Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

EDUKASI DAN SOSIALISASI PEREMPUAN BERDAYA LINGKUNGAN DAN EKONOMI DI BANK SAMPAH GONDANGAN SEJAHTERA Setyowati, Putri Ratna; Ginting, Febriyanti Angelia; Fallo, Trisno; Aridito, Muhammad Noviansyah; Laksono, Gangsar Edi
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36622

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Di tingkat provinsi, pengelolaan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tantangan operasional dan kebutuhan peningkatan partisipasi masyarakat. Pemerintah Daerah DIY telah mendorong penerapan ekonomi sirkular sebagai solusi terhadap persoalan sampah, dengan menekankan pada prinsip 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, Rethink). Hal tersebut juga berperan sebagai strategi utama untuk menurunkan beban TPA dan meningkatkan praktik pengelolaan berbasis masyarakat. Kondisi ini menegaskan pentingnya intervensi edukasi dan program lokal yang berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, kegiatan “Edukasi dan Sosialisasi Perempuan Berdaya Lingkungan dan Ekonomi di Bank Sampah Gondangan Sejahtera” hadir sebagai bentuk nyata dari sinergi antara kesadaran lingkungan dan pemberdayaan ekonomi perempuan. Program ini bertujuan pada peningkatan kapasitas perempuan dalam pengelolaan sampah rumah tangga, pelatihan daur ulang, serta penguatan nilai ekonomi melalui sistem tabungan dan produksi berbasis limbah. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan berbasis edukasi dan sosialiasi. Data primer diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan hasil pretest-post-test, serta kuisoner. Jenis sampah yang terbanyak yaitu plastik sejumlah 87,30% dan kertas 92,70%. Sedangkan sampah organik paling sedikit dikumpulkan ke Bank Sampah dikarenkan nasabah dihimbau untuk mengolah secara mandiri sampah organik. Hal ini menunjukkan bahwa sampah anorganik dapat dikaryakan menjadi sirkular ekonomi sehingga perempuan dapat berdaya ekonomi dan lingkungan.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjalan dengan lancar dan antusias. Para peserta memberikan tiga pertanyaan mengenai tips pengolahan sampah organik di rumah terutama nasi basah. Kemudian narasumber dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Rata-rata hasil pretest yaitu 54,53% dan hasil post-test 86,67%, dengan peningkatan 32,13%. Hal tersebut membuktikan bahwa edukasi dan sosialisasi ini dapat meningkatkan pengetahuan pengurus Bank Sampah Gondangan Sejahtera.Kata kunci: Bank Sampah, Peran Perempuan, Ekonomi, Lingkungan. ABSTRACTAt the provincial level, waste management in the Special Region of Yogyakarta (DIY) shows operational challenges and the need to increase community participation. The Yogyakarta Regional Government has encouraged the implementation of the circular economy as a solution to the waste problem, by emphasizing the 5R principle (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, Rethink). It also serves as a key strategy to reduce the burden on landfills and improve community-based management practices. This condition confirms the importance of sustainable local educational interventions and programs. In this context, the activity "Education and Socialization of Women with Environmental and Economic Empowered at the Gondangan Sejahtera Waste Bank" is present as a tangible form of synergy between environmental awareness and women's economic empowerment. This program aims to increase women's capacity in household waste management, recycling training, and strengthen economic value through a waste-based savings and production system. This activity was carried out with an education-based and socialization-based counseling method. Primary data were obtained through direct observation, in-depth interviews, and pretest-post-test results, as well as questionnaires. The most types of waste are plastic at 87.30% and paper at 92.70%. Meanwhile, the least organic waste is collected at the Waste Bank, and customers are encouraged to process organic waste independently. This shows that inorganic waste can be made into a circular economy so that women can be economically and environmentally empowered. This community service activity ran smoothly and enthusiastically. The participants gave three questions regarding tips for processing organic waste at home, especially wet rice. Then the resource person can answer the question well. The average pretest result was 54.53% and post-test result was 86.67%, with an increase of 32.13%. This proves that this education and socialization can increase the knowledge of the management of the Gondangan Sejahtera Waste Bank.Keywords: Waste Banks, Women's Role, Economy, Environment.
Implementasi Program Anak Cinta Lingkungan Melalui Kegiatan Pemilahan Sampah Sejak Dini di SD Madani Islami School Purbalingga Nur Fajriyah, Afrilia; Alfaruq, M Akbar; Edi Laksono, Gangsar; Azizah Sulaeman, Yulia; Firda Alfiana, Aulia; Bintang R, Fredi; Nur Setyawan, Sofyan; Eko Ahmad Riyanto
Jurnal Cahaya Edukasi Vol 2 No 4 (2025): Jurnal Cahaya Edukasi: Oktober
Publisher : Cahaya Smart Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63863/jce.v2i4.292

Abstract

Permasalahan sampah di Indonesia masih didominasi oleh rendahnya praktik pemilahan sampah dari sumber, termasuk di lingkungan sekolah. SD Madani Islami School Purbalingga menghadapi sejumlah tantangan seperti sistem pemilahan sampah yang terstruktur, fasilitas yang terbatas, serta minimnya edukasi lingkungan yang berkelanjutan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk kebiasaan pemilahan sampah sejak dini, dan menciptakan budaya sekolah yang peduli lingkungan melalui implementasi Program Anak Cinta Lingkungan (PACL). Metode yang digunakan adalah Participatory Action Learning System (PALS) yang mengintegrasikan edukasi interaktif berbasis cerita bergambar, praktik langsung pemilahan, lomba kreatif membuat tempat sampah dari bahan bekas, serta pelatihan singkat mengenai daur ulang dan kebersihan lingkungan. Program melibatkan 30 siswa kelas 1–6 dan dilaksanakan melalui tiga tahap: pra-kegiatan, pelaksanaan, dan evaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa dari skor rata-rata 80% menjadi 100%, disertai perubahan perilaku yang signifikan dalam ketepatan memilah dan membuang sampah. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan edukasi berbasis praktik dengan dukungan guru serta fasilitas pendukung, efektif dalam membangun perilaku sadar lingkungan. Program PACL berpotensi direplikasi pada sekolah dasar lainnya sebagai model edukasi pemilahan sampah yang sistematis dan berkelanjutan.
Circular economy opportunities for inorganic waste management: An applied analysis based on recycling center data Agni Lili Ariyanti; Aisyah Fakhirah; Akbar Putra Alfareza; Arif Nur Surdianto; Feivie Wihdya Solikhah; Yulia Azizah Suleman; Gangsar Edi Laksono; Purwono
Applied Environmental Science Vol. 3 No. 2: (January) 2026
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/aes.v3i2.2026.2193

Abstract

Background: Waste is no longer regarded solely as refuse but also as a potential resource in the circular economy, particularly through recycling center (hereinafter referred to as pusat daur ulang-PDU) mechanisms. This study aims to analyze the circular economic potential of inorganic solid waste based on actual selling price data from PDUs in Purbalingga, Central Java, Indonesia. Previous studies have highlighted the importance of waste separation and local PDUs in promoting community-based waste management, yet few have quantified the circular economic value of specific inorganic waste types. Methods: This research employs a descriptive quantitative approach using secondary data collected from government institutions and local PDUs. Analytical methods include compositional waste analysis and basic statistical comparisons (T-Test) across years and waste types (polyethylene terephthalate-PET, scrap papers, and cans). Findings: PET accounted for an average of 18.53% of total waste between 2021 and 2024, far higher than paper (8.96%) and cans (0.66%). Statistical analysis confirmed significant differences between PET and the other two types (p < 0.05, Cohen’s d > 3). Scenario modeling showed that if 14.8% of the population participated by contributing 3 kg of PET per household, approximately 460 tons/day could be recovered, generating meaningful household income and reducing landfill burden. Conclusion: The study concludes that supporting PDUs and encouraging less than 20% household participation in PET separation could substantially reduce waste volumes while strengthening household income streams. Novelty/Originality of this article: The integration of compositional waste data and local price structures provides a data-driven valuation of inorganic household waste, offering practical guidance for policy and local planning in sustainable circular economy strategies.
Integrating USLE and GIS Techniques For Soil Erosion Hazard Mapping In Ijo Watershed Afrilia Nur Fajriyah; Gangsar Edi Laksono; Eko Ahmad Riyanto; Arianti Mutia Ningrum; Fajar Firmansyah
Applied Environmental Sustainability and Technology Vol. 1 No. 1 (2025): Applied Environmental Sustainability and Technology
Publisher : Prodi Ilmu Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/aest.v1i1.15399

Abstract

Soil erosion is a critical form of land degradation, particularly in tropical watersheds characterized by high rainfall intensity and steep topography. This study aims to assess erosion hazard levels in the Ijo Watershed, Central Java, Indonesia, by integrating the Universal Soil Loss Equation (USLE) with Geographic Information System (GIS) techniques. Five USLE factors—rainfall erosivity (R), soil erodibility (K), slope length and steepness (LS), land cover (C), and conservation practice (P)—were analyzed using multi-source data including rainfall records, soil maps, Digital Elevation Model (DEM), land cover maps, and field surveys. Results show that erosion hazard ranges from very low to very high, with the largest proportion in the very low category (35.09%) and the smallest in the very high category (8.74%). Areas with steep slopes and minimal conservation practices were identified as priority zones for intervention. The novelty of this study lies in applying the USLE–GIS approach to a small tropical watershed, which remains understudied despite its ecological and socio-economic importance. The findings not only fill knowledge gaps on erosion dynamics in small-scale watersheds but also provide scientific evidence for spatially explicit land management and conservation strategies. This contributes directly to Sustainable Development Goals (SDG 15) and Indonesia’s Land Degradation Neutrality (LDN) targets.
Monitoring of Water Quality and Pollution Index of Situ Tirta Marta Spring, Purbalingga Using The Storet Method Aisyah Fakhirah; Anisa Dwi Apriani; Vina Widyantari; Muhammad Kadafi; Syafiq Hariri; Gangsar Edi Laksono
Applied Environmental Sustainability and Technology Vol. 2 No. 1 (2026): Applied Environmental Sustainability and Technology
Publisher : Prodi Ilmu Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/aest.v2i1.16393

Abstract

Situ Tirta Marta Spring is a spring-based water tourism area that also supports fisheries, agriculture, and community water needs in Karangcegak Village, Purbalingga Regency. This study aimed to assess water quality and determine the pollution status of Situ Tirta Marta Spring using the STORET method. A quantitative descriptive approach was applied. Water samples were collected on 4 and 11 April 2026 using grab sampling at two purposively selected monitoring points representing the upstream spring section (S1) and the downstream area adjacent to agricultural and fishery activities (S2). The measured parameters included temperature, total dissolved solids (TDS), pH, dissolved oxygen (DO), biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), and electrical conductivity (EC). The results showed that temperature, TDS, pH, BOD, and COD met the Class II water quality standards of Government Regulation No. 22 of 2021. However, DO concentrations at S1 (1.40 mg/L) and S2 (2.95 mg/L) were below the minimum standard of 4 mg/L, indicating reduced oxygen availability in the aquatic system. Comparison with Minister of Health Regulation No. 32 of 2017 also indicated that temperature, TDS, and pH were within relevant standards for public bathing and sanitation-related uses, whereas DO did not comply. The STORET score was -4, indicating that the spring water is lightly polluted. These findings indicate mild environmental pressure and highlight the need for improved sanitation, visitor activity control, waste management, and regular water quality monitoring.
Perspektif Perspektif Jasa Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Hutan Kota Wasesa, Purbalingga, Jawa Tengah Ofi Diah Prasetyo Rini; Kharisma Nur Kumala; Berliana Okta Ramadhani; Agni Lili Ariyanti; Gangsar Edi Laksono; Isrofah; Rafiif Zainu Labiib; Arif Nur Surdianto
Jurnal Kimia dan Ilmu Lingkungan: Chemviro Vol. 4 No. 1 (2026): Vol 4. No 1 (2026)
Publisher : Universitas Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perluasan kota di Kabupaten Purbalingga telah mengurangi tutupan vegetasi dan meningkatkan tekanan lingkungan, menyoroti pentingnya ruang terbuka hijau sebagai penyangga ekologis perkotaan. Studi ini bertujuan untuk meneliti persepsi pengunjung terhadap jasa lingkungan yang diberikan oleh Ruang Terbuka Hijau (RTH) Hutan Kota Wasesa, Purbalingga, Jawa Tengah. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan dengan menggunakan observasi lapangan, kuesioner skala Guttman yang diberikan kepada pengunjung, dan analisis dokumen. Hasil menunjukkan bahwa pengunjung sangat merasakan jasa pengaturan dan pendukung hutan kota, khususnya terkait dengan pengaturan iklim mikro, peningkatan kualitas udara, penyediaan oksigen, dan dukungan ekologis. Jasa penyediaan terutama diakui melalui keberadaan spesies tumbuhan penghasil pangan dan bermanfaat, sedangkan jasa budaya dikaitkan dengan rekreasi, pendidikan lingkungan, dan interaksi sosial. Hutan Wasesa dianggap sebagai aset ekologis perkotaan penting yang berkontribusi terhadap kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, menggarisbawahi perlunya pengelolaan ruang hijau yang terpadu dan berkelanjutan.
Pelatihan Budidaya Maggot sebagai Solusi Inovatif Pengolahan Sampah Organik Berkelanjutan Masyarakat Gangsar Edi Laksono; Wisnu Saputra; Putri Ratna Setyowati
GIAT Teknologi untuk Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Program Studi Sistem Informasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/giat.v4i2.13163

Abstract

Permasalahan sampah organik di Desa Kalierang, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, masih menjadi tantangan serius akibat rendahnya kapasitas pengelolaan dan meningkatnya volume limbah rumah tangga. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah organik secara berkelanjutan melalui pelatihan dan pendampingan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Metode ABCD diterapkan melalui tahapan penemuan aset, perumusan impian, perancangan fasilitas, sosialisasi dan pelatihan, serta pendampingan terstruktur berbasis aset lokal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Implementasi biokonversi maggot mampu menurunkan volume sampah organik dari rata-rata 2,5 kg – 3 kg /rumah tangga dalam 14 – 30 hari. Dari aspek sosial, terjadi peningkatan kapasitas dan partisipasi warga, ditandai mayoritas peserta yang mampu menerapkan teknik budidaya secara mandiri dan konsisten melakukan pemilahan sampah organik. Secara keseluruhan, program ini membuktikan bahwa pendekatan ABCD efektif meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah dan mampu menciptakan model pengolahan lingkungan berbasis aset lokal yang berkelanjutan. Temuan ini membuka peluang replikasi di desa lain serta pengembangan ekonomi sirkuler berbasis maggot pada skala komunitas.
PARIWISATA RAMAH LINGKUNGAN: ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PENGUNJUNG GEMBIRA LOKA ZOO UNTUK KONSERVASI RUANG TERBUKA HIJAU Putri Ratna Setyowati; Luqman Taufiq; Gangsar Edi Laksono; Trisno Fallo
Mabha Jurnal Vol 6 No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Akparta Mandala Bhakti Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70018/mb.v6i1.97

Abstract

Pembangunan kota yang pesat sering kali tidak sejalan dengan pelestarian lingkungan, khususnya dalam penyediaan ruang terbuka hijau (RTH). Di tengah keterbatasan RTH tersebut, kawasan wisata ramah lingkungan seperti Gembira Loka Zoo (GLZ) di Kota Yogyakarta memainkan peran penting, bukan sekedar sebagai tempat rekreasi dan edukasi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem ekologis kota. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai willingness to pay (WTP) dari GLZ sebagai pariwisata berkelanjutan yang mendukung upaya konservasi RTH Kota Yogyakarta serta mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap WTP pengunjung. Metode penelitian digunakan yaitu wawancara dan kuisioner kemudian pendekatan yang digunakan yaitu Contingent Valuation Method (CVM). Analisis data ini menggunakan instrumen analisis oleh program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata kesediaan membayar WTP pengunjung GLZ untuk konservasi RTH di kawasan kebun binatang tersebut  yaitu Rp 13.352,00. Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan membayar WTP pengunjung GLZ untuk konservasi RTH di kawasan kebun binatang tersebut dengan regresi logistik multinomial menunjukkan bahwa nilai signifikasi yaitu 0,000 dimana kurang dari 0,05, maka usia, tingkat pendidikan, dan tingkat penghasilan berhubungan  positif terhadap WTP.
Dinamika Kerapatan Vegetasi Berbasis NDVI dari Citra Landsat Multitemporal dan Implikasinya terhadap Fungsi Ekologis DAS Ijo (2013–2025) Eko Ahmad Riyanto; Gangsar Edi Laksono; Restu Ashaffat Fadilah
Media Komunikasi Geografi Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mkg.v27i1.112325

Abstract

Perubahan kerapatan vegetasi dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan indikator penting dalam mengevaluasi dinamika fungsi ekologis wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika spasial kerapatan vegetasi periode 2013–2025 di DAS Ijo, Jawa Tengah, serta mengkaji implikasinya terhadap fungsi ekologis DAS. Pendekatan yang digunakan adalah analisis citra Landsat 8 OLI/TIRS tahun 2013 dan Landsat 9 OLI/TIRS tahun 2025 dari United States Geological Survey melalui perhitungan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Nilai NDVI diklasifikasikan menjadi lima kelas kerapatan vegetasi dan dianalisis menggunakan teknik overlay serta matriks transisi untuk mengidentifikasi dinamika perubahan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan vegetasi tinggi tetap mendominasi wilayah DAS, namun mengalami penurunan luas sebesar 1.344,15 ha, sementara kerapatan vegetasi sedang meningkat sebesar 3.148,20 ha. Transisi terbesar terjadi dari kelas vegetasi tinggi ke vegetasi sedang seluas 4.808,70 ha, yang mengindikasikan terjadinya perubahan struktur tajuk vegetasi. Meskipun sebagian wilayah menunjukkan perubahan dari kelas vegetasi sangat rendah menuju kelas yang lebih tinggi, dinamika dua arah ini mencerminkan adanya redistribusi struktural vegetasi dalam lanskap DAS. Secara ekologis, perubahan tersebut berimplikasi pada potensi penurunan kapasitas intersepsi hujan, peningkatan risiko limpasan permukaan, serta perubahan kapasitas konservasi tanah dan penyimpanan karbon. Penelitian ini menegaskan bahwa analisis NDVI multitemporal efektif sebagai indikator kuantitatif dalam memantau dinamika fungsi ekologis DAS skala menengah dan dapat mendukung perumusan strategi pengelolaan berbasis konservasi vegetatif.