Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN POLA ASUH OTORITATIF DENGAN PRESTASI AKADEMIK PADA SISWA TUNARUNGU KATEGORI TULI KELAS VI SD DI BALI Sanjiwani, Ida Ayu Maitry; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Currently mass media publish more about psychomotor achievement than academic achievement of students with hearing impairments, while in fact students with hearing impairments have the same intellectual capabilities as normal students. The difference lies in their intellectual development that tends to be sluggish due to limitations in hearing, communicating and using languages. Parenting styles adopted by parents have an important role in developing a child’s intellectual capability so as to achieve high academic achievement. When parents send their children in SLB B or State SLB show that parents applying authoritative parenting style in raising their children. This study aims to determine the relationship between authoritative parenting styles and the academic achievement of sixth grade elementary school students in Bali with hearing impairments in the deafness category. The subjects used in this study were sixth grade elementary school students with hearing impairments in the deafness category, who are attending SLB B (special school for hearing impaired children) or State SLB and living with their parents. The number of subjects used was as many as 28 students, which are the whole of the population. The authoritative parenting style scale reliability was 0.940. The result of the normality test on the authoritative parenting style was 0.426. The normality test result on academic achievement was 0.658. The linearity test result on the authoritative parenting style has probability (p) 0.000. The analytical method used was the product moment correlation analysis. The correlation result in this study was 0.836 with probability (p) was 0,000. Based on the results it is seen that there is a positive relationship between authoritative parenting styles and academic achievement of sixth grade elementary school students in Bali with hearing impairments in the deafness category. This means that the stronger authoritative parenting style that are accepted, then there is increase academic achievement of sixth grade elementary school students in Bali with hearing impairments in the deafness category. Keywords: authoritative parenting styles, academic achievement, students with hearing impairments
Proses Penyesuaian Diri pada Perempuan Usia Dewasa Madya yang berada pada Fase Sarang Kosong Darmayanthi, Ni Km. Peby; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.039 KB)

Abstract

Fase sarang kosong merupakan suatu peristiwa saat anak mulai meninggalkan rumah untuk menjalankan kehidupan yang lebih mandiri. Dalam fase sarang kosong orangtua biasanya mengalami sindrom sarang kosong, sindrom ini merujuk pada perasaan sedih atau kehilangan yang dialami oleh orangtua. Kondisi ini lebih memungkinkan terjadi pada ibu sebab hampir sebagian besar waktu ibu dihabiskan untuk pengasuhan anak. Penyesuaian diri yang baik dalam menghadapi fase sarang kosong akan membantu individu mengatasi perasaan-perasaan negatif yang muncul sehingga individu akan mampu menghadapi fase sarang kosong dengan lebih positif dan mampu melanjutkan ke tahap perkembangan berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat proses penyesuaian diri pada perempuan usia dewasa madya yang berada pada fase sarang kosong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Responden dalam penelitian ini adalah tiga orang ibu usia dewasa madya yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Pengambilan data terhadap kedua responden dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi, dengan teknik analisis theoritical coding yaitu open coding, axial coding, dan selective coding. Didapatkan beberapa hasil dari penelitian ini yaitu penyebab sarang kosong, sindrom sarang kosong pada perempuan usia dewasa madya, faktor yang mendukung dalam menghadapi fase sarang kosong, faktor yang menghambat dalam menghadapi fase sarang kosong, tindakan yang dilakukan untuk mencapai penyesuaian diri pada fase sarang kosong serta kondisi setelah mencapai penyesuaian diri pada fase sarang kosong. Kata kunci: Penyesuaian diri, sarang kosong, sindrom sarang kosong
PROSES PENYESUAIAN DIRI DAN SOSIAL PADA PEREMPUAN USIA DEWASA MADYA YANG HIDUP MELAJANG Primanita, Ni Made Diah; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.86 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p08

Abstract

Abstrak Menikah pada umumnya dilakukan pada usia dewasa awal yaitu sekitar usia 18 sampai dengan 40 tahun, namun di sisi lain ditemukan fakta bahwa terdapat beberapa orang yang tetap berstatus lajang bahkan di usia dewasa madya. Menurut beberapa penelitian, melajang pada usia dewasa madya cenderung membuat perempuan dilekatkan dengan stereotip dari masyarakat atau yang disebut dengan istilsh singlism, dan tuntutan dari orangtua untuk segera menikah. Kedua hal tersebut dapat memicu timbulnya perasaan tertekan dan kesepian pada perempuan lajang. Bertentangan dengan hal tersebut, studi pendahuluan pada penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak semua perempuan lajang mendapatkan stigma, tuntutan orangtua, serta mengalami perasaan tertekan dengan kehidupan melajang, dan orang-orang usia madya bahkan cenderung sudah dapat menerima dan bahagia dengan kehidupan lajangnya (Hurlock, 2000). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses penyesuaian diri dan sosial pada perempuan dewasa madya yang hidup melajang serta faktor-faktor yang memengaruhi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Responden yang terlibat berjumlah 3 orang yang didapatkan melalui teknik purposive sampling dengan karakteristik perempuan, lajang, dan berusia 40 sampai dengan 60 tahun. Penelitian ini menggunakan teknik penggalian data dengan wawancara, observasi, serta alat tes psikologi, dengan teknik analisis theoritical coding yaitu open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa proses penyesuaian diri perempuan lajang meliputi terjadinya perubahan kondisi internal perempuan lajang sebagai hasil dari tindakan-tindakan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, sedangkan proses penyesuaian sosial perempuan lajang meliputi perubahan kondisi perempuan lajang secara eksternal sebagai hasil dari tindakan-tindakan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang memengaruhi proses penyesuaian diri dan sosial tersebut yaitu dukungan keluarga, keinginan menikah, serta pandangan bahwa perempuan tidak harus menikah atau memiliki anak. Kata kunci : penyesuaian diri, penyesuaian sosial, perempuan lajang, dewasa madya
PROSES GRIEVING DAN PENERIMAAN DIRI PADA IBU RUMAH TANGGA BERSTATUS HIV POSITIF YANG TERTULAR MELALUI SUAMINYA Yunita, Anna; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.63 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p01

Abstract

Salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi perbincangan di dunia adalah HIV-AIDS. Hingga tahun 2013 terdapat 35 juta orang dengan HIV di seluruh dunia (UNAIDS, 2014). Populasi yang berisiko tinggi dalam penularan HIV-AIDS di Indonesia yakni, pengguna narkoba suntik, wanita pekerja seks, dan laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki (UNAIDS, 2009). Memasuki tahun 2010, terjadi peningkatan jumlah infeksi HIV-AIDS pada kelompok ibu rumah tangga (Kemenkes RI, 2013). Menurut Dalimoenthe (2011) ibu rumah tangga terjangkit HIV dari suami yang melakukan penyimpangan sosial, baik karena seringnya berganti-ganti pasangan seks atau penggunaan narkoba suntik. Tertular HIV dapat menyebabkan timbulnya berbagai kesulitan yang berhubungan dengan harga diri, isolasi sosial, dan kurangnya kesejahteraan psikologis (Asante, 2012). Peters (2013) menemukan kondisi grivieng wajar terjadi pada individu dengan HIV. Maciejewski, Zhang, Block, dan Prigerson (2007) menemukan bahwa penerimaan diri dapat meningkat apabila kondisi grieving menurun. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui proses grieving dan penerimaan diri pada ibu rumah tangga berstatus HIV positif yang tertular melalui suaminya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, menggunakan responden sebanyak 5 orang ibu rumah tangga yang berstatus HIV positif yang tertular dari suaminya. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, FGD, dan observasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa proses grieving yang dilalui meliputi tahapan penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Terdapat dua bentuk penerimaan, yakni penerimaan negatif dan penerimaan positif. Ketika ibu rumah tangga mengembangkan bentuk penerimaan secara positif, akan berlanjut menuju proses penerimaan diri yang pada akhirnya membentuk self-compassion dan self-disclosure. Kata kunci : grieving, penerimaan diri, ibu rumah tangga, HIV
PERBEDAAN TINGKAT PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA IBU RUMAH TANGGA DENGAN IBU BEKERJA DI KABUPATEN GIANYAR Apsaryanthi, Ni Luh Komang; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.676 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p12

Abstract

Psychological well-being menunjukkan kondisi mental yang sehat yang ditandai dengan adanya kebahagiaan, mampu menghadapi tantangan atau masalah dan menggunakan potensi yang dimiliki dengan optimal. Psychological well-being penting dimiliki oleh para ibu. Peran ibu dapat dibedakan menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Ibu rumah tangga akan fokus dan memiliki lebih banyak waktu dalam melaksanakan perannya dalam keluarga, sedangkan ibu bekerja harus mampu mengatur waktu untuk melaksanakan peran dalam keluarga dan juga peran dalam pekerjaannya. Perbedaan peran dan tanggung jawab antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja dapat mempengaruhi psychological well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat psychological well-being pada ibu rumah tangga dengan ibu bekerja di Kabupaten Gianyar. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 200 individu yang terdiri dari 100 ibu rumah tangga dan 100 ibu bekerja. Metode pengambilan data menggunakan skala psychological well-being dengan koefisien Cronbach’s Alpha (a=0,877). Analisis statistik yang digunakan adalah Independent Sample T-Test. Hasil dari uji analisis data yaitu terdapat nilai signifikansi p=0,000 (p<0,05). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan psychological well-being pada ibu rumah tangga dengan ibu bekerja di Kabupaten Gianyar. Kata Kunci : psychological well-being, ibu rumah tangga, ibu bekerja
Penyesuaian Diri dan Penyesuaian Sosial Penata Rambut Laki-Laki Virgadewi K, Ida Ayu Adi Wulan; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.503 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p10

Abstract

Gender dipersoalkan karena secara sosial telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, hak dan fungsi serta ruang aktivitas laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Gender merupakan pelabelan yang pada kenyataannya bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Ketika seorang laki-laki mengadopsi sifat-sifat maskulin dan seorang perempuan mengadopsi sifat feminin dapat disebut sebagai istilah gender conformity. Ciri-ciri ini tidak selamanya tetap, tetapi dapat berubah yang artinya tidak semua laki-laki atau perempuan memiliki ciri-ciri seperti itu. Ciri-ciri tersebut bisa saja saling dipertukarkan, bisa jadi ada seorang perempuan yang kuat dan rasional, tetapi ada juga seorang laki-laki yang lemah lembut dan emosional yang istilah ini sering disebut gender non conformity. Bekerja di salon bagi laki-laki adalah bentuk dari gender non conformity dan disinilah pekerja laki-laki harus bisa menyesuaikan dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bagaimana proses penyesuaian diri dan sosial pada penata rambut laki-laki yang bekerja di sebuah salon kecantikan. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Responden penelitian berjumlah tiga orang laki-laki sebagai penata rambut di salon kecantikan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu pada proses penyesuaian diri dan penyesuaian sosial lebih mengarah pada pekerjaannya, bagaimana meningkatkan kemampuan dan keterampilan sehingga tidak lagi berbicara terkait pandangan masyarakat ataupun keraguan yang ada pada dirinya, namun terdapat perubahan yang dirasakan responden dari segi ekonomi, kemampuan menata rambut, keterampilan, dan juga perubahan penampilan yang berdampak pada tingkah laku responden yang merasa dirinya lebih feminin oleh karena lingkungan responden yang lebih dominan dengan perempuan. Kata kunci: Penyesuaian diri dan penyesuaian sosial, Penata rambut, Gender.
Gambaran komitmen dalam pernikahan pasangan remaja yang mengalami KTD Adi, Wayan Mirah; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.312 KB)

Abstract

Kehamilan tidak diinginkan (KTD) terutama pada remaja di Bali merupakan salah satu masalah yang menjadi sorotan dikarenakan jumlah kasus KTD di Bali mengalami peningkatan. Pada kasus tersebut, menikah menjadi solusi yang terpaksa dipilih. Salah satu kunci yang diperlukan untuk mempertahankan pernikahan adalah komitmen. Pernikahan dan pembentukan komitmen seringkali dilekatkan pada tugas masa dewasa. Remaja yang terpaksa menikah akan dibebani tugas-tugas yang harusnya ditanggung pada masa dewasa sehingga pernikahan mereka sangat rentan terhadap berbagai permasalahan. Ketidaksiapan remaja untuk membangun komitmen menjadi landasan dilaksanakannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran komitmen pada pasangan yang menikah di usia remaja dan hal yang dapat mempertahankan komitmen dalam pernikahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan fenomenologi dengan responden sejumlah 3 pasangan remaja yang menikah pada usia 15-19 tahun akibat KTD dengan teknik pusposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara individu, joint interview dan observasi. Ditemukan hasil bahwa komitmen selama pacaran terdiri dari komitmen berdasarkan perasaan sementara terdapat dua bentuk komitmen tambahan dalam pernikahan, yaitu komitmen berdasarkan pemikiran dan perilaku. Penelitian juga menemukan bahwa pasangan menunjukkan ambivalen untuk mempertahankan komitmen. Komitmen dapat dipertahankan jika suami dapat menunjukkan tanggung jawab kepada keluarga sebagai pembuktian kepada masyarakat dan istri mendapat dukungan keluarga serta mampu mengatasi konflik dengan mertua dan tuntutan terhadap peran. Kata kunci: Kehamilan tidak diinginkan, komitmen, pernikahan di usia remaja.
Penyesuaian dan Kepuasan Perkawinan pada Perempuan Bali yang Tinggal di Keluarga Inti dan Keluarga Batih Rospita, Indri Oktavia; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.468 KB)

Abstract

Marital satisfaction is not an easy thing to accomplish, especially for wife. Ibrahim (2002) explains that the number of wife which perceive marital satisfaction less than husband. Surya (2001) said that to achieve a successful marriage, the individual must have the ability to adjust. The main adjustment in the overall process of marriage is marital adjustment. Marital adjustment will be more complex for wife who lived with in-law. Balinese women who married and not able to build their own house are required to live in extended family which usually consists of mother-in-law and law. Balinese people also knows other type of marriage that called nuclear family which the couples lived in separated house of their family. The purpose of this study is to know the correlation between marital adjustment and marital satisfaction on Balinese women who lived in nuclear and extended family and to know the differentiation of marital adjustment and marital satisfaction on Balinese women who lived in nuclear and extended family. This study used quantitative method. Subject were 116 Balinese women who married. The results showed a positive and significant correlation between marital adjustment and marital satisfaction on Balinese women who lived in nuclear family with correlation 0,353 (r>0,05) and probability 0,007 (p<0,05). The similar result also found on Balinese women who lived in extended family with correlation 0,518 (r>0,05) and probability 0,000 (p<0,05). Marital adjustment and marital satisfaction were not different between Balinese women who lived in nuclear or extended family. Keyword : marital adjustment and marital satisfaction, nuclear family, extended family, Balinese women.
Stimulasi Fungsi Kognitif Pada Lanjut Usia Di Indonesia: Tinjauan Literatur Prahasasgita, Made Selphia; Lestari, Made Diah
Buletin Psikologi Vol 31, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/buletinpsikologi.80371

Abstract

Stimulasi fungsi kognitif merupakan kegiatan yang berupa pemberian rangsangan atau stimulus kepada lanjut usia (lansia) untuk meningkatkan dan mengoptimalkan fungsi kognitifnya. Banyak masyarakat yang menganggap penurunan fungsi kognitif pada lansia merupakan sesuatu yang wajar terjadi. Anggapan tersebut timbul akibat kurangnya pengetahuan dan perhatian dari pendamping dan orang di sekitar lansia. Stimulasi kognitif kepada lansia dapat dilakukan melalui aktivitas fisik dan non-fisik. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat dan kader di Posyandu Lansia mengenai ragam stimulus kognitif yang dapat diberikan kepada lansia untuk meningkatkan fungsi kognitifnya. Kajian literatur ini membahas empat stimulus yang dapat diberikan kepada lansia, yaitu Aktivitas fisik, Reminiscence Therapy, Memory Training, dan Puzzle Therapy, termasuk kelebihan serta kelemahan dalam segi durasi pelaksanaan, properti, teknis pelaksanaan, maupun faktor lainnya. Kajian literatur ini diharapkan bisa menjadi panduan bagi penelitian selanjutnya yang ingin melakukan penelitian terkait efektivitas stimulus untuk meningkatkan fungsi kognitif lansia.
Apakah Resiliensi Sifat atau Interaksi Proses-Outcome? Memahami Resiliensi pada Ibu sebagai Orang Tua Tunggal Arsa, Komang Andy Guna; Lestari, Made Diah
Buletin Psikologi Vol 32, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/buletinpsikologi.92660

Abstract

Perceraian di Indonesia setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Hal ini tentunya menjadi tugas yang sulit lantaran ibu sebagai orang tua tunggal harus membesarkan anak tanpa disertai suami sebagai pasangan. Ibu sebagai orang tua tunggal membutuhkan kemampuan dalam diri yang digunakan ketika menghadapi tekanan. Resiliensi adalah suatu kemampuan seseorang untuk mampu bangkit dari sebuah masalah. Resiliensi dapat dipandang sebagai dua konsep yang berbeda, resiliensi sebagai sebuah trait (sifat) atau resiliensi sebagai sebuah interaksi antara proses dan outcome. Artikel ini adalah artikel review konseptual yang membahas mengenai konsep resiliensi pada ibu sebagai orang tua tunggal. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar penelitian resiliensi pada ibu sebagai orang tua tunggal, memposisikan resiliensi sebagai sebuah interaksi antara proses dan outcome, hanya dua penelitian yang memposisikan resiliensi sebagai sebuah kumpulan traits, dan satu menggunakan dua konsep ini sekaligus. Temuan tambahan yang menarik adalah pada beberapa penelitian ibu tunggal tidak hanya diposisikan sebagai agen pasif, namun juga agen aktif yang membawa perubahan dan bertanggung jawab terhadap tercapainya resiliensi di dalam keluarga. Implikasi dari dikotomi ini dibahas di tataran penelitian dan intervensi.
Co-Authors A.A. Gd Putra Sastra Pradnyana Adi, Wayan Mirah Anna Yunita Apsaryanthi, Ni Luh Komang Arsa, Komang Andy Guna Aryana, I Gusti Putu Suka Astasari, Ni Putu Widya Dharma Ayu, Desak Ulan Sukmaning Chitta Dhyana Premaswari Christian Natalia Christian Natalia, Christian Cokorda Istri Dwi Anindyawati Pemayun Darmayanthi, Ni Km. Peby David Hizkia Tobing Desak Ulan Sukmaning Ayu Devi, Ni Made Mirah Artati Dewa Ayu Dyah Puteri Pratiwi Dewi, Putu Sanistya Diatmika Karna, Ida Ayu Bulan Kania Diputra, Nyoman Dita Wira Gusti Ayu Trisna Parasari Gusti Ayu Trisna Parasari, Gusti Ayu Trisna Han, Donghee I Kadek Wahyu Pujhana Ida Ayu Adi Wulan Virgadewi K Ida Ayu Alit Ida Ayu Alit, Ida Ayu Ida Ayu Maitry Sanjiwani Ida Ayu Maitry Sanjiwani, Ida Ayu Maitry Ida Ayu Verennia Surya Putri Indri Oktavia Rospita Indri Oktavia Rospita Indri Oktavia Rospita Jessica Jessica Karniyanti, Ni Kadek Made Selphia Prahasasgita Mahathanaya, Sayu P. Mulyani, Made Ni Kadek Karniyanti Ni Km. Peby Darmayanthi Ni Luh Ayu Cahya Saraswati Ni Luh Komang Apsaryanthi Ni Luh Putu Gede Maharupa Asmarina Ni Luh Putu Pradnyandari Kencana Putri Ni Made Diah Primanita Ni Made Dian Sulistiowati Ni Made Dian Susilowati Ni Made Dian Susilowati Ni Made Suasti Wulanyani Ni Putu Eka Yulias Puspitasari Ni Putu Natalya Ni Putu Natalya Ni Putu Natalya, Ni Putu Ni Putu Widya Dharma Astasari Noferdy, Rahmat Nyoman Dita Wira Diputra Olivia Yohana Simarmata Olvi Aldina Perry Pemayun, Cokorde Istri Dwi Anindyawati Perry, Olvi Aldina Pradnyana, A.A. Gd Putra Sastra Prahasasgita, Made Selphia Pratiwi, Dewa Ayu Dyah Puteri Pratiwi, Ni Made Ayu Yuli Premaswari, Chitta Dhyana Primanita, Ni Made Diah Puspitasari, Ni Putu Eka Yulias Putri, Ida Ayu Verennia Surya Putri, Putu Adinda Mahadewi Restu Putri, Shierlyana Agna Putu Ayu Sani Utami Putu Diana Wulandari Putu Sanistya Dewi Rospita, Indri Oktavia Saraswati, Ni Luh Ayu Cahya Sayu P. Mahathanaya Simarmata, Olivia Yohana Tanaya, I Wayan Nathan Fanza Virgadewi K, Ida Ayu Adi Wulan Wayan Citra Wulan Sucipta Putri Wayan Mirah Adi Wulandari, Putu Diana Yanki Hartijasti Yunita, Anna