Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

SKRINNING FITOKIMA DAN UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN KENIKIR (Cosmos caudatus Kunth) TERHADAP BAKTERI Staphylococcusaureus DENGAN METODE DIFUSI CAKRAM Kausar, Radho Al; Abnurama, Lini Ocha Azizah; Wulandari, Shinta
Jurnal Analis Farmasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v8i1.9913

Abstract

Penelitian  ini  dilakukan  untuk  mengetahui  skrinning  fitokimia  dan  efektifitas ekstrak daun kenikir. Prinsip metode ini yaitu perhitungan zona hambat berupa daerah jernih disekitar cakram menggunakan media Nutrient Agar (NA). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun kenikir mempunyai kandungan flavanoid, tannin, polifenol, alkaloid, dan saponin daya hambat antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus Aureus dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Untuk kontrol positif menggunakan tetrasiklin  lalu kontrol negatif menggunakan aquades. Ekstrak daun kenikir memiliki zona hambat terkecil pada konsentrasi 25%  sebesar 0 mm, 50%  sebesar 10,5 mm, 75%  sebesar 10,7 mm lalu 100% sebesar 12 mm.
Penyuluhan zat pewarna alami makanan dan minuman: Indonesia Al Kausar, Radho; Pratama Putri Surya, Septiani; Tata Eriantika, Helen; Bela Santika, Aprilia; Indah Prestrisiyani, Etika; Alfio Nita, Yesi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v2i3.231

Abstract

Baground: Food color is one of the factors that consumers consider when choosing and evaluating food. Therefore, the use of colorants in food seems to have become an obligation for all food manufacturers. The health effects of using synthetic dyes is why we have to go back to nature by using natural dyes. Indonesia is a country rich in natural dyes such as carotenoids, anthocyanins, betalains and chlorophyll. Natural dyes are not only dyes that can be used for food, but also have the ability to maintain health and prevent and reduce the occurrence of various diseases such as diabetes, hypercholesterolemia and cancer. Therefore, the concept of returning to natural dyes, although with some disadvantages, still has advantages, namely safe and beneficial for health. Perpose: Develop natural dyes to be safe and also delicious to use in food. Methode: This activity is carried out using qualitative methods with interviews as well as observations and filling out questionnaires conducted to the general public, whether students, students, or the general public. Results: The use of synthetic dyes in food is beneficial for both producers and consumers. Conclusion: Indonesia as a source of natural dyes, namely carotenoids, anthocyanins, betalains and chlorophyll is very large. Pendahuluan: Warna makanan merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan konsumen saat memilih dan menilai makanan. Oleh karena itu, penggunaan pewarna pada makanan sepertinya sudah menjadi kewajiban bagi semua produsen makanan. Efek kesehatan dari penggunaan pewarna sintetis adalah mengapa kita harus kembali ke alam dengan menggunakan pewarna alami. Indonesia merupakan negara yang kaya akan zat warna alami seperti karotenoid, antosianin, betalain dan klorofil. Pewarna alami bukan hanya pewarna yang dapat digunakan untuk makanan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjaga kesehatan serta mencegah dan mengurangi terjadinya berbagai penyakit seperti diabetes, hiperkolesterolemia dan kanker. Oleh karena itu konsep kembali ke pewarna alami meskipun dengan beberapa kekurangan namun tetap memiliki kelebihan yaitu aman dan bermanfaat bagi kesehatan. Tujuan: Mengembangkan Zat pewarna alami agar aman dan juga enak untuk digunakan pada makanan. Metode: Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan juga observasi serta pengisian angket yang dilakukan kepada para masyarakat umun baik itu secara mahasiswa, siswa, atau warga umum. Hasil: Penggunaan pewarna sintetis dalam makanan bermanfaat bagi produsen dan konsumen. Simpulan: Indonesia sebagai sumber pewarna alami yaitu karotenoid, anthosianin, betalain dan klorofil sangat besar.
Penyuluhan zat makanan berbahaya di Sekolah Dasar Negeri 01 Keteguhan Teluk Betung Timur Kota Bandar Lampung: Indonesia Al Kausar, Radho; Azizah, Tiara; Pramudia, Sabila; Fikri Maula, Muhammad; Wati, Minjar
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS)
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v2i4.232

Abstract

Background: Improper application of synthetic chemical preservatives such as borax and formaldehyde in food products that endanger human health needs important attention from the government and the public because their use is increasing along with the increasing need for food that can be stored and consumed for a longer time. as well as some economic reasons. Based on these facts, Malahayati University students are ready to do community service to overcome this problem by explaining the impact and simple detection methods of these prohibited chemicals and explaining effective, safe and simple ways to preserve food for the general public in a specified location in Teluk Betung Timur District, Keteguhan Village. After the activity, it was found that the people who attended the event experienced an increase in the percentage of understanding about the impact of chemical preservatives on health, how to detect them simply and how to make natural preservatives in food. Perpose: Efforts to overcome the exposure of school children to unhealthy and unsafe snack foods, it is necessary to promote food safety through counseling. Methode: Educational activities begin with studying and adapting real situations that occur in the lives of the people of Central Java in general through the distribution of an initial questionnaire where this questionnaire contains several questions that can represent the level of public understanding of the types and effects of preservatives on food and other snacks, including community knowledge about ingredients - natural preservatives that are safe for consumption. Results: To see the success of simple detection of borax and formalin content in children's snacks with purple trumpet flowers, participants were evaluated by asking participants to practice simple detection of borax and formalin content in children's snacks with purple trumpet flowers by observing using a simple detection assessment questionnaire. borax and formalin content in children's snacks with purple trumpet flowers. Conclusion: Based on the results of the questionnaires given before and after the counseling, there was a spike in the percentage of public understanding of the dangers of these additives, including how to easily detect the possible presence of borax and formalin in food. In addition, the community also understands natural ways to preserve food such as the drying method.   Pendahuluan: Penerapan bahan pengawet kimia sintetik yang tidak tepat seperti boraks dan formaldehida pada produk pangan yang membahayakan kesehatan manusia perlu mendapat perhatian penting dari pemerintah dan masyarakat karena penggunaannya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pemenuhan pangan yang dapat disimpan dan dikonsumsi dalam waktu yang lebih lama. serta beberapa alasan ekonomi. Berdasarkan fakta tersebut, mahasiwa Universitas Malahayati siap untuk melakukan pengabdian masyarakat untuk mengatasi masalah ini dengan menjelaskan dampak dan cara deteksi sederhana dari bahan kimia terlarang tersebut serta menjelaskan cara yang efektif, aman dan sederhana untuk mengawetkan makanan untuk masyarakat umum di lokasi yang ditentukan di Kecamatan Teluk Bentung Timur, Kelurahan Keteguhan. Setelah dilakukan kegiatan, diketahui bahwa masyarakat yang hadir pada acara tersebut mengalami peningkatan persentase pemahaman tentang dampak pengawet kimia terhadap kesehatan, cara mendeteksinya secara sederhana dan cara pembuatan pengawet alami pada makanan. Tujuan: Upaya penanggulangan paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan makanan melalui penyuluhan. Metode: Kegiatan PKM diawali dengan mempelajari dan mengadaptasi situasi nyata yang berlangsung dalam kehidupan umum masyarakat jawa tengah melalui penyebaran kuesioner awal dimana kuisioiner ini mencakup beberapa pertanyaan yang dapat merepresentasikan tingkat pemahaman masyarakat terhadap jenis dan pengaruh dari bahan pengawet pada makanan dan jajanan lainnya termasuk pengetahuan masyarakat terhadap bahan pengawet alami yang aman dikonsumsi. Hasil: Untuk melihat keberhasilan deteksi sederhana kandungan boraks dan formalin pada makanan janjanan anak dengan bunga terompet ungu, peserta dilakukan evaluasi dengan cara peserta diminta mempraktekkan cara deteksi sederhana kandungan boraks dan formalin pada makanan janjanan anak dengan bunga terompet ungu dengan observasi dengan menggunakan kuesioner penilaian pelaksanaan deteksi sederhana kandungan boraks dan formalin pada makanan janjanan anak dengan bunga terompet ungu. Simpulan: Berdasarkan hasil kuisioner yang diberikan pra dan pasca penyuluhan, didapatkan lonjakan persentase pemahaman masyarakat terhadap bahaya zat additives tersebut, termasuk cara mendeteksi kemungkinan adanya kandungan boraks dan formalin pada makanan dengan yang mudah. Di samping itu, masyarakat turut memahami cara alami mengawetkan makanan seperti dengan metode pengeringan.
Identifikasi Senyawa Aktif dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa L) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Kausar, Radho Al; Wulandari, Shinta
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20242

Abstract

Tanamana ketapang (Terminalia catappa L.) adalah jenis tanaman yang sangat mudah dibudidayakan dan dapat ditemukan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Tumbuhan ketapang (Terminalia catappa L) dapat digunakan sebagai obat dalam untuk masalah pencernaan dan pernapasan serta sebagai obat luar untuk keseleo, sakit pinggang, kudis, dan gatal-gatal. Dikenal sebagai Terminalia catappa L, daun ketapang mengandung sejumlah senyawa kimia, termasuk flavonid, alkaloid, tanin, tetpenoid, steroid, resin, saponin, kuinon, dan fenolik. Diketahui bahwa tanin dan flavonoid daun ketapang bersifat antibakteri. Studi ini bertujuan untuk mengetahui metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa L) dan kemampuan untuk menghancurkan bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini, pelarut etanol 96% dimaserasi dan kemudian dievaporasi untuk menghasilkan ekstrak kentalnya. Daerah jernih di sekitar kertas cakram yang digunakan media Nutrien Agar (NA) menunjukkan uji hambat. Ekstrak daun ketapang dengan kosentrasi 25%, 50%, 75%, 100%. Kontrol positif menggunakan tetrasiklin dan kontrol negatif menggunakan aquades. Zona hambat pada ekstrak daun ketapang konsentrasi 25% terdapat 18,47 mm, 50% terdapat 19,10 mm, 75% sebesar 20,77 mm, 100% sebesar 22,07 mm, pada kontrol positif di dapatkan 27,00 mm, dan kontrol negatif 0.
Identifikasi Senyawa Aktif dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Ketapang (Terminalia catappa L) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Kausar, Radho Al; Wulandari, Shinta
Jurnal Analis Farmasi Vol 10, No 1 (2025): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v10i1.20242

Abstract

Tanamana ketapang (Terminalia catappa L.) adalah jenis tanaman yang sangat mudah dibudidayakan dan dapat ditemukan hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Tumbuhan ketapang (Terminalia catappa L) dapat digunakan sebagai obat dalam untuk masalah pencernaan dan pernapasan serta sebagai obat luar untuk keseleo, sakit pinggang, kudis, dan gatal-gatal. Dikenal sebagai Terminalia catappa L, daun ketapang mengandung sejumlah senyawa kimia, termasuk flavonid, alkaloid, tanin, tetpenoid, steroid, resin, saponin, kuinon, dan fenolik. Diketahui bahwa tanin dan flavonoid daun ketapang bersifat antibakteri. Studi ini bertujuan untuk mengetahui metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa L) dan kemampuan untuk menghancurkan bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini, pelarut etanol 96% dimaserasi dan kemudian dievaporasi untuk menghasilkan ekstrak kentalnya. Daerah jernih di sekitar kertas cakram yang digunakan media Nutrien Agar (NA) menunjukkan uji hambat. Ekstrak daun ketapang dengan kosentrasi 25%, 50%, 75%, 100%. Kontrol positif menggunakan tetrasiklin dan kontrol negatif menggunakan aquades. Zona hambat pada ekstrak daun ketapang konsentrasi 25% terdapat 18,47 mm, 50% terdapat 19,10 mm, 75% sebesar 20,77 mm, 100% sebesar 22,07 mm, pada kontrol positif di dapatkan 27,00 mm, dan kontrol negatif 0.
Aplikasi Bahan Aktif Daun Sereh Wangi Pada Sabun Cair Produksi UMKM Manja Desa Rejomulyo Satria, Heri; Nurhasanah, Nurhasanah; Juliasih, Ni Luh Gede Ratna; Akmal, Jamiatul; Alkausar, Radho; Amalia, Fildza; Kiswandono, Agung Abadi; Nazhifah, Naurah
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM) TABIKPUN Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences - Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpkmt.v6i1.217

Abstract

Pendampingan pembuatan sabun cuci piring pada UMKM MANJA di Desa Rejomulyo bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk lokal ramah lingkungan serta pemanfaatan sereh wangi yang tersedia di lingkungan sekitar. Pendampingan mencakup pelatihan teknik produksi yang tepat, pemahaman tentang keamanan penggunaan bahan kimia, serta strategi pemasaran dan branding untuk memperluas jangkauan pasar. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan teknis dan kepercayaan diri pelaku UMKM dalam mengelola usaha mereka. Produk sabun yang dihasilkan memiliki daya saing karena memenuhi kebutuhan konsumen akan produk yang higienis, alami, dan aman digunakan. Pasca kegiatan, UMKM diharapkan mampu memperluas akses pasar, meningkatkan pendapatan, serta mendukung keberlanjutan usaha. Produk juga berpotensi dipasarkan lebih luas dengan dukungan kemasan modern, perizinan usaha, dan promosi yang tepat sasaran.
DISEMINASI TEKNOLOGI PENGURAI SAMPAH UNTUK PEMBUATAN KOMPOS DARI DAUN KERING DI KAMPUNG WAY TUBA KECAMATAN GUNUNG LABUHAN KABUPATEN WAY KANAN Al Kausar, Radho; D. Pandiangan, Kamisah; Satria, Heri; Satria, Suharso; Buhani, S.Pd., M.Si, Buhani; Simajuntak, Wasinton
ANDAN JEJAMA: Indonesian Journal of Community Engagement (IJCE) Vol. 4 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Engagement (IJCE) ANDAN JEJAMA
Publisher : FMIPA Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/ijceaj.v4i2.19

Abstract

Dalam kehidupan sehari-hari, sampah seringkali kita temui baik di sekitar lingkungan kerja, industri, pabrik, rumah sakit, rumah makan, dan lingkungan perumahan. Sampah merupakan permasalahan yang umum terjadi di berbagai lingkungan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya sumber daya manusia dengan berbagai macam aktivitasnya, serta pepohonan yang beradadi sekitar. Sampah dapat dibedakan menjadisampah organik maupun anorganik. Sampah anorganik adalah sampah yang sulit membusuk bahkan tidak dapat terurai atau bersifat undegradable. Sampah organik yakni sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Untuk menanggulangi masalah sampah, diperlukan pemberdayaan dan mengarahkan masyarakat untuk mengolah sampah sehingga dapat mengurangi keberadaan sampah. Konsep dasar pengelolaan sampah merupakan suatu upaya untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah, dan menekan dampak negatif yang mungkin terjadi dan bagaimana cara. Salah satu cara cara pengelolaan sampah, khususnya sampah organik adalah dengan pembuatan pupuk kompos. Pembuatan kompos bertujuan untuk mengubah komposisi sampah menjadi produk yang bermanfaat. Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari proses penguraian sampah organik,seperti dedaunan.
Penentuan Fenolik Total Ekstrak Daun Ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) Dengan Pelarut Etanol, Aseton, Dan Heksana Menggunakan Metode Maserasi Inezia P, Tiara Veronica; Amalia, Putri; Kausar, Radho Al
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 5 (2025): Volume 12 Nomor 5
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i5.18179

Abstract

Secara tradisional, masyarakat Indonesia telah banyak memanfaatkan tanaman untuk mengobati penyakit. Tanaman daun ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pelarut dalam proses ekstraksi yang paling efektif menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, aseton, dan heksana. Selain itu, ditentukan % rendemen, panjang gelombang maksimum, operating time, dan juga kadar fenolik serta analisis data statistik. Perolehan persentase rendemen dari pelarut tersebut yaitu sebesar 4,41% untuk etanol 96%; sebesar 1,78% untuk aseton; dan sebesar 0,5% untuk heksana. Hasil spektrofotometer UV-Vis menunjukkan ?maks  yaitu 720 nm dan waktu operasional yaitu 12-15 menit. Fenolik total ekstrak etanol, aseton, dan heksana diperoleh 17.078 mgGAE/100g ekstrak; 10.461 mgGAE/100g ekstrak; dan 7.818 mgGAE/100g ekstrak. Data di atas menunjukkan pelarut yang paling efektif digunakan untuk ekstraksi daun ungu menggunakan metode maserasi dengan fenolik total tertinggi adalah etanol. Uji statistik yang dilakukan pada pelarut etanol, aseton, dan heksana menunjukkan nilai signifikasi di bawah 0,05 yang berarti nilai rata-rata kadar fenolik total dari ketiga pelarut tersebut berbeda.
PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU (GDS) SEBAGAI UPAYA SKRINING DIABETES MELITUS (DM) PADA PETANI DI DESA MARGA AGUNG LAMPUNG SELATAN suharmanto, suharmantoarman; Permana, M. Aditya; an, Andriansyah; Al Kausar, Radho
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i2.3776

Abstract

Diabetes menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, yang dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini dengan pemeriksaan kadar gula darah. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining awal DM pada petani sebagai upaya memberikan pemahaman tentang pencegahan DM dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat petani. Sasaran dalam kegiatan ini adalah petani di Desa Marga Agung Lampung Selatan. Metode yang digunakan pada kegiatan ini mencakup pemeriksaan kadar gula darah sewaktu dan konseling pencegahan DM. Berdasarkan data hasil pengamatan pre test, diketahui bahwa sekitar 70% peserta tidak mengerti tentang pencegahan DM serta 30% telah mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai pencegahan DM. Setelah dilakukan kegiatan konseling, hasil pengamatan meningkat sebesar 75%, yaitu petani lebih memahami tentang pencegahan DM. Selain pre test dan post test, tim pengabdian juga mengadakan konseling kesehatan tentang pencegahan DM. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan konseling efektif dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran petani dalam pencegahan DM pada petani di Desa Marga Agung Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan. Kata kunci: gula darah sewaktu, pemeriksaan, skrining DM
Evaluasi efektivitas fotokatalis zno/biochar terhadap degradasi antibiotik tetrasiklin menggunakan spektrofotometri uv-vis Husein, Saddam; Setiawan, Fatma Aris; Alkausar, Radho
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 6 No. 1 (2026): May Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v6i1.3046

Abstract

Background: Tetracycline contamination in aquatic environments has become a serious issue due to its persistence and resistance to conventional degradation methods. Photocatalysis using ZnO/Biochar composite is an Advanced Oxidation Process (AOP) capable of degrading complex organic compounds through reactive radical formation. Purpose: To evaluate the effectiveness of ZnO/Biochar photocatalyst in degrading tetracycline based on catalyst dosage and irradiation time under UV-Vis light. Method: This experimental laboratory study used UV-Vis spectrophotometry at a maximum wavelength of 378 nm. Results: The 0.5 g dosage showed the highest degradation efficiency of 84% at 120 minutes. Increasing catalyst dosage up to 0.5 g improved degradation, while 1 g reduced efficiency due to increased turbidity. Degradation increased with irradiation time. The reaction followed pseudo-first-order kinetics with a rate constant of 0.0142 min⁻¹. Conclusion:  ZnO/Biochar effectively degrades tetracycline under UV-Vis irradiation, with optimal performance at 0.5 g catalyst dosage following pseudo-first-order kinetics.   Keywords: Photocatalysis; Tetracycline; UV-Vis; ZnO/Biochar.   Pendahuluan: Pencemaran antibiotik tetrasiklin di perairan menjadi permasalahan lingkungan karena sifatnya yang persisten dan sulit terdegradasi secara konvensional. Fotokatalisis menggunakan komposit ZnO/Biochar merupakan metode Advanced Oxidation Processes (AOPs) yang efektif dalam mendegradasi senyawa organik melalui pembentukan radikal reaktif. Tujuan: Mengetahui efektivitas fotokatalis ZnO/Biochar dalam mendegradasi tetrasiklin berdasarkan variasi dosis katalis dan waktu iradiasi menggunakan lampu UV-Vis. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 378 nm. Hasil: Dosis 0,5 g menunjukkan degradasi tertinggi sebesar 84% pada menit ke-120. Peningkatan dosis hingga 0,5 g meningkatkan efisiensi, sedangkan pada 1 g terjadi penurunan akibat kekeruhan larutan. Degradasi meningkat seiring waktu iradiasi. Kinetika reaksi mengikuti orde satu semu dengan konstanta laju 0,0142 menit⁻¹. Simpulan: ZnO/Biochar efektif mendegradasi tetrasiklin dengan kondisi optimum pada dosis 0,5 g dan penyinaran UV-Vis, serta mengikuti kinetika orde satu semu.