Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN KOMPONEN CINTA PADA SIKAP TERHADAP HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH REMAJA AKHIR YANG BERPACARAN DI KABUPATEN BANGLI Premaswari, Chitta Dhyana; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.192 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p07

Abstract

Sikap terhadap hubungan seksual pranikah adalah serangkaian evaluasi dan respon individu yang meliputi kognitif, afektif, dan konatif yang menggambarkan sejauhmana individu menerima atau setuju dan menolak atau tidak setuju terhadap hubungan seksual yang dilakukan pasangan yang belum terikat tali pernikahan. Sikap terhadap hubungan seksual pranikah dipengaruhi oleh faktor cinta yang terdiri dari komponen intimacy, passion, dan commitment. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran komponen cinta (intimacy, passion, commitment) pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah remaja akhir yang berpacaran di Kabupaten Bangli. Subjek penelitian ini adalah remaja akhir di Kabupaten Bangli yang memiliki pacar dan berusia 18-22 tahun sejumlah 115 orang subjek. Teknik pengambilan sampel menggunakan two stage cluster sampling. Hasil yang diperoleh dari analisis regresi berganda menunjukkan nilai R2= 0,359 (p<0,05), hal ini berarti bahwa intimacy, passion, commitment secara bersama-sama berperan sebesar 35,9% dalam menjelaskan sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Koefisien beta terstandarisasi intimacy sebesar -0,138 dan signifikansi 0,227 (p>0,05) menunjukkan bahwa intimacy tidak berperan pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Koefisien beta terstandarisasi passion sebesar 0,787 dan signifikansi 0,000 (p<0,05) menunjukkan bahwa passion berperan pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Koefisien beta terstandarisasi commitment sebesar -0,213 dan signifikansi 0,080 (p>0,05) menunjukkan bahwa commitment tidak berperan pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah. Hal ini menunjukkan bahwa hanya komponen passion yang berperan secara parsial pada sikap terhadap hubungan seksual pranikah remaja akhir yang berpacaran di Kabupaten Bangli. Kata kunci: sikap terhadap hubungan seksual pranikah, intimacy, passion, commitment, remaja akhir yang berpacaran
Penyesuaian Diri Pasangan dengan Perkawinan Pada Gelahang di Masyarakat Hindu Bali Puspitasari, Ni Putu Eka Yulias; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.35 KB)

Abstract

Perkawinan Pada Gelahang merupakan bentuk perkawinan yang menjadi alternatif bagi masyarakat Hindu Bali yang tidak bisa melaksanakan bentuk perkawinan biasa maupun Nyentana. Setiap bentuk perkawinan memiliki tantangan yang memerlukan penyesuaian diri sehingga dapat tercapai sebuah kepuasan dalam perkawinan. Membahas secara langsung proses penyesuaian diri pasangan dengan perkawinan Pada Gelahang di masyarakat Hindu Bali merupakan sebuah cara yang tepat, unik, dan realistis dalam memahami penyesuaian diri sekaligus memelajari budaya perkawinan dalam masyarakat Hindu Bali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran proses penyesuaian diri yang dilakukan oleh pasangan dengan perkawinan Pada Gelahang di masyarakat Hindu Bali. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data dilakukan melalui in depth interview, joint interview dan observasi pada tiga pasangan responden penelitian. Data kemudian dianalisis dengan theoretical coding dari Strauss dan Corbin (1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pihak laki-laki memiliki hambatan yang lebih besar ketika memutuskan untuk melakukan perkawinan Pada Gelahang. Hasil berikutnya adalah ketiga pasangan melakukan strategi personal dan social coping dalam menyesuaikan diri dengan perubahan yang dialaminya. Personal coping meliputi strategi being a good person, problem delay, self control, ignore the problem, being assertive, dan pray then try. Social coping meliputi strategi looking for social support, planful problem solving, dan using kids as a glue. Berdasarkan strategi yang ada, ditemukan bahwa penyesuaian diri pasangan dengan perkawinan Pada Gelahang belum optimal karena masih melibatkan strategi yang mengarah pada represi. Kata kunci: Penyesuaian diri, penyesuaian personal, penyesuaian sosial, perkawinan Hindu Bali, perkawinan Pada Gelahang
Peran Perilaku Prososial, Efikasi Diri dan Empati pada Pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Bali Pradnyana, A.A. Gd Putra Sastra; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.223 KB)

Abstract

Prosocial Behavior is a term of aid behavior which intended to assist people. Prosocial Behavior is an obligation and the main duties of BPBD employee; as it is known that BPBD is enganged in disaster management that emphasizes the humanitarian aspects on the duties or occupation which have been stated in Undang-Undang No 24 Tahun 2007. In carrying out the duties which full of risks and challenges, the employees are required to have the confidence for implementing the capabilities. Furthermore, prosocial behavior is influenced by the empathy to strengthen the help behavior. The research was intended to know the contribution of prosocial behavior, self-efficacy, and empathy in the employee of BPBD in Bali. The subjects of the research were 96 persons; the employees' status are civil servant in BPBD. The research used quantitative approach; in addition, the research instruments were the prosocial behavior scale, self-efficacy scale, and the empathy scale. The analytical method used mutiple regression. R square was 0.414, it was that mean 41% of prosocial behavior can be explained by self-efficacy and empathy. In the regression of t test, it found that standardized empathy coefficient was 0.420. Therefore, the empathy was an independent variable that has the biggest contribution toward prosocial behavior by 42% compared to the contribution of self-efficacy by 31% Keywords: prosocial behavior, self-efficacy, empathy, the employee of BPBD.
Gambaran dukungan sosial dan penyesuaian diri pada perempuan pegawai negeri sipil prapensiun di Provinsi Bali Pratiwi, Dewa Ayu Dyah Puteri; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 02 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.529 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i02.p12

Abstract

Masa pra pensiun merupakan masa-masa yang mencemaskan bagi individu yang belum siap untuk memasuki masa pensiun. Penyesuaian diri menjadi pilihan individu untuk mengatasi kecemasan yang dialami. Karakteristik perempuan menjelang masa pensiun cenderung untuk mengomunikasikan permasalahan yang dihadapi sehingga perempuan membutuhkan dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Dukungan sosial berperan penting dalam kesiapan individu untuk menghadapi masa pensiun. Lingkungan yang mendukung akan mempermudah proses penyesuaian diri individu terhadap kondisi kecemasan yang dihadapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dukungan sosial dan penyesuaian diri pada perempuan pra pensiun Pegawai Negeri Sipil di Provinsi Bali. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui in depth interview dan observasi pada tiga responden penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran masa pra pensiun yang dialami oleh responden terbagi menjadi aspek fisik, emosional dan perilaku. Tindakan yang dilakukan responden untuk mencapai kesiapan masa pensiun terdiri dari tindakan yang berorientasi terhadap diri sendiri serta tindakan yang berorientasi terhadap orang lain. Faktor yang memengaruhi tindakan untuk mencapai kesiapan terdiri dari faktor pendukung serta faktor penghambat. Adanya persepsi positif, menerima informasi positif mengenai masa pensiun dari lingkungan kerja serta tersedianya dukungan dari keluarga merupakan faktor pendukung responden untuk mencapai kesiapan. Penelitian ini juga menemukan bahwa bentuk dukungan keluarga pada perempuan pra pensiun terdiri dari place to share and discuss, energizer, be reminder, financial source, fasilitator, serta taking over the job. Kata kunci: Dukungan sosial, penyesuaian diri, perempuan, prapensiun.
PROSES PEMILIHAN PASANGAN PADA WANITA BISEKSUAL Mahathanaya, Sayu P.; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.3 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p03

Abstract

Setiap individu memiliki kebutuhan untuk mendapatkan kasih sayang dan penerimaan, oleh karena itu, manusia tidak terlepas dari keinginan untuk mencari pasangan hidup (Atwater, 1983). Dalam melakukan interaksi untuk mencari pasangan hidup, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi penilaian individu terhadap orang lain, salah satunya adalah orientasi seksual. Orientasi seksual adalah pola yang unik dari dorongan seksual dan romantis, perilaku, dan identitas yang diekspresikan oleh individu (Lehmiller, 2014). Perbedaan orientasi seksual pada tiap individu dapat mengarahkan individu pada proses pemilihan pasangan yang berbeda, demikian halnya pada biseksual (Lehmiller, 2014). Hasil penelitian Rosario, dkk. (2007) mengungkapkan bahwa biseksual sejati seringkali ditemui pada wanita, khususnya dengan peran sebagai femme. Berbagai konflik yang dialami oleh biseksual akan mengarahkan biseksual pada proses pemilihan pasangan yang cukup kompleks. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas mengenai proses pemilihan pasangan pada wanita biseksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan desain penelitian studi kasus. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada tiga orang wanita biseksual dengan taraf biseksualitas yang berbeda, yakni bi-heteroseksual, bi-biseksual, dan bi-homoseksual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga fase dalam proses pemilihan pasangan oleh wanita bi-heteroseksual dan bi-homoseksual. Fase tersebut mencakup fase rapport, fase intimacy, dan fase committed relationship. Berbeda dengan kedua tipe wanita tersebut, wanita bi-biseksual hanya melalui dua fase, yaitu fase rapport dan intimacy. Tahapan proses yang terjadi pada tiap fase akan dijelaskan melalui proses pemilihan pasangan yang dijalani oleh wanita biseksual secara lengkap dalam kehidupannya. Kata kunci: proses pemilihan pasangan, wanita, biseksual
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN AMAN PADA ORANG TUA DENGAN KEMATANGAN EMOSI REMAJA AKHIR DI DENPASAR Natalia, Christian; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.354 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p08

Abstract

It is need a special attention to understand the development of adolescence. There is so many changes happened in adolescence, like emotional change. Adolescents need emotional maturity to help them deal with crisis situations. Emotional maturity can be attained through parent secure attachment, because parent secure attachment provide fine condition for emotional development. Secure attachment means the lasting bond which formed as a result of the quality relationship between child and primary caregiver (parent) troughout the human life span (Bowlby, 1988). This study aimed to examine the relationship between parent secure attachment and emotional maturity, also to find out the amount of parent secure attachment influence emotional maturity.   The sampling technique used in this study was area probability random sampling. Subjects of this research were 419 late adolescents, age 16–21 years old in Denpasar. The scales used in this study were the parent security attachment scale adapted from the Inventory Parent and Peer, Indonesian version  by Dewi (2013) and emotional maturity scale based on dimensions proposed by Walgito (2010). The data were analyzed by simple regression.   Through regression analysis, found that parent secure attachment and emotional maturity were significantly and positively correlated, which the increase of parent secure attachment score will be followed by excalation of emotional maturity score (B=0,406; p=0,000). Coefficient of determination equal to 1,19 indicates the parent secure attachment contribution to the emotional maturity was 19,1%, and  80,9% was contributed by other factors.   Keywords: parent secure attachment, emotional maturity, late adolescent.
PERBEDAAN KUALITAS KOMUNIKASI ANTARA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG BERPACARAN JARAK JAUH DAN JARAK DEKAT DI DENPASAR Pratiwi, Ni Made Ayu Yuli; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.775 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p14

Abstract

Masa dewasa awal merupakan masa ketika individu berada dalam tahap hubungan yang hangat dengan lawan jenis atau yang dikenal dengan berpacaran. Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam hubungan berpacaran adalah komunikasi. Komunikasi yang baik dan berkualitas dapat membantu meningkatkan hubungan, sedangkan komunikasi yang buruk justru akan mengganggu hubungan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas komunikasi antara dewasa awal yang berpacaran jarak jauh dan jarak dekat di Denpasar. Subjek dalam penelitian ini adalah 120 dewasa awal di Denpasar (p=60, l=60). Metode pengambilan data menggunakan skala Kualitas Komunikasi dengan koefisien Cronbach's Alpha (?=0.887). Analisis statistik yang digunakan adalah Independent Sample T-test. Diperoleh koefisien T-test untuk kualitas komunikasi adalah 7.021 dengan probabilitas 0.00 (p<0.05). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kualitas komunikasi antara dewasa awal yang berpacaran jarak jauh dan jarak dekat di Denpasar.   Kata Kunci: Dewasa Awal, Berpacaran Jarak Jauh, Berpacaran Jarak Dekat, Kualitas Komunikasi.
Hubungan konformitas teman sebaya dan konsep diri terhadap perilaku seksual pranikah remaja madya di Kabupaten Bangli Dewi, Putu Sanistya; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.153 KB)

Abstract

Perilaku seksual pranikah merupakan tingkah laku yang berhubungan dengan dorongan seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sebelum adanya ikatan perkawinan yang sah baik secara hukum maupun agama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada tahun 2010 di Provinsi Bali. Bangli menduduki posisi pertama angka Total Fertility Rate (TFR) yakni 2,97, dengan kisaran Age Specific Fertility pada umur 15-19 tahun. Angka ini menandakan perilaku seksual remaja yang ada di Kabupaten Bangli tergolong tinggi sehingga hal ini membuat penelitian terkait perilaku seksual pranikah masih relevan dilakukan di Kabupaten Bangli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dari konformitas teman sebaya dan konsep diri terhadap perilaku seksual pranikah remaja madya di Kabupaten Bangli. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sejumlah 417 remaja pada rentang usia remaja madya 15-18 tahun dan sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Bangli yang dipilih dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah skala konformitas teman sebaya, skala konsep diri dan skala perilaku seksual pranikah. Metode analisis data digunakan dengan teknik multiple regression, hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara konformitas teman sebaya dan konsep diri terhadap perilaku seksual remaja madya di Kabupaten Bangli.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PENYESUAIAN PERNIKAHAN PADA WANITA BALI YANG MENJALANI PERNIKAHAN NGEROB DI DENPASAR Astasari, Ni Putu Widya Dharma; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.082 KB)

Abstract

Marriage is one of young adulthood’s development tasks. Some problems often arise in the initial period of marriage and disturb the marital adjustment process. In some countries with strong collective culture, a big family involvement is crucial and give an impact to marital adjustment process. In Bali, there is a culture called ngerob. Ngerob is a situation where one of the boys of a family should stay at parents home to continue the obligations and responsibilities of parents in customs, which means that a married man should invite his wife to live in a home with his parents. Adjustment with the partner's family is important in ngerob marriage. In order to reach a success marital adjustment, the wife is expected to have stable emotions. Emotionally intelligent wife is considered to have good self-control, able to express emotions appropriately, so that they can adapt with the circumstances it faces. The aim of this research is to determine the relation between emotional intelligence and marital adjustment among Balinese women who are ngerob in Denpasar. Subjects were Balinese woman who are married, living with in-laws (ngerob) and live in Denpasar (n=60). Data were collected through emotional intelligence questionnaire with and the marital adjustment questionnaire with. The data were analyzed using product moment correlation test. The correlation coefficient between emotional intelligence and marital adjustment are 0.503 with a significance level of 0.000 (p <0.05). The results of this research showed that there is a positive and significant correlation between emotional intelligence and marital adjustment among Balinese women who are ngerob in Denpasar. The higher level of emotional intelligence encourage a better marital adjustment process among Balinese women who are ngerob in Denpasar. Keywords : emotional intelligence, marital adjustment, ngerob
PROSES PENERIMAAN DIRI PADA GAY YANG BERSTATUS HIV POSITIF Pemayun, Cokorde Istri Dwi Anindyawati; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.095 KB)

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang leukosit yang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh manusia. Sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi oleh HIV disebut dengan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Berdasarkan faktor risiko penularannya, salah satu populasi yang berisiko adalah gay karena aktivitas seksual berisiko. Di Indonesia gay masih mengalami stigma. Stigma dapat memengaruhi penerimaan diri (self acceptance) gay. Penerimaan diri adalah keadaan individu menerima serta mengakui segala kelebihan dan keterbatasan yang ada dalam dirinya tanpa merasa malu atau merasa bersalah (Ryff dalam Atwater, 2015). Dikaitkan pada gay yang berstatus HIV-AIDS, maka akan sulit melakukan penerimaan diri tersebut karena adanya diskriminasi dan stigma. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas mengenai proses penerimaan diri pada gay yang berstatus HIV positif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan desain penelitian fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi serta photovoice pada tiga orang laki-laki homoseksual yang berstatus HIV positif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua fase dalam proses penerimaan pada gay yang berstatus HIV positif. Fase I (Setelah mengetahui status HIV positif tetapi belum menjalani terapi) terdiri dari penolakan terhadap status HIV, kekecewaan dan penyesalan terhadap diri, dan penerimaan status HIV. Fase II (Setelah menjalani terapi) terdiri dari kondisi menurun akibat efek samping obat, penerimaan kembali status HIV setelah terapi, adanya pengalaman penolakan terkait status HIV positif, kondisi memperkenankan dan kondisi bersahabat dengan status HIV positif. Faktor pendukung untuk mencapai penerimaan diri pada gay antara lain kepatuhan menjalani terapi Antiretroviral (ARV) dan adanya dukungan sosial dari orang-orang terdekat. Kata kunci: proses penerimaan diri, gay, HIV positif
Co-Authors A.A. Gd Putra Sastra Pradnyana Adi, Wayan Mirah Anna Yunita Apsaryanthi, Ni Luh Komang Arsa, Komang Andy Guna Aryana, I Gusti Putu Suka Astasari, Ni Putu Widya Dharma Ayu, Desak Ulan Sukmaning Chitta Dhyana Premaswari Christian Natalia Christian Natalia, Christian Cokorda Istri Dwi Anindyawati Pemayun Darmayanthi, Ni Km. Peby David Hizkia Tobing Desak Ulan Sukmaning Ayu Devi, Ni Made Mirah Artati Dewa Ayu Dyah Puteri Pratiwi Dewi, Putu Sanistya Diatmika Karna, Ida Ayu Bulan Kania Diputra, Nyoman Dita Wira Gusti Ayu Trisna Parasari Gusti Ayu Trisna Parasari, Gusti Ayu Trisna Han, Donghee I Kadek Wahyu Pujhana Ida Ayu Adi Wulan Virgadewi K Ida Ayu Alit Ida Ayu Alit, Ida Ayu Ida Ayu Maitry Sanjiwani Ida Ayu Maitry Sanjiwani, Ida Ayu Maitry Ida Ayu Verennia Surya Putri Indri Oktavia Rospita Indri Oktavia Rospita Indri Oktavia Rospita Jessica Jessica Karniyanti, Ni Kadek Made Selphia Prahasasgita Mahathanaya, Sayu P. Mulyani, Made Ni Kadek Karniyanti Ni Km. Peby Darmayanthi Ni Luh Ayu Cahya Saraswati Ni Luh Komang Apsaryanthi Ni Luh Putu Gede Maharupa Asmarina Ni Luh Putu Pradnyandari Kencana Putri Ni Made Diah Primanita Ni Made Dian Sulistiowati Ni Made Dian Susilowati Ni Made Dian Susilowati Ni Made Suasti Wulanyani Ni Putu Eka Yulias Puspitasari Ni Putu Natalya Ni Putu Natalya Ni Putu Natalya, Ni Putu Ni Putu Widya Dharma Astasari Noferdy, Rahmat Nyoman Dita Wira Diputra Olivia Yohana Simarmata Olvi Aldina Perry Pemayun, Cokorde Istri Dwi Anindyawati Perry, Olvi Aldina Pradnyana, A.A. Gd Putra Sastra Prahasasgita, Made Selphia Pratiwi, Dewa Ayu Dyah Puteri Pratiwi, Ni Made Ayu Yuli Premaswari, Chitta Dhyana Primanita, Ni Made Diah Puspitasari, Ni Putu Eka Yulias Putri, Ida Ayu Verennia Surya Putri, Putu Adinda Mahadewi Restu Putri, Shierlyana Agna Putu Ayu Sani Utami Putu Diana Wulandari Putu Sanistya Dewi Rospita, Indri Oktavia Saraswati, Ni Luh Ayu Cahya Sayu P. Mahathanaya Simarmata, Olivia Yohana Tanaya, I Wayan Nathan Fanza Virgadewi K, Ida Ayu Adi Wulan Wayan Citra Wulan Sucipta Putri Wayan Mirah Adi Wulandari, Putu Diana Yanki Hartijasti Yunita, Anna