationship between family social support with level of depression in elderly in Sading Village. The samples cosisted of 233 elderly in Sading Village were taken using simple random sampling technique. This study uses two scales of measurement namely the family social support scale and the level of depression scale (Geriatric Depression Scale) adapted from Yesavage et al. (in Azizah, 2011). Family social support scale consists of 33 items with the reliability value = 0,968 and level of depression scale consists of 30 items with the reliability value = 0,948. The analysis technique used in this study is the Spearman Rank correlation. The analysis result showed that there was a significant relationship between family social support with level of depression (p = 0,000, p <0,05). The correlation r = -0.847 can be concluded that family social support has a opposite direction relationship with level of depression. This means that the higher family social support received, then the level of depression in elderly in Sading Village would be lower.   Keywords: Family Social Support, Level coefficient of Depression and Elderly