Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Implementation Of AI In Event Marketing Strategy: Literature Review And Implications For The Event Industry In Bali Pratama, I Wayan Adi; Prasiasa, Dewa Putu Oka
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 8 No 1 (2025): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v8i1.246

Abstract

This literature review explores the implementation of Artificial Intelligence (AI) in event marketing strategies and its implications for the event industry in Bali. The study aims to understand how AI can enhance operational efficiency and attendee experience by analyzing its applications in personalization, data analysis, and predictive analytics. Despite the benefits of AI, such as improved attendee engagement and operational efficiency, challenges like data privacy and digital infrastructure limitations in Bali must be addressed. The research provides insights for event organizers and policymakers to leverage AI effectively, contributing to Bali's position as a premier event destination.
Pengembangan Wisata Trekking Di Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Danau Buyan, Kabupaten Buleleng Prasiasa, Dewa Putu Oka; Sri Widari, Dewa Ayu Diyah; Menuh, Nyoman
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.15423

Abstract

The purpose of this research is to know the potency owned by the tourist forest area of Buyans lake for supporting tourism tracking activities. Collecting data techniques used to achieve this research purpose is direct observation, structured interview to the tourist and deep interview with the Chief Tourism Office of Buleleng Regency, The head of natural resources conservation, and the community figure. The methods used in this research descriptive analysis method by using an explanation given by the respondents descriptively and the SWOT analysis to identify internal situation like strength and opportunities factors, and the threats in developing tracking tourism. The result of this research shows that physic potency and nonphysical potency owned in the Danau Buyan Tourists attraction area can be developed as tracking tourism. In its development process the involvement of the local community, the tourist and Conservation Nature Resources Conservation are very important factorsAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh kawasan hutan wisata danau Buyan untuk mendukung kegiatan pelacakan pariwisata. Data dalam penelitian bersumber dari observasi langsung, wawancara terstruktur kepada wisatawan dan wawancara mendalam dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Kepala konservasi sumber daya alam, dan tokoh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan menggunakan penjelasan yang diberikan oleh responden secara deskriptif dan analisis SWOT untuk mengidentifikasi situasi internal seperti faktor kekuatan, peluang dan ancaman dalam mengembangkan wisata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi fisik dan potensi nonfisik yang dimiliki kawasan objek wisata Danau Buyan dapat dikembangkan sebagai trekking wisata. Dalam proses pengembangannya keterlibatan masyarakat setempat, para wisatawan dan Konservasi Sumber Daya Alam merupakan faktor yang sangat penting.
Desa Wisata Berbasis Pemberdayaan, Kemitraan, dan Penguatan Kelembagaan Di Desa Terunyan, Bali Prasiasa, Dewa Putu Oka; Widari, Dewa Ayu Diyah Sri
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i1.13923

Abstract

This Article aims to formulate empowerment strategies, identify forms of partnership, and develop an institutional reinforcement model to support Terunyan Tourism Village. The result shows that the strategy applied by the manager of Terunyan Tourism Village using Conformity Model that implements the program using the learning process approach. Partnerships conducted four patterns of interaction between the community institution of Terunyan Village, Terunyan Tourism Village, Tourism Stakeholders, and the Management of Terunyan Tourism Village. Institutional Reinforcement Model conducted among the involvement of all Village society and community institution in relation to support the Terunyan Tourism Village, and revitalize groups (sekaha) to strengthen the development of tourism products in Terunyan Tourism Village.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk merumuskan strategi pemberdayaan, mengidentifikasi bentuk-bentuk kemitraan, dan menyusun model penguatan kelembagaan dalam rangka mendukung pengembangan Desa Wisata Terunyan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan yang diterapkan oleh pengelola Desa Wisata Terunyan mempergunakan model kesesuaian yang mengimplementasikan program dengan mempergunakan pendekatan proses pembelajaran. Kemitraan yang dilakukan berbentuk empat pola interaksi antara Pranata Kemasyarakatan Desa Terunyan, Desa Wisata Terunyan, Pelaku Pariwisata, dan Pengelola Desa Wisata Terunyan. Model Penguatan Kelembagaan yang dilakukan antara lain pelibatan seluruh lapisan masyarakat desa serta Pranata Kemasyarakatan yang ada di desa dalam kaitan mendukung Desa Wisata Terunyan, dan merevitalisasi kelompok (sekaha) untuk memperkuat pengembangan produk wisata di Desa Wisata Terunyan.
Implementasi Penguatan Budaya untuk Keberlanjutan Desa Wisata Pinge di Tengah Hegemoni Pariwisata: Implementation of Cultural Strengthening for the Sustainability of Pinge Village Tourism Amid Tourism Hegemony Prasiasa, Dewa Putu Oka; Widari, Dewa Ayu Diyah Sri
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i2.4590

Abstract

The development of sustainable tourism villages is anticipated to optimally fulfill three key indicators: cultural sustainability, environmental sustainability, and economic sustainability. However, numerous challenges persist, including the dynamics of authenticity and commodification, tourism political domination and hegemony, as well as the strengthening of traditional institutions. This research focuses on examining the implementation of cultural, environmental, and economic strengthening within the Pinge Tourism Village amidst tourism hegemony. Utilizing qualitative methods and a comprehensive literature review, the study reveals that cultural strengthening efforts include maintaining daily life traditions such as farming, traditional sewing (mejejahitan), flower picking, dance learning, and traditional hunting (metekap/nenggala) during specific seasons. Notably, no specific tour packages are designed exclusively for tourism, ensuring that traditions in Pinge continue as the primary focus, with the tourism village management involving elements from the traditional community. These actions represent efforts to preserve the authenticity of Pinge’s cultural products. The research also finds that the planning, development, and operations of the Pinge Tourism Village are driven by the local community, which prevents external hegemony. All societal levels contribute to the development of the tourism village. This study offers practical insights into cultural implementation for strengthening tourism villages and provides an academic contribution by proposing a cultural strengthening model for the sustainability of tourism villages with characteristics similar to those of Pinge. Abstrak Pengembangan desa wisata berkelanjutan diharapkan dapat memenuhi secara optimal tiga indikator utama: keberlanjutan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi. Namun, dalam mewujudkannya, desa wisata masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk dinamika autentisitas versus komodifikasi, dominasi politik pariwisata, hegemoni, serta perlunya penguatan kelembagaan tradisional. Fokus penelitian ini adalah mengkaji implementasi penguatan budaya, lingkungan, dan ekonomi dalam perkembangan Desa Wisata Pinge di tengah hegemoni pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan didukung oleh tinjauan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan budaya dilakukan melalui pelaksanaan tradisi kehidupan sehari-hari masyarakat desa, seperti bertani, menjahit, memetik bunga, belajar menari, dan metekap/nenggala pada musimnya, tanpa membuat paket wisata khusus. Tradisi di Desa Adat Pinge tetap menjadi prioritas utama dengan pengelolaan yang melibatkan unsur Desa Adat Pinge. Implementasi tradisi sehari-hari sebagai produk budaya merupakan upaya menjaga keaslian produk budaya Desa Wisata Pinge. Penelitian ini juga menemukan bahwa perencanaan, pengembangan, dan operasional Desa Wisata Pinge berasal dari masyarakat setempat, sehingga tidak terdapat hegemoni dalam pengembangan. Semua lapisan masyarakat dilibatkan dalam pengembangan desa wisata. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis terkait dengan implementasi budaya dalam rangka penguatan eksistensi desa wisata dan kontribusi akademis berupa model penguatan budaya yang dapat diterapkan pada desa wisata lain yang memiliki karakteristik serupa dengan Desa Wisata Pinge untuk menjaga keberlanjutan budaya.
Sosialisasi Edutourism Untuk Siswa Sekolah Dasar Di Desa Wisata Kelan, Badung, Bali Prasiasa, Dewa Putu Oka
Jurnal Pengabdian Dosen Republik Indonesia Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Dosen Republik Indonesia
Publisher : Language Assistance

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Wisata Kelan terletak di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, dan memiliki potensi wisata bahari dan wisata kuliner dengan memanfaatkan hasil laut berupa hasil laut sebagai menu utamanya. Potensi wisata tersebut saat ini sudah berjalan, namun secara ekonomi belum memberikan dampak yang maksimal, akibat masih adanya produk pelengkap berupa sayur-sayuran untuk melengkapi menu hasil laut yang masih dibeli dari luar Desa Wisata Kelan, padahal areal perkebunannya masih tersedia. Berdasarkan permasalahan tersebut, solusi yang diberikan adalah penerapan Model Urban Farming dan Irigasi Tetes yang dikemas sebagai eduwisata, dengan sasaran siswa Sekolah Dasar, pengunjung, dan masyarakat Desa Wisata Kelan. Implementasi solusi tersebut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan kelompok sasaran yaitu siswa Sekolah Dasar, siswa Sekolah Menengah Pertama, pengunjung, dan masyarakat mengenai Urban Farming dan Irigasi Tetes. Selain itu, masyarakat yang menggeluti wisata kuliner juga mengalami peningkatan pendapatan, akibat berkurangnya pembelian produk pelengkap berupa sayur-sayuran yang mampu mereka hasilkan sendiri, sekaligus menguatnya upaya pelestarian lingkungan.
Strategi Pengelolaan Air Terjun Goa Rang Reng Sebagai Daya Tarik Wisata di Desa Bakbakan, Gianyar, Bali Herawati, Herawati; Prasiasa, Dewa Putu Oka; Waruwu, Dermawan
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 3 No. 2 (2024): JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v3i2.3247

Abstract

Pengembangan Air Terjun Goa Rang Reng diharapkan mampu mendorong perkembangan daya tarik wisata alam di Kabupaten Gianyar. Kenyataannya, pengembangan Air Terjun Goa Rang Reng menghadapi beberapa hambatan yaitu terbatasnya jumlah sarana pendukung seperti restoran atau warung makan, kurangnya ketersediaan air bersih di toilet dan kamar mandi, serta daya tarik wisata tidak berkembang secara optimal. Berdasarkan fenomena tersebut, perlu dilakukan penelitian terkait strategi pengelolaan Air Terjun Goa Rang Reng sebagai daya tarik wisata di Desa Bakbakan, Gianyar, Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik analisis SWOT. Penelitian ini menemukan bahwa berdasarkan Matrik Internal dan Eksternal (IE), posisi daya tarik wisata Air Terjun Goa Rang Reng berada pada Kuadran IV yaitu Posisi Stabilitas, yang berarti diperlukan strategi pengelolaann yang tepat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Air Terjun Goa Rang Reng. Strategi yang dapat diterapkan antara lain pengelola Air Terjun Goa Rang Reng dapat mengembangkan paket wisata yang menawarkan keindahan alam, serta mengoptimalkan kerjasama dengan para pihak, termasuk pelibatan masyarakat lokal dalam berbagai program. Atraksi kekinian seperti spot foto dapat ditawarkan dengan dukungan keberadaan rumah makan yang menawarkan inovasi untuk memberikan pengalaman kuliner yang unik serta mendukung ekonomi lokal.
The Effect of Travel Motivation, Destination Image, and Electronic Word of Mouth on Tourists' Decisions to Visit Kuta Beach: Pengaruh Motivasi Berwisata, Citra Destinasi, dan Electronic Word of Mouth Terhadap Keputusan Wisatawan Berkunjung Ke Pantai Kuta Besitimur, Enjelita Gerice; Prasiasa, Dewa Putu Oka; Junaedi, I Wayan Ruspendi
JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA Vol. 4 No. 2 (2025): JAKADARA: JURNAL EKONOMIKA, BISNIS, DAN HUMANIORA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jd.v4i2.4491

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi berwisata, citra destinasi, dan e-WOM terhadap keputusan berkunjung wisatawan ke Pantai Kuta. Populasi dalam penelitian ini adalah wisatawan domestik yang berkunjung ke Pantai Kuta. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling (non-probability sampling) dengan jumlah 100 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan observasi, kuesioner dan wawancara. Analisis data menggunakan Analisis Deskriptif, Uji Validitas dan Uji Reliabilitas, Uji Asumsi Klasik serta teknik analisis statistik yaitu Regresi Linier Berganda, Analisis Korelasi Parsial dan Korelasi Berganda, Analisis Koefisien Determinasi, Uji t-test dan Uji f-test. Hasil analisis diuji menggunakan perangkat lunak SPSS 26 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian hipotesis diterima. Motivasi berwisata (X1) berpengaruh secara parsial, positif dan signifikan terhadap keputusan berkunjung dengan nilai t hitung 2,647 > t tabel 1,661 (p < 0,05). Citra destinasi (X2) juga berpengaruh secara parsial, positif dan signifikan dengan nilai t hitung 2,645 > t tabel 1,661 (p < 0,05). e-WOM  (X3) berpengaruh secara parsial positif, namun tidak signifikan, ditunjukkan dengan nilai t hitung 1,164 < t tabel 1,661 (p > 0,05). Secara simultan, motivasi berwisata, citra destinasi, dan e-WOM berpengaruh signifikan terhadap keputusan berkunjung wisatawan, dibuktikan dengan nilai F hitung 34,671> F tabel 3,090 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Melalui Analisis Koefisien Determinasi, variabel motivasi berwisata (X1), citra destinasi (X2), dan e-WOM (X3) memberikan kontribusi sebesar 52,0% terhadap keputusan berkunjung (Y) ke Pantai Kuta.
Pendampingan Dalam Pengembangan Desa Wisata Baha Prasiasa, Dewa Putu Oka
Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK Vol. 5 No. 2 (2021): Paradharma: Jurnal Aplikasi IPTEK
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Dhyana Pura – Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.283 KB) | DOI: 10.36002/jpd.v5i2.1561

Abstract

ABSTRAKDesa Wisata Baha dikembangkan tahun 2010, memiliki potensi berupa jalur trekking/ cycling, daya tarik berupa pertanian dengan aktivitas budaya pertanian, peninggalan sejarah berupa tangsi Jepang, serta daya tarik budaya. Pengembangan Desa Wisata Baha belum menunjukkan perkembangan yang optimal. Berdasarkan fenomena tersebut, kegiatan pengabdian dilakukan dengan metode pendidikan masyarakat, pelatihan, dan substitusi ipteks. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa untuk mengoptimalkan pengembangan Desa Wisata Baha, diperlukan pendampingan Perguruan Tinggi dengan menerapkan lima prioritas. Dari lima prioritas yang direncanakan untuk mengoptimalkan pengembangan Desa Wisata Baha, prioritas pertama sampai prioritas ketiga sudah berjalan, sedangkan prioritas keempat dan prioritas kelima belum berjalan. Pada prioritas ketiga, terdapat tiga kegiatan yang sudah berjalan yang didanai dari Dana Desa Baha Tahun 2020 yaitu pembuatan tempat sampah sepanjang jalur trekking/cycling, pembuatan umbul-umbul sepanjang jalur trekking/cycling, dan pembuatan sanggah catu (tempat persembahyangan di sawah). Sedangkan sembilan kegiatan yang belum berjalan pada prioritas ketiga yaitu pembuatan loket pemungutan karcis masuk, pembuatan gazebo, pembuatan lelakut, pembuatan sunari, pembuatan map atau peta jalur trekking/cycling, perbaikan atau perawatan jalur trekking/cycling, pengadaan motor pengangkut sampah, pengadaan mesin sensor untuk potong rumput, dan pembuatan fasilitas CHSEKata kunci: optimalisasi, desa wisata, pendampinganABSTRACTBaha Tourism Village was developed in 2010, has the potential in the form of trekking/ cycling paths, attractions in the form of agriculture with agriculture cultural activities, historical relics in the form of Japanese barriers, and cultural attraction. The development of Baha Tourism Village has not shown optimal development. Based on this phenomenon, community service activities are carried out by means of community education, training, and science and technology substitution. The results of the community service activities show that to optimize the development of Baha Tourism Village, higher education assistance is needed by implementing five priorities. Of the five priorities planned to optimize the development of Baha Tourism Village, the first priority to the third priority have been running, while the fourth priority and the fifth priority have not yet been implemented. On the third priority, there are three ongoing activities funded by the 2020 Baha Village Fund, namely making trash bins along the trekking/cycling route, making banners along the trekking/cycling path, and making ‘sanggah catu’ (a place to pray in the fields). Meanwhile, the nine activities that have not been running are in the third priority, namely making ticket booths, making gazebos, making ‘lelakut’, making ‘sunari’, making maps of trekking/cycling paths, repairing or maintaining trekking/cycling paths, procuring waste transporting motors, procuring sensor machines for lawn mowing, and the manufacturing of the CHSE facilityKeywords: optimization, tourism village, mentoring
Kintamani Tourism Destinations: A Study Of Tourist Perceptions Milenial Generation Prasiasa, Dewa Putu Oka; Widari, Dewa Ayu Diyah Sri
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol 6 No 1 (2023): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Ev
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v6i1.150

Abstract

The purpose of this study is to examine the perceptions of the millennial generation towards Kintamani as a tourism destination from three aspects, namely attractions, facilities and accessibility. As a qualitative research, data analysis was carried out in a qualitative descriptive manner. The sample of this study was 99 people, determined by the Slovin method, consisting of 89 millennial generation domestic tourists and 11 millennial generation foreign tourists. The results showed that Kintamani Tourism Destinations for attractions were considered very good with an average value of 4.46; facilities are considered good with an average value of 3.67; and accessibility is considered good with an average value of 3.91. This study also recommends the need to improve the quality and quantity of supporting facilities for the Kintamani Tourism Destination such as tourism information centers, public toilets, street lighting, money changers, parking lots, and the quality of roads in the Kintamani Tourism Destination area.