Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

HUBUNGAN KADAR FLAVONOID DENGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA DAUN JAMBU AIR (Syzygium aqueum) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) MENGGUNAKAN Spektrofotometri UV-Vis Kausar, Radho Al; Eka Putra, Ari Subekti; Tutik, Tutik
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11292

Abstract

polifenol. Senyawa ini banyak ditemukan di berbagai tumbuhan, seperti pada daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun kelor (Moringa oleifera). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kadar flavonoid yang dapat mempengaruhi nilai IC50 (aktivitas antioksidan) pada daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun kelor (Moringa oleifera). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis dengan menggunakan ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil rendemen dari ekstraksi daun jambu air dan daun kelor adalah sebesar 12,6% dan 12,3%. Hasil rata-rata kadar flavonoid yang diperoleh dari ekstrak daun jambu air adalah sebesar 6,408 dan dari ekstrak daun kelor adalah sebesar 5,419. Senyawa flavonoid diketahui dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan, sehingga semakin besar kandungan flavonoid yang diperoleh, maka semakin besar pula aktivitas antioksidannya. Pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC50 pada ekstrak daun jambu air adalah 75,204, sedangkan pada ekstrak daun kelor adalah 86,584. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya termasuk ke dalam kategori antioksidan yang kuat. Analisis data menggunakan uji Correlations menunjukkan korelasi yang kuat antara kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan dengan nilai korelasi sebesar (-1,000) hal ini menandakan bahwa semakin tinggi kadar flavonoid maka semakin tinggi pula kadar antioksidannya. Terdapat perbedaan kadar antioksidan yang signifikan antara kedua ekstrak ditandai dengan nilai sig p < 0,05.
IDENTIFIKASI SENYAWA BIOAKTIF DARI EKSTRAK DAUN Eucalyptus pellita MENGGUNAKAN PELARUT AIR Kharisma, Gita; Retnaningsih, Agustina; Nusantari, Candra Saka; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 1 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i1.14625

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada ekstrak daun Eucalyptus pellita (E. Pellita) yang bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa flavonoid, tanin dan total fenolik. Metode yang digunakan adalah skrining fitokimia menggunakan reaksi warna dan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukan bahwa daun E. pellita positif mengandung flavonoid, tanin dan total fenolik. Ditandai dengan adanya reaksi yang terjadi pada tabung reaksi terdapat endapan berwarna merah bata dapat dikatakan positif mengandung senyawa flavonoid. kemudian dilihat dari reaksi yang terjadi pada tabung reaksi terdapat endapan putih dapat dikatakan positif mengandung senyawa tanin. Hasil dari pengukuran total fenolik dengan absorbansi pembanding asam galat diperoleh kurva linear R2 yaitu 0,9609 menunjukkan linearitas yang baik, maka persamaan regresi linear (y= 0,0116x+0036) didapatkan kadar total fenol pada daun E. pellita yaitu 83,4375 mg gallic acid equivalent/g, artinya dalam setiap gram ekstrak etanol daun E. pellita mengandung fenolik setara dengan 83,4375 mg asam galat.
FORMULASI DAN UJI SPF SEDIAAN EMULSI EKSTRAK KULIT DURIAN (Durio zibethinus L.) DENGAN KOMBINASI VCO DAN KOMBINASI MINYAK ZAITUN Chalia, Kadjul Firda; Winahyu, Diah Astika; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 1 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i1.14994

Abstract

Kulit durian (Durio Zibethinus L.) merupakan limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Kulit durian mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai fotoprotektor dan senyawa fenolik yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap sinar UV-B. Untuk meningkatkan waktu kontak antara sediaan dengan kulit sehingga didapatkan efek yang maksimal maka dipilih sediaan emulsi sebagai penghantar zat aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi sediaan emulsi yang sesuai dengan syarat sifat fisik emulsi serta mengetahui pengaruh variasi ekstrak dan kombinasi VCO dan minyak zaitun terhadap nilai SPF pada sediaan emulsi. Kulit buah durian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan filtrat diuapkan sampai diperoleh ekstrak kental. Sediaan emulsi dibuat menjadi 6 formulasi yaitu F0 tanpa ekstrak, F1 dengan konsentrasi ekstrak 5%, dan F2 dengan konsentrasi ekstrak 10% dengan kombinasi VCO dan F0, F1, dan F2 dengan kombinasi minyak zaitun. Sediaan diuji kestabilannya meliputi uji organoleptis, uji daya sebar, uji daya lekat, uji tipe emulsi, uji pH, uji viskositas, uji homogenitas, dan dihitung nilai SPF (Sun Protector Factor). Hasil menunjukkan emulsi ekstrak kulit buah durian dengan kombinasi minyak zaitun memiliki stabilitas dan nilai SPF lebih baik dibanding emulsi dengan kombinasi VCO. Hasil terbaik didapat dari F2 dengan kombinasi minyak zaitun dengan bentuk cairan kental berwarna coklat pekat, pH 6,56, viskositas 12300 centipoise, dan nilai SPF yang didapat adalah 7,635. Berdasarkan kriteria SPF termasuk dalam proteksi ekstra terhadap sinar matahari.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR TERHADAP JAMUR Candida albicans PENYEBAB SARIAWAN Septiyanti, Anisa Eka; Retnaningsih, Agustina; Purnama, Robby Candra; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11874

Abstract

Kelor merupakan spesies family moringaceae yang sudah banyak ditanam. Kandungan Senyawa yang terdapat pada daun kelor memiliki aktivitas sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dalam sediaan obat kumur terhadap jamur Candida albicans. Penelitian dilakukan dengan cara daun kelor yang sudah dikeringkan kemudian digiling menjadi serbuk, kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak daun kelor dibuat sediaan obat kumur dengan 3 formulasi yaitu konsentrasi 6%, 8% dan 10%. Selanjutnya dilakukan uji fisik terhadap sediaan obat kumur yang meliputi uji organoleptis, uji pH, uji viskositas, uji bobot jenis dan uji hedonik. Untuk uji aktivitas terhadap jamur Candida albicans dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada uji sifat fisik organoleptis, uji viskositas dan bobot jenis yaitu memenuhi syarat, sedangkan pada uji hedonik sediaan FI  dengan konsentrasi 6% paling banyak disukai. Untuk uji aktivitas antijamur ekstrak daun kelor dalam sediaan obat kumur dengan konsentrasi 6%, 8%, 10% menunjukan tidak adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa ekstrak daun kelor (Moringa oleiera L.) tidak menunjukan adanya aktivitas terhadap jamur Candida albicans.
HUBUNGAN KADAR FLAVONOID DENGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA DAUN JAMBU AIR (Syzygium aqueum) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera) MENGGUNAKAN Spektrofotometri UV-Vis Kausar, Radho Al; Eka Putra, Ari Subekti; Tutik, Tutik
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i2.11292

Abstract

polifenol. Senyawa ini banyak ditemukan di berbagai tumbuhan, seperti pada daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun kelor (Moringa oleifera). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kadar flavonoid yang dapat mempengaruhi nilai IC50 (aktivitas antioksidan) pada daun jambu air (Syzygium aqueum) dan daun kelor (Moringa oleifera). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis dengan menggunakan ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil rendemen dari ekstraksi daun jambu air dan daun kelor adalah sebesar 12,6% dan 12,3%. Hasil rata-rata kadar flavonoid yang diperoleh dari ekstrak daun jambu air adalah sebesar 6,408 dan dari ekstrak daun kelor adalah sebesar 5,419. Senyawa flavonoid diketahui dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan, sehingga semakin besar kandungan flavonoid yang diperoleh, maka semakin besar pula aktivitas antioksidannya. Pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC50 pada ekstrak daun jambu air adalah 75,204, sedangkan pada ekstrak daun kelor adalah 86,584. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya termasuk ke dalam kategori antioksidan yang kuat. Analisis data menggunakan uji Correlations menunjukkan korelasi yang kuat antara kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan dengan nilai korelasi sebesar (-1,000) hal ini menandakan bahwa semakin tinggi kadar flavonoid maka semakin tinggi pula kadar antioksidannya. Terdapat perbedaan kadar antioksidan yang signifikan antara kedua ekstrak ditandai dengan nilai sig p < 0,05.
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus SEDIAAN OBAT KUMUR DENGAN KOMBINASI DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) DAN DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrik D.C.) Kausar, Radho Al; Kurnia, Andi Akbar; Annisa, Devi Nur; Larasati, Ratri Mauluti
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.18134

Abstract

Kombinasi ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) memiliki senyawa metabolit skunder yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri diantaranya alkaloid, flavonoid, tanin, dan minyak atsiri. Pada penelitian ini tanaman tersebut diformulasikan menjadi sediaan obat kumur dengan menggunakan ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) pada sebuah formulasi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) dapat diformulasikan menjadi sediaan obat kumur dan untuk mengetahui apakah formulasi sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap staphylococcus aureus. Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium, daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96%, dibuat menjadi sediaan obat kumur dari kombinasi ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) sebagai antibakteri dengan variasi formulasi yaitu FI daun sirih merah 2% daun jeruk purut 1%, FII daun sirih merah 1% daun jeruk purut 2%, FIII daun sirih merah 2% daun jeruk purut 2% dengan evaluasi sediaan fisik dan pengujian aktivitas antibkteri dengan metode difusi dengan teknik sumuran. Didapatkan hasil pada penelitian ini ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) yang paling efektif sebagai antibakteri pada formulasi ke III dengan diameter rata-rata daya hambat sebesar 29,88 mm.
SKRINNING FITOKIMA DAN UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN KENIKIR (Cosmos caudatus Kunth) TERHADAP BAKTERI Staphylococcusaureus DENGAN METODE DIFUSI CAKRAM Kausar, Radho Al; Abnurama, Lini Ocha Azizah; Wulandari, Shinta
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i1.9913

Abstract

Penelitian  ini  dilakukan  untuk  mengetahui  skrinning  fitokimia  dan  efektifitas ekstrak daun kenikir. Prinsip metode ini yaitu perhitungan zona hambat berupa daerah jernih disekitar cakram menggunakan media Nutrient Agar (NA). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun kenikir mempunyai kandungan flavanoid, tannin, polifenol, alkaloid, dan saponin daya hambat antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus Aureus dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Untuk kontrol positif menggunakan tetrasiklin  lalu kontrol negatif menggunakan aquades. Ekstrak daun kenikir memiliki zona hambat terkecil pada konsentrasi 25%  sebesar 0 mm, 50%  sebesar 10,5 mm, 75%  sebesar 10,7 mm lalu 100% sebesar 12 mm.
Uji Aktivitas Antibakteri Dan Uji Fisik Sediaan Suspensi Anti Acne Lotio Kummerfeldi Formula Standar Terhadap (Propionibacterium acne) Dengan Metode Difusi Cakram Retnaningsih, Agustina; Aprinosa, Rika; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i1.9924

Abstract

Lotio kummerfeldi adalah obat jerawat dalam bentuk lotio yang khasiatnya bisa mengelupas kulit dan menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada sediaan lotio anti jerawat formula standard an apakah sediaan lotio acne formula standar dapat menghambat pertumbuhan bakteri propionibacterium acne. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode difusi cakram dengan cara meletakan kertas cakram diatas media kemudian hasil pengamatan yang diperoleh berupa ada atau tidaknya daerah bening yang terbentuk di sekeliling kertas cakram pada pertumbuhan bakteri dengan konsentrasi 1%, 2% dan 3%.kemudian dilakukan uji sifat dan fisiknya dengan uji organoleptic, uji Ph, uji homogentitas dan uji viskositas. Hasil uji sifat fisik lotio acne formula standar dari uji organoleptic untuk warna lotio acne berwarna putih kekuningan, beraroma khas minyak mawar dan berbentuk cair. Hasil uji ph menunjukan angka 6, untuk uji homogenitas menuntukan lotio acne formula standar homogen dan uji viskositas 1880 Cps. Berdasarkan uji sifat fisik dari sediaan lotio acne formula standar semuanya memenuhi syarat dan sesuai dengan Depkes RI,1979. 
Uji Aktivitas Antibakteri Dan Uji Fisik Sediaan Suspensi Anti Acne Lotio Kummerfeldi Formula Standar Terhadap (Propionibacterium acne) Dengan Metode Difusi Cakram Retnaningsih, Agustina; Aprinosa, Rika; Kausar, Radho Al
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i1.9924

Abstract

Lotio kummerfeldi adalah obat jerawat dalam bentuk lotio yang khasiatnya bisa mengelupas kulit dan menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada sediaan lotio anti jerawat formula standard an apakah sediaan lotio acne formula standar dapat menghambat pertumbuhan bakteri propionibacterium acne. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode difusi cakram dengan cara meletakan kertas cakram diatas media kemudian hasil pengamatan yang diperoleh berupa ada atau tidaknya daerah bening yang terbentuk di sekeliling kertas cakram pada pertumbuhan bakteri dengan konsentrasi 1%, 2% dan 3%.kemudian dilakukan uji sifat dan fisiknya dengan uji organoleptic, uji Ph, uji homogentitas dan uji viskositas. Hasil uji sifat fisik lotio acne formula standar dari uji organoleptic untuk warna lotio acne berwarna putih kekuningan, beraroma khas minyak mawar dan berbentuk cair. Hasil uji ph menunjukan angka 6, untuk uji homogenitas menuntukan lotio acne formula standar homogen dan uji viskositas 1880 Cps. Berdasarkan uji sifat fisik dari sediaan lotio acne formula standar semuanya memenuhi syarat dan sesuai dengan Depkes RI,1979. 
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus SEDIAAN OBAT KUMUR DENGAN KOMBINASI DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) DAN DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrik D.C.) Kausar, Radho Al; Kurnia, Andi Akbar; Annisa, Devi Nur; Larasati, Ratri Mauluti
Jurnal Analis Farmasi Vol 9, No 2 (2024): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v9i2.18134

Abstract

Kombinasi ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) memiliki senyawa metabolit skunder yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri diantaranya alkaloid, flavonoid, tanin, dan minyak atsiri. Pada penelitian ini tanaman tersebut diformulasikan menjadi sediaan obat kumur dengan menggunakan ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) pada sebuah formulasi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) dapat diformulasikan menjadi sediaan obat kumur dan untuk mengetahui apakah formulasi sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap staphylococcus aureus. Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratorium, daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96%, dibuat menjadi sediaan obat kumur dari kombinasi ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) sebagai antibakteri dengan variasi formulasi yaitu FI daun sirih merah 2% daun jeruk purut 1%, FII daun sirih merah 1% daun jeruk purut 2%, FIII daun sirih merah 2% daun jeruk purut 2% dengan evaluasi sediaan fisik dan pengujian aktivitas antibkteri dengan metode difusi dengan teknik sumuran. Didapatkan hasil pada penelitian ini ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dan daun jeruk purut (Citrus hystrik D.C) yang paling efektif sebagai antibakteri pada formulasi ke III dengan diameter rata-rata daya hambat sebesar 29,88 mm.